Melati Revolusi: Cerita Lama (yang Ingin) Bersemi Kembali

Melati Revolusi: Cerita Lama (yang Ingin) Bersemi Kembali

Oleh -
0 100
kaver komik Melati Revolusi

OlehAdhisty Hafizanugra

Saya belum lahir di tahun 1945. Orang tua saya juga belum–kakek dan nenek sayalah yang menjadi bagian dari reformasi. Sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan pernah terjadi di Indonesia, mengingat kebobrokannya sekarang tampaknya tidak ada bedanya dengan saat dijajah.

Maka saat saya mendapat komik tentang masa perjuangan rakyat Indonesia saat masa peperangan ini, sejujurnya saya tertarik dengan satu hal: bagian mana dari sang masa perjuangan yang sekiranya diangkat oleh kedua komikus dalam komik ini? (Melati Revolusi, dalam kumpulan Cergam Kampungan: Romansa, Jakarta: Gajah Jambon, Februari 2010 – red)

Sejujurnya saya tidak puas dengan komik karya duo Ari Yuntoro dan Pamuji MS ini. Nyaris sama sekali tidak puas. Secara subjektif, saya pribadi tidak begitu nyaman membaca komik bergambar realis–murni karena saya sejak kecil dimanja dengan gambar-gambar shoujo yang memang ditujukan untuk kaum wanita. Tapi saya meneguhkan hati untuk membuka lembar demi lembar, membaca kata demi kata, dan lurus menuju kata ‘tamat’. Sayang saya masih tidak mencapai kepuasan yang sama inginkan.

Komik ini menyuguhkan cerita tentang beberapa konflik, termasuk cinta segitiga antara dua kakak beradik dengan satu gadis cantik (?) dan perbedaan pandangan antara keduanya, diramu dengan latar belakang Surabaya, Indonesia, 1945. Tahun rawan yang kemudian menjadi tahun yang memiliki catatan sejarah terbesar di Indonesia. Tahun kemerdekaan yang, di sini, digambarkan sebagai tahun yang masih kelabu dan masih banyak memakan korban. Dari sisi sejarah, hal ini memang nyata terjadi saat menjelang kedatangan Sekutu ke Indonesia pada November 1945. Kubu-kubu pejuang kemerdekaan yang tidak percaya sekutu, serta yang mengusung tinggi perdamaian dan ingin berkawan agar Indonesia merdeka tanpa perlu menumpahkan lebih banyak darah. Kedua kakak beradik tersebut berada di dua pihak berbeda ini.

Tokoh utama yang menarasi cerita adalah sang adik, Witoelar. Pencerminan perasaan Witoelar yang digamblangkan dalam setiap kotak penjelasan di ujung-ujung panel, jujur saja, agak sedikit mengganggu pandangan. Terutama karena komikusnya yang kadang kala tidak membuat balon dialog untuk beberapa kalimat yang dilontarkan oleh tokoh-tokohnya. Menambah konfusi pada otak yang tidak terbiasa. Membaca komik ini mengingatkan saya pada komik-komik tua yang dulu dijual di depan sekolah saat saya masih SD.

Tokoh lain yang juga muncul dan menjadi sentral cerita adalah Roekmini, gadis yang ditaksir Witoelar (entah sejak kapan), dan Roekmanto (sengaja dibuat mirip namanya dengan Roekmini, mungkin? Jodoh?), Kakak dari Witoelar. Ketiganya yang akan terlibat dalam konflik yang mengisi sepanjang komik ini.

Sejak halaman pertama, saya sudah tidak sreg pada cara penggambaran karakter yang demikian kaku. Latar belakang yang seadanya, serta peletakan balon dialog juga cukup membuat saya mengerutkan dahi. Beberapa–bukan, banyak balon dialog berhasil membuat saya bingung harus membaca dari mana ke mana. Kanan ke kiri, atas ke bawah, hulu ke hilir? Balon percakapan sama sekali tidak memanjakan mata saya sebagai pembaca. Meski pembaca tidak bodoh dan bisa mengerti, tapi pembaca juga berhak dimanjakan dengan kebiasaan yang sudah umum dilakukan.

Seperti yang saya sebut tadi, beberapa dialog tidak diberi kotak atau balon, sehingga memberi konfusi, apakah ini dialog diucapkan atau hanya dalam hati/pikiran. Lalu kamera dalam tiap panel juga melompat-lompat (seperti tulisan saya saat ini). Mata saya yang sudah tidak bisa manja pada gambar realis komikusnya, makin tidak bisa manja karena tidak dimanjakan oleh penyusunan gambar maupun cerita yang disajikan.

Penokohannya juga tidak terlalu fokus. Witoelar tiba-tiba menghilang di beberapa halaman yang, meski memang difokuskan untuk Roekmanto dan Roekmini, terlalu tampak seperti ‘dunia milik mereka berdua’. Padahal saat Witoelar berkencan dengan Roekmini di restoran, tidak tampak perasaan yang sama. Mungkin karena cinta Witoelar pada si gadis hanya bertepuk sebelah tangan. Tapi adegan di pantai antara Roekmini dan Roekmanto tidak terlalu realistis karena, meski pantai sangat sepi, sesepi-sepinya pasti akan ada satu dua orang di sana.

Tidak ada satu karakterpun yang difokuskan dan dibahas dengan detil. Hanya sebagian-sebagian yang tidak terlalu dalam sehingga sulit dibedah. Atau tokoh yang kemudian hilang begitu saja. Tokoh ibu yang pada awal cerita diberikan tempat yang kuat (mampu melerai dua anak laki-lakinya yang berkelahi), di tengah hingga akhir cerita malah tidak muncul sama sekali. Memang ini mungkin dikarenakan cerita difokuskan pada kisah antara Witoelar yang mencintai Roekmini, sementara Roekmini mencintai Roekmanto, dan tidak ketahun apakah Roekmanto juga mencintai Roekmini balik atau sekadar memanfaatkan gadis itu saja.

Fakta yang tiba-tiba dimunculkan juga sedikit mengganggu, membuat saya bertanya-tanya, ‘ini kok begini? Dari mana datangnya? Kemana perginya?’ beberapa kali. Misalnya fakta bahwa Roekmini sebenarnya adalah perawat. Memang dari awal cerita sudah di’arahkan’ agar pembaca menyadari bahwa Roekmini bekerja di bidang kesehatan dengan kegiatannya menjaga ibu dari Witoelar dan Roekmanto. Tapi bila memang ia perawat, kenapa ia pagi-pagi sudah merawat ibu-ibu tetangga dan bukannya ke rumah sakit (atau puskesmas) tempat ia bekerja (Roekmanto menyebut soal ‘tidak usah kerja hari ini’, yang artinya Roekmini bekerja. Namun tidak dijelaskan detil pekerjaannya)?

Memang, detil adalah hal yang sangat kurang di komik ini. Berkali-kali beberapa detil dilewatkan begitu saja. Misalnya typo atau salah ketik pada saat Roekmini memanggil ibunya Witoelar dengan ‘Bu’ dan kemudian diganti ‘Bibi’. Atau topi perawat yang awalnya dikenakan Roekmini saat memasuki markas sekutu dengan Roekmanto, yang kemudian hilang begitu saja (tidak ada tanda-tanda jatuh. Kalaupun jatuh, jatuh ke mana? Tidak ada bekasnya). Atau, yang ini saya dengar dari Bagus, salah seorang anggota Lesehan Studio, bahwa sudah digunakan senapan AK-47 (kalau tidak salah) dalam salah satu gambar. Padahal bila menyesuaikan dengan timeline tahun 1945, senapan seri tersebut seharusnya belum diciptakan (didesain tahun 1947-1948, didistribusikan tahun 1949-1959–Wikipedia).

Selain itu adegan kematian Witoelar yang pada awalnya, setelah ditembak, Witoelar berada dalam keadaan tengkurap. Tapi di panel terakhir, adegan Roekmini menangisi kematian Witoelar dan Roekmanto, tiba-tiba mayat Witoelar sudah berada demikian dekat dengan Roekmini dan keadaannya terlentang. Detil-detil seperti inilah yang sayangnya dilewatkan oleh kedua komikusnya.

Penggambaran ekspresi karakter juga cukup kurang. Beberapa ekspresi tampak misused, tidak jelas, dan tidak nyambung dengan adegannya. Ini cukup disayangkan mengingat ekpresi wajah adalah salah satu aspek yang, menurut saya, dapat memperkuat karakter. Terutama ekspresi-ekspresi yang seharusnya digambar dengan detil dan dramatis, misalnya pada adegan terakhirnya, malah menjadi aneh atau ga jelas. Ini cukup disayangkan karena, yah, komik ini sebenarnya memiliki cerita yang cukup kuat dalam konflik dan alurnya yang terus meninggi. Beruntung sentuhan-sentuhan manis seperti adegan kencan antara Roekmini dan Roekmanto bisa ‘mendamaikan’ suasana komik ini.

Kesimpulannya, komik ini memiliki cukup banyak flaw yang membuat kita mengangkat alis atau menggumam, ‘errr…’. Seandainya gambar, jalan cerita antar panel, detil gambar, serta penokohan diperbaiki, cerita ini memiliki bobot karena menawarkan konflik yang cukup pelik dari sisi lain masa reformasi. Di kala semua orang sibuk pada kegiatan kemerdekaan Indonesia, komik ini menyuguhkan hal yang manusiawi, membuat kita melupakan sejenak sejarah yang ada. Sayang terlalu banyak masalah teknis ternyata membuat komik ini dompleng dalam segi penyajian.

Terakhir, saya tidak pandai mengingat kata-kata yang sulit atau tidak sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi jika review ini terasa flaw-nya (cacat – red), maka maafkanlah keterbatasan saya dan ingatan saya. Terima kasih.

a 'Yes' man