Makan Makan Review

Makan Makan Review

Oleh -
0 257
Makan Makan Sampul

Kata “musyawarah” sekarang ini nyaris tidak pernah saya dengar lagi di kehidupan sehari-hari, padahal kata tersebut dulu seringkali terdengar terutama dari buku-buku pelajaran. Malah dulu saya hafal apa maknanya, sekaligus mengamini pendapat buku pelajaran PMP dengan semangat patriotik; bahwa musyarawah mufakat dianggap sebagai bagian dari jati diri bangsa Indonesia yang berlandaskan Pancasila. (Demikian kira-kira nilai ke-PMP-an yang saya ingat). Jika anda pernah mendapat mata pelajaran serupa (mata pelajaran khas zaman Orde Baru), maka mungkin anda juga mengingat hal serupa dengan saya.

Sekarang agak aneh bagi saya mendengar frasa “musyawarah” diucapkan dengan lantang melalui karakter Yasraf yang hidup dalam panel demi panel komik Makan Makan. Apa pula keanehan yang saya temukan menggelitik rasa dan juga telinga itu? Sebelum menjawabnya, bolehlah kita melihat-lihat dahulu apa yang ditawarkan komik tersebut.

Makan Makan merupakan sebuah komik yang bercerita sederhana tentang Yasraf, orang Minang yang pergi merantau ke Jawa dan menjadi hero karena kehandalannya dalam memecahkan masalah sebuah desa di Jawa yang ia sambangi. Setting cerita tersebut mengambil abad ke-18, abad di mana Indonesia masih bernama Hindia Belanda dan masih mengalami penjajahan Barat-Belanda. Kendati mengambil setting dan konteks yang pas bagi pengembangan karakter Yasraf, ihwal kolonialisme itu sendiri kurang disentuh oleh Risza A Perdhana. Kolonialisme dalam komik tersebut ditiadakan; eksistensinya absen di dalam panel. Memang kolonialisme bukanlah fokus penceritaan utama yang diambil oleh Risza, sebab ia memakai karakter Yasraf untuk bercerita mengenai keunggulan demokrasi Pancasila yang berlandaskan musyawarah mufakat … melalui analogi rendang dan bahan-bahan untuk membuatnya!

Ya, komik ini bukanlah semacam eksperimen bentuk komik seperti yang dilakukan Edi Jatmiko melalui Warisan, bukan juga sebentuk eksotisasi wilayah seperti yang dilakukan Sheila Rooswitha melalui Laut Untuk Semua. Makan-makan merupakan komik yang rasanya seperti membuka buku pelajaran PMP lama dan menggosok-gosok idiom di dalamnya yang telah mengakik karena barangkali ia sekarang ini sudah dilupakan (karena tidak penting?)

Bukan berarti tidak penting, namun kata tersebut toh tidak mesti dikonsepkan hingga terdengar klise. Lagipula, dengan hidup dan segala macam kompleksitas permasalahan yang mungkin dihadapi sebuah kelompok manusia, musyawarah seringkali berakhir sebagai sebuah jargon. Pemanis bibir. Semua orang tentu saja bermusyawarah dengan caranya sendiri, bernegosiasi dengan siapa saja untuk hal-hal/masalah tertentu sesuai dengan kepentingan masing-masing. Lalu, bukankah ada juga yang tak mau bermusyawarah karena merasa paling benar? Bukankah Orde Baru, ironisnya, tidak bermusyawarah sama sekali? Musyawarah – dan juga mufakat – bagi saya bukanlah sebuah tema dengan kosakata baru. Komik Makan Makan tampak menggelitik saya karena berusaha menghadirkan klise idiom lama yang agaknya sudah tertinggal sebagai bahan hafalan semata.       

Editor Jurnal komik Online. Penulis buku Meledek Pesona Metropolitan (2013). Menghidupi hasrat sebagai kurator komik dan penulis musik (metal). Sisi samping: seni, organizer dan bahan bacaan.