Meretas Jalan Masa Depan: Kritik Komik dan Tantangannya di Indonesia

Meretas Jalan Masa Depan: Kritik Komik dan Tantangannya di Indonesia

Oleh -
2 544
Critics

Tulisan tentang kritik komik ini telah mengalami perubahan teknis seperlunya – dengan menambahkan catatan kaki dan referensi, tanpa mengurangi maksud awal tulisan. 

Terkait dengan kritik komik, seorang teman pernah melontarkan pendapatnya kepada saya mengenai jenis-jenis kritik komik, di mana salah satu pendapatnya yang paling saya ingat adalah: “komentar di Facebook pun itu adalah kritik”. Benarkah demikian? Pertanyaan ini tidak perlu dijawab dengan tergesa-gesa seperti perjaka yang kebelet kawin. Terlebih dahulu saya ingin menceritakan sebuah peristiwa kecil, kali ini tentang posisi kritik di Indonesia. Cerita akan saya batasi pada bidang seni, persisnya, kritik seni rupa.

Di lain hari pada bulan Mei saya berbincang dengan seorang kurator via Facebook. Sesi obrolan yang berlangsung di kala panah hujan tanpa ampun menerjang bumi itu berkisar di permasalahan posisi kritikus di bidang seni rupa yang menurutnya tidak begitu dihargai. Sang kurator menjelaskan bahwa di Indonesia, wacana yang dominan adalah wacana harmoni. Saking kuatnya wacana semacam itu, kritik atas sebuah karya dianggap sebuah nilai pengganggu tatanan. Singkat cerita, ia membandingkan kondisi di sini dengan di “Barat” (secara khusus ia merujuk Eropa dan Amerika) sana, yang konon katanya memiliki sejarah kritik seni yang tajam dan keras. Dua pertanyaan muncul: benarkah kritikus, terutama idenya, tidak diterima di Indonesia? Kalaupun benar, kenapa masih sempat orang tertentu mengembel-embeli dirinya sebagai “kritikus” di sebuah tulisan seputar sastra Indonesia, misalnya? Sampai batas mana seseorang bisa mengaku diri sebagai kritikus?

Teks-teks seputar ‘kritik komik’, menurut pendapat saya, telah menjadi sesuatu yang cair maknanya oleh karena anggapan umum bahwa sebuah tulisan (yang pendek sekalipun) bisa dianggap sebagai sebuah kritik. Komentar negatif di laman Facebook, misalnya, di mana seorang komikus menunjukkan karyanya kepada teman-temannya, merupakan jenis produksi tulisan yang dianggap pantas disebut sebagai kritik. Lalu, komentar negatif pendek-pendek atas sebuah komik, yang ditulis lewat twitter pun dianggap kritik komik. ‘Kritik komik’ sebagai sebuah istilah tampak bisa dilekatkan kepada jenis tulisan apa saja, membuatnya berada di dalam kamar gelap yang wujudnya bisa berubah kapanpun. Tulisan ini bermaksud untuk memberikan sumbangan kecil terhadap wacana seputar ‘kritik komik’ yang tampak susah sekali untuk dirumuskan itu. Lebih jauh lagi, skop tulisan ini saya maksudkan untuk diletakkan dalam lingkup yang lebih luas seperti kajian komik. Namun sebelum masuk ke paparan yang lebih substantif, saya akan memulai sedikit paparan tentang pandangan etimologis mengenai ‘kritik’ itu sendiri.

1/

Kebanyakan orang mungkin sudah telanjur melakukan apriori terhadap kritik, seolah-olah kritik itu identik dengan bentuk-bentuk lisan dan tulisan yang bertujuan semata untuk menemukan kesalahan tertentu dan penuh dengan pandangan-pandangan negatif nan meresahkan atas sebuah corpus yang dibahas oleh sang kritikus. Tentu saja perkaranya tidak sesederhana itu. ‘Kritik’ itu sendiri – yang secara etimologis berasal dari kata krinein yang berarti menilai – sudah merujuk kepada metode yang berpegang kepada disiplin, sebuah analisis sistemik yang umumnya tertulis dan/atau disampaikan secara lisan. Jika komikus berpegang pada pengetahuan dan konsep visual – cara mengatur komposisi antar panel untuk diletakkan dalam ruang (layout), teks dan gambar, tebal-tipis garis, plot cerita, konflik, klimaks, dan sebagainya – sebelum ia mulai menumpahkan imajinasinya di atas kertas, maka pasangannya, kritikus komik, juga melakukan hal serupa meskipun pengetahuan/konsep yang dipakai, juga output yang dihasilkan akan sungguh berbeda.

Karena kritik adalah sebuah disiplin, maka gagasan kritik yang paling negatif sekalipun selalu memuat pertimbangan tertentu yang digunakan untuk menilai fenomena atau objek tertentu. Dengan kata lain, ada standar penilaian, fakta, konsep, dan teori tertentu yang dipakai sebagai jalan untuk mengantar seorang kritikus sampai kepada kesimpulan-kesimpulan tertentu. Pendapat ini hanya mau mengatakan bahwa kerja seputar produksi wacana tentang komik Indonesia tidak bisa dilandaskan pada kata hati semata. Orang tidak bisa menyebut seorang komikus sebagai pembaharu dalam bidang estetika komik Indonesia, misalnya, tanpa menjelaskan kenapa dan bagaimana dia bisa sampai kepada kesimpulan semacam itu.

Sebuah kritik, dengan demikian, selalu mengandaikan sebuah standar untuk memperlihatkan apa yang esensial (Gosche, 2007: 12).  Pada bidang-bidang lain di luar kajian komik seperti sastra, misalnya, konon katanya kritik sastra merupakan sebuah dunia penilaian yang dipengaruhi oleh perkembangan kristianitas. Gereja di era Rennaissance pada umumnya tidak hanya bertugas menyeleksi teks-teks kitab suci yang “boleh beredar”, melainkan juga bertugas meluruskan pembacaan yang menyesatkan (emendatio) terutama untuk untuk karya-karya puisi dan narasi epik; dalam tradisi Islam juga dikenal ahli tafsir dengan ilmu menilai hadis atau kritik sanad-nya untuk menakar keaslian hadis yang dibagi menjadi tiga kategori: shoheh, dha’if, maudhu’.[i]

Ada dua hal yang setidaknya bisa ditangkap dari contoh di bidang-bidang di luar kajian/kritik komik, yakni: 1) kritik atas teks tertentu yang dikerjakan dengan disiplin yang sistematis, dan 2) usaha untuk melegitimasikan sebuah teks yang dikerjakan oleh sebuah institusi atau orang yang dianggap punya kapasitas modal kultural (keilmuan) untuk memberi legitimasi. Ada satu lagi yang bisa ditambahkan di sini selain karakteristik  kritik komik tersebut, yakni gelar kritikus yang seharusnya terkait dengan seorang ahli yang menguasai dasar-dasar tentang sejarah komik dan teori komik tertentu. Sampai di sini orang bisa melanjutkan ke satu pertanyaan: bagaimana sebetulnya wujud dan gagasan sebenarnya dari ‘kritik komik’ itu sendiri? Saya akan berusaha meraba jawaban atas pertanyaan ini dengan cara menempatkan “kritik” dalam wilayah produksi wacana kajian komik supaya kita bisa melihat kekuatannya dalam menentukan legitimasi komik di tengah wacana akademis.

1 2 3 Selanjutnya
Editor Jurnal komik Online. Penulis buku Meledek Pesona Metropolitan (2013). Menghidupi hasrat sebagai kurator komik dan penulis musik (metal). Sisi samping: seni, organizer dan bahan bacaan.
  • Critical Thinking ada mata kuliahnya sendiri bukannya. Dan bisa dari sudut pandang mana saja.

  • ule

    Saya cukup bingung mengapa dalam artikel ini kritik (1) dibandingkan dengan kritik (2) yang berarti kajian karena makna dalam kata tersebut tidaklah sama persis. bahasan bahwa krikit tidak diterima di Indonesia juga terasa mandeg dalam pendapat “kritik dapat mengganggu keharmonisan” , alih-alih membahas kritik yang ada di Indonesia penulis berpindah membahas kritik yang ada di luar negri dan membahas hal-hal yang tidak ada di Indonesia.