Rangkuman Pengajian Komik Mangafest Yogyakarta 2014

Rangkuman Pengajian Komik Mangafest Yogyakarta 2014

Oleh -
0 74
Aksen-pengajian-komik

Oleh: Kurnia Harta Winata (foto oleh: Beng Rahadian)

Tulisan ini bersifat subyektif. Diambil dari sudut pandang pribadi. Dibatasi ingatan yang sudah diragukan sejak SMA oleh guru kimia saya, Suyanto. Sah adanya kalau ada yang ingin membantah, meluruskan, menambahkan, atau memberi keterangan lanjutan.

Obrolan dibuka dengan C. Suryo Laksono yang sedang haus gosip, mengendus hubungan tidak wajar antara admin Forum Komik Jogja (FKJ) Tanfidz Tamamudin dan mantan admin FKJ Bagus Wahyu Ramadhan.

Pokok pembicaraan selanjutnya digulirkan curhat Sweta Kartika, tentang bagaimana Desi Ratnasari pelantun lagu “Tenda Biru” mempertanyakan status legal Nusantara Ranger di acara Bukan Empat Mata. Saya coba singkat curhat tersebut karena panjang. Tahu sendiri kan kalau Sweta ngomong.

Singkat kata, Nusantara Ranger sebagai produk kesulitan mendapat legalitas. Pemerintah belum memiliki regulasi yang jelas tentang hak cipta komik berikut turunannya. Hasil pembicaraan Sweta dengan Anang, iya Anang penyanyi itu, yang jadi anggota DPR tapi enggak bisa menjawab apa hak-haknya sebagai anggota DPR, pelaku industri komik harus punya asosiasi untuk menyampaikan kebutuhannya. Misal soal hak cipta.

Sisipan curhat pribadi saya yang tidak (sempat) tersampaikan saat obrolan berlangsung:

Pada  tahun 2012 lalu, saya mendengar ada promo hak cipta. Kita bisa mendaftarkan hak cipta kita secara gratis. Jujur saya suka yang gratis-gratis. Saya mendaftarkan Koel, karakter komik bikinan saya. Masalahnya kemudian, desain karakter tidak ada di daftar kategori hak cipta. Petugas mengarahkan saya untuk memasukkan Koel ke dalam hak cipta atas lukisan. Ok, deh. Saya isi formulir dan lengkapi persyaratannya. Termasuk sekian lembar gambar yang saya daftarkan. Koel tampak depan, tampak samping, tampak belakang, sekalian beberapa ekspresinya. Proses berikutnya, saya harus menunggu paling cepat setahun untuk pengesahan.

Sekian bulan kemudian, saya mendapat surat dari Dirjen HAKI Kementerian Hukum dan HAM RI. Isinya memberitakan bahwa ada kekurangan syarat permohonan. Coba tebak apa tulisannya!

“Memilih salah satu karakter yang diinginkan karena setiap permohonan hanya boleh satu karakter. Untuk perbaikan agar mengirimkan contoh ciptaan (karakter yang telah dipilih) sebanyak 12 (dua belas) buah.”

Guoblooooook!!!

Ya sudah, saya kirimkan contoh ciptaan sebanyak 12 lembar ke Jakarta. Beberapa saat kemudian datang surat balasan. Harus mengisi kembali formulir. Intinya saya harus mengulang kembali prosedur dari awal.

Saya patah arang.

Ok, kembali ke pengajian.

Kesimpulannya adalah, bahwa kita memang butuh asosiasi komik untuk membereskan masalah-masalah formal seperti ini. Termasuk AFTA tahun mendatang. Asean Free Trade Area 2015.

Pengajian diteruskan oleh Beng Rahadian. Masih meneruskan soal asosiasi komik dan AFTA. Dalam AFTA, pekerja (komik) dari negara lain dapat bekerja di Indonesia dengan syarat mereka memiliki lisensi/sertifikat yang dikeluarkan oleh asosiasi asal negara yang bersangkutan.  Begitu juga sebaliknya. Pekerja (komik) Indonesia dapat bekerja di negara-negara Asean lain berbekal lisensi/sertifikat dari asosiasi asal Indonesia. Masalahnya Indonesia belum memiliki asosiasi komik!

Tidak disangkal, kita butuh asosiasi komik untuk mensertifikasi komikus. Bukan berarti menentukan siapa yang boleh menyandang gelar komikus dan mana yang tidak, tapi untuk pengurusan legal formal macam itu. Masalah yang muncul kemudian adalah bagaimana dan apa syarat seorang bisa mendapat lisensi/sertifikat tersebut, juga apakah komikus perlu dikategorikan ke dalam tingkatan-tingkatan. Apabila perlu dikategorikan, bagaimana pengkategorian tersebut dilakukan.

Obrolan kembali melokal. Tentang Forum Komik Jogja. Tentang kebutuhan komikus-komikus Jogja untuk menyuarakan aspirasinya ke kuping pemerintah. Apakah komunitas/forum macam ini sah dan berhak mewakili Jogja dalam rangka berhubungan dengan pemerintah? Dan yang paling penting, apakah perlu ada sebuah forum atau apapun bentuknya untuk  mewakili sebuah daerah.

Apriyadi Kusbiantoro selaku yang dituakan, maksudnya secara harafiah, yang paling tua di situ, diminta pendapatnya.

Apri sih terserah-serah saja. Mau ada mau tidak dia tidak ambil pusing. Tapi ia, eh beliau, mengingatkan akan dampak buruk dari forum macam itu. Sumber berkelahi.

Pembicaraan terus berlanjut. Untuk sementara disimpulkan kalau forum atau komunitas yang mewakili sebuah daerah perlu ada. Bukan untuk menentukan pelaku komik di daerah itu harus begini harus begitu, namun sebagai saluran bagi institusi lain yang berkepentingan. Misal pemerintah atau komunitas lain daerah.

Untuk itu penting bagi Forum Komik Jogja guna melakukan pendataan pelaku komik di Jogja. Data ini penting  disimpan dan tidak diserahkan sembarangan ke pihak-pihak yang berkemungkinan menggunakannya untuk kepentingan pribadi.

Pengajian berhenti tak lama setelah Faza Meonk datang. Teman-teman tampaknya jadi enggan bicara. Tanfidz Tamammudin sebagai moderator buru-buru menutup acara.

Kurnia Harta Winata

Sanggar Koebus, Yogyakarta, 15 November 2014