Kotagede dalam Komik dan Setelahnya

Kotagede dalam Komik dan Setelahnya

Oleh -
0 95
sampul kotagede dalam komik
Oleh: Koskow
Catatan Editorial: Tulisan ini dipersiapkan sebagai pengantar diskusi buku komik “Kotagede dalam Komik” yang berlangsung pada 24 Mei 2013 di aula BPAD, Yogyakarta. 

Kotagede dalam Komik adalah sebuah buku yang berisi komik tentang Kotagede.  Di dalamnya juga terdapat arsip rekam jejak proses buku tersebut. Arsip tersebut selain bertujuan sebagai sebuah dokumentasi proyek juga sebagai pengetahuan bagi mereka yang ingin mengerjakan proyek serupa.

Kotagede dalam Komik itu sendiri merupakan bagian dari event Diskomfest keempat, sebuah event yang dikerjakan oleh mahasiswa Disain Komunikasi Visual (DKV) ISI Yogyakarta. Ringkasnya, komik ini ditempatkan sebagai sebuah pra-event Diskomfest. Diskomfest keempat tersebut bertemakan “Culture Expansion, sebuah tema yang mengundang para desainer untuk menempatkan diri terhadap budaya lokal.

Lokal dalam Kotagede dalam Komik yaitu Kotagede beserta seluruh keragamannya (heritage, kuliner, sejarah, hingga psikologi orang(-orang) Kotagede. Perlu diketahui Kotagede dipilih sebagai subyek event bukan merupakan hal baru, termasuk bagi DKV ISI Yogyakarta. Artinya, pilihan ke Kotagede juga dapat dilihat sebagai sebuah praktik yang, dalam hal tertentu, tidak baru. Maka itu, perlu perluasan dalam melihat “yang lokal”.

Tulisan ini berusaha menceritakan Kotagede dalam Komik dan setelahnya, yaitu lokal yang menunjuk 1 Kilometer sekitaran kampus ISI Yogyakarta. Selajutnya, penceritaan tersebut akan disampaikan melalui bentuk tanya jawab.

 

Tanya (T): Bagaimana memandang “Kotagede dalam Komik” sebagai sebuah karya komik yang mengisahkan kelokalan?
Jawab (J): Kelokalan dalam “Kotagede dalam Komik” dapat dialamatkan kepada keragaman yang terdapat di Kotagede. Keragaman tersebut menunjuk pada pilihan tema seperti kuliner (Kipo, Sate Karang), sejarah (dulu-sekarang, asal-usul), cerita (Baong), arsitektural (tentang gang di Kotagede), pendidikan dan profesi (pedagang perak), harga diri (semangat bocah). Kelokalan juga menunjuk pada pilihan sudut pandang (sebagai wisatawan di Kotagede, sebagai pemuda Kotagede, hingga identitas pribumi).
 
T: Cara apa saja yang diterapkan dalam proses perancangan “Kotagede dalam Komik”?
J: Cara yang dijalankan antara lain studi pustaka, pengamatan di lokasi, pembekalan materi oleh komikus (Asnar Zacky, Apriyadi Kusbiantoro), dan terutama wawancara dengan narasumber di Kotagede.
 
T: Apakah terdapat pula orang dalam alias yang berasal dari Kotagede?
J: Ada, yaitu Imam Zakaria, mahasiswa DKV ISI Yogyakarta. Imam merupakan salah satu penghubung proyek “Kotagede dalam Komik” dengan warga Kotagede, terutama warga Kampung Pekaten, kampung yang dipilih menjadi lokasi perancangan. Keberadaan Imam selain memudahkan dalam hal informasi juga setidaknya menjadi penghubung dengan warga di Kampung Pekaten.
 
T: Bagaimana hasil Kotagede dalam Komik itu sendiri jika ditinjau dari sisi komik?
J: Pilihan keragaman tema menjadi salah satu pertimbangan menyeleksi sekian komik untuk dibukukan. Meski demikian, beberapa panel komik masih memilih gapura atau obyek arsitekural yang kerap dijumpai di berbagai media yang mengkomunikasikan Kotagede. Artinya, sudut-sudut lain yang ada di Kotagede kurang mendapat perhatian. Selain itu perspektif yang dipilih masih di Kotagede, belum melibatkan lokasi lain. Jika menempatkan Kotagede sebagai bagian dari kota Yogyakarta tentunya Kotagede juga berhubungan dengan lokasi lain, misalkan tempat pembuangan sampah, misalkan TPA Piyungan, mengingat sampah di Kota Yogyakarta bermuara akhir ke sana.
 
T: Apa yang dipelajari dari proyek “Kotagede dalam Komik”?
J: Kotagede dalam Komik dalam hal tertentu masih “aku-centris”, belum dari sudut pandang “yang lain”. Dalam perjalannya proyek Kotagede dalam Komik, oleh mata kuliah Seminar di DKV ISI Yogyakarta, dilanjutkan. Proyek yang dipilih yaitu 1 Kilometer sekitaran kampus ISI Yogyakarta.
 
T: Bisa dijelaskan tentang 1 Kilometer?
J: 1 Kilometer tersebut dilatarbelakangi oleh kesadaran waktu, yaitu sekitar sekian puluh tahun kampus ISI (ber)ada. Keberadaan tersebut ditinjau dari hubungan sebagai tetangga. Jadi ini tentang kisah-kisah bertetangga, antara Kampus ISI Yogyakarta dengan warga sekitar.
 
T: Apa yang mau dicari lewat proyek 1 Kilometer tersebut?
J: Yang mau dicari yaitu bagaimana warga sekitaran kampus memandang keberadaan kampus selama ini. Jadi ini tentang persepsi warga akan keberadaan kampus ISI, sebagai bagian dari lingkungan keseharian mereka.
 
T: Bagaimana proyek tersebut dijalankan?
J: Proyek 1 Kilometer dijalankan juga melalui wawancara dengan warga di sekitar kampus. Wawancara dilakukan beberapa kali, dan dirasa cukup misalkan dengan mengamati apakah narasumber sudah kerap menyampaikan hal yang sama secara berulang kali. Hal itu dapat dilihat sebagai data yang sudah jenuh.
 
T: Apakah cukup dengan perancangan komik saja?
J: Selain merancang komik, mahasiswa kelas Seminar juga diberi pilihan memilih media. Keragaman media yang dipilih disesuaikan dengan pilihan mahasiswa dan terutama media yang tepat dalam menyampaikan persoalan. Media-media tersebut antara lain cerita bergambar (cergam), novel grafis, dan ada pula yang menyampaikan melalui cerita pendek dan berbahasa Jawa. Selain itu terdapat satu orang mahasiswi yang diberi proyek khusus, yaitu foto warga.
 
T: Bagaimana warga sekitar menikmati hasil proyek tersebut?
J: Proyek 1 Kilometer dipamerkan di Ruang Kelas SD, sebuah ruang seni yang terdapat di Dusun Geneng, sebuah dusun di barat kampus ISI Yogyakarta. Pembukaan pameran tersebut melibatkan warga yaitu karawitan, serta ada pula sajian hip hop oleh pemuda setempat. Diskusi juga diselenggarakan dalam rangkaian pameran, yaitu antara Dekan Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta (Dr. Suastiwi) dengan Dukuh Dusun Geneng (Bapak Kerto Rejo), serta diikuti beberapa alumni maupun mahasiswa/i Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta. Dalam diskusi tersebut Bapak Kerto Rejo menyampaikan bahwa proyek 1 Kilometer jangan sebatas warga yang menikmati hasil, kampus juga harus mendapat sesuatu dari proyek tersebut. Pernyataan Bapak Kerto Rejo tersebut menjadi salah satu titik berangkat bagi proyek 1 Kilometer tahun berikutnya, yaitu bagaimana proses komunikasi yang selama ini dijalankan warga terutama dalam menjalankan usaha masing-masing (warung makan, toko, tambal ban, dlsb). Maka itu dalam proyek 1 Kilometer yang kedua jauh lebih sulit, meski juga melalui proses wawancara dengan warga. “Sulit” tersebut karena mahasiswa/kampus mesti mencari tahu pengetahuan yang dijalankan warga dalam menjalankan usahanya selama ini. Pengetahuan tersebut yaitu tentang komunikasi.
 
T: Lantas, adakah yang dipelajari dari proyek 1 Kilometer, baik yang pertama maupun yang kedua?
J: Tentu ada. Kami, baik mahasiswa, dosen (saya), pertama jadi tahu bagaimana warga memandang kami. Kedua, terkait komunikasi, kami jadi tahu bagaimana kelokalan dalam praktik berkomunikasi dijalankan oleh warga. Artinya, sebagai sebuah ilmu, desain komunikasi visual tidaklah bebas nilai. Desain komunikasi visual juga diwarnai kelokalan, baik dalam bahasa, adab tutur, hingga bentuk.
 
T: Apa agenda selanjutnya?
J: Nah itu, justru kami mencari masukan dari sana sini terkait desain dan kelokalan. Setidaknya kelokalan dapat menunjukkan bahwa keragaman dalam desain merupakan hal yang perlu, sehingga satu budaya tidak berusaha mengatasi budaya yang lain. Keragaman dapat dihadirkan lewat kelokalan, dan kelokalan itu sendiri mesti dilihat sebagai bagian dari keseluruhan.
[author image=”https://fbcdn-sphotos-h-a.akamaihd.net/hphotos-ak-prn2/1378109_10151747976968031_1210591479_n.jpg” ]Koskow, alias Widyatmoko, pengajar di Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa, ISI Yogyakarta. Email: koskowbuku@gmail.com. Buku yang pernah diterbitkan antara lain “Merupa Buku” (LKiS, 2009), “Teman Merawat Percakapan” (Tan Kinira Books, April 2013). Saat ini tinggal dan menetap di Yogyakarta.[/author]