Komik John Lie, Kisah Kepahlawanan Dalam Dunia Sekuensial

Komik John Lie, Kisah Kepahlawanan Dalam Dunia Sekuensial

Oleh -
1 220
Aksen-Komik-John-Lie
Photo Credit: Rakhmad Dwi Septian
“Siapakah sebenarnya orang pribumi dan non pribumi itu?”
“Orang pribumi adalah orang orang yang pancasilais, saptamargais, yang jelas jelas membela kepentingan bangsa dan negara. Sedangkan orang non pribumi adalah mereka yang suka korupsi suka pungli, suka memeras, dan melakukan subversi. Mereka itu sama juga menusuk bangsa kita dari belakang. Maka patutlah mereka digolongkan orang non pribumi.”  — John Lie
*******

Jahja Daniel Dharma adalah pahlawan nasional pertama yang berasal dari etnis Tionghoa. Meskipun bergelar pahlawan nasional, sosok ini nampaknya tak cukup populer, setidaknya saya mengukur dari pengetahuan saya sendiri. Jika tak dibantu mesin pencari di dunia maya, mungkin saya tak pernah tahu sejarah dari pemilik nama ini. Saya bahkan pertama kali mengetahuinya dari sebuah novel grafis biografi terbitan Milisi Press, dengan judul John Lie, yang akan saya bahas setelah ini.

Jahja Daniel Dharma, atau yang lebih dikenal sebagai John Lie, adalah seorang kapten kapal yang paling berani dalam sejarah TNI AL. Ia dilahirkan pada 1911 di Manado. Keluarganya menjalankan sebuah perusahaan pengangkutan. Sejak kecil, sosok John Lie memiliki ketertarikan besar pada dunia kelautan dan pelayaran. Dalam novel grafis ini digambarkan bagaimana John Lie kecil begitu terpesona pada kapal kapal yang lalu lalang, berlayar dan berlabuh di kotanya, Manado. Ia bahkan nekat berenang untuk melihat dari dekat sebuah kapal uap milik KPM (Koninklijk Paketvaart Maatschappij, sebuah perusahaan pelayaran Belanda), karena tak punya uang untuk membeli tiket masuknya.

Beranjak remaja, John Lie bekerja sebagai penagih hutang di perusahaan milik keluarganya. Karena obsesinya yang kuat pada dunia kelautan, pada usia 17 tahun, ia kabur dari rumahnya menuju Batavia untuk menjadi pelaut. Namun perjalanan menjadi pelaut tak mudah, John Lie bahkan harus bekerja dulu sebagai buruh pelabuhan, sebelum akhirnya berhasil mengikuti kursus singkat kelautan oleh KPM. Dari sinilah karir pelautnya bermula, saat ia menjadi seorang mualim pada kapal Singkarak, sebuah kapal milik KPM.

Pengalaman perjalanannya yang banyak membuat ia  memahami bagaiman gambaran situasi di Hindia Belanda saat itu. Jiwa pemberontakannya tergugah demi melihat kesusahan kesusahan yang tercipta akibat kolonialisme. Pada saat Jepang memasuki Hindia Belanda, John Lie bertugas mengevakuasi penduduk sipil di daerah Cilacap, dengan kapal bernama Tosari. Pada tahun 1942, seluruh awak kapal Tosari, termasuk John Lie, mendapatkan pelatihan militer di Khorramshahr, Iran, sembari tetap melakukan pekerjaan utama yaitu mengangkut perbekalan untuk tentara sekutu.

Suasana kerja yang tidak nyaman pada masa itu, yaitu masa perang dunia ke dua, saling curiga, dan jauh dari kerabat, membuat John Lie merasakan kekosongan batin dan gelisah. Akhirnya ia mengikuti ajakan sepasang suami istri untuk berkunjung ke Yordania. Di Yordania, John Lie dibaptis di sebuah gereja di tepi sungai Yordan. Prosesi pembaptisan ini membuatnya merasa seperti terlahir kembali dan memiliki identitas serta keyakinan beragama yang kuat.

Jepang menyerah di tahun 1945. Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. John Lie kembali ke tanah air. Meski telah merdeka, namun situasinya belumlah terlalu kondusif. Tentara sekutu kembali memasuki wilayah kedaulatan Indonesia. Maka di sinilah karir kepahlawanan John Lie di Angkatan Laut Indonesia dimulai. Sayangnya disini pula novel grafis ini disudahi dengan tulisan “bersambung” di pojok kanan bawah.

Dari literatur di internet, cukup banyak dituliskan tentang kisah kisah kepahlawanan John Lie, hingga ia meninggal pada tahun 1988 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta. Atas segala jasa dan pengabdiannya, ia dianugerahi Bintang Mahaputera Utama oleh Presiden Soeharto pada 10 Nopember 1995, Bintang Mahaputera Adipradana dan gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 9 November 2009.
*********

Komik John Lie volume 1 (walaupun di halaman judul tak ada yang menjelaskan bahwa novel grafis ini ternyata berseri)  ini di kerjakan oleh dua, yaitu Rakhmad Dwi Septian pada cerita, serta Redi Murti dan juga Rakhmad Dwi Septian (lagi) untuk gambarnya. Terbit tahun 2015 setebal 68 halaman hitam putih, dibagi dalam 4 chapter, novel grafis ini patut diapresiasi, mengingat tema seperti ini (biografi) cukup jarang diangkat dalam novel grafis/komik terbitan lokal. Sebelum ini ada novel grafis “Munir” karya Sulaiman Said yang mengangkat tema tokoh nasional, itupun bukan yang bergelar pahlawan nasional yang resmi oleh negara, meski mungkin banyak orang tetap menganggapnya pahlawan.

Cukup menarik untuk mencermati tema tema yang diangkat oleh kawan kawan Milisi Press/ Milisi Fotocopy dari Surabaya ini. Jika kita lihat dalam terbitan terbitannya, nampaknya mereka cukup concern pada isu isu seputar rasisme. Mari kita lihat apa yang mendasari mereka dalam mengangkat tema tema tersebut.

Dalam catatan pembuka, dikatakan bahwa pada awalnya novel grafis ini adalah sebuah proyek tugas akhir. Latar belakang dipilihnya John Lie, seorang pahlawan nasional dari etnis Tionghoa, pada awalnya tidaklah memiliki maksud khusus. “Keputusan mengambil  judul pun dengan alasan pertama ialah sebab judul ini diterima oleh dosen pembimbing saya” demikian menurut Rakhmad Dwi Septian. Dalam proses riset mengenai  novel grafis ini, lalu muncullah alasan yang kedua, seperti tertulis: “dari pembelajaran itulah saya mengerti bahwa judul (ini)*  tepat dan bahkan di tahun ini dimana persoalan sentimen rasialisme masih tumbuh subur dan membuat kita sesama bangsa Indonesia men(jadi)* saling membenci”.

Lebih lanjut tertulis: “John Lie memberitahukan kepada saya dan kita semua sebuah bentuk perjuangan, bakti, dan rasa cinta tanah air tidaklah dapat diukur oleh ras, suku, maupun agama. John Lie melihatkan suatu sikap yang luar biasa . Ia pribadi jujur, pintar, sangat dekat dengan Tuhan, dan rela berkorban. Sebuah pengorbanan yang tanpa pernah ragu dari seorang putera (Indonesia)*”.

Anda tentu tahu bahwa saat ini nampaknya sentimen kebencian yang mengarah pada rasisme pada etnis Tionghoa ini sedang marak, tak hanya di media sosial dan dunia maya tapi juga dalam beberapa aksi unjuk rasa, seperti yang pernah saya bahas dalam tulisan sebelum ini tentang komik terbitan Milisi Fotocopy yang lain: Hidup dan Mati di Tanah Sengketa. Dan hal itu bukanlah sesuatu yang baik. Sejarah kelam tentang kerusuhan etnis sungguh sesuatu yang sangat perlu disesalkan.

Mengutip Goenawan Mohamad dari akun twitternya: “Nasionalisme Indonesia, lain dari nasionalisme di Eropa dan Afrika, tak bertolak dari perbedaan ras, tapi dari hasrat keadilan untuk semua”. Pengetahuan sejarah yang imbang  tentang kontribusi semua etnis dan kelompok, termasuk etnis Tionghoa, dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, adalah hal yang mutlak diperlukan, agar sejarah buruk tak berulang kembali.

Beberapa buku sejarah tentang pergerakan masyarakat Tionghoa dalam pergerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia memang telah pula diterbitkan. Namun di negara dengan minat baca yang rendah, media yang lebih ringan dan populer seperti novel grafis dan komik bisa dijadikan alternatif, meski sayangnya novel grafis dan komik, yang katanya “memiliki tenaga besar untuk mempengaruhi siapa saja dan kapan saja” ini lebih banyak diterbitkan oleh penerbit penerbit kecil/ independen dengan skala komunitas atau bahkan perorangan, sehingga oplah dan distribusinya sangatlah terbatas.

Beberapa kekurangan lain yang banyak terdapat dalam penerbitan independen, selain yang telah disebutkan di atas, khususnya dalam novel grafis ini adalah kurang baiknya proses editing sehingga menyebabkan banyaknya kesalahan kesalahan dalam proses pencetakan. Beberapa yang nampak oleh saya adalah terpotongnya tulisan, seperti pada catatan pembuka, dan kesalahan kesalahan redaksional seperti penggunaan tanda baca dan kesalahan ejaan. Meski tidak substansial, kesalahan kesalahan ini sebenarnya bisa diminimalkan dengan proses editing yang baik.

Penutup, sebagai penikmat komik/novel grafis tanah air, saya kira perlu saya tuliskan bahwa saya merasa senang melihat perkembangan penerbitan komik/novel grafis tanah air beberapa tahun tahun terakhir ini. Cukup banyak terbitan dengan beragam tema yang membuat iklim perkomikan tanah air menjadi lebih berwarna. Dan nampaknya juga, berkaca dari perdebatan dan konflik konflik di dunia sastra dan musik yang tak berkesudahan itu, tak perlulah dunia komik/novel grafis ikut atau terlibat dalam perdebatan perdebatan tidak penting mengenai kelebihan genre/tema tertentu, atau juga antar kelompok tertentu, yang justru kontraproduktif pada proses proses penerbitan komik John Lie sendiri. Maaf kata, itu sungguh memuakkan.

*) kata kata didalam kurung ini, dalam buku aslinya terpotong karena kesalahan cetak. Kata kata itu saya tambahkan untuk menyesuaikan dengan konteks kalimat.

Ikhtisar
Etnisitas dalam Komik
Penikmat banyak hal: komik, musik, film, sastra, sejarah, hutan, gunung, tebing batu, goa, sungai, ide dan wacana, perempuan, alkohol, tembakau, agama, dan apa saja. Bekerja di bidang kehutanan sebagai Chain of Custody specialist dan berharap selalu muda.