Ngobrolin Konsep Sekuensial yuk!

Ngobrolin Konsep Sekuensial yuk!

Oleh -
0 199
sequential art

Ada sebuah kiriman diskusi yang dibagi di laman Facebook Akademi Samali. Awalnya diskusi ini dimulai oleh Bayu Indie dan kemudian berkembang menjadi sebuah obrolan panjang dengan tanggapan di sana-sini yang rasanya sayang untuk dilewatkan.

Kenapa begitu sayang untuk dilewatkan? Coba kita lihat potongan gambar di bawah ini:

Post on Facebook

Dari gambar di atas, kita bisa lihat bahwa mulanya si pemantik diskusi hanya ingin bertanya apakah benar gambar yang dibagi dan ditunjukkannya di laman tersebut adalah komik bikinin orang Indonesia. Seserdehana itu. Boleh dibilang diskusi tentang apakah karya potongan komik di atas dibuat oleh komikus Indonesia atau bukan pada akhirnya merembet ke topik-topik lain – setidaknya bila kita melihat komentar lanjutan dari para anggota grup Facebook Akademi Samali. Oh ya, jika anda ingin mengintip obrolannya dalam format yang lebih lengkap, silakan ikut laman ini.

Yang paling menarik dan rasanya pantas untuk diperhatikan dari diskusi tersebut adalah informasi pendek-pendek mengenai konsep visualitas komik (dalam arti sempit), serta dalam lingkup yang lebih luas, terkait dengan formalisme itu sendiri sendiri. Berkaitan dengan tema yang mungkin luput dari perhatian khalayak awam, diskusi tersebut menjadi menarik sebetulnya, terutama pada bagian komentar pendek tentang ragam konsep yang berkaitan dengan teori komik itu sendiri.

Bagi kami sendiri ada beberapa komentar menarik, misalkan yang bisa dilihat pada komentar Widyartha Hastjarja. Beberapa komentarnya yang kami temukan di sana mengandung muatan pengetahuan mengenai bagaimana mengamati sumber-sumber intrinsik dalam komik, sebuah hal yang sebetulnya menjadi pisau analisis yang bisa dipakai ketika menelisik bentuk-bentuk seni sekuensial Рmeski istilah yang terakhir ini tidak banyak disentuh oleh Widya.

Umumnya sumber-sumber intrinsik dalam wilayah visual setidaknya bisa dipetakan melalui beberapa macam elemen, antara lain: ritme, bentuk tiga dimensional, harmoni, dan elemen-elemen non-representasional lain. Secara lebih rinci, elemen-elemen tersebut seringkali disebut isi, ruang, massa, tekstur, cahaya, shape, garis, dan titik. Gambar di bawah akan menunjukkan komentar-komentar Widyartha Hastjarja yang menurut kami mewakili perbincangan mengenai sumber-sumber intrinsik tersebut: Tentu saja ada banyak komentar lain darinya yang juga menarik, namun rasanya yang paling penting untuk dibagi di sini adalah bagaimana mengenali sumber-sumber intrinsik dalam komik. Baiklah, rasanya pengantarnya terlalu banyak, mari kita lihat beberapa komentar Widyartha Hastjarja yang ia bagi dalam diskusi tersebut. Sorot kemudian klik pada gambar di bawah untuk memperbesar.

Widyartha Hastjarja