Mengapa Hollywood Paska 9/11 Menawarkan Mitos Dan Fantasi?

Mengapa Hollywood Paska 9/11 Menawarkan Mitos Dan Fantasi?

Oleh -
0 431
superhero

Zaman sekarang sudah jamak ditemukan artefak-artefak budaya, seperti novel, puisi, film, dan lain sebagainya, yang mengalami proses ‘cut’ (potong) untuk kemudian hadir dalam bentuk baru, hasil dari proses ‘Re-mix’ (pencampuran kembali) atas apa yang sudah dipotong itu. Film blockbuster seperti The Avengers, yang mulanya bersumber dari cerita semesta komik yang dihidupi kumpulan pahlawan Marvel, misalnya, bisa ditunjuk sebagai entitas yang merupakan hasil dari proses ‘Cut & Re-mix’. Atau bila ingin mencari contoh yang lain: puisi berjudul Hujan Bulan Juni karya Sapardi Joko Damono yang digubah ke dalam bentuk komik. Pendek kata, proses pemotongan untuk menghasilkan karya dalam bentuk baru bukan merupakan fenomena yang mengherankan.

Esei ini akan mencoba menerawang fenomena ‘Cut & Re-mix’ melalui artefak kultural yang sudah jamak ditemukan orang dalam keseharian hidup mereka. Namun karena tema pembahasannya bisa begitu luas dan bisa meliputi banyak hal, saya akan membatasi pembahasan dalam ranah komik. Lebih jauh lagi, saya akan membicarakannya dalam lingkup yang lebih spesifik, terutama yang berkaitan dengan soal “adaptation industry” yang tampaknya sekarang ini menjadi model yang digencarkan oleh Hollywood.

Catatan: Esei ini dipresentasikan di acara Diskusi Seni Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) yang berlangsung pada 6 September 2014. ‘Cut & Re-mix’ menjadi tema yang diusung oleh FKY tahun ini.