Mangafest 2013 dan Masa Depan Indonesia

Mangafest 2013 dan Masa Depan Indonesia

Oleh -
0 363
Mangafest 2013

Mohammad Hadid

Saya berterima kasih kepada Tamam, Naufal, Anika, dan Fanny, sebagai perwakilan panitia Mangafest, atas kesediaan mereka untuk diwawancarai demi kepentingan penulisan esei ini.  

Bagaimana Anda membayangkan “masa depan Indonesia” hadir sebagai tema di Mangafest UGM 2013 yang baru saja dihelat pada 9-10 November lalu? Apakah dengan mendengar tema tersebut Anda lantas membayangkan sebuah festival di mana segala hal serba-futuristik berseliweran di depan mata, membuat takjub setiap orang yang melihatnya? Jika demikian yang Anda bayangkan, maka siap-siaplah untuk kecewa. Mereka yang datang ke festival tersebut tidak akan bisa menikmati hal-hal futuristik – kecuali tentu saja pada pameran komik yang menjadi bagian dari festival tersebut. Artinya di sini masa depan Indonesia justru dibayangkan sedikit lewat imajinasi sekuensial ala komik, bukan pada keseluruhan festival itu sendiri.

Festival tersebut rutin diadakan tiap tahun oleh mahasiswa Sastra Jepang UGM. Jadi mula-mula orang bisa melihat bahwa ini adalah acara mahasiswa, yang mula-mula diadakan dengan maksud untuk mengisi ketiadaan acara untuk mahasiswa di jurusan tersebut. Dan kini, festival tersebut sudah memasuki tahun ketiga. Meski perannya “hanya” sebatas pengisi kekosongan acara mahasiswa, agaknya saya bisa berasumsi bahwa festival kecil ini juga adalah cara tentang bagaimana sebuah negara seperti Jepang dilihat dari kacamata sebuah negeri pasca-kolonial seperti Indonesia. Tentu anda tidak bisa mengabaikan kenyataan umum bahwa Jepang pun sudah lama hidup sebagai sebuah “objek” ekonomi sekaligus budaya populer di negeri ini, bukan? Cosplayer? Laruku? Manga terjemahan? Toyota, Honda, Yamaha, Sony? JKT48? Bagi para nasionalis komik Indonesia, Jepang (dengan gaya berkomiknya) barangkali adalah ancaman bagi kemurnian gaya berkomik ala Indonesia. Di bidang ekonomi-politik, Jepang adalah dewa kemakmuran dengan gelontoran dana pinjaman negara yang disalurkan ke banyak proyek pemerintah.  Negara tersebut jelas diimajinasikan dengan banyak cara di sini, baik dengan cara positif maupun negatif.

Ah, ya, saya sempat heran, kok jurusan Sastra Jepang ngadain Mangafest? Apa pula hubungan antara Sastra dan komik? Bukankah seharusnya mahasiswa jurusan Sastra mengadakan festival Sastra? Apakah komik itu Sastra juga, artinya punya nilai artistik yang sama seperti karya-karyanya Haruki Murakami atau Ryūnosuke Akutagawa, dua pengarang Jepang yang karya-karyanya diakrabi publik pembaca Sastra di Indonesia? Sebelum menjawab antologi pertanyaan di atas, ada baiknya kita mencerna cerita di balik Mangafest.

Imajinasi Tentang Matsuri dan Adagium “Festival Dari Mahasiswa untuk Mahasiswa”

“Umumnya semua jurusan Sastra Jepang di Indonesia rata-rata punya matsuri, festival”, kata Naufal, salah seorang penggagas Mangafest tahun pertama (2011). “Tetapi umumnya matsuri cuma menghadirkan cosplay tanpa ada tema khusus, jadi cuma acara dengan tema Jepang Jepangan … selesai”, ia melanjutkan. Mangafest pertama adalah perayaan kelahiran baru dari sebuah festival yang agaknya bagi Naufal harus melaumpaui acara Jepang Jepangan biasa yang menurutnya terlalu luas temanya dan tidak spesifik – Anda yang mengalami Mangafest pertama tentu tahu bahwa itu adalah festival di dalam gedung (waktu itu saya heran, kok “festival” tapi di dalam gedung?) tanpa cosplayer. Lebih jauh lagi, Mangafest pertama merupakan sebuah sarana yang dipakai untuk mengisi kekosongan festival ‘dari mahasiswa untuk mahasiswa’ yang sebelum 2010 tidak pernah diadakan oleh jurusan Sastra Jepang UGM.

Saya telah memberi sedikit pandangan di atas, bahwa mula-mula Mangafest mestilah dianggap bukan semata sebuah festival an-sich, melainkan juga tentang bagaimana orang memandang Jepang dan