Nanny dan Realitas Buruh Migran

Nanny dan Realitas Buruh Migran

Oleh -
0 133
nanny

Oleh: Niken Anggrek Wulan

Lemahnya perlindungan dan diskriminasi bukanlah satu-satunya persoalan yang dihadapi buruh migran Indonesia. Dibalik status ‘pahlawan devisa’ yang sering dilekatkan, sejatinya buruh migran mengalami kerugian dari segi sosial yang amat besar.

Nanny, komik pendek yang dibuat oleh Lim Cheng Tju dan Stephani Soejono mampu memotret persoalan sosial itu (komik ini dimuat di dalam kompilasi 24 hour comics day – red).

kaver komik

Yati adalah buruh migran di Singapura yang bekerja sebagai pengasuh anak atau Nanny. Cerita dimulai dengan menuturkan keseharian Yati. Perempuan pekerja rumah tangga itu bekerja pada seorang majikan perempuan. Suatu hari, usai menidurkan anak si majikan, ia diberi tahu bahwa keesokan harinya ia mendapat jatah libur.

Hari libur semestinya membuat Yati berbahagia. Namun, di negeri orang, semua itu terasa kosong baginya. Kekosongan itu diperlihatkan lewat ekspresi muram yang dilekatkan. Pada adegan-adegan awal, panel-panel sengaja dibuat lebar dan sudut pandang close-up diperbanyak pada awal-awal adegan untuk menonjolkan rutinitas Yati yang membosankan.

Pada hari libur itu, Yati memutuskan keluar pagi-pagi dari apartemen majikannya untuk berjalan-jalan. Dalam perjalanannya di kereta, Yati tertidur dan bermimpi. Mimpi itu menceritakan perjalanan Yati  hingga ia terpaksa mengadu nasib ke negeri tetangga. Yati dalam mimpi adalah Yati yang berbeda. Wajahnya dipenuhi senyum. Matahari dengan cerahnya menyinari wajah dan sawah yang ada di sekelilingnya. Dengan wajah sumringah ia menanam padi di sawah, dan bersama orangtuanya makan bersama. Di mimpi yang sama, ia juga bertemu dengan pria yang dikasihinya. Mereka menikah dengan bahagia.

Keadaan berubah ketika suatu hari ia tak mendapati suaminya di sisi tempat tidurnya. Dikisahkan suaminya menghilang. Saat itu hidupnya berubah menjadi kelam. Berpasang-pasang mata mencibirnya saat Yati tengah mengandung anaknya. Menyandang status janda dan makin tingginya kebutuhan hidup anaknya, membuat Yati terpaksa memilih bekerja di rantau, meninggalkan sanak keluarganya.

Kisah Yati adalah kisah yang sangat mewakili suara buruh migran. Anak-anak para Nanny seperti Yati terpaksa ditinggal dan dipercayakan kepada orang lain. Sedang ia sendiri bekerja mengasuh anak majikannya di negeri nun jauh di sana.  Risiko mendapatkan perlakuan tak menyenangkan, perkosaan, penipuan umumnya tak membuat mereka mundur. Ungkapan ‘lebih baik di tanah sendiri’ terpaksa dilanggar dengan tujuan mendapatkan pekerjaan yang lebih layak, meski hanya berstatus sebagai buruh yang berposisi tawar rendah dan rentan kekerasan, seperti buruh perkebunan atau pekerja rumah tangga.

Realitas tentang buruh migran itu ditampilkan cukup baik oleh komik yang terdiri dari 23 halaman ini. Adegan per adegan sengaja dibuat lambat, menonjolkan suasana hati yang dialami tokoh utama. Pembaca diajak untuk lebih menikmati sisi visual dengan membuat panel-panel yang minim dialog. Efek suara pun menjadi elemen yang cukup kuat dalam mendukung cerita.

Meski begitu, ada beberapa elemen yang dirasa kurang. Halaman awal misalnya, dirasa terlalu singkat dan digambarkan dengan sudut pandang yang terpatah-patah sehingga kurang nyaman secara visual. Beberapa latar belakang mungkin memang sengaja dibuat kaku, tetapi kadang menjadi terlalu kaku dan terlihat sangat ‘komputer’. Detail yang kurang digarap membuat kesan ruang pun terasa kurang. Akibatnya beberapa latar belakang terlihat sangat datar.

Salah satu bagian yang menggambarkan calo Tenaga Kerja Indonesia (TKI), terkesan sangat berlebihan karena dirasa kurang menyatu dengan setting cerita. Calo digambarkan sebagai Bapak-bapak tambun yang memegang koper bergambar pel dan ember serta berhiaskan bintang-bintang. Meski hal itu dimaksudkan untuk memperjelas status calo, tetapi tak menutup kemungkinan hal itu bisa digambarkan dengan cara yang lebih halus. Di sisi lain, adegan yang menggambarkan kesulitan ekonomi terlihat kurang dramatis karena terlampau disingkat dalam satu halaman.

Dibalik kekurangannya, komik ini jelas bisa menjadi media untuk membuka wacana pembacanya tentang persoalan sosial yang dialami buruh migran. Pembaca diajak untuk merenungi persoalan ‘Yati-Yati’ lain di negeri ini. Ketimpangan, ketidakadilan, serta kerentanan yang mereka hadapi terus ada. Tapi bagi para pekerja itu, hidup harus terus berjalan, meski harus mencerabut diri mereka dari kedamaian dari tanah kelahiran.***

 

a 'Yes' man