Mice dan Perbincangan Mengenai Kritik Sosial dalam Komik

Mice dan Perbincangan Mengenai Kritik Sosial dalam Komik

Oleh -
0 224
seminar dengan mice
10 Desember 2012
Apa arti kritik sosial bagi Muhammad Misrad, alias Mice, salah seorang komikus Indonesia yang ketika masih berduet bersama Benny digadang-gadang oleh banyak media mainstream sebagai duet komikus yang menyajikan karya komik dan kartun dengan nuansa yang “kritis”. Bila anda kebetulan mengunjungi acara talkshow di gedung Fakultas Psikologi UGM pada Sabtu 1 Desember di mana Mice menjadi pembicara di sana, maka anda mendapatkan jawaban langsung yang berbeda. Mice menegaskan di sana bahwa karya-karyanya – sampai sekarang ketika ia berjalan sendirian sebagai komikus dan kartunis – bukanlah bentuk kritik sosial melainkan potret sosial.
Mice
“Potret sosial” merupakan sebutan yang terdengar netral. Ia tidak mengisyaratkan nilai mulia semacam sikap kritis karena sang komikus telah bersabda kepada hadirin bahwa semua karyanya telah berusaha  mentransfer variabel berupa objek dan subjek yang real menjadi bentuk-bentuk representasi komikal-kartunik yang tidak membawa muatan ideologis apapun. Setidaknya atmosfer semacam itulah yang saya tangkap dan maknai dari kata-kata “potret sosial” yang dilontarkan oleh Mice di acara tersebut.
Walau talkshow tersebut bertajuk “kritik sosial lewat media kreatif”, namun mungkin Mice tidak begitu menyukai bila karya-karyanya disebut mengandung muatan kritik.Meskipun begitu, acara talkshow itu memang meriah. Ada banyak yang hadir di sana. Kemeriahan itu begitu terdengar dan terlihat, selain dari jumlah peserta yang datang memenuhi bangku-bangku yang disediakan dan jumlah pertanyaan hadirin yang banyak, juga dari lontaran kata-kata dari mulut Mice yang tampak berapi-api. Pada satu momen, Mice melontarkan kekesalannya terhadap aktivis mahasiswa yang dulu berteriak lantang menolak korupsi, toh nyatanya sang aktivis juga akhirnya korup ketika ia duduk di lembaga pemerintahan. ‘Pada akhirnya ada beberapa orang yang memang berpotensi munafik, melupakan apa yang dulu ia perjuangkan’, mungkin begitu pikir Mice.

hiburan

Sementara ada satu momen lain di mana seorang peserta bertanya ihwal Mice yang ternyata seorang penggemar Joe Sacco. Peserta itu bertanya, bunyinya kira-kira begini: “apakah Mice tidak mau menciptakan karya seperti yang telah dilakukan Joe Sacco. Artinya membuat komik dengan cita rasa jurnalistik yang dengan jelas menunjukkan sikap politis dan keberpihakan terhadap kaum marjinal dan tertindas, serta menjadi kritis sekalian?” Mice menjawab kira-kira begini: di Indonesia tidak mungkin melakukan apa yang telah dilakukan oleh Joe Sacco karena di sini kebanyakan orang cenderung menanam rasa permusuhan ketika mereka tidak sepaham dengan pihak lain. Karena itu pula saya menduga bahwa ia memilih untuk “main aman”. Karya-karyanya kebanyakan memang tidak berpretensi untuk menjadi politis atau ideologis. Mungkin lebih tepat untuk menyebut Mice sebagai komikus dengan karya-karya yang parodik, populer, dan menghibur.

Acara talkshow tersebut adalah sebuah bukti lain mengenai personalitas seorang komikus mainstream yang sudah seperti selebritis: populer dan disukai banyak orang. Ada banyak hadirin di sana yang meminta kesempatan untuk berfoto bareng dan juga meminta tanda tangan. Namun peserta tidak pulang tanpa membawa ilmu apa-apa karena di sana sang komikus juga memberi kuliah pendek yang memaparkan pemahaman mengenai apa itu komik, apa itu kartun, dan karakteristik estetik macam apa yang bisa melekat di kedua medium tersebut. Pendek kata, acara tersebut memang tampak sebagai sebuah bidang titik temu antara penggemar dan senimannya. Yang datang ke sana telah memuaskan dahaga dan rasa penasaran akan “siapa sebenarnya Mice” dan “bagaimana kisah hidupnya”. (MH)
a 'Yes' man