Berkenalan dengan Penerjemah Asterix

Berkenalan dengan Penerjemah Asterix

Oleh -
0 177
Terjemahan Asterix

Oleh: Rosalia FS

Pada kesempatan berkunjung ke tanah air sekitar tahun 1995, komikus Albert Uderzo sempat bertemu dengan seorang perempuan asli Indonesia, Rahartati Bambang Haryo. Tati, nama kecil perempuan itu, sebelumnya tak pernah mengira jika suatu saat dirinya bisa bertemu Uderzo.  Berkarya sejak tahun 1982 sebagai penerjemah Asterix yang mendunia berbuah pertemuan dengan sang komikus ternama.

Pertemuan dengan Uderzo lekat dalam ingatan Tati yang kini sudah berusia 71 tahun. Baginya, bekerja sebagai penerjemah guna membumikan karya Uderzo tidaklah mudah, mengingat karakter budaya Prancis sangat kental pada komik tersebut. Uderzo sendiri menyadari sulitnya menerjemahkan bahasa dalam komik karyanya, Asterix, karena dia cukup heran dengan kemampuan Tati yang mampu mengalih-bahasakan Asterix dengan hasil yang sangat menyenangkan pembaca.

Bagi Tati pribadi, menjadi bagian dari komik Asterix artinya tidak cukup hanya dengan bekal kemampuan berbahasa Perancis. Lebih dari itu, tugas alih bahasa komik tersebut harus membutuhkan kreativitas dalam mentransformasikan ide terjemahan dengan baik. Contoh, pada salah satu kisah ada seorang prajurit sedang mencuci pakaian sambil bernyanyi. Sayangnya, lirik lagu tersebut akan sulit dipahami oleh orang Indonesia kalau sebatas diterjemahkan harafiah atau terpaku dalam kalimat-kalimat baku. Tati tahu ia harus melakukan sesuatu supaya terjemahannya menjadi masuk akal dan akrab bagi pembaca Indonesia. Akhirnya, dia coba memasukkan cita rasa Indonesia ke dalam narasi yang ia terjemahkan. Caranya dengan mengganti lirik asli dengan lirik lagu milik penyanyi Titiek Puspa yang sedang populer berjudul Marilah Ke Mari.

Pengalaman bergelut dalam proses alih gagasan menjadi tantangan yang lebih sulit dari proses alih bahasa. Sebab, pesan atau amanat dibalik cerita harus disampaikan seakurat mungkin, alias gampang dipahami oleh pembaca lokal. Apa yang penting dari ujaran ini adalah: seorang pengalih bahasa harus punya cukup modal pengetahuan umum serta keluasan imajinasi. Melakukan riset media maupun riset di lingkungan sangatlah penting untuk mendapatkan berbagai informasi menarik guna menunjang keberhasilan karya seorang penerjemah.

Dan pencapaian dari seluruh usaha Tati, tampak selama bertahun-tahun komik Asterix berhasil mencuri perhatian pecinta komik dalam negeri. Sejak pertama kali masuk pasar komik di Indonesia pada tahun 1980, edisi Asterix telah berulang kali dicetak. Permintaan pasar terus menanjak. Rupanya daya tarik juga ada pada susunan kata serta humor segar yang sangat membumi. Pembaca juga harus bisa menggali kedalaman pesan sebab pembaca akan sulit memahami gagasan cerita tanpa bekal fleksibilitas wawasan sejarah serta pengetahuan umum. Kemudian dari segi gambar, Asterix juga cukup berbeda dari kebanyakan komik. Pemilihan warna cenderung kasar sebab sang komikus Uderzo (konon menurut kabar ia mengalami buta warna hingga memerlukan bantuan kakaknya untuk menentukan warna). Menurut Tati, kekuatan Asterix sebenarnya ada pada guratan garisnya.

Melihat proses olah bahasa sampai kesuksesan Asterix, tentu jelas jika Tati punya peran dalam melebarkan sayap petualangan Asterix-Obelix di Indonesia. Meski demikian pekerjaan sebagai seorang penerjemah tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Sekitar tahun 1982, Tati bertemu seorang teman dari penerbit Majalah Kuncung. Oleh penerbit tersebut dia ditawarkan untuk menerjemahkan komik Asterix berjudul Negeri Dewa-Dewa. Dalam satu hari, Tati bisa mengerjakan 1-2 komik.

Inilah rekam jejak karir dan mimpi seorang penterjemah Asterix. Di usia senja kini, putri dari pengarang lagu Gundul-Gundul Pacul masih menyimpan keinginan menerbitkan buku cerita anak dan menerbitkan karya-karya musik sang Ayah. Sebab saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar Tati sudah memiliki kecintaan khusus pada dunia tulis-menulis. “Ingatan akan hilang, tapi tulisan akan tetap abadi”, inilah pesan ibunda Tati yang masih melekat hingga sekarang. (editor: MHadid)

Sumber: Beritasatu.com

a 'Yes' man