Membingkai Identitas Komik Indonesia

Membingkai Identitas Komik Indonesia

Oleh -
0 110
festival komik nasional

Oleh: Boy Nugroho

Sumber

Penghujung tahun dimeriahkan rangkaian acara bergelar Festival Komik Nasional (FKN) 2012 yang diselenggarakan oleh Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Festival ini berlangsung di Jogja National Musem (JNM) mulai 27 hingga 30 Desember. Ada setumpuk kegiatan yang diikuti oleh para komikus dan pecinta komik meliputi pameran karya, pembuatan komik strip terpanjang, bazar, diskusi, rilis media komik dan pemutaran film.

Tema utama dari parade adalah Meragam Komik, Membaca Budaya yang diilhami oleh sejarah kejayaan komik lokal di masa lalu beserta semangat para pegiat komik masa kini untuk membuka ruang-ruang ekspresi yang kian beragam. Keragaman ini dipahami sebagai proyek membingkai identitas Indonesia. Sebuah konsep yang (masih) harus selalu diimajinasikan dan disadari sebagai purwa rupa yang tak pernah tuntas.

Seperti halnya komik yang disusun oleh ragam imajinasi, konsep Indonesia tak mungkin diimajinasikan secara homogen. Itulah keunikan Indonesia sebagai identitas yang perlu ditafsirkan dengan cair dan selalu mengalami penundaan makna. Bukan Indonesia yang disempitkan oleh jargon-jargon kaku, banal dan cenderung bersifat musiman.

Beberapa tudingan cenderung menyalahkan dominasi komik impor. Dari kacamata industri, membanjirnya judul-judul komik Jepang dan Korea memang melemahkan jalur distribusi komikus-komikus lokal. Meskipun masih ditemui judul-judul lokal yang masih bertebaran dan (semoga) jumlahnya kian bertambah seiring dengan lahirnya jalur-jalur alternatif. Sementara itu, sebagian penerbit menerapkan strategi dengan menyulap atau memodifikasi nama-nama komikus lokal menjadi agak Jepang-jepangan. Entah ini semacam mentalitas inferior yang keterlaluan, tetapi dalam lingkaran gerigi-gerigi pemilik modal, hal itu sah-sah saja.

Namun kreativitas dari para komikus lokal tak bisa terbabat habis. Justru dengan munculnya jalur-jalur indie, semangat untuk mengolah ide dan menerjemahkannya ke dalam karya makin sporadis. Apalagi, komik menemukan media seperti internet yang mempermudah akses para pembaca dan memicu produktivitas komikus. Di sinilah terjadi pengembangan media komik sebagai siasat budaya yang melahirkan narasi-narasi visual perihal Indonesia. Alih-alih sekadar media hiburan visual, komik lokal mulai menggenggam peran kritik sosial. Sebelumnya, aktivisme komik lokal cenderung berkutat di ranah seni yang terbatas pada beberapa komunitas. Kini, untuk bisa dinikmati oleh kalangan luas, tema-tema komik seputar isu politik dan sosial menjadi seksi untuk diangkat. Penerbit-penerbit besar membaca fenomena tersebut dan dengan taktis merakit segala ragam kemasan komik yang bertemakan serupa. Itu bukanlah hal buruk meskipun jangan terlalu diharapkan sebagai gerbang untuk menyelamatkan komik lokal.

Komik lokal seharusnya tidak selalu bersandar pada penerbit-penerbit besar yang selalu berpikir dalam logika modal. Gerilya para komikus tak harus menuntaskan pencapaian pada titik-titik mapan. Sedangkan dominasi komik impor tak melulu dipahami sebagai ancaman yang bisa melumpuhkan kreativitas. Persoalan meminjam gaya visual adalah tema yang sudah tak relevan untuk didebatkan. Ini adalah area pergulatan yang jangan dibaca dalam kerangka antagonistik sebab (komik) Indonesia adalah rangkaian komik, dan kita sedang menyusunnya.

a 'Yes' man