Merajut Masa Depan Komik Indonesia

Merajut Masa Depan Komik Indonesia

Oleh -
0 155
History of Indonesia comics

Kalau kita menengok lagi medan komik Indonesia 2010-an, mungkin kita bisa berharap banyak . Setidaknya dalam hal kuantitas kita telah melihat lonjakan produksi komik yang cukup berarti.

Merajut masa depan komik

Namun demikian bukan berarti tidak ada tantangan. Kondisi produksi komik yang melonjak juga bukan berarti sebuah kabar yang bisa dirayakan secara besar-besaran. Imansyah Lubis mencatat kondisi kekinian medan komik Indonesia di mana ada sekitar 200 komik impor yang dipublikasikan setiap bulan. Dalam perbandingan yang sangat jomplang, hanya ada 2-5 komik lokal yang diproduksi setiap bulannya. Angka statistik ini bisa jadi tidak mencerminkan keadaan sebenarnya, dan mungkin juga meleset dari kondisi sebenarnya, namun jelas menjadi tantangan serius. Maksudnya, bisakah komik Indonesia menarik perhatian mereka yang telanjur akrab dengan komik impor terjemahan?

Tantangan Masa Depan Komik Indonesia

Pertanyaan di atas sebetulnya sangat sulit dijawab, namun lebih mudah untuk diantisipasi jika orang bisa mengatasi tantangan dengan baik. Apa saja tantangannya? Setidaknya dari gambar di atas kita tahu ada lima tantangan:

  • Publik yang tidak tahu bahwa karir di medan industri komik itu ada (dalam hal ini, karir sebagai komikus), walau mungkin belum terbentuk dengan baik. Kalau kita berbicara tentang karir, kita bicara tidak hanya berapa besar penghasilan yang bisa didapat melainkan juga jenjang karir dan yang lebih penting lagi, apakah karir menjamin kita untuk mengeksplorasi potensi visual komik secara penuh.
  • Dalam perbincangan tentang industri, seringkali kita bertemu topik yang seakan tidak habis untuk dibicarakan, yakni ihwal kata Indonesia di belakang komik. Komik Indonesia. Berani menyebut kata Indonesia setelah komik maka tentu yang dibayangkan berada dalam proposisi yang sejajar, yakni bagaimana Indonesia dibayangkan melalui komik. Setidaknya dari gambar di atas topik ini menjadi tantangan serius sebab perkaranya adalah bagaimana mengatasi persoalan posisi komik Indonesia di tengah wacana global, apa yang ditawarkan oleh medan ini, dan bagaimana strategi penempatan posisi tersebut bisa membuat komik Indonesia memiliki identitas yang “khas” yang berbeda dengan komik-komik dari belahan dunia lain. Menganggap bahwa komik Indonesia adalah komik-komik yang dibuat oleh orang Indonesia … dan lalu selesai … adalah solusi yang terlalu simplistis.
  • Tantangan selanjutnya yang masih terkait dengan industri komik adalah menarik perhatian pasar. Atau meminjam kata-kata Imansyah Lubis pada gambar di atas: bagaimana meningkatkan kepercayaan pembaca Indonesia terhadap produk komik Indonesia. Tentang ini saya sudah terlalu sering mendengar bahwa orang-orang mencari komik karena mereka ingin mendapat hiburan setelah sehari-hari dihajar oleh kesibukan dan negeri yang masih dalam tahap beta. Karenanya yang ditonjolkan adalah komik yang menghibur dan membuat senang (sesaat?). Benarkah demikian yang diharapkan orang-orang dari komik Indonesia?
  • Tantangan keempat adalah – masih menurut gambar di atas – komikus yang kekurangan pendidikan khusus yang menjamin keberlangsungan karir serta menjamin kepemilikan kemampuan ngomik yang ciamik. Tentu saja yang namanya pendidikan selalu terkait dengan produksi pengetahuan, dan saya rasa pengetahuan tidak melulu didapatkan di bangku kuliah atau sekolah menengah melainkan dari banyak hal seperti pengalaman hidup, film, bahan bacaan, dan lain sebagainya.
  • Tantangan terakhir adalah komik Indonesia yang kekurangan perhatian internasional. Ini mungkin tidak terlalu penting meski bisa menjadi kebanggaan karena disorot secara internasional. Tanya yang muncul kemudian adalah: kualitas macam apa yang menjadi jaminan bahwa komik Indonesia pantas disorot secara internasional?

kesempatan merajut masa depan

Kesempatan yang Harus Dikelola

Meski ada banyak tantangan, namun masa depan komik Indonesia sebetulnya masih membentang luas, oleh karena terbukanya berbagai macam kesempatan untuk mengeksplorasi bidang-bidang yang belum dijamah. Selain itu, pasar yang sangat luas juga menjadi sebuah lahan yang apabila digarap dengan baik akan menghasilkan hasil keuntungan yang sepadan.

Akan tetapi komik tentu saja bukan hanya hiburan semata, melainkan juga soal pengetahuan macam apa yang bisa didapat melaluinya.

Generasi komikus sekarang juga tampaknya terlihat antusias dengan banyaknya fan page Facebook yang dibangun guna mengakomodasi berbagai macam komik dengan tema yang beragam. Nyatanya kini kita telah melihat satu lagi kesempatan baik yang hendaknya mesti dikelola dengan baik juga.

Yang paling menarik dari upaya untuk merajut masa depan komik Indonesia menurut saya ada pada kemungkinan untuk memperluas batas-batas seni sekuensial khususnya yang terkait dengan bentuk komik. Dengan pasar yang luas dan komikus yang sangat antusias, kemungkinan untuk melakukan eksplorasi bentuk komik menjadi terbuka lebar. Belum lagi bila kita berbicara tentang masa depan (meminjam kata-kata Imansyah Lubis lagi) di mana komik berkolaborasi dengan yang lain. Apakah komik mau berkolaborasi dengan merchandise, mainan, game, fashion, animasi, dan film? Di belahan bumi lain tentu kolaborasi macam ini sudah jamak dilakukan. Dan bila saya tambahkan, maukah seni sekuensial khususnya komik berkolaborasi dengan seni instalasi, dengan seni kontemporer dengan segala macam form-nya, dengan desain, dengan ilmu-ilmu lain dalam kerangka lintas disiplin, atau dengan masyarakatnya?


Demikianlah, artikel ini menjadi penutup dari keseluruhan pembahasan tentang ringkasan sejarah komik Indonesia. Saya berutang banyak kepada Imansyah Lubis yang menyediakan banyak bahan untuk seri tulisan ringkasan sejarah ini, karena itu apresiasi dan rasa terima kasih saya persembahkan untuknya.

*Teks oleh: MHadid. Bahan oleh: Imansyah Lubis