Komikus, Komik, dan Kritik Terhadapnya

Komikus, Komik, dan Kritik Terhadapnya

Oleh -
2 166
Critics

Oleh: Kurnia Harta Winata

Hari ini hari yang langka. Saya bertemu dua editor saya dari dua penerbit yang berbeda, di waktu dan tempat yang sama. Dua-duanya menampar saya. Menyebalkan. Tidak secara fisik memang, tapi tetap saja membekas sampai saya pulang. Yang satu sepertinya tidak disengaja. Yang satu lagi tampaknya sengaja. Mana yang sengaja dan mana yang tidak, tidak perlu saya katakan di sini.

Yang pertama adalah pernyataan bahwa kritik komik di Indonesia mati. Permasalahannya bukan karena tidak ada yang bersedia mengkritik atau tidak ada komik yang layak dikritik. Tapi karena masyarakat komik kita memang nggak tahan kritik. Lucu kan. Biasanya kita menganggap kritikus itu sebagai pihak yang menyerang komikus, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Kritikus lah yang diserang komikus beserta penggemar-penggemarnya. Kalau cara-cara kaskus, mungkin kritikus ini ditimpukin bata ramai-ramai sampai nyembah-nyembah minta maaf. Dan saya yakin, komikus yang berkepentingan malah cenderung girang gembira jika mengalami fenomena ini.

Yang kedua adalah pertanyaan, “Apakah komikus Indonesia sadar kalau mereka ini butuh penulis cerita?” Kalau tidak mereka ini super duper hebat, karena ilmu ngomik dan ilmu bercerita adalah hal lain. Sebagai catatan, dalam konteks ini komik semacam Anak Kos Dodol Dikomikin bukan kerja sama antar penulis dan komikus. Karena Dewi Rieka sebagai penulis novel Anak Kos Dodol tidak menulisnya sebagai komik. Pertanyaan susulan yang muncul adalah, “Kalau butuh, adakah yang kompeten dalam hal ini? Sudah adakah ilmunya?” Ilmu menulis komik yang dimaksudkan dalam hal ini adalah ilmu yang berkaitan dengan dramaturgi, pengenalan tokoh, membuat twist cerita, hingga kemampuan mengaduk-aduk emosi penonton. Adakah pendidikan komik mengajarkan hal itu?

Pernyataan matinya kritik komik di Indonesia karena penolakan komikus terhadap kritik dapat kita bantah. Cukup tunjukkan saja bukti-bukti di media sosial. Komikus-komikus, amatir maupun profesional, ramai-ramai mengunggah karya dengan tagline, mohon komentarnya, kripik pedasnya, kritik dan masukan dipersilakan.  Ah…
Di saat-saat yang sama, beberapa komik yang diunggah tersebut juga mengangkat tema kritik. Dalam komik tersebut dapat lah kita lihat pandangan komikus-komikus yang bersangkutan dalam menanggapi kritik. Jempol, pujian, dan komentar-komentar yang datang dapat memperlihatkan bahwa mayoritas masyarakat komik kita juga memiliki pandangan yang sama. Coba saya ulang polanya di sini.

Satu tokoh menohok-nohok tokoh utama (yang biasanya merupakan citra diri komikus) dengan kritiknya.
Bla bla bla… Lalu punch line di panel terakhir. Tokoh utama akan ganti menohok tokoh tukang kritik tadi dengan kenyataan bahwa tokoh tadi; tidak berkarya atau kelakuannya lebih hancur dari tokoh utama yang dikritik.

Jadi apakah saya boleh mengatakan, Komikus kita mau dikritik. Asal…oleh orang yang ia anggap lebih hebat darinya.

Itulah kebiasaan mayoritas orang Indonesia. Mau dikritik. Asal ada asalnya. Harus membangun. Harus ada solusinya. Harus dari orang yang mampu melaksanakan dan mau melakukan lebih baik dari yang ia kritik.

Maka sudah sewajarnya kritikus kita wafat satu persatu.

Menurut hemat saya, kritik terhadap komik cuma butuh satu syarat. Tidak menyerang pribadi. Yang diomongkan karyanya, bukan tampilan atau kebiasaan sehari-hari komikus. Sudah. Itu saja. Karena kalau tidak, namanya sudah bukan lagi kritik komik. Tapi kritik komikus. Seperti yang saya lakukan barusan.

Kita lanjut untuk mengobrolkan tohokan nomor dua. Saat pertanyaan itu dilontarkan, sungguh benar saya ingin membantah. Ketika saya mengomik, saya pakai ilmu kok. Memangnya saya nggak pakai mikir. Saya rencanakan komik saya. Halaman per halaman. Panel per panel. Sungguh!

Tapi untung saya mampu menelan bantahan sebelum ia keluar dari mulut. Saya sempat menanyakan pada diri saya, “Apakah saya mampu merumuskannya? Karena kalau tidak dapat dirumuskan ia tidak dapat diturunkan. Kalau tidak dapat diturunkan, bagaimana bisa disebut ilmu? Kalau saya bisa, mana buktinya?”

Lagipula, apakah memang ada komik Indonesia yang sempat membuat pencapaian seperti yang mampu dicapai para pendongeng dunia. J. K. Rowling, Akira Kurosawa, L Montgomery, Urosawa Naoki, Adachi Mitsuru, Tim Burton, James Cameron, Pramoedya Ananta Toer.

Saya sadar sepenuhnya saya bisa dibenci banyak orang karena menulis ini. Saya sadar sepenuhnya ke-komikus-an saya yang cuma seupil bisa dicungkil-cungkil.

Tapi saya juga harus jujur. Tidak ada komik Indonesia yang benar-benar baik dalam pencapaian cerita. Baik dari komikus generasi baru atau komikus yang telah dianggap legenda. Saya sudah cukup banyak membaca buku dan menonton film sehingga berani mengatakan pada diri saya sendiri, dan sekarang pada pembaca sekalian. Belum ada komik Indonesia yang mampu menyeret saya ke dunianya, mengaduk-aduk emosi, membangkitkan ketegangan, memberikan perasaan mengambang, dan memaksa saya terjun ke perenungan mendalam mengenai kehidupan.

Selama ini saya memberi standar terlalu rendah pada komik lokal. Komik yang baik adalah mampu bercerita dengan runtut dan membangkitkan emosi dalam diri saya. Komikus yang masuk dalam kriteria ini pun sebenarnya tidak bisa dibilang banyak. Letupan-letupan emosi yang berhasil mereka bangun pun belum dapat dijadikan parameter, karena masih bisa dipertanyakan apakah mereka bisa mengulanginya kembali dengan sadar. Apakah keberhasilan ini hanyalah kebetulan, atau hal yang memang sudah dirancang berdasar kemampuan.

Saya komikus (semi)profesional. Bukan perkara saya mampu mencapainya atau tidak, tapi sudah sewajarnya sasaran pencapaian saya adalah pencapaian para pendongeng dunia. Saya tahu saya punya ilmu. Tapi apakah ilmu saya itu cukup?

Tidak.

Kalau cuma panel, balon kata, tangga dramatik, penokohan, lay out, atau unsur-unsur komik lain yang ada di buku sih saya kenal. Tapi menciptakan karya yang mumpuni tidak cukup hanya dengan itu. Ini nyambung ke pertanyaan editor saya selanjutnya,

“Kalau belum ada ilmunya, bagaimana bisa ngomong ‘bersaing dengan cerita-cerita impor’? Bagaimana tukang cerita kita yang hanya berbekal ilham dan mood mampu bersaing dengan cerita-cerita yang digarap dengan kesabaran, perencanaan matang, dan ilmu-ilmu yang telah mapan?”

Tentu kemampuan tersebut tidak dapat diraih dalam waktu singkat. Dalam konteks komik Indonesia, ini membutuhkan lebih dari satu generasi. Regenerasi kata kuncinya. Semangat yang saya tahu sudah diusung dan dilaksanakan oleh komikus muda semacam Kharisma Jati dan Matto. Namun tanpa rumusan ilmu yang dapat disampaikan secara terstruktur, seberapa efektif regenerasi ini dapat dilakukan? Kalaupun mereka menggunakan sistem “nyantrik”,  menggandeng calon komikus untuk bekerja bersama mereka, seberapa banyak waktu dan seberapa banyak komikus yang dapat mereka jangkau?

Kita membutuhkan ilmu yang terstruktur. Yang dihimpun dari segenap pengalaman dan penemuan para komikus lintas generasi yang sudah ada. Sehingga segala jatuh bangun, keringat, dan percobaan dari komikus yang sudah ada tidak sia-sia. Dapat diteruskan ke komikus yang lebih muda, atau bahkan komikus yang lebih berpengalaman sekalipun.

Di sinilah bagian yang hilang dari dunia komik kita. Kritikus komik.

Pihak yang membedah komik. Yang menganalisanya sampai serpihan-serpihan terkecil. Yang mencoba memahami apa yang ingin dicapai komikus. Apa yang seharusnya (dapat) diraih komikus. Apa saja yang telah dilakukan dan dicoba oleh komikus. Apakah komikus tersebut berhasil. Ataukah gagal. Mengapa itu berhasil. Kenapa itu gagal.

Kritikus ini mesti merumuskan analisanya terhadap suatu komik lalu mendokumentasikannya. Sehingga selain menjadi bahan refleksi bagi komikus yang bersangkutan, rumusan itu juga menjadi bahan pelajaran bagi komikus lain! Selama bergenerasi-generasi!

Rumusan-rumusan yang dirangkum inilah yang kemudian bisa kita sebut ilmu. Unsur-unsur yang dapat dipraktekkan  dan digunakan sebagai alat analisa. Juga tentunya bisa diturunkan.

Komikus yang tidak tahan kritik dan kritikus yang tidak tahan hujat adalah lingkaran setan. Saya yakin di Indonesia masih ada komikus yang bersedia menerima kritik. (Kalau pun dianggap tidak ada, dengan takut-takut saya menyodorkan diri). Tapi ini tidak serta merta membuat lingkaran setan itu putus. Kalaupun ada kritik pedas yang dilemparkan ke seorang komikus dan tidak membuat komikus itu tersinggung, tetap saja akan ada orang-orang lain yang memandang miring kepada si kritikus tersebut.

Ini selayaknya ditanggulangi dengan bagaimana kritik yang dilontarkan tersebut dapat dirasakan berguna. Bukan cuma oleh yang dikritik, tapi juga oleh masyarakat komik secara luas. Ini bukan saja tanggung jawab kritikus. Ini juga tanggung jawab komikus. Caranya?

Komikus membantu kritikus untuk mengkritik karya-karya mereka.

Komikus membagikan ilmu(mentah)nya, sedangkal apa pun. Yang di sini berarti penemuan pribadinya dalam berkarya, yang ia gunakan sebagai dasar membuat komik. Ilmu (mentah) ini kemudian dapat digunakan sebagai (tambahan) alat analisa oleh kritikus. Baik digunakan sebagai alat analisa untuk komik komikus yang bersangkutan, atau komik komikus yang lain. Dari gabungan pengetahuan berbagai komikus dan analisa berbagai kritikus inilah kita mendapatkan rumusan ilmu. Rumusan ini dapat dirangkum dan diruntutkan untuk kemudian digunakan sebagai bahan ajar (yang merupakan tugas akademisi).

Budaya menerima dan memahami kritik ini akan berkembang juga menjadi budaya “dewasa” dalam menghadapi editorial komik. Salah satu masalah yang masih dihadapi industri komik Indonesia.

Sedang budaya menganalisa komik menjadi pijakan bagi munculnya editor-editor komik. Di mana editor-editor komik ini tidak lagi harus berasal dari pembuat komik. Yang bagi saya, kurangnya editor komik juga menjadi masalah di industri kita. Dari sekian judul komik Indonesia yang terbit, berapa persen kah yang benar-benar mengalami sentuhan editor yang kompeten? Belum lagi kalau kita menghitung komikus-komikus muda potensial yang tidak merasakan pemertajaman karya oleh editorial sehingga gagal berkembang maksimal?

Nah, karena dalam industri ini saya ada di pihak komikus, maka saya ingin mengajak sesama saya untuk memulainya. Berbagilah pengetahuan dan pengalaman, tahapan, pertimbangan,  atau apapun mengenai cara berpikir kalian saat membangun komik. Ajakan ini juga tertuju kepada saya, yang sering malas dan enggan membuang energi. Setahu saya, baru Sweta Kartika yang melakukannya dengan sungguh-sungguh. Saya percaya masih ada yang lain. Tapi mohon dimaklumi, selain kurang gaul saya ini juga pikun.

Dan saya berdoa agar para kritikus komik diberkahi keberanian dan ketahanan mental.

Klop dah! Semoga dunia perkomikkan Indonesia semakin mengasyikkan 🙂

2 Mei 2013, Sanggar KOEBUS, Yogyakarta


Catatan Editorial: Beberapa bagian akhir tulisan ini dihilangkan karena dirasa tidak penting, namun apa yang dihilangkan tidak melenyapkan keseluruhan esensi ide yang berusaha dibangun oleh Kurnia.

Tulisan ini dimuat juga di laman Panduaji

a 'Yes' man
  • Rio Maretha

    Wow!

    Menarik sekali ulasannya. Selesai membaca tulisan ini, saya merasa turut mendapat tamparan yang dirasakan oleh mas Kurnia.

    Saya pecinta komik yang (kebetulan) juga sedang berusaha untuk menjadi komikus. Memang salah satu persoalan yang mengganjal dunia komik Indonesia adalah masalah penceritaan. Scott McCloud dalam salah satu bab dalam bukunya (Understanding Comics) menyatakan, komik adalah upaya kolaborasi antara dua hal yang berbeda: teks dan visual. Teks disini mewakili unsur penceritaan yang kemudian dapat diperkuat atau melebur dengan aspek visual. Unsur ‘teks’ yang biasa dijumpai dalam komik berupa dialog, narasi, dll.Teks memang bukan unsur utama dalam komik, karena komik bisa dibuat tanpa teks (tanpa dialog, efek suara, balok narasi, dll),dan tetap bagus (seperti The Boy Who Made Silence). Tapi, hampir-hampir tidak ada komik tanpa cerita. Setidaknya saya belum pernah menjumpai komik ‘bagus’ tanpa cerita.

    Alan Moore (dedengkot penulis komik masterpiece semacam Watchmen, From Hell, dan V For Vendetta) dalam bukunya Writing For Comics, menjelaskan bahwa cerita adalah ‘nyawa’ dari komik. Visual yang bagus, teknik layouting dan paneling yang cutting edge, dapat membantu komik enak dipandang mata, tapi bisa jadi hal tersebut tidak begitu banyak membantu cerita komik tersebut untuk dapat dinikmati. Artinya, menurut Moore, kualitas komik ditentukan oleh kreativitas penceritanya. Sama halnya dalam film. Penyutradaraan yang bagus tidak akan dapat menyelamatkan naskah yang buruk, sementara penyutradaraan yang buruk masih dapat diselamatkan oleh naskah yang baik. Tapi, jika cerita adalah elemen vital dalam komik, dan komikus-komikus kita sudah menyadarinya, mengapa kok rasanya masih sulit menjumpai komikus lokal dengan kualitas cerita yang baik?

    Menyinggung hal tersebut sebenarnya sedikit banyak bakal menyinggung penulis-penulis lokal kita. Tidak banyak yang berani menerjunkan dirinya untuk menulis dalam medium komik. Penulis besar kita yang pernah menulis untuk komik (sejauh yang pernah saya temukan) hanya Seno Gumira Ajidarma (Detektif Sukab). Selain beliau, belum ada lagi karya kolaboratif antara penulis “matang” dengan komikus/ilustrator. Kebanyakan penulis lebih memilih film sebagai medium penceritaan alternatif mereka. Artinya medium komik belum dianggap sebagai ekspresi penceritaan yang prima bagi kaum pencerita..

    Disini saya ingin mengatakan, membuat cerita yang berkualitas jelas bukan persoalan mudah. Sama dengan skill menggambar/visual, dibutuhkan proses (yang dibumbui dengan darah, air mata, dan kantong kering) selama bertahun-tahun untuk tumbuh menjadi penulis yang mampu membuat kisah yang berkualitas. Butuh upaya begitu keras bagi penulis untuk mematangkan dirinya. Memang, dalam teori kita bisa mempelajari struktur penceritaan (three act structure), plotting, twist and turn, teknik denouement, foreshadowing, dll, Tapi penguasaan teori-teori tersebut belumlah menjadi jaminan untuk menjadi penulis yang ‘matang’. Perlu saya jelaskan, penulis yang ‘matang’ saya anggap sebagai penulis yang memiliki suara unik dan memiliki ‘jiwa’ dalam setiap tulisannya. “Jiwa” tersebutlah yang bagi saya menjadi hal yang membedakan antara cerita yang berkualitas dengan cerita yang bagus. Yang mas Kurnia harapkan di tulisan diatas saya kategorikan sebagai cerita yang ‘berkualitas’.

    Belum lagi kalau sudah menyinggung persoalan menulis untuk medium komik…

    Format penulisan naskah komik yang sering saya jumpai hampir-hampir mirip naskah film. Tapi naskah komik memiliki semacam kesulitan tersendiri karena penulis wajib menjelaskan ceritanya dalam segi visual dari panel satu ke panel lain, dari halaman pertama hingga halaman terakhir. Disini penulis komik dituntut untuk tidak hanya bisa menulis atau memahami tangga dramaturgi saja. Penulis komik juga dituntut untuk bisa berpikir secara visual. Itu sendiri pun adalah ilmu yang lain lagi, dan saya rasa hal tersebut menjadi tantangan yang cukup berat untuk penulis yang biasa mengekspresikan idenya lewat kelihaiannya merangkai kata-kata. Alan Moore, Sang maestro comic writing sendiri pernah membuat kesalahan konyol ketika menggarap V For Vendetta bersama David Lloyd. Dalam salah satu deskripsi panelnya Alan Moore pernah meminta David Lloyd untuk menggambarkan V (tokoh utama komik tersebut) sedang tepat membelakangi pembaca, dan menghadapi puluhan orang di depannya dengan mengambil sudut seakan V sedang tertawa ironis, sedangkan shot yang diminta adalah establishing shot. Bukannya jika membelakangi pembaca, ekspresi V tidak akan mungkin terlihat.oleh pembaca? Dan lagi bukannya pengambilan establishing shot akan sulit sekali membuat angle seperti yang diminta? Lewat peristiwa tersebut saya jadi berpikir.Penulisan komik memiliki kompleksitas yang sangat tinggi sehinga penulis dengan level maestro pun masih bisa melakukan kesalahan konyol. Learning curve untuk penulisan komik pun saya rasa masih sangat tinggi, karena itu hal Ini berpotensi menjadi masalah yang masih menjadi momok bagi para penulis yang ingin mengeksplorasi medium komik.

    Belum lagi stigma yang masih lumrah di Indonesia bahwa komik adalah bacaan anak-anak. Ketika dihadapkan pada tuntutan untuk membuat cerita yang dapat dinikmati semua umur, penulis yang terbiasa membuat cerita yang “segmented” (17-21 tahun keatas) menjadi terbatasi ekspresinya. Padahal, jika melihat komik anak-anak dewasa ini, anak-anak sudah mendapatkan asupan ‘nutrisi’ yang cukup. Justru orang dewasa yang sekarang sangat kekurangan ‘nutrisi’ komik yang berkualitas.Masih jarang sekali saya dapatkan komik dewasa dengan kualitas seperti Hidup Itu Indah-nya Aji Prasetyo.

    Apakah rintangan-rintangan tadi membuat komik lokal dengan kualitas internasional jadi mustahil?

    Tentu saja tidak.

    Menurut saya pribadi, masih banyak jalan untuk menuju ke sana. Salah satunya dengan menggiatkan budaya kolaborasi, terutama untuk penulis dan ilustrator. Mereka perlu berkembang bersama-sama. Masih banyak wadah yang dapat digunakan bagi penulis untuk bereksperimen dengan komik. Banyak komunitas-komunitas ilustrator yang dapat diajak kolaborasi oleh penulis, begitu juga sebaliknya.Workshop online untuk penulisan komik juga sangat mungkin untuk diadakan. Selain itu, di era informasi yang begitu terbuka ini rasanya penulis-penulis lokal bisa dibuka matanya tentang potensi medium komik. Watchmen (komik terbitan 1988) diangkat sebagai salah satu novel paling berpengaruh di abad 20 versi majalah Times. Itu
    sudah menjadi bukti mutakhir bahwa komik memiliki potensi sebagai art, sebagai seni yang sah! Terakhir, seperti yang sudah Mas Kurnia singgung, kita benar-benar perlu kritikus dan editor komik berkualitas. Hikmat Darmawan adalah salah satu (spesies langka) kritikus komik yang saya tunggu tulisan-tulisannya. Sebuah kehormatan rasanya bisa diulas oleh penulis dan pengamat komik sekelas Hikmat Darmawan.

    Intinya: kita bisa!
    dan sangat mungkin!

    Tapi, jika komikus-komikus (seperti saya) masih memampang topeng berbalut narsisme, dan masih memagari diri dengan sikap anti-kritik, rasanya membuat komik lokal berkualitas internasional masih berjuta-juta tahun cahaya jauhnya.

    Ya. kita mutlak membutuhkan kesadaran dan mentalitas.
    Sayangnya dua hal tadi tidak bisa dibentuk hanya dengan sekedar kata-kata.

    Di luar itu semua saya memilih optimis. Karena diakui atau tidak, ada perkembangan yang terlihat pada dunia komik Indonesia. Mulai banyak pilihan yang bisa ditempuh oleh komikus lewat gerbang freelance. Mulai bermunculan ulasan-ulasan tentang komik, baik yang dangkal ataupun yang mendalam. Mulai banyak website yang menyediakan konten komik sebagai frontline penarik perhatian massa mereka. Hal itu bagi saya adalah benih untuk me-reformulasikan seperti apa nantinya Dunia Komik Indonesia dalam 5-10 tahun mendatang.

    Salah satunya bisa jadi adalah Web Akademi Sekuensi ini.

    Bravo untuk Akademi
    Sekuensi! Bravo untuk Kurnia!

    Segenap salam hormat dari saya.

  • Karna Mustaqim

    owh, saia ngalamin yang agak dahsyat juga belakang hari ini. Bahkan, tanpa ada maksud mengkritik karya maupun penggambar komiknya sedikitpun, tetapi kripikan ditujukan kepada mengapa pembaca harus menanyakan hal ini dan ini dan itu… tapi…
    ternyata, yang tersinggung malah si penggambar komiknya sampai bersitegang, padahal kabarnya doi itu newborn superstar yang sedang kuliah di negeri paman Sam. ehehe… tapi ya sudahlah, sedang bukan rezekinya kita.