Mangafest 2014 Dalam Pandangan Seorang Tukang Mie

Mangafest 2014 Dalam Pandangan Seorang Tukang Mie

Oleh -
0 100
Aksen-Mangafest

[Sumber foto: Facebook Mangafest UGM]

Para penggemar komik atau pengemar budaya pop Jepang yang berdomisili di Yogyakarta umumnya sudah tidak asing lagi dengan Mangafest, sebuah festival yang mengusung komik Indonesia sebagai sajian utama dengan pemanis budaya pop Jepang seperti cosplay, idol group, dan band lagu-lagu Jepang yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Sastra Jepang FIB UGM. Setelah berjalan selama empat tahun, Mangafest 2014 mengambil tema “Aksi Untuk Indonesia”. Kesan yang pertama kali saya dapat saat mendengar tema tersebut adalah, kok klise banget sih temanya. Sama seperti anak-anak yang saat ditanya mengenai cita-cita hanya bisa menjawab, ingin berguna bagi nusa dan bangsa. Terlalu umum, saya tidak merasa akan ada sesuatu yang spesial yang didapat lewat acara ini.

Tentu saja saya tidak boleh menilai sebuah acara hanya sekedar lewat tema yang dibaca sekilas. Ada baiknya bila saya ikut serta dan menikmati sajian yang dihadirkan oleh para panitia. Sayangnya, tahun ini saya dan beberapa orang teman malah menjajal hal baru dengan mencari peruntungan lewat berdagang ramen di salah satu kedai yang disewakan dalam area Mangafest. Ramen merupakan salah satu kuliner [berbentuk mie] yang digemari Naruto. Karena disambi berdagang, saya malah jadi tidak bisa maksimal dalam menikmati acara. Agak ironis sih, penggemar berat komik malah jualan mie di acara bertema komik. Maklum, udah umurnya mencari nafkah sih, hehehe. Dari kedai yang berjarak yang cukup jauh dari panggung utama, saya melihat acara Mangafest dibuka pada pukul 10.30 oleh penampilan tari rampoe geleng dari Aceh dan tari legong dari Bali yang dibawakan oleh para penari dari Fakultas Ilmu Budaya UGM.

“Mas, kok malah nonton sih. Saya pesen ramen 2!”

“Ups, sori, bro.”

Ternyata begini toh rasanya nyari duit.

Untungnya nasib baik berpihak pada kami, tidak sampai sore, dagangan ludes tak tersisa, meski badan rada lemas seusai melayani pelanggan yang berjubel. Saya pun langsung ngeloyor ke pintu keluar untuk kembali menuju pintu masuk; supaya bisa merasakan hal yang sama dengan pengunjung lain. Setelah disambut oleh seorang perempuan resepsionis yang ramah, saya disambut oleh kata-kata yang tertulis dengan cat hitam yang diberi penekanan dengan cat merah pada dinding sebelah pintu utama.

Dewasa ini, komik menjadi salah satu budaya populer yang tidak bisa dikesampingkan keberadaannya memberikan memberikan warna tersendiri bagi dunia hiburan termasuk di Indonesia. Namun sayangnya komik asli Indonesia justru kurang mendapat tempat karena masih harus bersaing dengan komik-komik asing. Untuk itu, MangaFest hadir sebagai salah satu wadah bagi komik-komik Indonesia untuk unjuk gigi dan terus beraksi untuk Indonesia.”

Setelah merenungi tulisan tersebut barang sejenak, sepertinya saya mulai mendapat gambaran mengenai tema “Aksi Untuk Indonesia” yang diusung oleh Mangafest 2014 meski masih samar. Saat ini komik Indonesia memang masih kalah bersaing dengan komik-komik terjemahan. Dalam sebulan, judul komik Indonesia yang terbit bisa dihitung dengan jari. Berbeda dengan komik-komik terjemahan, seperti komik Jepang, misalnya. Dalam sebulan bisa puluhan judul yang diterbitkan, itu pun dalam kuantitas yang berbeda dan mendapat prioritas penempatan di rak-rak toko buku. Acara seperti Mangafest menjadi salah satu kesempatan baik untuk lebih memperkenalkan komik Indonesia yang jumlahnya sedikit dan biasanya nyasar di rak buku agama, politik, atau malah buku-buku masakan.

Setelah merenung cukup lama sampai ditegur perempuan manis yang saya lupa tanya namanya, saya masuk ke dalam ruang pameran yang memajang 25 karya terbaik dalam Manga Drawing Competition, lomba komik yang diselenggarakan oleh Mangafest 2014. Komik-komik yang dipajang dalam ruang pameran mendapat perlakuan yang amat baik. Setiap komik ditata apik dalam satu bingkai besar yang dipajang berjarak antara satu komik dengan komik lain. Selain itu, cahaya lampu yang berpijar tidak terlalu terang membuat saya merasa seperti benar-benar berada di pameran seni. Sayangnya masih saja ada kasak-kusuk terdengar kurang enak di antara pengunjung.

Bagus sih komiknya, tapi gayanya masih Jepang banget.”

“Ah, namanya juga Mangafest, makanya yang dikirim banyak yang gayanya kejepang-jepangan, biar kayak manga.”

“Biar lebih Indonesia, kenapa namanya bukan Komikfest aja ya?.”

“Iya ya, hahaha.”

“Halah”, begitu saya mendesah di dalam hati. Tiba-tiba saya merasa beruntung pernah belajar linguistik meskipun nilainya gak bagus-bagus amat. Tentu saja, seperti kata “manga” yang merupakan bahasa Jepang, “komik” juga bukan merupakan bahasa Indonesia asli melainkan berasal dari bahasa Inggris. Dulu sekitar tahun 1960 pernah ada istilah untuk menyebut komik di Indonesia sebagai cergam, singkatan dari cerita bergambar. Sayangnya, istilah cergam tidak bertahan lama sehingga istilah komik pun digunakan kembali. Lalu, kenapa acara ini menggunakan nama Mangafest? Menurut saya, hal ini tidak lain karena panitia yang menyelenggarakan acara ini adalah mahasiswa dari jurusan sastra Jepang UGM. Manga itu sendiri berarti cergam atau komik dalam bahasa Jepang, tidak lebih. Bahkan, seandainya komik Panji Tengkorak atau Si Buta dari Goa Hantu dibawa ke Jepang, komik-komik itu juga akan disebut manga. Belajar bahasa itu penting!

Dari ruang pameran, saya langsung beranjak menuju area Comiket yang merupakan singkatan dari Comic Market, area khusus untuk berjualan komik dan merchandise buatan sendiri. Di sana sudah berjejer dengan rapi sekitar 30 meja yang menjajakan produk masing-masing pengkarya. Banyak pengunjung tampak antusias saat berbelanja di area Comiket. Bahkan ada seorang pengunjung yang terlihat belum puas meski sudah membelanjakan uangnya lebih dari lima ratus ribu rupiah. Pasar yang lumayan potensial untuk ukuran komik Indonesia.

Saat saya tiba, sedang berlangsung acara launching kompilasi komik NiiBii jilid kelima. Kompilasi komik yang diterbitkan secara independen oleh studio NiiBii di bawah kepemimpinan Ahmad Arsyad yang juga terkenal sebagai komikus pencinta sepak bola pencipta komik The Last Kickers yang terbit rutin di surat kabar Jogja dan Solo. Bisa terbit hingga jilid kelima meski hanya dicetak secara independen merupakan bukti keseriusan dan konsistensi Ahmad Arsyad dan kawan-kawan yang layak diacungi jempol. Salut!

Seusai launching kompilasi komik NiiBii jilid kelima, acara dilanjutkan dengan acara launching komik 17+ jilid kedua karya dari Kharisma Jati. Bersama Beng Rahadian selaku editor dari Cendana Art Media, mereka memaparkan bahwa khalayak umum berhak memperkaya khazanah bacaan komik mereka dengan “novel grafis” yang [konon] alur ceritanya lebih kelam dan rumit ketimbang komik pada umumnya.

Selain launching komik, pada area Comiket, ada hal baru yang saya temukan di Mangafest 2014. 12 komik terbaik pada Manga Drawing Competition tahun ini dan 3 komik yang menjadi juara di Manga Drawing Competition tahun lalu dicetak dalam bentuk kompilasi komik oleh Metha Studio dan dijual bebas di salah satu stand Comiket. Menurut saya, ini adalah satu pencapaian panitia Mangafest tahun ini yang patut mendapat apresiasi. Dengan dicetaknya kompilasi komik tersebut, komik-komik karya dari peserta tidak hanya bisa dinikmati dengan lebih bebas, melainkan juga terarsip dengan lebih baik dan lebih mudah diakses untuk berbagai keperluan; seperti penelitian ilmiah. Acara pada hari pertama berakhir dan ditutup dengan berbagai macam penampilan band yang membawakan lagu-lagu Jepang.

Hari kedua dimulai pukul 09.00. Dari kedai ramen di kejauhan saya melihat acara dibuka oleh pertunjukan angklung yang dibawakan oleh anak-anak dari SDIT Baitussalam Prambanan. Sesekali saya melongok ke arah panggung untuk melihat pertunjukan mereka, sekalian menyapa perempuan Maid Cafe yang letaknya tepat di sebelah kedai ramen. Di kejauhan, tampak anak-anak SDIT Baitussalam Prambanan membawakan beberapa lagu wajib dengan permainan angklung yang apik dan sangat rapi seperti bukan level anak SD. Bila mereka terus mengasah ketrampilan seni hingga dewasa, tidak terbayang akan jadi seperti apa anak-anak itu kelak. Luar biasa!

Setelahnya, acara dilanjutkan dengan lomba karaoke dimana peserta harus menyanyikan lagu-lagu Jepang. Lumayan. Ada hiburan yang bisa dinikmati sembari melayani pelanggan yang jumlahnya bejibun menyerbu kedai. Siang harinya, saya dipanggil panitia untuk briefing acara talkshow komik yang akan diadakan seusai launching komik Si Juki karya Faza Meonk. Apa boleh buat, akhirnya saya pun pergi ke ruang briefing dengan hati riang gem . . . . uhuk, terpaksa meninggalkan teman-teman di kedai karena sudah berjanji menjadi host di acara talkshow tersebut. Sorry, guys. Kalian kuat kok! (Ditimpuk mangkok ramen).

Uniknya, salah satu pembicara dalam talkshow tersebut adalah Faza Meonk yang baru saja selesai merilis komik terbarunya. Jadi, abis turun panggung, doi naek panggung lagi, hahaha. Capek gak lu, za? Mudah-mudahan penonton tetep seneng yak?

Selain Faza, pembicara lainnya adalah Hasmi, kreator dari Gundala Putra Petir yang populer pada tahun 1970an dan Is Yuniarto, kreator dari Garudayana Saga. Talkshow tersebut mengambil tema “Perjuangan Komikus”. Pada awalnya, talkshow akan diadakan di panggung utama. Karena hujan turun, acaranya pun dipindah ke area Comiket. Saat saya dan para komikus pembicara memasuki area Comiket, tampak pengunjung yang ramai memadati tempat talkshow, mudah-mudahan mereka memang peserta talkshow yang memiliki minat besar pada komik Indonesia. Jadi bukan cuma sekedar numpang neduh saja.

Talkshow diawali dengan opini dari Hasmi yang menyatakan bahwa perjuangan komikus di zaman sekarang jauh lebih sulit karena jumlah saingannya yang amat banyak. Komikus di masa lalu tidak banyak saingan, bahkan seringkali mereka mendapat order dari penerbit dengan honor yang menggiurkan. Faza menambahkan, meski saingan di masa sekarang jauh lebih banyak, tetapi publikasi karya saat ini lebih mudah karena adanya jejaring sosial di internet. Setelah diunggah, komikus bisa langsung mendapat respon dan berinteraksi dengan pembaca.

Setelahnya, talkshow pun mengalir ringan. Is Yuniarto pun menceritakan pengalamannya sewaktu baru memulai debut. Meski saat ini dia termasuk komikus yang sukses dengan jumlah penggemar yang tidak sedikit, siapa sangka bahwa komiknya justru ditolak penerbit saat pertama kali diajukan. Pengalamannya ditolak tidak membuatnya menyerah, justru hal tersebut dijadikannya cambuk agar lebih semangat dalam berkarya dan usahanya terbukti tidak sia-sia.

Saat memasuki sesi tanya jawab, hujan turun semakin lebat dan dahsyat. Angin kencang menghamburkan rinai hujan ke dalam area Comiket yang menyebabkan para panitia kelabakan lantaran para pembicara kecipratan air hujan. Keadaan semakin diperparah dengan listrik mati dan genset belum disiapkan. Karena kondisi sudah semakin tidak menentu,  akhirnya talkshow pun ditutup dan acara ditunda untuk sementara waktu.

Pukul 6 sore, akhirnya jaringan listrik untuk bagian panggung berhasil dinyalakan menggunakan genset yang telah siap setelah 2 jam berlalu. Acara di panggung pun dilanjutkan dengan pertunjukan tarian Jepang yang dibawakan Djoh, penampilan kabaret Cosplay oleh tim Bungah dan penampilan band-band yang membawakan lagu Jepang. Sayangnya, genset yang disiapkan hanya tersedia untuk bagian panggung saja. Area lain seperti Comiket dan kedai-kedai makanan tetap gulita dan hanya disediakan lilin sebagai cahaya penerangan. Untungnya, pada pukul 7 malam.

Secara keseluruhan, acara Mangafest 2014 memang mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Lewat semua sajian yang telah saya nikmati di Mangafest, saya mengambil kesimpulan bahwa tema “Aksi Untuk Indonesia” yang diusung tahun ini bisa berarti bahwa kita dapat melakukan sesuatu untuk Indonesia lewat aksi apapun, termasuk komik. Karena pada dasarnya, setiap penduduk Indonesia pasti ingin melakukan aksi demi kemajuan negerinya. Merdeka! (sambil mengayunkan bambu runcing). Semoga Mangafest dapat menunjukan performa yang lebih baik lagi di tahun-tahun mendatang.