Meretas Jalan Masa Depan: Kritik Komik dan Tantangannya di Indonesia

Meretas Jalan Masa Depan: Kritik Komik dan Tantangannya di Indonesia

Oleh -
2 544

3/

Lalu, setelah susah payah dengan cara sedikit mengintip kajian dan/atau kritik komik yang dikerjakan intelektual dari luar, kita bisa bertanya: bagaimana dengan yang terjadi di Indonesia? Jika Groensteen hidup di sini, dan masih menikmati takdir serupa seperti yang diberikan oleh-Nya di Perancis sana, maka mungkin ia akan berpendapat demikian: bahwa terlalu sedikit karya tulis dalam bentuk buku yang secara komprehensif membahas perkembangan komik Indonesia itu sendiri.

Meskipun begitu, di Indonesia ini barangkali salah satu fenomena yang khas adalah: koran, tabloid, dan majalah umum memberikan lebih banyak legitimasi kepada komik Indonesia dan pelaku-pelakunya dibandingkan dengan buku, jurnal ilmiah, maupun majalah yang khusus membahas komik sebagai sesuatu yang pantas diteliti dan dikembangkan secara keilmuan. Tulisan dalam koran, tabloid, maupun majalah umumnya ditulis wartawan serta penulis artikel dari luar media massa yang mencoba untuk meletakkan argumen melaui perspektif tertentu. Tidak jarang pendapat para “ahli komik” dan wartawan yang menulis tentang komik di sejumlah kolom seni di surat kabar kemudian dikutip dan diletakkan di sampul belakang karya komik dengan tujuan untuk mensahkan legitimasi, bahwa produk komik tertentu layak dibaca karena “bermutu”. Secara umum harus saya akui bahwa menurut saya pembahasan dalam ketiga jenis media massa tersebut terasa lebih menyenangkan karena umumnya lebih enak dibaca. Tetapi karena memiliki memiliki ruang terbatas, koran, tabloid, dan majalah terkadang tidak memungkinkan penulis tertentu untuk mengelaborasi pemikirannya secara komprehensif.

Terkait dengan peran koran, tabloid, dan majalah, coba kita takar dua contoh pertanyaan kontradiktif, pertama: berapa banyak buku yang sudah terbit, yang dimaksudkan untuk membahas capaian-capaian estetis karya-karya RA Kosasih sebagai bapak komik modern Indonesia secara kritis dan adil, dengan membandingkan capaian-capaiannya dengan komikus lain? Mungkin tidak ada! Jika pertanyaan ditujukan untuk koran: berapa banyak berita koran yang ditulis dengan maksud untuk mempopulerkan nama RA Kosasih? Banyak! Apa yang saya takutkan – ini sekaligus sebagai koreksi untuk diri saya sendiri – pada dua contoh yang kontradiktif tersebut adalah terciptanya mitos RA Kosasih sebagai Bapak Komik Modern Indonesia yang hanya tertinggal sebagai mitos bikinan koran belaka, tanpa sedikitpun niat dari para “intelektual” komik Indonesia untuk membikin kajian kritis yang komprehensif tentang bapak komik modern Indonesia itu, beserta capaian-capaian gaya berkomiknya dan hubungannya dengan konteks ekstra-komikal, dunia-dunia di luarnya. Perkara yang saya ajukan menurut saya penting terutama sekali supaya sebuah medan bernama komik Indonesia “tidak kering meranggas dan halusinatif”[ii], tidak penuh dengan mitos-mitos serta pemujaan berlebihan terhadap individu tertentu. Dengan dedikasinya yang kuat di bidang penciptaan komik, RA Kosasih rasanya pantas mendapatkan perlakuan lebih dari para “intelektual” komik Indonesia dibandingkan dengan apa yang ia terima dari koran-koran yang mempopulerkan namanya. Lewat contoh mengenai RA Kosasih, saya tidak bermaksud mengatakan bahwa koran tidak penting, dan pada hakikatnya karya tulis dalam bentuk buku dan wacana kaum akademis akan selalu berkualitas dibandingkan dengan wacana koran. Apa yang ingin saya kemukakan di atas adalah satu contoh bidang di mana sebetulnya RA Kosasih diabaikan secara intelektual oleh kita.  

Selain RA Kosasih, ladang komik Indonesia merupakan tempat di mana benih telah jadi pohon dengan kumpulan buah, semuanya siap dipetik; sebagian buah kemudian ditimbang oleh ahli dan kualitasnya kemudian diperkenalkan kepada masyarakat yang siap mengkonsumsinya. Namun yang terjadi tidaklah selalu seperti bayangan ideal semacam itu. Apa sebab itu tidak terjadi? Saya teringat obrolan beberapa bulan lalu dengan seorang teman yang mengatakan bahwa dunia akademis turut berperan terhadap kemunduran kajian/kritik komik. Dia memberikan contoh tentang eksklusifitas jurnal akademis yang mana tidak banyak komikus atau masyarakat komik yang bisa mengaksesnya, apalagi membacanya. Teman saya itu benar tentang ekslusifitas jurnal akademis, tetapi bagi saya masalah tentang minimnya kajian komik di Indonesia juga tidak bisa dibebankan semata kepada mandegnya dunia akademis (ketika yang terakhir ini pun sepertinya tidak banyak membantu dalam menghasilkan kajian komik yang kritis, menggigit, dan ikut menggairahkan dunia perkomikan); lagipula, berapa banyak jurnal akademis yang memang punya kepedulian untuk berkutat pada wacana komik semata? Akar persoalannya, jika boleh saya urai dalam generalisasi yang terburu-buru, adalah:

  1. Minimnya kesempatan-kesempatan untuk mengkaji komik. Tidak semua orang (terutama sekali, akademisi dan mereka yang berminat mengkaji komik) memiliki kesempatan untuk mengembangkan minatnya mengkaji komik dan hal ini diperparah oleh kurangnya kesempatan untuk menerbitkan hasil kajian komik secara luas. Sama halnya dengan lembaga penelitian (terutama yang berafiliasi dengan negara dan universitas) yang kurang memberikan kesempatan dan insentif untuk mengembangkan wacana seputar dunia komik.
  2. Minimnya kesempatan juga dibarengi oleh minimnya kunci untuk mengakses buku-buku teori komik yang saat ini lebih banyak beredar dalam bahasa Inggris, berharga mahal, dan jelas kurang bisa terjangkau oleh kebanyakan dari kita. Ini adalah, menurut saya, salah satu kendala ketika orang bermaksud untuk mengkaji komik dengan bekal teori-teori komik tertentu yang sebenarnya sudah relatif matang dan terus berkembang di luar sana. Universitas pun mungkin tidak banyak membantu para mahasiswa yang berminat mengkaji komik dengan memberikan sebanyak mungkin akses kepada mereka untuk mendiskusikan buku-buku semacam itu. Kendati ada banyak kesulitan, namun sumbangan konsep-konsep yang dikembangkan “Barat” seperti semiotik-struktural, Psikoanalisa, Marxisme, Feminisme, Etnisitas, Post-kolonialisme, dan lain sebagainya bisa menjadi senjata yang membantu. Salah satu kajian yang banyak berutang kepada model Cultural Studies (juga teori komik seperti yang diangkat Will Eisner dan Scott McCould) adalah buku Seno Gumira Ajidarma, Panji Tengkorak: Kebudayaan dalam Perbincangan (KPG, 2011).
  3. Kita juga harus berjumpa dengan dua hal terakhir: di satu sisi, terbatasnya akses bahan-bahan penelitian, terutama untuk mereka yang berminat membahas komik-komik Indonesia di era yang telah berlalu. Saya tidak tahu apakah ada badan pengarsipan karya-karya komik yang membuka akses karya seluas-luasnya untuk diteliti demi pengembangan wacana komik itu sendiri. Ini menjadi penting untuk dipikirkan karena tanpa disadari, akses ke bahan-bahan penelitian terutama untuk komik-komik Indonesia di era sebelum abad-21 dimulai sungguh sangat sulit digapai; di sisi lain, buku klasik yang selalu dijadikan acuan, Komik Indonesia (karya Marcell Bonneff) merupakan buku yang kaya akan gambaran data yang bisa ditelusuri dan dikembangkan lebih lanjut. Ambillah contoh seperti pada periode medan (1960-1963) yang disebut sebagai sesuatu yang murni oleh karena tema-tema kedaerahan dan bakat besar para komikus (Bdk. Bonneff, 2008: 31-4). Saya pribadi bertanya: apa gerangan perbedaan gaya visual periode Medan dengan gaya visual (pulau) Jawa yang muncul pada periode yang sama, misalnya. Kaitan antara minimnya akses ke sumber-sumber data dan satu gambaran data pada karya tulis Bonneff itu ingin saya tarik dalam satu garis: bahwa mereka yang berminat melengkapi kajian Bonneff pada tingkat-tingkat tertentu yang khusus (seperti yang saya contohkan lewat pertanyaan di atas) akan selalu kesulitan dalam mengakses bahan penelitian oleh karena tidak terbukanya akses yang luas untuk menyelidiki data yang mungkin sekarang sudah sangat sulit ditemukan.

Membicarakan kajian/kritik komik di Indonesia selalu tidak mudah karena bidangnya sendiri yang relatif baru di Indonesia, dan juga merupakan bidang yang paling tidak populer bagi komikus maupun pembaca komik pada umumnya. Tetapi sebetulnya mungkin kita bisa mulai memikirkan ruang-ruang alternatif di mana orang bisa mendapat wadah untuk menyalurkan pikiran dan pertanyaan kritisnya tentang komik Indonesia. Inisiatif ‘Karbon Journal’, dengan salah satu edisinya yang membahas relasi komik dan kota (Februari 2009), menjadi satu model menarik untuk dikembangkan dan dilanjutkan oleh siapa saja. Ruang-ruang alternatif seperti itu sesungguhnya menarik karena paling tidak bisa meminimalisir eksklusifitas jurnal-jurnal akademis seperti yang telah saya ceritakan di atas.

Menurut pandangan saya, saat ini kondisi seputar wacana komik Indonesia, baik kritik komik maupun studi komik masih sangat sepi. Dengan kata lain, dua jenis kerja intelektual tersebut masih sangat langka. Apa perlunya kajian dan kritik komik? Jika dijelaskan dalam kalimat normatif: kajian dan kritik komik di Indonesia menempati fungsi terutama untuk menginformasikan, mengedukasi, dan mendidik masyarakat dengan wacana-wacana tertentu yang berkaitan dengan komik, seperti sejarah komik Indonesia, perkembangannya, capaian-capaian tematis dan estetis, sisi ekonomi-politik komik, kajian komunitas dan dinamikanya, serta resepsi kultural (kajian khalayak pembaca komik). Tujuannya tentu saja supaya komikus, pembaca awam, dan sesama pengkaji bisa berdiskusi dalam suasana kritis dan mendapatkan gambaran tentang sejauh mana komik Indonesia telah berkembang serta yang paling penting, mau dibawa kemana komik Indonesia di masa depan.

CATATAN AKHIR


[i] Lihat Alwi Atma Wardhana, “Apa itu Kritik Sastra”, http://boemipoetra.wordpress.com/2013/05/13/apa-itu-kritik-sastra-2/
[ii] Dua kata ini saya pinjam dari Saut Situmorang, Politik Sastra. Yogyakarta: [SIC]. 2009. Hlm. 14. Saya modifikasi seperlunya untuk kepentingan tulisan ini.

REFERENSI

Bonneff, M. (2008). Komik Indonesia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia

Gasché, R, (2007) The honor of thinking: critique, theory, philosophy. California: Stanford University Press.

Groensteen, T. (2007). The System of Comics. Jackson: University Press of Mississippi

Parille, K. (2013). “Two Questions Answered about ‘The State of Comics Criticism: 2013′”

Situmorang, S. (2009). Politik Sastra. Yogyakarta. [SIC]

Wardhana, AA. “Apa itu Kritik Sastra”.

Sebelumnya 1 2 3
Editor Jurnal komik Online. Penulis buku Meledek Pesona Metropolitan (2013). Menghidupi hasrat sebagai kurator komik dan penulis musik (metal). Sisi samping: seni, organizer dan bahan bacaan.
  • Critical Thinking ada mata kuliahnya sendiri bukannya. Dan bisa dari sudut pandang mana saja.

  • ule

    Saya cukup bingung mengapa dalam artikel ini kritik (1) dibandingkan dengan kritik (2) yang berarti kajian karena makna dalam kata tersebut tidaklah sama persis. bahasan bahwa krikit tidak diterima di Indonesia juga terasa mandeg dalam pendapat “kritik dapat mengganggu keharmonisan” , alih-alih membahas kritik yang ada di Indonesia penulis berpindah membahas kritik yang ada di luar negri dan membahas hal-hal yang tidak ada di Indonesia.