Naga yang Memakan Gambar Review

Naga yang Memakan Gambar Review

Oleh -
0 217
Naga yang Memakan Gambar

Naga yang Memakan Gambar karya Made Marthana Yusa dan Pandu Mahardika menjadi sebuah komik yang cukup menarik. Menarik karena tidak seperti Warisan, Laut Milik Semua, Makan-makan, dan Keluar Saung – yang sama-sama menjadi enam besar Kompetisi Komik Indonesia 2013 – komik tersebut mengambil unsur mitos populerdan fantasi yang menjadi bahan bakar cerita dan menggerakkan alur keseluruhan dalam komik.

Sekilas pandang, Naga yang Memakan Gambar memadukan kesederhanaan cerita dan kemanisan yang dibawakannya. Pembaca tidak dimanjakan dengan latar gambar yang dimaksudkan sebagai referensi ke ihwal-yang-real (seperti dalam Laut untuk Semua), juga tidak perlu pusing dengan segala kerumitan aspek eksperimen pada bentuk seni sekuensial (seperti dalam Warisan), dan juga tidak perlu dibebani oleh idiom ideologis yang tak laku lagi (seperti dalam Makan-makan).  Meski demikian, komik tersebut masih terasa manis.

Segala bentuk visual dan konten cerita berbaur tanpa orang perlu memusingkan plot, sebab semuanya serba masuk akal. Yusa dan Mahardika pun seolah-olah bermain dengan rasa naïf yang mudah terlihat pada gaya visual yang secara konsisten dihadirkan dari satu halaman ke halaman lain. Dengan rasa naïf, tidak menjadi soal apakah latar gambar tidak terlihat kontekstual, atau setidaknya sulit dibayangkan oleh pembaca sebagai tempat yang nyata dan bisa dikunjungi. Konvensi semacam ini tentu berbeda dengan Laut untuk Semua yang begitu obsesif terhadap tempat. Tetapi jangan salah, saya tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa yang disebut terakhir jauh lebih buruk dibandingkan dengan Naga yang Memakan Gambar.

Persoalan kenaifan yang saya kemukakan di sini mesti dipahami sebagai pilihan yang secara sadar dibangun oleh kreator. Tarikan garis pada Naga yang Memakan Gambar membentuk irama bidang gambar yang menurut saya terkesan dibaurkan begitu saja tanpa mempedulikan detil anatomi pada tubuh karakter yang hidup dalam tiap panil. Jejak-jejak (cat air?) yang ditambahkan di sana sini memperkuat  kesan bahwa pilihan naïf menjadi masuk akal. Masuk akal karena orang masih bisa menikmati bentuk. Tidak abstrak secara total dan oleh karena itu bisa dinikmati dengan wajar.

Salah satu unsur yang juga dominan dalam Naga Memakan Gambar adalah caption pada setiap halaman yang berfungsi sebagai narator, pembawa cerita. Irama pada gaya dibawakan oleh tiap-tiap caption yang tersebar dari halaman pertama hingga terakhir, seolah-olah Yusa dan Mahardika sedang mendongengkan kepada kita sebuah cerita tentang dunia fantasi yang dibacakan kepada anak-anak sebelum tidur. Dan memang komik tersebut tidak terlihat obsesif, oleh karenanya orang tidak akan menemukan hal-ihwal yang ambisius.

Editor Jurnal komik Online. Penulis buku Meledek Pesona Metropolitan (2013). Menghidupi hasrat sebagai kurator komik dan penulis musik (metal). Sisi samping: seni, organizer dan bahan bacaan.