Tagar Konten bertagar dengan "abdoel semute"

abdoel semute

Oleh -
0 93
Sampul Sepotong Kisah
Sepotong Kisah Pemenggal Kepala
Apa yang anda harapkan bakal didapatkan ketika membaca sebuah komik? Sedikit hiburan, kesenangan, atau apa? Bagi seorang pengamat/kritikus komik, mungkin penting baginya untuk mendedah komik, mengulitinya dalam perspektif estetika dan gaya ilustrasi, lalu menguraikan plot plot cerita serta gaya bahasa yang digunakan, hingga menelisik maksud maksud yang tersurat dan tersirat dari kumpulan gambar gambar dan balon teks itu. Namun bagi saya sendiri, membaca komik adalah tentang pengalaman personal, sebuah proses interaksi antara saya sebagai subjek dan komik sebagai objeknya. Pengalaman personal yang ditimbulkan dari aktivitas ini kemudian memunculkan perasaan perasaan tertentu, yang sangat mungkin berkaitan dengan kondisi saya sebagai subjek, juga komik sebagai objek.

Maksud saya kira kira begini, kadang kadang saya tidak bisa tertawa meskipun sedang membaca komik humor, meski di saat lainnya saya bisa tertawa terbahak bahak untuk komik yang sama. Atau katakanlah, seberapa tergugahkah anda ketika membaca sebuah komik dengan tema protes atau perlawanan? Kondisi psikologis kita sebagai pembaca pasti sangat berpengaruh terhadap interpretasi kita terhadap objek komik yang kita baca. Tapi yang paling penting, serta bisa dinilai, tentu berada pada komik itu sendiri. Seberapa mampu sebuah komik untuk mempengaruhi pembaca secara personal? Tentu saja dibutuhkan penelitian untuk menjawab pertanyaan ini, tapi sekali lagi, bagi saya yang paling penting adalah tentang bagaimana saya sebagai pembaca memperoleh pengalaman personal yang berkesan. Saya tidak tahu apakah para komikus juga memikirkan hal yang sama: bagaimanakah agar komiknya menimbulkan kesan yang mendalam -sehingga pesannya tersampaikan- bagi pembaca?

Dalam perjalanan mudik lebaran beberapa waktu yang lalu, saya membaca sebuah komik berjudul Sepotong Kisah Sepenggal Kepala karya Abdoel Semute. Komik bertahun terbit 2016 ini dicetak secara mandiri oleh Milisi Fotocopy, sebuah kolektif komik bawah tanah yang berlokasi di Surabaya. Komik komik terbitan Milisi Fotocopy sering mengambil bentuk dan tema yang tidak populer untuk ukuran komik yang beredar di tanah air, demikianlah kesimpulan saya setelah membaca beberapa judul komik yang diterbitkan oleh kolektif ini. Dalam pemilihan tema -di tengah demam komik strip humor dan komedi- Milisi Fotocopy konsisten mempertahankan tema tema kritik sosial tentang kehidupan kaum miskin kota, juga isu isu rasial, begitupun komik ini, begitu juga gaya artistiknya. Meskipun pada pengantarnya, yang ditulis oleh Rakhmad Dwi Septian  dengan eksplisit dituliskan bahwa karya ini adalah sebuah komik, istilah komik untuk karya ini sesungguhnya sangat menarik untuk didiskusikan, lantaran formatnya yang tidak lazim untuk sebuah komik yang kita kenal secara umum. Gambar gambar yang cenderung abstrak, tanpa panel panel, ditambah dengan teks yang berada terpisah dari gambar, tanpa balon teks. Melihat hal tersebut, masih layakkah karya Aboel Semute ini dianggap sebagai komik?

Kalau kita mengacu pada definisi komik menurut Scott Mcloud di bukunya yang terkenal, Memahami Komik, komik adalah “gambar gambar dan lambang lambang lain yang terjukstaposisi dalam urutan tertentu, bertujuan untuk memberikan informasi dan/atau mencapai tanggapan estetis dari pembaca”. Dari definisi itu, cukup jelas bahwa karya Abdoel Semute ini adalah sebuah komik. Lagipula, pada ajang Kosasih Award 2016, karya Abdoel Semute ini berhasil meraih Penghargaan Khusus dari juri. Pertanyaan sebelumnya tadi hanyalah sebuah gimmick saja. Lebih dari itu, saya lebih suka menganggap bahwa produk produk budaya dan kesenian sebagai proses proses pengekspresian diri ketimbang kepatuhan terhadap suatu pakem atau pencapaian estetika tertentu. Dengan demikian, bentuk macam apapun menjadi sah sah saja.

Komik ini dibuka dengan sebuah gambar hitam putih seorang pria tanpa kepala berdiri di satu sudut dan sebuah kepala tanpa tubuh tergeletak di sudut lainnya. Dalam kata pengantarnya, Rakhmad Dwi Septian mencoba menafsirkan apa yang hendak disodorkan Abdoel Semute kepada pembaca. Kisah komik dipaparkan dalam pembabakan yang dimulai dengan cerita cerita penghancuran nilai nilai dan tatanan kehidupan masyarakat oleh penetrasi kapital dalam kedoknya yang bernama pembangunan. Dapat dilihat dalm ilustrasinya, Abdoel Semute menggambarkan realitas kehidupan masyarakat dalam ilustrasi ilustrasi yang suram: tangan tangan yang tergenggam dan menggapai, lirikan mata yang bengis, potongan potongan kayu, dan pabrik pabrik. Dalam teks yang melengkapi ilustrasi, Abdoel Semute menulis: “Dari balik jendela kita menengok awan pekat menggantung mendulang berita tentang kota, tempat kita dilahirkan, tempat kita tumbuh dan besar, dan mungkin tempat kita binasa… tergerus kota yang makin rakus memangsa semua…tanah kering kerontang menjelaga hitam, pohon meranggas, udara sesa beracun penuh pestisida dan karbon monoksida –biji-bijian-beton tumbuh bak parasit dalam dahaga serupa belukar kerakusan bernama ideologi pembangunan”

Kemarahan Abdoel Semute makin tergambar dalam ilustrasi dan teks teks di halaman selanjutnya. Asap asap hitam keluar dari mulut topeng yang dikenakan seseorang di atas kepalanya, kepala kepala dalam kotak yang berjeruji, juga ilustrasi isi kepala yang dipenuhi ular. “Atas nama kerakyatan…bahkan ia juga telah merombak punden leluhur kita menjadi taman2 kota yang tak lebih dari tempat prostitusi” tulisnya lagi. Lebih lanjut ia menulis: “ …kemajuan yang mencipta gedung bertingkat dengan menyingkirkan rumah kita hingga batas pinggir kota!…hingga tanah tempat untuk menanam ari-ari sebagai bibit kelahiran hingga tempat menanam bangkai bangkai tak luput dari penggusuran”. Ilustrasi ilustrasi kepala dengan leher terikat tali dan mulut ternganga mengepulkan asap, sendok dan garpu di atas piring kosong, dan seseorang dengan leher terkulai duduk di atas kursi, dan lelaki tanpa kepala memegang sebatang rokok yang mengepulkan asap, menatap kursi kosong di hadapannya, membentuk atmosfer yang kelam dan penuh kemuraman, menggambarkan kelaparan dan penderitaan hidup. Narasi yang tertulis menegaskan gambaran itu: “sambil sesekali  memukul2 sendok dan garpu pada piring seng karatan yang kosong sejak kemarin! Sejak prasejarah! Sejak para raja masih berkuasa! Sejak kidung gemah ripa loh jinawi menjadi dongeng sebelum tidur untuk anak anak yang merengek minta makan dan terus bertanya mengapa sawah yang mereka semai tiak berbuah beras!” Hiperbolik, tapi juga sangat menohok ulu hati. Di bagian selanjutnya, nampaknya Abdoel Semute menantang kita, atau entah siapa, dengan runtutan pertanyaan: “beranikah engkau berdiri telanjang meninggalkan jubahmu dan mengurai auratmu? Kelaminmu? Meninggalkan kursi kayu tempatmu selama ini bersembunyi?” sambil tetap melancarkan serangan bertubi tubi pada objek objek yang menurutnya pantas dihakimi. Kemarahannya pada tayangan televisi, pola pola pendidikan, dan merosotnya moralitas, tergambar dalam prosa prosa teks yang melengkapi ilustrasi.

Pada bagian akhir, seperti dikutip dari kata pengantarnya, Abdoel Semute mencoba menawarkan pilihan bagaimana kisah kisah sebelumnya akan diakhiri: bisa berakhir indah, kemenangan, kekalahan meratapi kesedihan, atau kegamangan. Ilustrasinya berubah dari kemelut perkotaan menuju ke suasana di desa. Kelahiran seorang bayi yang dirayakan di pinggir hutan, tradisi menanam, dan orang orang yang berpakaian seperti masyarakat jawa. Pada bagian akhir ini Abdoel Semute menghilangkan sama sekali teks dan narasi yang muncul pada bagian bagian sebelumnya, yang memang mungkin berarti bahwa ia membuka interpretasi seluas-luasnya kepada pembaca, tentang bagaimana hal hal yang ia uraikan sebelumnya harus diakhiri.

*****

Dilihat dari isinya, komik ini jelas bukan jenis komik untuk berhaha-hihi, dan membuat gembira pembacanya. Gambar gambar yang muram dengan teks teks puitis yang gelap ini berusaha mengajak anda berkontemplasi, merenungkan kembali makna makna kehidupan, bagaimana hidup ini berjalan dalam sebuah sudut pandang lain, sudut pandang Abdoel Semute yang muram dan marah.
Secara pribadi, sebagai seorang pembaca komik Indonesia, saya sangat menyukai komik ini. Bagi saya, bentuk yang ditawarkan adalah sebuah kebaruan –setidaknya buat saya-, yang layak untuk diapresiasi, begitupun temanya. Apa yang diangkat oleh Abdoel Semute dalam Sepotong Kisah Sepenggal Kepala ini jelas membuktikan bahwa komik bukanlah sekedar bacaan anak anak dan remaja. Keberadaan komik ini mengangkat derajat komik ke arah yang -kalau boleh dikatakan- lebih adiluhung, ketimbang anggapan tentang komik sebagai bacaan rendahan (walaupun saya sebenarnya bersikap masabodo pada pengklasifikasian seni rendah dan seni tinggi dan menyerahkan semuanya pada selera pribadi).

Di sisi lain, saya tak tahu seberapa banyak jumlah orang naïf di negara ini, yang kemudian menganggap bahwa hidup ini sedemikian hitam putihnya. Sebagai pembaca dewasa, mudah mudahan (saya tak tahu segmen pembaca yang disasar oleh Milisi Fotocopy), saya jelas harus mengambil sikap terhadap apa yang saya baca. Adalah benar bahwa orang orang yang terpinggirkan, harus dibela dan disuarakan, dalam medium apapun termasuk komik, tapi memandang pembangunan sebagai satu satunya pihak yang yang harus dirongrong terus menerus, disalahkan atas semua keburukan yang terjadi, jelas tak masuk di akal saya. Mengatakan pembangunan adalah melulu sebuah kejahatan sama naifnya dengan penganut “ekologi dalam” yang mengatakan bahwa pertanian adalah sebuah dosa karena memanipulasi alam. Saya pikir kita harus menempatkannya secara proporsional, dan komik komik kritik sosial semacam ini dapat dijadikan sebagai fungsi kontrol terhadap hal hal –katakanlah pembangunan- yang kebablasan.

Esei

Terpopuler Dalam Seminggu