Mengapa Hollywood Paska 9/11 Menawarkan Mitos Dan Fantasi?

Mengapa Hollywood Paska 9/11 Menawarkan Mitos Dan Fantasi?

Oleh -
0 431

Studio-studio besar Hollywood sempat menghadapi ancaman kebangkrutan finansial pada tahun 1960-an, namun selamat karena sokongan konglomerasi baru. Salah satu konglomerat yang menyelamatkan Hollywood bernama Lew Wasserman. Dia yang pada 1962 mengambil alih Universal Studio adalah otak di balik model konglomerasi media baru di Holllywood. Di tangannya investor dan pengambil kebijakan (yang semuanya orang-orang baru) mulai masuk ke Hollywood. Setelahnya perubahan pemikiran terjadi, dan menimbulkan konsekuensi pada bagaimana Hollywood kemudian memperlakukan film-film produksi mereka. Hollywood setelah para investor baru masuk, kata Nathalie Dupont, diisi “orang-orang yang hanya menginginkan hasil finansial, dan menganggap film semata sebagai produk yang harus diproduksi dengan biaya seefisien mungkin.”

Hollywood

Formula dengan bunyi “biaya seefisien mungkin” – yang tentunya harus kembali dalam jumlah yang lebih besar dari itu – kemudian mulai menghasilkan pundi-pundi keuntungan pada tahun 1970-an melalui film Jaws (1975) besutan Steven Spielberg dan Star Wars (1977) besutan George Lucas. Kedua film tersebut disebut sebagai film tersukses dalam hal angka penjualan tiket; dan khusus untuk Star Wars, ada nilai tambah berupa angka penjualan merchandise yang juga sangat menguntungkan. Sejak saat itulah Hollywood mengembangkan sebuah formula produksi bagi film-film blockbuster mereka: (1) film-film dibuat dengan biaya produksi yang sangat mahal, (2) disebarluaskan berdasarkan sistem rilis yang spesifik, dan (3) seringkali menampilkan karakter yang simplistis, penuh dengan aksi-aksi cepat, banyak efek spesial, dan music score yang keras. Tiga formula ini kemudian dipandang sebagai solusi bagi hausnya para investor Hollywood akan akumulasi kapital, dan efek dari ketiganya juga bisa dipakai untuk menjelaskan mengapa Hollywood sangat tergila-gila dengan film adaptasi komik, terutama yang diproduksi oleh Marvel (dimiliki oleh The Walt Disney Company) dan DC Comics (dimiliki oleh Warner Bros.).

Lebih jauh lagi, komik dipilih untuk dialih-rupakan karena resikonya yang kecil. Setiap karakter komik Amerika sudah hidup dalam berjilid-jilid buku, dan jika satu karakter komik yang dialih-rupakan memperoleh kesuksesan sinematis, maka ia akan membuka jalan bagi kemunculan sekuel berikutnya – yang berarti kepastian peningkatan laba. Tentu saja formula ini tidak selalu berhasil mendatangkan keuntungan besar yang diharapkan, namun jika rataan diambil, total sekitar 215 juta dollar berhasil diraup oleh Hoollywood untuk setiap film adaptasi komik yang mereka produksi.  Singkat cerita, dalam kasus Hollywood, komik diperlakukan sebagai bagian dari produksi film, yang jika dialih-rupakan akan mudah untuk dipromosikan karena setiap karakter komik yang hidup di industri komik Amerika sana telah memiliki basis penggemarnya tersendiri.

Meski demikian, satu persoalan yang belum tuntas dijawab adalah: mengapa Hollywood (dan khususnya Amerika) merasa perlu menghadirkan imaji komik yang dialihrupakan ke bentuk film? Beberapa film adaptasi komik yang muncul paska 9/11 menonjolkan heroisme pahlawan super, meski saya tidak bermaksud mengatakan Hollywood sebelumnya belum pernah tergila-gila dengan komik.  Ledakan jumlah film bertema pahlawan super pada dekade 2000-an ditopang – salah satunya – oleh perkembangan teknologi CG Animation. Berkat teknologi tersebut, visualisasi para pahlawan super zaman sekarang terlihat sangat keren dan sejurus, masing-masing dari mereka juga terlihat lebih cerdas.

Tetapi yang jauh lebih penting dari perkembangan teknologi, laku adaptasi berbalut repetisi dalam kerangka ‘cut & re-mix’, dari komik ke medium film adalah penciptaan mitos. Entah kita menonton Spiderman, X-Men, maupun Captain America, film-film pahlawan super yang tampil di layar bioskop pada tahun-tahun setelah menara kembar WTC hancur adalah hasil dari pembentukan imaji atas Amerika sebagai sebuah pusat yang tidak gampang runtuh. Amerika membutuhkan pahlawan super untuk melakukan reka ulang imaji tentang penyelamatan negara dari kekacauan, sekaligus imaji tentang entitas pusat yang punya hak untuk menentukan mana yang baik dan benar. Untuk menciptakan mitos dan fantasi, medium apa yang lebih masuk akal untuk digunakan selain film yang bersumber dari komik?

Konteks 9/11 menjadi penting untuk ditengok, sebab robohnya menara kembar WTC pada 11 September 2001 menjadi sumber trauma masyarakat Amerika, serta menandakan runtuhnya tatanan simbolik. Chaos muncul dari sana. Singkat kata, saya ingin meminjam pendapat Elçin Marasli, bahwa adaptasi komik pahlawan super ke dalam bentuk film “dibangun di atas imaji trauma publik Amerika paska 9/11” (building upon the image of the traumatized American public of post 9/11). Pengalaman chaotic butuh disembuhkan. Pada saat bersamaan tatanan simbolik Amerika sebagai super-power perlu dikembalikan. Film-film pahlawan super hendaknya diterakan dalam koherensi di mana mereka hadir untuk memenuhi fungsi utopisnya sebagai alat penyembuh sekaligus alat untuk mengembalikan tatanan simbolik.

Dalam kerangka berpikir di atas, film-film pahlawan super hasil adaptasi dari komik ingin saya tempatkan dalam wilayah eskapisme, yang dibuat guna memenuhi fungsinya sebagai jalan keluar dari trauma paska 9/11 serta runtuhnya simbol super-power Amerika. Tentang maraknya film-film pahlawan super adaptasi dari komik, suatu kali produser Disney yang bernama Don Hahn berkata: “mungkin karena itulah kita melihat banyak sekali film-film pahlawan super, ada banyak ‘Captain America’, ‘Iron man’, karena karakter-karakter itu sanggup mengalahkan orang jahat dan itu menjadi sebuah cerita bagus untuk kami.”

The Dark KnightDon Hahn menekankan poin penting tentang bentuk cerita tradisional di mana perang antara kebaikan versus kejahatan selalu ada, namun yang perlu digaris-bawahi dari kemunculan pahlawan super dan penjahat lawannya adalah bentuk-bentuk metafor yang dipakai sebagai fondasi penciptaan ilusi tentang kembalinya keteraturan. Salah satu contoh terbaik yang bisa dipakai di sini barangkali bisa dilihat pada film The Dark Knight (2008). Film ini menekankan ceritanya pada Batman yang tersisa sebagai super-power  di kota Gotham. Dia yang berhasil menegakkan hukum di Gotham dan menjadi satu-satunya simbol yang tak terkalahkan, tiba-tiba mesti berhadapan dengan kegilaan Joker yang meruntuhkan tatanan hukum dan menciptakan chaos di kota tersebut. Layaknya film-film blockbuster lain, Batman akhirnya menang, tentu saja; namun apa yang penting untuk dilihat dari The Dark Knight adalah metafor itu sendiri. Di satu sisi, Batman adalah representasi dari super-power Amerika yang kini berdiri sendiri setelah ancaman komunis berlalu. Di sisi lain Joker adalah pemantik kekacauan, lawan sepadan, serta kekuatan baru yang menantang sang super-power. Dalam film tersebut, keraturan yang ajeg (tidak berubah) adalah ilusi, sementara kekacauan merupakan keniscayaan hidup. Namun dalam kekacauan yang muncul setelah keteraturan, dia yang super selalu kembali untuk menegakkan tatanan simbolik yang hancur akibat musuh-musuh baru. Pengalaman seperti inilah yang kiranya terus menerus direproduksi dari satu film pahlawan super ke film pahlawan super yang lain.

Dengan kata lain, film-film pahlawan super blockbuster besutan Hollywood menjadi semacam model mitos penuh fantasi yang merepresentasikan keinginan untuk menciptakan ilusi keteraturan sekaligus ilusi tentang “pusat yang mutlak harus ada”. “Pusat” adalah pahlawan super yang merepresentasikan nilai-nilai Amerika sebagai super-power, yang diceritakan selalu menghadapi musuh serta ancaman baru, dan selalu menang atasnya. Dari sini kemudian menjadi menarik untuk mengutip Nathalie Dupont kembali:

After 9/11, “feeling trapped in a world beyond their control”, Americans have looked for a caring Superman to return, to be the embodiment of their values and to save his sweetheart Lois from being killed in a burning plane heading straight for an American city and a baseball game—in a visual catharsis for the unfortunate planes that crashed into the Twin Towers of the World Trade Center.  

(Setelah 9/11, [dengan] “perasaan terjebak di sebuah dunia di luar kendali mereka”, Amerika telah mencoba membawa Superman kembali, sebagai perwujudan dari nilai-nilai mereka dan menyelamatkan kekasihnya Lois dari ancaman kematian dalam pesawat terbakar yang langsung menuju kota Amerika dan sebuah pertandingan bisbol – dalam katarsis visual untuk pesawat tidak beruntung yang menabrak menara kembar World Trade Center.)

Dupont berbicara tentang film Superman Returns (2006), persisnya pada adegan di awal film di mana sang pahlawan super diceritakan kembali ke bumi setelah perjalanannya ke luar angkasa demi menemukan planet asalnya: Krypton. Kembalinya dia ke tengah umat manusia (Amerika) ditandai dengan sebuah kecelakaan pesawat yang kebetulan membawa Lois Lane di dalamnya. Tanpa menonton filmnya Anda pun bisa menebak bahwa Lois tidak mati, namun yang menarik dari asumsi Dupont di atas: dia menilai adegan penyelamatan pesawat itu sebagai upaya merepresentasikan pengandaian kontra-faktual: andai Superman ada, WTC takkan hancur!

Thor-The-Dark-World

Bertolak dari Superman, ada baiknya saya mengalihkan pandangan ke satu lagi film pahlawan super hasil adaptasi dari komik, yakni Thor: The Dark World (2013) yang diproduksi oleh Marvel Studio. Di penghujung film, setelah Thor menghabiskan segenap kekuatannya untuk melawan Malekith yang berambisi menghancurkan sembilan dunia, dia mengeluarkan kata-kata bijak kepada ayahnya, Odin, yang menawarkan tahta raja baru di Asgard (sebuah lokasi fantasi yang dalam semesta Thor diceritakan sebagai pusat sekaligus penjaga dunia) setelah kejadian tersebut. Begini kira-kira kata Thor: “aku akan berusaha sekuat tenaga menjaga keteraturan sembilan dunia, sebagai orang biasa, tanpa perlu duduk di atas singgasana raja.” Yang bisa ditarik dari laku kebijaksanaan sekaligus penemuan-diri (self-discovery) seorang Thor adalah refleksi tentang eksistensi seorang pahlawan super yang mau dan menyanggupi diri untuk bertindak sebagai penjaga dunia. Dengan Chris Hemsworth sebagai pemeran Thor, seorang pahlawan super dengan dialek Inggris-Amerika, tidakkah Asgard merefleksikan Amerika itu sendiri sebagai super-power  yang “bijak” namun berwatak imperialistik, dan Thor sebagai individu pemberi harapan sekaligus inspirasi bagi keteraturan?

Jika dari inspirasi bisa muncul sebuah pengharapan, maka seperti apa wujudnya? Ada dua macam wacana pengharapan yang setidaknya ditawarkan oleh film-film blockbuster bertema pahlawan super yang tayang paska 9/11. Jika saya boleh uraikan dalam generalisasi terburu-buru, maka keduanya adalah:

1)      Kedekatan

Disadari atau tidak, para pahlawan super seringkali diceritakan sebagai orang biasa dengan masalah layaknya orang-orang biasa. Mereka memiliki keluarga, mendengarkan musik favorit, bisa bertingkah konyol, mengecap bangku sekolahan, serta sering minum-minum di klub ketika senggang. Mereka juga memiliki masalah yang sering dihadapi kebanyakan orang (pencarian jati diri, cinta, kehilangan orang terdekat, dan lain sebagainya). Forma signifier yang ditawarkan oleh produk-produk pahlawan super Hollywood pada gilirannya menjadi sebuah strategi yang bisa digunakan para penonton untuk mengidentifikasi diri mereka sedekat mungkin dengan idolanya.

2)     Penyembuhan

Yang tak kalah penting dari strategi identifikasi adalah pembentukan imaji tentang kembalinya keteraturan setelah chaos karena kehadiran figur yang mutlak menguasai segalanya. Contoh Thor di atas sudah merefleksikan metafor mengenai bagaimana keteraturan itu dibentuk, yakni dengan satu figur berada di puncak, mengawasi, dan membuat yang diawasi merasa nyaman – kendati kita tidak perlu tahu bagaimana dia memberi kenyamanan bagi orang-orang biasa yang diawasinya.

Dari beberapa locus fenomena yang diceritakan di atas, saya hanya ingin mengatakan bahwa film-film pahlawan super Amerika yang diadaptasi dari komik bisa dibaca sebagai bagian dari usaha Hollywood untuk menciptakan mitos tentang Amerika sendiri, dengan cara menempatkan para pahlawan rekaan sebagai metafornya.  Amerika setelah 9/11 adalah Amerika yang paranoid, yang ketakutan karena posisinya sebagai super-power terancam, dan yang sekali lagi mendamba diri sebagai penjaga keteraturan. Sekali waktu Noam Chomsky pernah memberi pandangan tentang masyarakatnya: “Amerika Serikat adalah sebuah negara dengan ketakutan yang tidak biasa. Dan dalam kondisi semacam itu orang mereka-reka sesuatu, baik dengan maksud untuk lari darinya atau mungkin untuk merasa lega, keluar dari ketakutan bahwa sesuatu yang buruk terjadi.” Mengikuti Chomsky, para pahlawan super mungkin dikeluarkan dari lembaran-lembaran komik guna menjadi semacam obat penenang yang meredam segala ketakutan yang melekat pada masyarakat Amerika.