Satu Dekade Sukribo

Satu Dekade Sukribo

Oleh -
0 381
Kribo

Oleh: Mohammad Hadid

Biasanya satu dekade merupakan rentang waktu yang cukup panjang bagi komikus surat kabar. Cukup untuk menampung berbagai macam kisah tentang karakter komik yang dipakai, maupun kisah tentang komikusnya sendiri.

Di Indonesia ada banyak komik strip yang secara tematis memiliki kedekatan dengan fenomena politik praktis. Mereka ini – yang saya taksir jumlahnya ratusan dan tersebar di ratusan surat kabar di seluruh Indonesia – umumnya membahas banyak hal tentang kejadian dan fenomena seputar politik praktis, serta tidak ketinggalan tingkah polah para pelaku politik praktis. Politik praktis direpresentasikan melalui surat kabar? Biasa saja. Dalam arti ada banyak surat kabar yang melakukannya, tidak hanya di Indonesia. Kebanyakan penggemar komik yang juga rutin mengikuti komik-komik strip di berbagai surat kabar di Indonesia pastilah mengenal sejumlah judul strip di mana politik praktis menjadi bahan ledekan dan guyonan, seperti Panji Koming, Sukribo, Doyok, Timun, dan lain sebagainya; belum lagi bila kita berbicara mengenai kartun editorial yang seringkali juga sarat dengan tema-tema politik.

Terkadang saya merasa kesulitan untuk memilah mana kartun politik yang pantas diikuti, dan mana yang tidak. Pilihan orang atas sesuatu/hal ihwal sedikit banyak merupakan perkara subjektif; namun seringkali saya merasa bahwa walau ada strip yang bagus, ia tak bisa diikuti secara rutin karena karakteristik terbitan surat kabar dengan rutinitasnya yang seringkali membuat saya malas untuk mengikuti strip demi strip yang disodorkan setiap hari/setiap minggu.

Yang menjadi pertanyaan pula – setelah saya menyempatkan diri mengunjungi pameran satu dekade Sukribo yang diselenggarakan di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) – adalah: saking banyaknya pilihan kartun maupun komik strip politik di Indonesia, Sukribo mau ditempatkan di mana? Pertanyaan ini sangat sulit untuk dijawab dengan lengkap, dan esei ini memang tidak ingin berpretensi untuk memetakan posisi maupun disposisi Sukribo di dalam medan komik Indonesia.

Kendati demikian, tampaknya menarik jika kita melihat sebuah “fakta” melalui pameran tersebut, di mana peringatan satu dekade Sukribo tidaklah semeriah, seperti misalnya, pameran-pameran yang diselenggarakan untuk Benny dan Mice. Baik Sukribo maupun Benny dan Mice tentu saja bagian dari jejaring yang sama, Kompas-Gramedia, akan tetapi melalui pameran satu dekade Sukribo segera tampak perbedaan modal sosial keduanya. Apa pula perbedaan keduanya? Paragraf di bawah ini akan menjelaskannya.

***

[metaslider id=2970]

Memang harus saya akui animo publik Jogja terhadap Sukribo cukup besar. Dengan mata kepala saya sendiri saya melihat kerumunan massa yang banyak jumlahnya pada pembukaan pameran satu dekade Sukribo pada 7 Januari lalu. (saya tidak tahu persis berapa angkanya dan apakah semua yang hadir memang benar-benar menggemari Sukribo, akan tetapi saya hanya bisa berucap “banyak” ketika melihat para manusia yang hadir di pelataran BBY malam itu). Bambang Herras dan Samuel Indratma yang didaulat untuk membuka panggung menghibur dengan celetukan-celetukan yang berhasil membuat pengunjung banyak tertawa sepanjang pentas mereka. Samuel memakai kostum hansip, sementara Bambang berdandan a là Kribo. Di panggung juga hadir Yuswantoro Adi yang memerankan pak Lurah lengkap dengan atribut kelurahannya (kemeja batik, celana kain nan licin, dan peci). Komikusnya? Ada, tapi mungkin malam itu ia sedang demam panggung. Bambang, Samuel, dan Adi membuat tokoh-tokoh dalam strip Sukribo melompat keluar, dihadirkan langsung ke tengah hidup yang nyata.

Karena aktornya adalah Sukribo, ruang pameran menjadi sesak akan simbol-simbol yang berkaitan dengannya, yakni strip-strip yang selama 10 tahun berdiam di rubrik Kartun Kompas Minggu dan total berjumlah 700 buah (apakah semuanya dipamerkan di dalam ruang BBY, saya tidak tahu); belum lagi bila kita menghitung dua lukisan yang juga dipamerkan di ruang yang sama. Tak ketinggalan parade wayang yang mengambil imaji para tokoh strip Sukribo yang dipajang di bagian tengah ruangan, serta sebuah gerobak angkringan kecil diletakkan berdekatan dengan wayang tersebut – yang memamerkan potongan animasi lewat ketiga layar yang dipasang di dua sisi angkringan. Strip-strip Sukribo bisa ditemukan di sekeliling dinding ruang BBY. Mereka hadir dalam potongan-potongan yang dimasukkan ke dalam frame kecil yang dijejerkan di sekeliling dinding ruang BBY. Saya perlu menatap masing-masing dari mereka lebih dekat sampai jarak muka dengan frame mungkin tidak lebih dari satu jengkal, hanya untuk menikmati apa yang disajikan oleh Ismail. Agak melelahkan, memang, dan jelas membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk menikmati sajian-sajian strip tersebut.

Apa yang membedakan satu dekade Sukribo dengan pameran-pameran Benny dan Mice? Ketika Benny dan Mice berkarir masih berkarir bersama-sama, keduanya sempat berpameran sebanyak dua kali, yakni pada tahun 2008 dan 2010. Saya hanya sempat hadir pada pameran mereka pada tahun 2010 di Yogyakarta, sehingga saya tidak mengetahui persis apa yang ditawarkan di pameran pertama. Meskipun demikian, telusuran saya terhadap foto-foto pameran pertama menunjukkan betapa mewahnya acara tersebut. Beberapa foto menampakkan dua nama pesohor publik yang cukup akrab di telinga: Wimar Witoelar dan Dian Sastro. Petikan senar gitar Jubing Kristanto juga ikut mengalun memanjakan telinga publik yang hadir. Jika semua itu dirasa kurang lengkap, kedua komikusnya juga dihadirkan dan siap melayani pengunjung yang menginginkan tanda tangan keduanya di buku komik-komik karya Benny dan Mice. Tak ketinggalan, stan penjualan buku-buku komik karya mereka juga tersedia di pameran tersebut.

Suasana yang jauh lebih megah juga muncul pada pameran kartun kedua yang menampilkan karya-karya Benny dan Mice selama dua dekade, terhitung sejak mereka mulai berkarya lewat koran dinding kampus. Pameran yang diselenggarakan oleh KPG – bekerja sama dengan Bentara Budaya, harian Kompas, Unilever Indonesia, Jaringan hotel Santika Indonesia, Optima Karya Disain, serta percetakan Gramedia ini bertajuk ‘Benny dan Mice Expo 2010’. Diselenggarakan pada tanggal 5–14 Maret 2010 di Bentara Budaya Jakarta dan juga digelar di beberapa kota lainnya seperti di Yogyakarta (Bentara Budaya Yogyakarta, 6–15 April 2010), Solo (Balai Soedjatmoko, 21-30 Maret 2010).

Di Bentara Budaya Jakarta sendiri, acara tersebut menampilkan karya-karya Benny dan Mice yang dipadukan dengan gaya instalasi yang bertebaran di seluruh penjuru ruangan. Berbagai jenis instalasi seperti halte bus, tempat sampah, kendaraan bajaj, kios rokok, jemuran pakaian, suasana pantai di Bali, sosok-sosok yang berdiri di atas papan selancar, serta keberadaan kios telepon seluler; bertebaran di setiap sudut ruangan Bentara Budaya Jakarta. Ditambah panorama kartun-kartun dan strip-strip komik yang menempel di sepanjang area tembok pameran, semua instalasi tersebut ditata sedemikian rupa sebagai latar hingga menyerupai simbol-simbol yang mewakili tiap-tiap karya Benny dan Mice yang menempel di tembok ruang pamer. Yang juga tidak luput dari perhatian adalah sejumlah kegiatan pendamping seperti workshop pemanasan global, workshop gitar oleh Jubing Kristianto, dan bazar buku komik.

Jika antara satu dekade Sukribo dan kedua pameran dekade-nya Benny dan Mice dibandingkan, akan tampak perbedaan yang sangat mencolok. Yang pertama adalah soal display pada ruang pameran. Display pada pameran Benny dan Mice yang kedua memperlihatkan garapan yang jauh lebih nikmat dipandang mata ketimbang satu dekade-nya Sukribo. Orang bisa menikmati yang lain selain karya, menikmati visualitas yang didesain sedemikian rupa supaya dunia tempat di mana karakter Benny dan Mice yang direka lewat kartun dan strip mereka berdua melompat keluar memanjakan mata pengunjung. Dari Sukribo, orang bisa melihat bahwa forma pameran yang diadakan dan didesain sedemikian rupa cenderung tidak mewadahi hal-hal semacam itu.

Perbandingan yang dibuat di atas tidak dimaksudkan untuk mengatakan bahwa pameran Benny dan Mice lebih hebat dibandingkan dengan satu dekade Sukribo. Dengan kemegahan pameran yang ada, apakah kemudian orang bisa mengatakan bahwa karya-karya Benny dan Mice lebih berkualitas dari karya Ismail? Belum tentu.

***

SukriboMHadid/Aksen
Dari dua realitas pameran yang saya sebut di atas, setidaknya orang bisa melihat kecenderungan kemenangan modal sosial pada kedirian Benny dan Mice lah yang membuat pameran mereka berdua terlihat lebih megah. Modal sosial inilah yang pada gilirannya menjadi sumber daya yang berguna untuk mereproduksi kekuatan sosial karya-karya Benny dan Mice di tengah publik; dan pada pameran mereka sendiri, modal tersebut menjadi kekuatan sosial yang juga mampu menarik perhatian investor. Cobalah tengok dukungan beberapa nama perusahaan yang saya sebut di atas, maka anda akan menemukan contoh konkrit dari mereka yang menginvestasikan modal simbolik dan mungkin juga modal ekonominya kepada karya-karya Benny dan Mice.

Melalui sedikit perbandingan antara Sukribo dan Benny & Mice, orang paling tidak bisa melihat sepintas tentang posisi kultural masing-masing di tengah pengayaan industri komik di Indonesia, utamanya yang menjadikan koran sebagai lahan bermain.  Dalam hal ini, posisi Sukribo rupanya tidak memiliki nilai tawar ekonomis, terutama ketika dibandingkan dengan pendahulunya. Ada banyak faktor yang bisa menjawab mengapa Sukribo tidak dilirik sebagai produk yang bernilai ekonomis, salah satunya mungkin karena Kompas sendiri tidak melihatnya sebagai strip yang memiliki “nilai tukar yang pantas” (ada banyak cara mengenai bagaimana nilai dibuat, misalnya: banyak diulas oleh para penulis terkenal, memiliki basis penggemar yang besar, tema strip yang dipromosikan secara gencar oleh media massa, dan lain sebagainya) layaknya karya-karya Benny dan Mice.

Uraian di atas mengesankan investor dan ekonomi merupakan segala-galanya dalam sebuah pameran komik. Sebetulnya tidak demikian. Namun dari sana kita bisa melihat bagaimana politik penggunaan modal bermain dalam membentuk bangunan simbolik sebuah karya. Pemetaan secara ringkas atas jenis-jenis modal yang dipakai pada setiap pameran benda-benda “seni” berguna untuk memetakan sejauh mana sebuah nama dan karakter yang dipamerkan mampu menarik perhatian korporasi industri media yang tentu saja memiliki visi, misi, dan cara kerjanya masing-masing. Lebih jauh lagi pada pameran satu dekade Sukribo, orang takkan bisa menemukan kemegahan yang ditopang oleh korporasi. Katalog karya yang dibuat seadanya (hasil fotokopi) dan ketiadaan buku yang menampung semua strip Sukribo tentu sangat jauh dari semangat keekonomian yang diusung oleh kedua pameran Benny dan Mice yang telah lampau. Meski demikian, saya cenderung percaya bahwa Ismail sendiri yakin dengan kekuatan modal kulturalnya, yang kemudian dipakai untuk membangun isu-isu seputar dunia politik praktis yang disampaikan lewat Sukribo-nya (isu-isu yang, tentu saja, perlu dibicarakan lebih lanjut). Dengan demikian, ia membangun Sukribo dengan caranya sendiri. Ah ya, pameran satu dekade Sukribo itu sendiri menarik untuk ditelusuri lebih lanjut, terutama dalam kaitannya dengan bentuk, konteks, dan konten karya. Dengan demikian memunculkan pertanyaan: bagaimana politik praktis direpresentasikan melalui Sukribo dan kawan-kawannya?

a 'Yes' man