Pembingkaian Sejarah Dalam Komik “Harimau dari Madiun”

Pembingkaian Sejarah Dalam Komik “Harimau dari Madiun”

Oleh -
1 428
Aksen-Harimau-Dari-Madiun-plus-1

Oleh: Kurnia Harta Winata

Mengapa Aji Prasetyo memutuskan rasa iba kepada petani sebagai alasan Sentot Prawirodirjo meninggalkan Diponegoro dan bergabung dengan Belanda?¬†Aji melakukannya pada “Harimau dari Madiun”, sebuah komik pendek yang ia buat berdasar sejarah perang Jawa. Ia memainkan ruang kosong dalam sejarah. Ia isi kekosongan itu dengan imajinasinya.

Untuk memahami apa yang dilakukan Aji pada “Harimau dari Madiun”, kita perlu mencermati komik-komik Aji yang lain. Aji adalah komikus yang konsisten. Hampir semua komik-komiknya memiliki nafas yang sama. Perlawanan terhadap penindas.

Perlawanan Aji tidak sekadar perlawanan biasa ala umumnya komik kritik sosial. Komik-komik Aji, seperti yang bisa kita baca di “Hidup Itu Indah” dan “Teroris Visual” adalah komik-komik yang mengajak berkelahi. Ia menyerang secara terbuka lawan-lawan ideologisnya. Provokatif. Sengaja memanas-manasi pembaca dengan harapan mereka mendidih marah kemudian bertindak.

Logika maupun data yang ia paparkan dalam komiknya serupa amunisi yang ia bagikan kepada para pembaca. Siap untuk langsung digunakan dalam adu argumen. Termasuk fakta-fakta sejarah yang sering ia kutip.

Namun kita harus bijak dalam memandang sejarah. Teks sejarah tidak pernah benar-benar obyektif. Ketika sejarah dituturkan, ia tidak pernah bisa lepas dari bingkai. Mana yang diceritakan dan mana yang tidak. Kadang pemilihan ini dilakukan dengan maksud menggiring pembaca ke arah opini tertentu. Kadang pemilihan ini memang sesuatu yang tidak terelakkan karena ruang yang terbatas. Mau tidak mau penutur harus memilah, ini diceritakan dan itu tidak. Tentu dengan alasannya tersendiri. Alasan inilah yang membuat teks sejarah saya sebut sebagai subyektif.

Seingat saya saat sekolah dahulu, Pangeran Diponegoro dikisahkan kalah karena kelicikan Belanda. Belanda yang frustasi seolah tak akan menang jika ia tidak berbuat curang. Dalam keadaan hampir bangkrut, Belanda mengajak Diponegoro berunding. Dalam perundingan itu Diponegoro ditangkap dengan liciknya. Ia dijebak. Itu gambaran yang tertanam di kepala.

Ketika saya dewasa dan mulai membaca teks sejarah di luar pelajaran sekolah, saya mulai mendapati gambaran yang lain. Saat perundingan terjadi, Diponegoro sudah dalam keadaan terjepit. Kekalahannya hanya menunggu waktu. Buku Sejarah Nasional Indonesia (buku babon sejarah Indonesia!) menyatakan kalau perundingan itu adalah strategi Belanda untuk mengalahkan bangsa Jawa dengan budaya Jawa itu sendiri. Menang tanpa ngasorake. Menang tanpa merendahkan yang kalah. Belanda memberi muka pada Diponegoro. Beberapa sumber barat bahkan menyatakan bahwa Diponegoro memang menyerah dalam perundingan itu.

Perang Jawa memang sangat dahsyat. Pangeran Diponegoro muncul sebagai ikon perlawanan rakyat terhadap penguasa penindas. Ia mengobarkan perang terhadap Belanda tidak dalam kapasitasnya sebagai raja, pun tidak dalam rangka merebut kekuasaan. Ini yang saya tangkap sebagai alasan mengapa Aji tampak terobsesi dengan Perang Jawa. Perjuangan Diponegoro dalam perang Jawa paralel dengan perjuangannya melalui komik. Perlawanan terhadap penindas.

Kalau kita melihat pernyataan Aji mengenai “Harimau dari Madiun”, kita bisa mendapatkan nafas yang serupa.

“Kini saatnya warga Madiun membangun kepercayaan dirinya. Mereka berhak tahu bahwa banyak tokoh legendaris yang lahir dari sana. Bahwa Madiun adalah kampung halaman para petarung, memang begitulah adanya. Karena di sana, naluri melawan penindas sudah terwariskan dari generasi ke generasi.”

“Masa Madiun cuma dikenal karena pemberontakan PKI-nya?” ujar Aji.

Secara efektif, komik ini memiliki 33 halaman. Ada enam bagian pokok yang dipaparkan.

Pertama, kehidupan tenang dan bahagia petani era pasca perang Jawa. Bagian ini digunakan sebagai pembuka dan penutup cerita.

Kedua, keahlian Sentot dalam berperang. Diceritakan bagaimana Sentot menyusun strategi, kepiawaian prajuritnya yang mantan petani dalam “membunuh”, dan tentara Belanda yang gentar dan tak mampu berbuat apa-apa menghadapi pasukan Sentot.

Ketiga, penjelasan singkat tentang latar perang Jawa dan motivasi Pangeran Diponegoro.

Keempat, penjelasan tentang Raden Ronggo Prawirodirjo III, ayah Sentot Prawirodirjo, yang berani angkat senjata melawan Belanda. Sikap ini diyakini turut menginspirasi sikap Pangeran Diponegoro.

Kelima, keadaan rakyat yang sengsara semasa perang. Dalam keadaan miskin dan kelaparan, terlebih mereka masih merasa harus membayar pajak kepada pasukan Pangeran Diponegoro.

Keenam, Sentot memutuskan berperang karena kasihan pada rakyat yang diperjuangkan malah jadi semakin menderita.

Aji tampak merasa harus memberikan begitu banyak informasi untuk mendukung gagasannya. Motivasi Pangeran Diponegoro mengobarkan perang Jawa diberikan karena itu tampak sejalan dengan motivasi Sentot maju berperang. Menghancurkan penguasa yang menyesengsarakan rakyat.

Cerita tentang pertempuran pasukan Sentot dan pasukan Belanda digunakan untuk menggambarkan bahwa bukan hanya muncul sebagai petarung handal, Sentot juga ahli dalam menyusun taktik.

Ayah Sentot pun disebut-sebut sebagai orang yang dikagumi oleh Pangeran Diponegoro. Coba kita kutip salah satu dialog antara Sentot dan orang kepercayaan ayahnya,

“Paman, jawablah dengan jujur. Apakah persamaan antara aku dengan ayahku?”

“Hehe, Raden…kalian tidak ada beda, dalam hal apapun!”

Dialog ini ditempatkan Aji persis di bawah teks yang menerangkan kalau Pangeran Diponegoro sangat mengagumi ayah Sentot. (Gambar 1)

Aksen-Dialog-dalam-Harimau-dari-MadiunAji Prasetyo

Teks sejarah hanya menyebut kalau Sentot menyerah pada Belanda. Ini tidak dapat dibiarkan Aji. Dalam rangka membuat Sentot Prawirodirjo sebagai icon Madiun penghasil petarung heroik yang berdiri melawan penindas, Aji tidak bisa membiarkan Sentot menyerah sebagai pengecut. Sentot harus memiliki alasan mulia.

Sentot yang digambarkan dalam komik ini perkasa tak terkalahkan akhirnya memutuskan berhenti berperang. Dalam dialog, ia berujar kalau perang ini sudah tak dapat ia menangkan. Ia kasihan harus melihat rakyat menderita lebih lama. Ini adalah alasan yang dihadirkan Aji, diselipkan ke dalam ruang kosong sejarah.

Aji juga memperlihatkan hasil dari pilihan Sentot. Petani yang berkidung bahagia, hidup tenang dan sejahtera selepas perang. Sentot tidak salah dengan keputusannya.

Aji menaruh keterangan tentang kelanjutan kisah ini di akhir halaman. Setelah bergabung dengan militer Belanda, Sentot dikirim berperang ke Sumatera melawan kaum Padri.

Entah disengaja atau tidak, penutup ini terasa begitu ironis bagi yang mengerti tentang sejarah perang Padri. Diponegoro mengobarkan perang Jawa dalam semangat memerangi kafir dan menegakkan negeri Islam, sedang kaum Padri berperang dalam semangat yang sama – melawan kaum kafir demi menegakkan negeri Islam.

Begitu banyaknya hal yang ingin disampaikan dalam komik ini membuat informasi berdesakan. Informasi-informasi ini kebanyakan disampaikan dalam bentuk dialog panjang. Beberapa bahkan seperti teks sejarah yang diberi ilustrasi. Praktis, hanya bagian penyergapan terhadap pos Belanda yang dihadirkan menggunakan kekuatan sekuensial komik.

“Harimau dari Madiun” menelantarkan struktur cerita dan tangga dramatik. Saya akan keburu menuduh Aji sebagai tidak mampu kalau saja tidak mengikuti komik-komiknya sejak awal karirnya sebagai komikus.

Sejalan dengan komik-komiknya yang lain, saya menduga kalau Aji memang sengaja meninggalkan itu semua. Ia mengambil sikap menelantarkan eksplorasi artistik maupun seni bertutur dalam komik. Ia lebih memilih fokus kepada gagasan-gagasan maupun ideologi yang ingin ia sampaikan.

Dengan sikap itulah “Harimau dari Madiun” dibuat. Sikap untuk membuat sosok yang dapat membangkitkan rasa percaya diri dan mengobarkan perlawanan terhadap penindas.

Dalam ruang kosong sejarah, Aji Prasetyo memberi Sentot Prawirodirjo muka. Muka yang sama yang diberikan pada Pangeran Diponegoro. Yang tidak kalah dalam peperangan tapi kalah karena kecurangan penjajah. Bedanya muka yang diberikan pada Diponegoro berdasar pada teks sejarah, sedang muka yang diberikan pada Sentot berdasar imajinasi Aji Prasetyo.