Melihat atau Membaca Komik?

Melihat atau Membaca Komik?

Oleh -
1 599
MXAH

Catatan: tulisan ini pernah diterbitkan untuk keperluan proyek Bunda Kata. Pernah juga ditayangkan di sini. Ditayangkan ulang di jurnal komik online garapan Akademi Sekuensial untuk keperluan penyebaran pengetahuan.


 

Oleh: M Hadid

Baru-baru ini saya menerbitkan buku kajian komik Meledek Pesona Metropolitan, dan di dalamnya saya sering memakai kata-kata seperti “membaca” dan “melihat” untuk kemudian dirujuk ke konteks tindakan di mana karya dalam bentuk kartun dan/atau komik diselami oleh seseorang.  Setelah buku itu terbit, saya jadi bertanya-tanya, mana kata yang benar dan bisa dipakai untuk menilai laku ketika orang membawa buku komik dan tiduran sambil menyelaminya, misalnya, “membaca” atau “melihat”? Sesuai dengan aturan tata bahasa Indonesia, kata “baca” dan “lihat” yang dibubuhi prefiks me- pada gilirannya berfungsi membentuk kata kerja atau verba.

Meskipun demikian, keduanya menurut saya memiliki dimensi dan kedalaman makna yang berbeda. Saya memahami “membaca” sebagai jenis tindakan di mana orang menyelami jenis karya yang berbentuk tulisan, sedangkan “melihat” cenderung saya letakkan dalam konteks di mana orang menyelami karya non-tulisan (fotografi, lukisan, desain, drawing, dan lain sebagainya). Secara formal komik mewadahi keduanya (tulisan dan non-tulisan) sehingga menjadi jauh lebih sulit untuk menemukan kata yang tepat untuk menilai seseorang yang sedang tiduran sambil membuka halaman komik yang dipegangnya. Dalam arti begini: dia sedang membaca atau melihat komik? Tulisan ini akan sedikit membahas kedua jenis tindakan tersebut berdasarkan sifat komik itu sendiri: medium hybrid di mana tulisan dan gambar dipakai bersamaan dan diletakkan dalam sekuen-waktu yang dipadatkan. Saya sepenuhnya sadar bahwa medium komik tidak melulu soal tulisan dan gambar yang dipadatkan dalam ruang – sebab ada komik bisu tanpa tulisan sedikitpun – namun saya memilih untuk berkonsentrasi pada kekhasan medium hybrid itu sendiri.

1/Untuk Dibaca atau Dilihat?

Dari dua oposisi biner di atas persoalan yang menurut saya perlu digaris-bawahi, yakni apakah komik tergolong sebagai bahan bacaan (untuk dibaca) atau medium visual (untuk dilihat)? Persoalan menjadi lebih rumit ketika kata hybrid disertakan, yang berarti pembaca dituntut untuk memperhatikan keduanya (tulisan dan non-tulisan) dalam porsi yang berimbang. Jadi komik itu untuk dibaca atau untuk dilihat?

Meski persoalan-persoalan di atas tergolong rumit, namun menurut saya pengalaman menikmati objek visual, di mana pembaca mesti memperhatikan unsur tulisan dan non-tulisan dalam porsi yang berimbang, tidak bisa begitu saja dilakukan oleh karena faktor author komik yang bisa saja memilih untuk menempatkan salah satu dari keduanya dalam posisi yang tidak berimbang. Artinya, dalam sebuah medium di mana bahasa (verbal) dan visual menyatu dalam ruang konkrit, di mana tulisan dan non-tulisan saling mendesak satu sama lain dan menuntut perhatian mata yang menikmatinya, mana yang paling diperhatikan? Sudah sewajarnya bila paduan antara visualitas dan verbalisme dalam komik hendaknya diterakan sampai keduanya berpadu sesempurna mungkin, artinya bahwa baik tulisan maupun non-tulisan saling tergantung satu sama lain. Inilah konvensi antara tulisan dan non-tulisan, atau kekhasan komik, yang disebut oleh Robert C Harvey – kartunis Amerika sekaligus orang yang banyak menulis tentang sejarah medium komik – sebagai pembeda “kualitas”, antara komik dengan medium lain di mana tulisan dan non-tulisan bercampur dalam satu ruang.

Saya tidak sedang berusaha untuk mengatakan bahwa konvensi antara tulisan dan non-tulisan adalah satu-satunya kriteria yang bisa dipakai untuk menilai kualitas komik secara formal. Bahkan percampuran sempurna antara keduanya tidak lantas membuat medium komik garapan artis tertentu menjadi “seni” yang pantas untuk disebut Seni. Mengikuti tuturan Robert C Harvey, sebuah komik hebat adalah:

Mereka yang menyajikan cerita yang kuat dan menyentuh. Akan tetapi mereka akan menyajikan cerita tersebut dengan cara mengeksploitasi potensi unik dari bentuk seni tersebut, sampai penuh. Meski kekuatan cerita berakar dari karakterisasi dan plot, elemen-elemen tersebut akan direalisasikan melalui terminologi istimewa pada komik, yakni pada percampuran antara kata dan gambar dan sifat sekuensial dari percampuran tersebut.

Jelas bahwa meskipun konvensi antara tulisan dan non-tulisan menjadi nilai utama, namun ini bukan satu-satunya kriteria yang bisa dipakai untuk menilai komik. Meskipun begitu, ada baiknya perbincangan mengenai “kriteria macam apa yang bisa dipakai untuk menilai komik” kita kembalikan kepada “bagaimana strategi yang mungkin muncul ketika orang menikmati komik”. Strategi menikmati komik tergantung kepada bagaimana gambar dan kata dimunculkan dalam satu bidang sekuensial.

Perkara yang saya sebutkan di atas kelihatannya sepele, namun menurut saya menjadi penting juga untuk menjelaskan bagaimana sikap yang mungkin muncul setelah mata kita berhadapan dengan kovensi tulisan dan non-tulisan pada komik yang direntangkan dalam ruang dan waktu yang dipadatkan lewat panil-panil. Setidaknya ada dua contoh strategi pengkombinasian tulisan dan  non-tulisan dalam komik, yang mudah-mudahan bisa sedikit menjelaskan apa yang telah menjadi pertanyaan di atas.

2/Dua contoh Komik

Saya akan memberi sedikit contoh, persisnya dua contoh komik, untuk melihat bagaimana beberapa contoh bagaimana teks dan non-teks saling berpadu dalam satu kesatuan. Komik pertama (gambar pertama) adalah strip Kharisma Jati – komikus Jogja yang terkenal lewat seri Anak Kos Dodol – dalam seri God You Must be Joking. Yang pertama ini menurut saya adalah contoh di mana orang bisa melihat kekuatan verbalisme yang jauh lebih menonjol dibandingkan dengan visualitas.

GYMBJ
Gbr 1. Kharisma Jati – God You Must be Jocking

Gambar-gambar pada komik strip pertama tidak terlalu esensial, artinya dalam derajat tertentu menjadi kurang diperhatikan, karena pembaca – setidaknya ini tafsir saya – tampaknya sengaja diarahkan oleh komikusnya supaya mereka memilih untuk memperhatikan dialog antara ayam dengan kucing, ketimbang memperhatikan sifat-sifat intrinsik dari visualitas yang disodorkannya, entah itu tarikan garis yang sederhana atau bidang ukuran panil yang tidak seragam antara satu dengan yang lainnya. Pada contoh pertama ini, kenikmatan visual (karena melihat gambar) yang mungkin dituntut oleh pembaca terganti oleh dominasi verbalisme. Visualitas komik pertama yang saya rujuk agaknya baru diperhatikan dengan sungguh-sungguh oleh pembaca ketika mereka sampai di panil terakhir (ketika ayam hidup telah berubah menjadi ayam goreng!).

Contoh kedua berasal dari luar Indonesia, tepatnya bisa kita lihat melalui salah satu strip B.C garapan Johnny Hart – kartunis Amerika (Gambar 2). Yang kedua ini bagi saya menampakkan verbalisme dan visualitas yang seimbang. Maksudnya, baik non-tulisan maupun tulisan ditempatkan dalam ruang di mana masing-masing konvensi memberikan alternatif bagi pembaca untuk sama-sama membaca (tulisan) sekaligus menikmati (gambar). Gerak subjek strip di antara panel terlihat nyata oleh karena garis penanda gerak pada panil pertama turut menopang pergerakan subjek. Pada contoh kedua itu, baik tulisan maupun non-tulisan, oleh Johnny Hart, diletakkan dalam proporsi yang ideal. Orang bisa menikmati keduanya tanpa harus berkonsentrasi kepada salah satunya.

BC
Gbr2. Johnny Hart – BC

Menunjukkan kedua contoh tersebut tidak berarti bahwa saya ingin membahas tuntas perbincangan mengenai konvensi antara yang verbal dan yang visual dalam komik. Tulisan ini, bagaimanapun, masih terasa kurang oleh karena minimnya pembahasan mengenai komik “bisu” yang hanya mengandung gambar (yang berarti ia menuntut untuk dilihat) minus kata-kata tertulis. Apakah komik “bisu” tidak mampu memenuhi kaidah komik “hebat”, yang kategorinya telah dijelaskan di atas? Saya terpaksa menyimpan jawaban untuk pertanyaan ini. Ruang dalam tulisan ini memang tidak bermaksud untuk memberi tempat bagi pembahasan komik “bisu”. Mungkin lain kali.

Yang ingin saya garis bawahi di sini adalah: konvensi tulisan dan non-tulisan dalam komik – apapun bentuknya – telah mewarnai dunia perbukuan (atau lebih tepatnya dunia benda-benda hasil cetak) sejak abad ke-19 dan jelas telah ikut mewarnai peradaban, baik literasi maupun visual, dengan caranya sendiri; cara-cara yang kini sebetulnya perlu ditelisik menurut konvensinya yang khas dan terpisah dari bentuk-bentuk benda cetak lainnya. Sebagai benda cetak, komik adalah istimewa juga, karena ia – ironisnya – telah lama dianggap sebagai “teror” visual (karena membuat anak malas membaca); sebuah pandangan yang mungkin masih bisa ditemui di mana pun. Sebagai bagian dari peradaban manusia, komik – meminjam kata-kata ST Sunardi – mengajak kita untuk tidak berlama-lama bicara tentang sesuatu namun juga mengajak kita untuk cepat-cepat mengambil sikap. Bagi Anda sendiri, mana kata yang paling enak untuk melukiskan laku menikmati komik?

BACAAN

Harvey, RC. 1994. The Art of the Funnies : An Aesthetic History. Jackson: University Press of Mississippi

a 'Yes' man
  • Menurut saya komik sebenarnya visual art, verbal hanya caption untuk gambar di dalam panel.

    Link ini http://www.forbiddenplanet.co.uk/blog/2012/polish-mute-comics-a-thing-that-i-never-realised-was-a-thing-up-until-now/ memperlihatkan komik bisu (mute comics) bisa menarik.

    Komik bisu tanpa verbal sepertinya masih bisa terbaca, selama visual yang disajikan tidak ambigu. (Misal gambar amoeba, mungkin jika tidak diwarnai akan terlihat seperti noda di baju, atau air di lantai, atau yang lainnya.)

    Tapi jika dibalik, verbal tanpa visual, akan otomatis menjadi buku cerita tanpa gambar seperti cerpen dan novel.

    Yang pertama saya lihat saat membuka halaman komik adalah gambar, baru kemudian beralih ke tulisan yang menerangkan gambar itu.