Sunshare#1 Dan Komik Sebagai Media Dakwah

Sunshare#1 Dan Komik Sebagai Media Dakwah

Oleh -
0 38
Sunshare#1-komik-sebagai-media-dakwah

“Banyak banget simpang siur dan wacana yang berbeda-beda tentang gimana Islam memandang komik sampe bikin banyak orang bingung. Gimana kalo kita adain acara untuk meluruskan ini semua? Kecil-kecilan dulu aja.”

Begitulah kira-kira celetukan dalam obrolan ringan antara saya, Zia, dan Matto di Lesehan Studio beberapa bulan silam yang ternyata berhasil diwujudkan dalam acara diskusi ringan pada Minggu, 25 Mei 2014 di Lesehan Studio. Acara diskusi ringan ini menghadirkan tiga orang panelis, yaitu Muhammad Zia Ul-Haq dari Lingkar komik, Vbi Djenggoten (kreator trilogi 33 Pesan Nabi dan beberapa komik islami populer lainnya), dan Ibrahim Vatih (CEO Firmadani) yang juga sedang mengembangkan proyek konten islami digital.

Diskusi dimulai pukul 15.30 dengan pemaparan mengenai hukum Islam mengenai tashwir (bisa diartikan membuat suatu karya, termasuk komik). Menurut Zia, pada dasarnya memang ada perbedaan pendapat di antara ulama mengenai tashwir itu sendiri. Ada yang benar-benar mengharamkan secara penuh, juga ada yang membolehkan tetapi bersyarat. Tidak menggambar atau membuat bentuk makhluk hidup secara sempurna, misalnya. Oleh karena itu, tidak masalah bagi tiap muslim untuk mengambil fatwa menurut apa yang diyakini baik baginya selama fatwa tersebut bersumber dari Al-quran dan Hadits.

Selain itu, para panelis juga menceritakan bagaimana perjalanan hidup mereka hingga mengambil keputusan untuk berdakwah lewat komik. Seperti Vbi, misalnya. Sebelum menjadi seorang komikus seperti sekarang, pada awalnya beliau pernah bekerja mulai dari menjadi arsitek di perusahaan kontraktor hingga menjadi tim kreatif di salah satu stasiun televisi. Suasana dan lingkungan kerja yang didominasi oleh muslim, namun jauh dari nilai keislaman menjadi kegelisahan tersendiri baginya. Setelah membaca kitab hadist yang diterjemahkan oleh mertuanya dan mendapat sokongan semangat oleh istrinya, membuatnya mantap untuk terjun berdakwah lewat lini komik.

Tidak jauh berbeda dengan Vatih, programmer ini pun merasa gerah dengan membanjirnya budaya pop asing yang tidak sesuai, bahkan bertentangan dengan nilai islam yang menjadi agama mayoritas penduduk Indonesia. Untuk itu, perlu ada usaha untuk memproduksi komik-komik yang benar-benar memiliki dan menyampaikan nilai-nilai Islam dengan benar.

Sesi tanya jawab yang diadakan setelah break salat magrib pun berlangsung tidak kalah seru. Pertanyaan paling menarik ditanyakan oleh Kurnia Harta Winata mengenai Islam yang belakangan ini terasa dimanfaatkan sebagai pemanis untuk meningkatkan penjualan saja. Hal ini dilihat dari membanjirnya produksi komik bertemakan Islam namun nilai keislaman itu sendiri tidak tampak dari komik-komik tersebut. Selain itu, penerbit tertentu juga bisa dibilang sembrono dalam memilih komikus untuk menggarap karya bertema Islam. Terbukti dari adanya penerbit yang keliru meminta seorang komikus untuk menggarap komik bertema Islam tanpa tahu bahwa sang komikus adalah seorang kristiani.

Meski diskusi berjalan semakin hangat, dan nampak masih ada peserta yang masih ada pertanyaan yang ingin ditanyakan kepada para panelis, acara ini terpaksa diakhiri karena waktu yang semakin malam. Untuk kedepannya, sangat diharapkan agar bisa diadakan kembali diskusi terbuka untuk memperluas wawasan dan pemahaman. Ya, karena memahami ilmu adalah hak tiap orang agar kita bisa saling memahami satu sama lain.