Orang-orang Tionghoa di Medan Komik Indonesia

Orang-orang Tionghoa di Medan Komik Indonesia

Oleh -
0 274
Komik Tionghoa

Catatan editor: Di bawah ini adalah pengantar untuk bahan tulisan bertema orang-orang Tionghoa di medan Komik Indonesia dengan sumber utama skripsi Iqra Reksamurty berjudul Komik Peranakan Tionghoa di masa Orde Baru (Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gajah Mada 2014). Jurnal komik online telah mendapatkan izin langsung dari penulis skripsinya untuk menayangkan beberapa bagian dari tulisannya di sini, serta di laman lain yang terkait dengan pembahasan judul tersebut. Karenanya Jurnal komik online akan menayangkannya dalam beberapa seri tulisan meski tidak semua bagian dari skripsi tersebut akan ditayangkan di sini.

Bagian pengantar ini telah mengalami pemotongan dan penyelarasan teknis-bahasa, serta penghilangan bagian catatan kaki. Meski demikian, penyelarasan dan pemotongan tidak dimaksudkan untuk menghilangkan keseluruhan makna dan tujuan pada tulisan tersebut. Bagian kedua dari tulisan ini akan memaparkan satu sosok komikus Tionghoa: Kho Wan Gie.


Oleh: Iqra Reksamurty

Ada banyak anggapan mengenai komik, antara lain sebagai racun masyarakat, pahlawan kebudayaan, ataupun sumber inspirasi dan pengetahuan. Kontradiksi ini menjadikan komik mempunyai fungsi ganda sebagai barang yang dinista dan pada saat bersamaan dijunjung tinggi yang bersamaan.

Komik Indonesia Modern: Titik Awal

Sejarah komik modern di Indonesia berangkat dari Harian Sin Po di Jakarta. Pada tahun 1930 Kho Wan Gie mengisi surat kabar berbahasa Melayu ini dengan komik setiap minggunya. Setahun kemudian tokoh komik strip miliknya diberi nama Put On. Kepopuleran karakter ini segera menginspirasi kemunculan tokoh-tokoh serupa seperti Si Tolol dalam Star Magazine dan juga Oh Koen dalam Star Weekly. Komik-komik asing juga mulai masuk dan dikenal di Indonesia pada masa Kolonial Belanda. Harian Belanda De Java Bode memuat Flippie Flink dalam rubrik anak-anak. Diikuti mingguan De Orient memuat pertuangan Flash Gordon. Pada awal Perang Dunia II sebelum Jepang menduduki Indonesia, Nasrun AS membuat Legenda Mentjari Puteri Hidjau yang dimuat pada harian Ratoe Timoer yang terbit di Solo. Nasrun A.S adalah penduduk pribumi pertama yang membuat komik Indonesia. Legenda Mentjari Puteri Hidjau juga merupakan komik Indonesia pertama yang lepas dari gaya gambar kartun dan bukan merupakan komik humor.

Pada masa pendudukan Jepang, media massa diberangus dan dikontrol ketat oleh Jepang. Hal tersebut praktis menghentikan peredaran komik-komik strip yang sudah mengisi surat kabar tempat mereka bernaung selama ini secara teratur. Setelah Jepang menyerah kepada sekutu, aktivitas media massa mengalami kesulitan mendapatkan kertas akibat pertempuran sengit yang terjadi di berbagai daerah. Kondisi ini tidak menguntungkan bagi perkembangan komik di dalam negeri. Selain itu terjadi penetrasi yang deras dari komik luar negeri. Komik-komik seperti Tarzan, Rip Kirby, dan Phantom juga sudah merambah mengisi kolom-kolom surat kabar lokal.

Pada tahun 1950-an komik Indonesia baru dapat bergerak kembali.

Abdulsalam muncul sebagai pelopor dengan komik Kisah Pendudukan Jogja dan Pangeran Diponegoro lewat harian Kedaulatan Rakyat. Kisah Pendudukan Jogja ini kemudian menjadi komik Indonesia pertama yang dibukukan. Di luar Abdulsalam, salah satu komik yang patut mendapat perhatian pada periode revolusi kemerdekaan adalah Sie Djin Koei karya Siaw Tik Kwie yang dimuat pada majalah Star Weekly. Komik yang ceritanya mengambil dari legenda Tiongkok ini kepopulerannya mampu mengalahkan Flash Gordon, Tarzan, dan juga jagoan-jagoan asing lainnya.

Munculnya gerakan anti-komunis yang dibarengi dengan perpindahan kekuasaan ke Orde Baru mengakibatkan ditutupnya semua surat kabar yang dianggap berafiliasi dengan komunis, termasuk diantaranya Star Weekly yang memuat Put On. Di sini perjalanan panjang Put On yang menjadi pelopor komik Indonesia berhenti.

Ringkasan tentang Munculnya Orde Baru

Rezim Orde Baru yang militeristik memungkinkan militer memiliki “Dwifungsi”, yakni untuk menjaga negara dari ancaman baik dari luar maupun dalam negeri. Hal tersebut membuat militer memiliki posisi yang kuat dalam politik dan pemerintahan, termasuk memiliki jatah kursi yang cukup besar dalam parlemen. Di bawah sistem ini militer memiliki peran sebagai administrator pada semua tingkat pemerintahan. Akibatnya militer menjadi ikut terlibat dalam penyusunan kebijakan-kebijakan politik Orde Baru. Dari sini semua organisasi baik politik maupun sosial mendapatkan pengawasan langsung oleh militer.

Meski demikian, pemerintahan Orde Baru memilih untuk lebih berfokus pada perbaikan dan pengembangan ekonomi sebagai tujuan utamanya. Karenanya di satu sisi ekonomi Indonesia mampu terpulihkan dan juga berkembang pesat meski nyatanya bersandar pada hutang luar negeri yang sangat besar. Namun di sisi lain perkembangan ekonomi ini juga dibarengi dengan praktek korupsi yang merajalela serta kesenjangan ekonomi dan sosial yang semakin lebar antara masyarakat kelas bawah dan kelas atas.

Pada masa Orde Baru stabilitas dan keamanan negara merupakan prioritas utama. Usaha rezim untuk memelihara dan menjaga legitimasi dan hegemoninya tidak hanya ditempuh melalui pembangunan ekonomi, namun juga tindakan-tindakan represif. Dalam hal ini militer juga berfungsi sebagai instrumen utama pemerintah dalam menjalankan tindakan-tindakan represif tersebut. Tindakan-tindakan yang brutal terkadang digunakan rezim ini untuk membungkam orang-orang yang dianggap membahayakan stabilitas pemerintahan. Sebagaimana tindakan-tindakan represif dilakukan, usaha-usaha bersifat persuasif juga dilakukan dengan mengawasi ketat media massa dan juga lembaga-lembaga pendidikan. Pada dasarnya negara mencoba memanfaatkan media massa dan lembaga-lembaga pendidikan tersebut sebagai instrumen hegemoninya.

Orang-orang Tionghoa di Medan Komik Indonesia

Namun bagi komik yang tergantung pada industri cetak, suasana negara yang lebih stabil membawa kemapanan pada industri percetakan di Indonesia. Hal ini mengakibatkan permintaan akan komik menjadi semakin besar. Penerbit tidak kesulitan untuk mendapatkan komikus, karena banyak komikus-komikus baru yang mengejar popularitas dan mau dibayar rendah. Masa akhir 1960-an dan awal 1970-an dikenal sebagai masa keemasan komik di Indonesia, anggapan itu bukan tidak berdasar karena karena setiap bulannya terbit puluhan judul komik di dalam negeri. Hal tersebut menjadikan pasar komik Indonesia berkembang meski tidak diimbangi dengan kemampuan penggarapan komik yang baik.

Meskipun komik digemari oleh masyarakat, menjadi komikus bukanlah pekerjaan yang dianggap bergengsi pada saat itu. Orang-orang yang kemudian mau mengambil pekerjaan yang kurang bergengsi itu adalah orang-orang Tionghoa.

Di Jakarta pada waktu itu dikenal lima serangkai yang disebut-sebut sebagai lima komikus terbesar ibu kota, mereka adalah Ganes Th, Hans Jaladara, Jan Mintaraga, Zaldy, dan SIM. Ganes Th dan  Hans Jaladara dikenal lewat komik-komik silatnya, sementara Jan Mintaraga, Zaldy, dan Sim dikenal lewat komik-komik romannya. Dari kelima orang tersebut empat di antaranya adalah Etnis Tionghoa, hanya Jan Mintaraga yang bukan merupakan orang Tionghoa atau keturunan.

Di sisi lain, kebanyakan penerbit-penerbit komik yang ada pada kisaran akhir tahun 1960-an dan awal 1970-an juga merupakan orang-orang Tionghoa, Karya-karya para komikus yang memiliki nama besar baik yang merupakan keturunan Tionghoa maupun yang bukan seperti Teguh Santosa, dan Djair Warni, hampir seluruhnya merupakan dipegang oleh penerbit-penerbit yang dipegang oleh orang-orang Tionghoa.

a 'Yes' man