Membincangkan Komik: Rampokan Jawa dan Selebes

Membincangkan Komik: Rampokan Jawa dan Selebes

Oleh -
0 60
Rampokan-Jawa-dan-Celebes

Liputan oleh Aliyuna Pratisti*

Sebuah gelaran bertajukMembincangkan Komik: Rampokan Jawa dan Selebes digelar di Jatinangor pada Senin, 22 September 2014 atas kerjasama Gelanggang (Himpunan Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Unpad), Penerbit Gramedia, Layar Kita dan Perpustakaan Batu Api.

Bertempat di Aula PSBJ FIB UNPAD, acara yang dihadiri langsung oleh sang komikus sendiri, Peter Von Dongen, berlangsung hangat dengan berbagai penjelasan menarik dari Kritikus Komik, Hikmat Darmawan, dan dipandu oleh pakar media visual, Pye Siregar. Dalam acara ini, Peter – sapaan akrab bagi sang komikus – tidak hanya bercerita tentang proses pembuatan komiknya, tapi juga memaparkan tentang perjalanan pencarian sejarah keluarganya yang berkelindan dengan sejarah kolonial Belanda di Indonesia. “Ibu Saya orang Menado” adalah pernyataan Peter yang membuka cerita panjang tentang pencarian sejarah keluarga yang pada akhirnya mengantarkannya ke Indonesia. Melalui pencariannya tersebut, Peter berhadapan dengan sejarah yang terangkum dalam foto yang ia dapatkan dari keluarganya yang hingga saat ini masih banyak bermukim di Sulawesi. Dari foto-foto tersebut iamulai melakukan reka ulang imajinatif atas apa yang terjadi di Indonesia pada era Perang Dunia II. Sehingga munculah komik Rampokan Jawa dan Selebes.

Rampokan sendiri adalah sebuah ketertarikan lain bagi Peter selain sejarah keluarganya. Rampokan, berasal dari kata rampok atau rampog, merupakan sebuah ritual pembunuhan seekor macan kumbang atau harimau oleh sekelompok orang bersenjata tombak. Ritual ini dipertontonkan secara umum di alun-alun kota yang merupakan simbolisasi dari pembunuhan nafsu jahat manusia.

Rampokan lazim dilakukan di tanah Jawa sejak abad 17 hingga awal abad 20, dan menghilang sejalan dengan pelarangan Pemerintah Hindia Belanda terhadap ritual ini pada tahun 1905. Di Belanda, ritual rampokan jarang sekali didengar (jika boleh jujur, begitupun di Indonesia sendiri). Indonesia khususnya Jawa, hanya diingat melalui wayang kulit dan batik, tapi tidak rampokan. Dan atas alasan inilah Peter mengangkatnya menjadi latar utama komiknya. Adapun latar Sulawesi diangkat Peter dengan alasan yang sama ketika ia mengangkat Rampokan – bahwa ia ingin memperkenalkan Indonesia Timur yang kurang dikenal oleh dunia luar.

Sekilas, ketika melihat Rampokan Jawa dan Selebes, kita akan langsung teringat komik Tintin karya Herge. Hikmat Darmawan menegaskan, bahwa komikus Belgia tersebut berpengaruh besar terhadap karya Peter Von Dongen setidaknya dalam dua hal, yaitu gaya clean line realism dan alur politis yang jelas termuat dalam komiknya – sebagaimana publikasi lotus biru (Herge, 1936) yang memunculkan kontroversi politis, Rampokan Jawa dan Selebes bersinggungan dengan gambaran identitas antara timur dan barat, juga pemerintahan kolonial dan bekas jajahannya. Dalam hal inilah kemudian komik Rampokan Jawa dan Selebes menjadi menarik untuk dinikmati – karena apa yang termuat di dalamnya bukan hanya alur cerita dan gambar yang menarik, tapi irisan identitas yang termuat dalam diri sang komikus – yang setengah Menado setengah Belanda –, yang bersandingan dengan perang dan ritus budaya yang punah. Sandingan yang menjadikan Rampokan Jawa dan Selebes sebuah komik yang melengkapi mozaik sejarah Indonesia.

*Pengelola Antimateri