Rumah Komik MDTL dan Masa-Masa Indah Bagi Komik Indonesia

Rumah Komik MDTL dan Masa-Masa Indah Bagi Komik Indonesia

Oleh -
0 138
Aksen-Rumah-Komik-MDTL

Suatu kali Anda mungkin perlu membaca sebuah artikel di Bengrahadian.com, berjudul ’10 Keindahan Komik Indonesia Saat Ini’. Di sana Beng Rahadian menulis dengan lugas tentang mengapa ia menilai bahwa saat ini adalah momen indah bagi komik Indonesia. Memang ada banyak alasan yang dikemukakan oleh Beng, namun jika boleh merangkum keseluruhan warna pendapat yang ia kemukakan melalui artikelnya itu, maka satu hal yang perlu dicatat adalah soal kuantitas produksi komik yang jumlahnya sangat banyak. Ini bukan hanya soal terbitan komik dalam bentuk cetak, melainkan juga soal komik-komik digital-media-sosial yang semakin menjamur.

Soal lain yang juga perlu digaris-bawahi dari kesepuluh alasan yang ditulis oleh Beng adalah: perihal ajang komik yang juga semakin menjamur, mulai dari pameran komik yang dikonsep a la pameran seni rupa sampai ajang yang menyerupai festival sekaligus baazar seperti Mangafest maupun PopCon (yang terakhir ini menurut Beng dikunjungi lebih dari 24 ribu orang, tahun lalu). Di tengah-tengah banjir kuantitas produksi komik, Rumah Komik MDTL menyeruak di pinggiran Jogja, tepatnya di Desa Menayu Kulon. Ruang ini dimiliki seorang seniman bernama Ugo Untoro. Sebuah ruang tentu selalu memiliki sebuah tujuan, dan Rumah Komik ini memberikan sebuah kesempatan mulia: siapa pun bisa menitipkan maupun memajang karya komiknya, terutama yang diciptakan dengan semangat indie.

Kebanyakan orang akan mempertanyakan makna kata ‘indie’, oleh karena mereka yang mempertanyakannya selalu memburu makna harafiah dari sebuah kata yang terdengar patut digugat. Di satu sisi ada yang bilang bahwa semangat komik indie adalah semangat kemandirian, yakni orang-orang yang keras kepala menerbitkan karyanya dengan cara mandiri, tanpa bantuan editor, menggunakan sumber daya finansial sendiri tanpa bantuan perusahaan penerbitan buku. Di sisi lain, ada juga yang bilang bahwa indie adalah wacana gerakan, dalam arti ada ‘liyan’ atau pihak lain yang ingin dilawan karena “mereka” lah yang menguasai realitas sosial. Athonk Sapto Raharjo, misalnya, pernah berujar di sebuah diskusi komik indie pada bulan Januari 2015, bahwa pilihannya untuk menekuni jalan komik indie didasari alasan ideologis: bahwa dia tidak ingin ada cap resmi negara di atas komiknya. Di dalam diskusi tersebut dia bercerita tentang dunia penerbitan di zaman Orde Baru yang mengharuskan adanya stempel tanda lolos sensor negara di setiap produk cetak termasuk komik. Karya awalnya, sebuah komik berjudul “Bad Times Story” yang terbit pada 1994 – menurut pengakuannya – adalah usaha untuk menolak sensor semacam itu.

Suatu sore beberapa tahun lalu saya mewawancari Yudha Sandy, salah satu personel kelompok Mulyakarya. Dia rupanya juga punya pendapat lain mengenai komik indie. “Selama kamu membuat komik itu asyik dan yakin bahwa komikmu itu nggak perlu diedit, nggak perlu dirubah lagi. Dan misalnya kamu sudah yakin dengan karyamu itu, bahwa ini akan serius dan tidak main-main; dan ketika ada orang yang lihat komikmu dan menasehati kamu, bahwa kamu harus mengganti gambarmu, tapi kamu masih tetap yakin bahwa omongan orang lain itu luweh [tidak peduli]. Itu sudah semangat,” katanya dengan berapi-api. Tampaknya ada banyak cara untuk menafsirkan makna ‘komik indie’, dan semua bisa dibenarkan, tergantung dari mana kita memulainya.

Lalu Rumah Komik MDTL muncul di tengah kegairahan sebagian orang dalam memanfaatkan medium komik untuk membuahkan narasi sekuensial. 3 Juni silam ruang tersebut membuka sebuah pameran bertajuk ‘CIAATT!GUBRAAAKKK!!DORRR!!’, sebuah pameran sederhana yang pada intinya pengin memperkenalkan Rumah Komik MDTL sebagai ruang di mana orang-orang bisa menemukan berbagai macam karya komik indie. Ya, ruang tersebut sudah dirancang sedemikian rupa supaya para pembaca bisa menikmati sekaligus mencari berbagai macam karya komik indie nantinya. Lebih jauh lagi, di masa depan ruang tersebut dimaksudkan sebagai persinggahan bagi komik-komik indie dan segala macam merchandise turunannya.

Di ruang yang tersedia di Rumah Komik MDTL, semua orang bisa menikmati berbagai macam narasi yang ditawarkan oleh medan komik indie, lewat sebuah pameran yang bakal berlangsung sampai tanggal 3 Juli mendatang. Di ruang pamer itulah istilah ‘komik’ sebagai medium tidak hanya terpaku pada bentuk-bentuk formal komik seperti balon kata, rangkaian panil demi panil dalam satu halaman, imaji komikal yang menawarkan kelucuan, serta caption. Lebih dari sekedar mengasosiasikan komik dengan ranah-ranah formalnya, beberapa karya yang terpasang di ruang tersebut cenderung dekat dengan gaya ilustrasi yang bercerita, meski masih tetap dekat dengan makna komik itu sendiri sebagai “medium yang menggunakan pembagian waktu untuk menghantarkan narasi”. Sementara ketika mata menyapu ke sudut lain, ada banyak karya yang sesungguhnya tidak dekat dengan bentuk apalagi makna komik itu sendiri. Jerigen minyak, T-shirt, dompet, dan stiker, misalnya, saling berebut ruang dengan bentuk-bentuk komik, di mana semua yang eksis di ruang tersebut untuk menarik perhatian mata.

Di ruang bernama Rumah Komik MDTL (Museum Dan Tanah Liat), komik indie lagi-lagi mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan kediriannya. Sudah sejak lama saya meyakini bahwa apa yang ditawarkan lewat jalur indie adalah soal kemandirian dan hal-hal yang terkait dengannya: lepas dari perusahaan penerbit, membuat bentuk komik dengan cerita sesuka hati, bermain-main dengan bentuk, mengusahakan sendiri produksinya tanpa harus tergantung pada pemodal, menawarkan media komik di luar kertas, serta, yang paling penting, menawarkan gagasan, konsep, serta ide yang tidak bisa dinikmati melalui komik-komik yang terbit dari rahim perusahaan penerbitan buku konvensional. Apa yang ditawarkan pameran ‘Ciat!!!Gubrak!!!Dorr!!!’ makin menegaskan nilai-nilai yang saya anut sejak lama itu.

Akan tetapi bukan hanya pameran komik indie yang ditawarkan di Rumah Komik MDTL, melainkan juga dua program lain, yakni lokakarya komik dan diskusi komik. Diskusi komik yang diadakan pada 10 Juni silam menghadirkan Terra Bajraghosa (pencinta komik) dan juga Yudha Sandy, sekaligus menawarkan sebuah tajuk untuk dibahas, yakni ‘komik indie setelah Orde Baru’. Beberapa orang menyebut 1990-an di Yogyakarta sebagai penanda era di mana ada banyak varian kritisisme sosial dan politik yang diekspresikan melalui bentuk komik, meski Terra sendiri punya pendapat berbeda mengenai hal tersebut.

“Kalau saya melihatnya memang tidak begitu tajam. Tapi pra-1998 mungkin Core Comic seri ‘Anjing’ itu sudah ada kritik; mulai melihat Orde Baru siap kolaps. Dan mereka membuat sesuatu yang menyindir. Beberapa tidak langsung tapi ada beberapa yang memang nampaknya menyindir masalah politis negara, terutama simbah yang kemarin habis ulang tahun (Soeharto – ed),” kata Terra. Ia mulai melihat-lihat gejala komik indie di Yogyakarta pada tahun 1997, dan dia bilang arah-arah tema komik indie waktu itu belum berani mengkritik Orde Baru atau setidaknya belum berani membahas Orde Baru secara langsung, bahkan ketika Orde itu mulai tumbang.

“Tetapi setelahnya saya lihat mulai terbuka. Ada komik-komik yang membahas presiden tetapi tidak langsung, meski sudah mulai berani. Yang saya ingat – walau mungkin bukan indie – adalah komiknya komunitas Petak Umpet berjudul Tek Yan. Di situ ada cerita Soeharto sebagai penjaga penjara. Padahal kalau itu terbit sebelum 1998 bisa berbahaya,” Terra melanjutkan.

Terra menghantarkan cerita sampai kemudian menyinggung komunitas Taring Padi yang menciptakan komik yang sifatnya self-empowerment, di mana ia menyebut satu nama, yakni Ucup, yang setelah Orde Baru tumbang pernah membuat komik tentang sepeda, yang menyeru kepada orang-orang untuk tidak bergantung kepada negara. “Bahwa kebebasan itu (yang muncul setelah reformasi –ed) kemudian tidak terus menghujat Orde Baru sendiri, tapi kemudian dimanfaatkan oleh para komikus untuk membuat cerita yang lebih beragam. Saya lihat tumbangnya Orde Baru memberi angin kebebasan berceritanya. Saya mengembalikan komik sebagai media untuk bercerita,” demikian kata Terra yang dikenal sebagai komikus juga.

Dari sana Rumah Komik kemudian beranjak ke agenda lain, yakni lokakarya komik pada tanggal 20 Juni silam yang dipandu oleh Erwan Hersisusanto. Lokakarya yang bertajuk ‘superhero alamu’ itu mengajak para peserta, yang terdiri dari anak-anak dan mahasiswa serta beberapa orang penggiat kesenian itu, untuk memvisualisasikan imajinasi mereka mengenai pahlawan super dengan cara mereka sendiri. Hasilnya lucu. Ada yang membikin karakter pahlawan super yang badannya berfungsi sebagai ATM untuk membantu orang miskin dan ada juga sosok yang justru mengidentifikasikan pahlawan super dengan caranya sendiri, yakni individu yang berjasa bagi keluarganya dengan caranya sendiri.

Di zaman yang sekarang ini sedang terasa sangat indah bagi komik Indonesia, apa yang ditawarkan oleh Rumah Komik MDTL tentu saja menjadi sebuah penanda tersendiri. Sekarang ini yang tersisa hanyalah sebuah pertanyaan mengawang-awang: akan jadi seperti apa Rumah Komik MDTL di masa depan?

Editor Jurnal komik Online. Penulis buku Meledek Pesona Metropolitan (2013). Menghidupi hasrat sebagai kurator komik dan penulis musik (metal). Sisi samping: seni, organizer dan bahan bacaan.