Pahlawan Tinta (Trailer)

Pahlawan Tinta (Trailer)

Oleh -
0 142
Ballpoint & Ink

Barangkali keluhan semacam “ihh, kok pasar komik Indonesia dibanjiri manga, ya”, atau “industri komik Indonesia tidak berkembang”, atau “bikin komik di Indonesia? Apa laku?” sudah jamak didengar, baik di obrolan santai maupun di wacana-wacana tentang komik Indonesia yang beredar di surat kabar nasional. Hampir semua komikus Indonesia, maupun pelaku di luar dunia komik (wartawan, pengamat seni, “kritikus’, dan lain sebagainya) punya bayangan idealnya sendiri tentang bagaimana industri komik di negeri ini mesti dikelola, dan masing-masing dari mereka juga punya penilaian tersendiri tentang medan komik Indonesia. Salah satu arsip Akademi Sekuensial menunjukkan sebuah artikel berjudul “Kemana komik Indonesia” yang ditulis oleh wartawan Bisnis Indonesia Herry Suhendra. Artikel ini tidak bertanggal, namun pada awal tulisan Suhendra menyebut mengenai “komik [Indonesia yang] seharusnya dikelola secara maksimal agar menjadi medium informasi yang memiliki manfaat sosial bagi masyarakat banyak. Seperti di Jepang, komik hadir bukan cuma sebagai cerita, melainkan juga sebagai materi pelajaran.”

Aha … lagi-lagi Jepang menjadi cermin.

Lain lagi, misalnya, harian Kompas yang menurunkan artikel berjudul “Kejayaan yang Tinggal Kenangan”. Artikel ini tertanggal 20 Maret 2004, dan menceritakan aspek “sejarah” medan komik Indonesia yang sempat berjaya pada tahun 1950-an sampai akhirnya berhenti berjaya pada sekitar tahun 1980-an. Banyak orang menganggap kejayaan yang surut adalah karena gempuran komik-komik terjemahan.

Tetapi, bukan itu yang ingin dibicarakan di sini.

Barangkali generasi komikus dan orang-orang yang telat terlibat di dunia komik Indonesia (yang umumnya lahir di pertengahan 80-an dan awal 90-an) tidak tahu menahu tentang “sejarah” medan komik Indonesia itu sendiri. Ketidaktahuan ini menyebabkan medan komik Indonesia menjadi sulit dipetakan, dan kemudian menjadi sulit pula untuk melihat seperti apa bentuk-bentuk kejayaan komik Indonesia tersebut; apakah kejayaan yang pernah ada mewujud secara estetis, secara bisnis, atau yang lain? Mungkin bagi mereka yang lahir di tahun-tahun tersebut, kejayaan komik Indonesia agaknya hanya tinggal sebagai mitos yang dihidupkan oleh, salah satunya, artikel Kompas yang disebut di atas. Mitos yang hanya tinggal menjadi mitos belaka makin diperparah oleh kurangnya studi dan kritik komik Indonesia semakin memiskinkan pewacanaan komik dari segi keilmuan.

Untungnya sebuah trailer menyelamatkan orang dari ketidaktahuan seperti yang disebut di atas. Trailer yang kami maksud bisa ditemukan lewat sebuah nukilan video yang tersemat di YouTube dan berjudul Pahlawan Tinta (Trailer). Video ini adalah bagian dari dokumenter yang dibuat oleh dan untuk mereka yang menginginkan komik nasional menjadi tuan di negeri sendiri. Sebuah dokumenter tentang perjuangan komikus lokal ditengah pembaca yang lebih memilih komik asing. Memang dokumenter ini kelihatannya tidak memberikan gambaran yang komplit mengenai medan komik Indonesia dari tahun ke tahun. Namun ini setidaknya membantu kita. Dengan cara apa video tersebut membantu kita yang ingin tahu tentang medan Komik Indonesia?

Dari nukilan yang diperlihatkan kepada kita, Pahlawan Tinta itu sungguh menjanjikan. Paling tidak masing-masing pelaku dunia komik bisa meraba medan komik Indonesia, mengenali sebagian pelaku utamanya, dan kemudian berharap bisa membuat peta kasar di kepalanya; peta tentang medan komik Indonesia yang dibuat berdasarkan dokumenter tersebut. Setidaknya cuplikan video tersebut sungguh membantu generasi yang tidak mengalami kejayaan komik Indonesia dan malah mengkonsumsi mitos-mitos seputarnya lewat media massa. Tentu saja layak trailer tersebut layak ditunggu hasil akhirnya. Semoga dokumenternya cepat tayang dan bisa dinikmati dengan mudah.

Pahlawan Tinta

Produser : Muhammad Wahyu Ikhsan
Director//editor : Diego Batara Mahameru
Camera person : Chairul Rohman, Ryanka Dizayani , Diego Batara Mahameru
Music : Sea by Jevin Julian
Production assistant : Arini Marzuqoh

 

a 'Yes' man