Mallique, Superhero di Zaman Edan

Mallique, Superhero di Zaman Edan

Oleh -
0 168
komik superhero di majalah WookWook

Oleh: Kurnia Harta Winata

Saya diminta membuat review Mallique. Komik berseri yang terbit majalah komik WookWook. Ini menyebalkan. Pertama karena saya bukan pembaca komik superhero. Kedua, Mallique baru berjalan tiga chapter dan baru akan masuk ke cerita sebenarnya. Apa yang bisa saya katakan mengenai sebuah cerita yang baru sampai ke pembukaan saja?

Tiap cerita selalu menjadi anak dari jamannya. Ia menjadi dokumen sosial dari sebuah masyarakat. Sedikit atau banyak, ia akan menangkap gambaran mengenai gejolak kehidupan yang terjadi saat itu. Komik pahlawan super termasuk salah satunya. Malah kisah-kisah pahlawan super ini sudah jamak menjadi penanda khusus dari suatu situasi sosial. Sama seperti munculnya komik pahlawan superpertama, Superman, yang menjadi penanda berakhirnya era depresi besar dan munculnya optimisme masyarakat pasca perang dunia kedua di Amerika.

Sebuah pemikiran tidak akan mungkin jauh-jauh dari apa yang sehari-hari dihadapi oleh pelakunya. Karenanya tiap cerita kepahlawanan sebenarnya mampu menerangkan secara implisit kepada pembacanya mengenai konsep penegakkan keadilan pada masa cerita itu dibuat. Bentuk ancaman seperti apa yang dirasakan, siapa saja pihak yang ingin dilindungi, konsep keadilan macam apa yang disepakati, dan dunia macam apa yang diharapkan oleh masyarakat. Apabila hubungan ini tidak terjadi, maka bolehlah kita simpulkan kalau cerita yang dibuat tersebut berasal dari fantasi hasil jiplakan seorang kreator yang terlepas dari realita sosialnya.

Itu yang menyebalkan. Mallique baru saja akan masuk ke dalam cerita sebenarnya. Terlalu dini untuk menyimpulkan apa-apa. Tapi sudahlah, kita bahas saja sebisanya.

Mallique cukup unik. Tampakannya seperti superhero gaya Amerika, tapi diceritakan dengan gaya shonen manga. Ini memberi pengalaman baru untuk saya sebagai pembaca. Apalagi saat komik berlatar kota Yogyakarta. Cerita dibuka dengan pola cerita pahlawan super yang sudah jamak. Sesosok makhluk dari dunia lain terpaksa datang ke bumi demi keselamatannya.

Walau terkesan klasik, sebenarnya chapter pertama ini terasa menjanjikan. Diikuti dua chapter berikutnya yang tergarap dalam pembagian yang baik pula. Apa yang ingin disampaikan dalam tiap chapter terasa jelas. Dipenggal dalam bagian yang tepat untuk membuat penasaran apa cerita selanjutnya. Cukup sederhana untuk dinikmati tanpa berkerut dahi tanpa tersandung sebagai cerita dangkal yang lebih enak untuk dilewati.

Berbeda dengan Almadya, tokoh utama komik ini yang juga pembuat komik, Alhamra tampaknya tidak cukup rajin meriset lokasi. Atau paling tidak menggambarkannya. Ini menjadi penting karena selain sebagai pemanis visual, penggambaran lokasi seharusnya juga jadi penegas latar sosial dalam cerita.

Perlu untuk diketahui, Almadya digambarkan tinggal di perumahan bergaya modern yang serba bersih dan canggih. Kampus tempatnya belajar pun tampak rapi. Almadya ingin membuat komik superhero. Bahkan ia juga tampak terobsesi mengenai konsep pahlawan super. Obsesi ini bahkan tampaknya sudah sampai menjadi semacam waham atau delusi sampai-sampai ia berani menghadapi dua orang preman di Stasiun Lempuyangan seorang diri tanpa senjata. Gangguan mental kalau boleh saya bilang.

Almadya berpikir bahwa ia dapat menjadi pahlawan super hanya karena semangat dan kesempatan. Suatu hal yang khas remaja. Apalagi remaja masa kini yang sehari-hari dijejali doktrin kepercayaan diri dan motivasi berlebihan. Seperti pada kenyataan, Almadya pun harus menghadapi kenyataan. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Beruntung saja karena ternyata ia mendapat “wahyu” berupa kemampuan alien dunia lain.

Hanya dengan keterangan “Lempuyangan”, saya yang besar di Yogyakarta tidak kesulitan membayangkan lokasi tersebut. Lempuyangan yang waktu saya kecil cukup terkenal sebagai kawasan preman dan banci “kena gigi uang kembali” memang sudah banyak berubah, tapi kadang masih bisa kita lihat anak-anak jalanan nongkrong di sana. Suasana ini yang hilang dalam komik Mallique. Bisa dikata Stasiun Lempuyangan tidak digambarkan sedikit pun. Padahal ini bisa jadi kontras yang menarik jika dibandingkan dengan suasana elitnya tempat tinggal Almadya. Anak yang besar di tempat baik-baik turun ke masyarakat yang akrab dengan kekerasan. Sesuatu yang selama ini hanya diimajinasikan keren-kerennya saja kini harus berhadapan dengan realita sehari-hari yang kadang kejam.

Kontras-kontras semacam ini sebenarnya yang saya tunggu. Harap-harap cemas dalam kelanjutan Mallique. Sosok bocah lugu yang tiba-tiba mendapat kemampuan luar biasa tentu dapat dijadikan permainan psikologi yang tak kalah luar biasa. Apakah ia akan merayakan kekuatan barunya seperti anak yang merasa jagoan karena baru saja belajar beladiri, ataukah ia ketakutan seperti murid beladiri yang baru saja sadar bahwa ia bisa begitu mudah membunuh orang hanya dengan tangan kosong.

Juga apakah yang nantinya Mallique perjuangkan dengan kekuatannya. Ancaman macam apa yang harus ia hadapi, siapa yang perlu ia lindungi, keadilan macam apa yang ingin ia tegakkan. Apakah ia hanya akan melindungi orang-orang yang sedang berekreasi di ruang publik macam Bima Satria Garuda. Adakah ia hanya sekedar menyeret konflik dan kekacauan dunianya tanpa memberi kontribusi apapun bagi makhluk bumi. Ataukah ia hanya akan gebak-gebuk melawan preman jalanan demi melindungi wanita lemah yang tak berdaya seperti yang ia lakukan di tiga chapter pertama (yang membuat saya mau tak mau mencurigai kalau pengarangnya adalah seorang patriarkal kelas berat).

Kesadaran masyarakat telah berkembang. Termasuk masyarakat Indonesia tentunya. Preman, perampok, ataupun teroris masih dirasakan sebagai ancaman bersama. Tapi dalam pemahaman yang lebih luas, ancaman terbesar yang dirasakan masyarakat adalah sistem sosial.

Sistem yang membuat orang kaya semakin kaya, dan membuat orang miskin semakin sengsara. Sistem yang membuat penguasa semakin berkuasa, dan rakyat kecil semakin terjepit. Sistem yang membuat kita semakin konsumtif dan terjebak dalam hutang. Sistem yang membuat kebutuhan pokok semakin sulit didapat. Sistem yang membuat kita membenci satu sama lain. Sistem yang membuat semua menjadi korban, tidak peduli ia rakyat jelata, penegak hukum, atau penjahat sekali pun. Sistem yang dibuat orang kaya untuk memenuhi keserakahannya menggunakan hukum yang dibuat penguasa untuk melindungi kekuasaannya.

Apa yang bisa dilakukan oleh seorang superhero dalam menghadapi zaman edan macam ini?

Sumber ulasan