Meretas Jalan Masa Depan: Kritik Komik dan Tantangannya di Indonesia

Meretas Jalan Masa Depan: Kritik Komik dan Tantangannya di Indonesia

Oleh -
2 544

2/

Orang sudah terlalu sering mendengar bahwa komik kekurangan legitimasi dari masyarakat oleh karena dianggap bacaan kekanak-kanakan, sampah visual, produk murahan, dan orang tua pun melarang anaknya untuk baca komik. Dalam lingkup pengembangan keilmuan komik, teori komik jauh tertinggal dibandingkan saudara-saudaranya seperti seni rupa, film dan sastra. Sependek yang ingin saya katakan dan yang saya tahu, wacana pengembangan teori komik, termasuk kajian komik, agaknya jauh tertinggal dibandingkan dengan apa yang sudah dilakukan oleh para intelektual untuk bentuk-bentuk yang lain, meskipun sekarang di sana-sini agaknya para intelektual (terutama yang berasal dari Barat) mulai melirik komik sebagai medium yang pantas dikembangkan dan diteliti. Saya akan dengan cepat membicarakan beberapa contoh perihal legitimasi kultural yang diberikan oleh kaum cerdik-pandai, di luar sana, kepada komik. Karena apa yang dibahas bisa sangat luas (karena mesti melibatkan banyak contoh), saya putuskan untuk membatasinya dengan cara membahas secara kikir beberapa contoh yang saya pilih secara acak.

Di Eropa, situasi di mana komik kekurangan perhatian secara keilmuan menyebabkan legitimasi artistik yang diberikan kepada komik baru dimulai di paruh terakhir abad ke-19, atau tepatnya ketika Rodolphe Töpffer menulis Essai de physiognomonie (1845) (Groensteen, 2007: 1). Esei itu dianggap sebagai tulisan rintisan yang perspektifnya menstimulasi refleksi terhadap medium komik. Meskipun tulisan awal sudah dirintis, namun tetap saja penghayatan terhadap komik masihlah kurang. Thierry Groensteen menyebut kurangnya penghayatan semacam itu sebagai tanda terpisahnya praktik dari teori, dimana karya tulis yang berkontribusi terhadap pemahaman menyeluruh atas fenomena komik sangat terbatas dalam hal kuantitas. Dia menyebut secara spesifik dengan mencontohkan secara kontekstual bahwa legitimasi komik sebagai “seni kesembilan” di Perancis tidaklah memancing kemunculan karya-karya tulis seperti yang dimaksud.

Apa yang saya tulis di atas adalah sedikit cerita tentang kegelisahan seorang teoritikus komik asal Perancis yang berusaha dengan keras melegitimasikan komik dengan cara membangun teori komik (Groensteen melakukan ini lewat bukunya The System of Comics, [2007, University Press of Mississippi]) supaya medium tidak sekadar ditempatkan dalam posisi komoditas di mana transaksi jual beli diadakan dan komikus menjadi objek fetish di mata penggemarnya, melainkan menempatkan medium dalam wacana pemikiran yang mendorong orang untuk melakukan analisa kritis atas medium sekuensial. Buku Groensteen itu menarik karena ia berusaha menarik medium komik ke dalam abstraksi teoritis yang dibangun berdasarkan studi semiotik – dengan konsep sign dan sign system-nya. Dengan abstraksinya itu, ia mengarahkan studi komik ke ranah formalisme komik (studi atas elemen-elemen formal komik). Ia menghabiskan waktu, mencari penjelasan yang cocok untuk mencari legitimasi teoritis atas kualitas formal pada komik itu sendiri. Pada hakikatnya, the System of Comics menurut saya dekat dengan usaha untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang lebih sederhana, yakni apa yang membuat komik menjadi komik. Dan ia melakukannya dari sisi seorang peneliti akademis.

Saya tidak tahu apakah situasi kajian komik di Perancis memang begitu miskin sehingga orang seperti Groensteen sampai menyebut bahwa karya tulis yang membahas dan membicarakan komik sangat jarang. Meskipun begitu, jika orang menilik konteks di luar Perancis, bukan berarti bahwa wacana pemikiran di mana komik menjadi corpus dalam sebuah karya tulis tidak ada sama sekali. Di Amerika Serikat, misalnya, pada tahun 1954 muncul buku Seduction of Innocent karya seorang psikiatris, Fredric Wertham, yang punya pengaruh dahsyat untuk dunia komik Amerika di tahun-tahun setelah buku itu terbit. Buku tersebut memancing pro dan kontra, terutama di seputar argumen bahwa komik memberi pengaruh yang sifatnya merusak bagi anak-anak. Kritik Wertham atas medium dan konten pada komik Amerika ketika itu melecut campur tangan kongres Amerika di industri komik yang dimaksud, sebuah campur tangan yang kemudian melahirkan Comics Code. Walau di kemudian hari terbukti bahwa Wertham memanipulasi data untuk memperkuat argumennya, namun orang seperti Ken Parille justru melihat Wertham sebagai kritikus komik terbaik yang pernah dimiliki Amerika. Parille dengan mantap menyebut bahwa karya Wertham memiliki kelebihan, terutama karena ia “[t]alks not only about plot, images, narration, and dialogue, but about seemingly every aspect of comic books and the culture in which they were created and consumed” (Parille, 2013). Walaupun klaim Parille – dan karya Wertham – itu masih bisa diperdebatkan, namun orang sesungguhnya bisa melihat bahwa apa yang dilakukan Wertham adalah sebuah contoh legitimasi dalam bentuknya yang negatif (bahwa komik adalah bacaan berbahaya bagi anak-anak), dan ini tidak bisa lepas dari peran yang dimainkan orang dengan keahlian khusus (katakanlah di sini: intelektual).

Kyoto Seika University dengan International Manga Research Center (IMRC) dan Manga Museum miliknya yang secara gradual mengundang pakar komik dari luar negeri untuk terlibat dalam konferensi studi komik adalah contoh lembaga yang paling getol mempromosikan dan melegitimasikan apa yang disebut pentingnya kajian komik. Setiap tahun mereka menyelenggarakan konferensi internasional komik di berbagai negara, mengundang para pakar, komikus, dan masyarakat komik untuk duduk dalam satu ruangan membicarakan karya kontemporer dan perkembangan kajian komik secara global. Tiga buku hasil konferensi pertama sampai ketiga kini bisa dinikmati secara luas karena IMRC menyediakan fasilitas supaya orang bisa mengunduhnya secara gratis. Di luar Kyoto, orang bisa mengarahkan pandangan kepada University of Minnesota, Amerika Serikat, yang menyediakan jurnal Mechademia sebagai wadah yang berusaha menjembatani komunikasi antara fans dan akademisi. Pada jurnal yang disebut inilah terbuka kesempatan untuk memunculkan pemikiran kritis lewat gaya penulisan ilmiah populer. Dua contoh yang saya sebut mungkin bisa dianggap wakil-wakil “produk” yang relatif “berhasil” menempatkan komik ke dalam singgasana akademis.

Memang di permukaannya, para pengkaji komik di Indonesia boleh jadi iri oleh karena kesempatan-kesempatan yang terbuka luas bagi para akademisi luar negeri untuk melakukan riset yang berkaitan dengan komik.  Meskipun demikian, soalnya tidak sekadar terbukanya kesempatan-kesempatan khusus yang membuat iri, melainkan juga keterbatasan akses. Benar bahwa teori, konsep, dan pengetahuan tentang komik telah disediakan oleh para intelektual dari luar Indonesia, dan mereka yang berminat dengan kajian komik seperti tinggal memanfaatkan hidangan tersebut untuk memperkuat argumentasi yang dibangun di seputar bidang-bidang perkomikan yang ingin dikaji, yang hasilnya kemudian dikomunikasikan kepada masyarakat luas. Namun sejauh yang saya amati, produk-produk buku kajian komik yang berasal dari luar negeri umumnya sangat sulit diakses oleh publik Indonesia dan tidak semua pembaca di Indonesia mampu memahami karya tulis yang dimaksud oleh karena perbedaan bahasa tutur yang digunakan.

Sebelumnya 1 2 3 Selanjutnya
Editor Jurnal komik Online. Penulis buku Meledek Pesona Metropolitan (2013). Menghidupi hasrat sebagai kurator komik dan penulis musik (metal). Sisi samping: seni, organizer dan bahan bacaan.
  • Critical Thinking ada mata kuliahnya sendiri bukannya. Dan bisa dari sudut pandang mana saja.

  • ule

    Saya cukup bingung mengapa dalam artikel ini kritik (1) dibandingkan dengan kritik (2) yang berarti kajian karena makna dalam kata tersebut tidaklah sama persis. bahasan bahwa krikit tidak diterima di Indonesia juga terasa mandeg dalam pendapat “kritik dapat mengganggu keharmonisan” , alih-alih membahas kritik yang ada di Indonesia penulis berpindah membahas kritik yang ada di luar negri dan membahas hal-hal yang tidak ada di Indonesia.