Tagar Konten bertagar dengan "Aji Prasetyo"

Aji Prasetyo

Oleh -
1 428
Aksen-Harimau-Dari-Madiun-plus-1

Oleh: Kurnia Harta Winata

Mengapa Aji Prasetyo memutuskan rasa iba kepada petani sebagai alasan Sentot Prawirodirjo meninggalkan Diponegoro dan bergabung dengan Belanda? Aji melakukannya pada “Harimau dari Madiun”, sebuah komik pendek yang ia buat berdasar sejarah perang Jawa. Ia memainkan ruang kosong dalam sejarah. Ia isi kekosongan itu dengan imajinasinya.

Untuk memahami apa yang dilakukan Aji pada “Harimau dari Madiun”, kita perlu mencermati komik-komik Aji yang lain. Aji adalah komikus yang konsisten. Hampir semua komik-komiknya memiliki nafas yang sama. Perlawanan terhadap penindas.

Perlawanan Aji tidak sekadar perlawanan biasa ala umumnya komik kritik sosial. Komik-komik Aji, seperti yang bisa kita baca di “Hidup Itu Indah” dan “Teroris Visual” adalah komik-komik yang mengajak berkelahi. Ia menyerang secara terbuka lawan-lawan ideologisnya. Provokatif. Sengaja memanas-manasi pembaca dengan harapan mereka mendidih marah kemudian bertindak.

Logika maupun data yang ia paparkan dalam komiknya serupa amunisi yang ia bagikan kepada para pembaca. Siap untuk langsung digunakan dalam adu argumen. Termasuk fakta-fakta sejarah yang sering ia kutip.

Namun kita harus bijak dalam memandang sejarah. Teks sejarah tidak pernah benar-benar obyektif. Ketika sejarah dituturkan, ia tidak pernah bisa lepas dari bingkai. Mana yang diceritakan dan mana yang tidak. Kadang pemilihan ini dilakukan dengan maksud menggiring pembaca ke arah opini tertentu. Kadang pemilihan ini memang sesuatu yang tidak terelakkan karena ruang yang terbatas. Mau tidak mau penutur harus memilah, ini diceritakan dan itu tidak. Tentu dengan alasannya tersendiri. Alasan inilah yang membuat teks sejarah saya sebut sebagai subyektif.

Seingat saya saat sekolah dahulu, Pangeran Diponegoro dikisahkan kalah karena kelicikan Belanda. Belanda yang frustasi seolah tak akan menang jika ia tidak berbuat curang. Dalam keadaan hampir bangkrut, Belanda mengajak Diponegoro berunding. Dalam perundingan itu Diponegoro ditangkap dengan liciknya. Ia dijebak. Itu gambaran yang tertanam di kepala.

Ketika saya dewasa dan mulai membaca teks sejarah di luar pelajaran sekolah, saya mulai mendapati gambaran yang lain. Saat perundingan terjadi, Diponegoro sudah dalam keadaan terjepit. Kekalahannya hanya menunggu waktu. Buku Sejarah Nasional Indonesia (buku babon sejarah Indonesia!) menyatakan kalau perundingan itu adalah strategi Belanda untuk mengalahkan bangsa Jawa dengan budaya Jawa itu sendiri. Menang tanpa ngasorake. Menang tanpa merendahkan yang kalah. Belanda memberi muka pada Diponegoro. Beberapa sumber barat bahkan menyatakan bahwa Diponegoro memang menyerah dalam perundingan itu.

Perang Jawa memang sangat dahsyat. Pangeran Diponegoro muncul sebagai ikon perlawanan rakyat terhadap penguasa penindas. Ia mengobarkan perang terhadap Belanda tidak dalam kapasitasnya sebagai raja, pun tidak dalam rangka merebut kekuasaan. Ini yang saya tangkap sebagai alasan mengapa Aji tampak terobsesi dengan Perang Jawa. Perjuangan Diponegoro dalam perang Jawa paralel dengan perjuangannya melalui komik. Perlawanan terhadap penindas.

Kalau kita melihat pernyataan Aji mengenai “Harimau dari Madiun”, kita bisa mendapatkan nafas yang serupa.

“Kini saatnya warga Madiun membangun kepercayaan dirinya. Mereka berhak tahu bahwa banyak tokoh legendaris yang lahir dari sana. Bahwa Madiun adalah kampung halaman para petarung, memang begitulah adanya. Karena di sana, naluri melawan penindas sudah terwariskan dari generasi ke generasi.”

“Masa Madiun cuma dikenal karena pemberontakan PKI-nya?” ujar Aji.

Secara efektif, komik ini memiliki 33 halaman. Ada enam bagian pokok yang dipaparkan.

Pertama, kehidupan tenang dan bahagia petani era pasca perang Jawa. Bagian ini digunakan sebagai pembuka dan penutup cerita.

Kedua, keahlian Sentot dalam berperang. Diceritakan bagaimana Sentot menyusun strategi, kepiawaian prajuritnya yang mantan petani dalam “membunuh”, dan tentara Belanda yang gentar dan tak mampu berbuat apa-apa menghadapi pasukan Sentot.

Ketiga, penjelasan singkat tentang latar perang Jawa dan motivasi Pangeran Diponegoro.

Keempat, penjelasan tentang Raden Ronggo Prawirodirjo III, ayah Sentot Prawirodirjo, yang berani angkat senjata melawan Belanda. Sikap ini diyakini turut menginspirasi sikap Pangeran Diponegoro.

Kelima, keadaan rakyat yang sengsara semasa perang. Dalam keadaan miskin dan kelaparan, terlebih mereka masih merasa harus membayar pajak kepada pasukan Pangeran Diponegoro.

Keenam, Sentot memutuskan berperang karena kasihan pada rakyat yang diperjuangkan malah jadi semakin menderita.

Aji tampak merasa harus memberikan begitu banyak informasi untuk mendukung gagasannya. Motivasi Pangeran Diponegoro mengobarkan perang Jawa diberikan karena itu tampak sejalan dengan motivasi Sentot maju berperang. Menghancurkan penguasa yang menyesengsarakan rakyat.

Cerita tentang pertempuran pasukan Sentot dan pasukan Belanda digunakan untuk menggambarkan bahwa bukan hanya muncul sebagai petarung handal, Sentot juga ahli dalam menyusun taktik.

Ayah Sentot pun disebut-sebut sebagai orang yang dikagumi oleh Pangeran Diponegoro. Coba kita kutip salah satu dialog antara Sentot dan orang kepercayaan ayahnya,

“Paman, jawablah dengan jujur. Apakah persamaan antara aku dengan ayahku?”

“Hehe, Raden…kalian tidak ada beda, dalam hal apapun!”

Dialog ini ditempatkan Aji persis di bawah teks yang menerangkan kalau Pangeran Diponegoro sangat mengagumi ayah Sentot. (Gambar 1)

Aksen-Dialog-dalam-Harimau-dari-MadiunAji Prasetyo

Teks sejarah hanya menyebut kalau Sentot menyerah pada Belanda. Ini tidak dapat dibiarkan Aji. Dalam rangka membuat Sentot Prawirodirjo sebagai icon Madiun penghasil petarung heroik yang berdiri melawan penindas, Aji tidak bisa membiarkan Sentot menyerah sebagai pengecut. Sentot harus memiliki alasan mulia.

Sentot yang digambarkan dalam komik ini perkasa tak terkalahkan akhirnya memutuskan berhenti berperang. Dalam dialog, ia berujar kalau perang ini sudah tak dapat ia menangkan. Ia kasihan harus melihat rakyat menderita lebih lama. Ini adalah alasan yang dihadirkan Aji, diselipkan ke dalam ruang kosong sejarah.

Aji juga memperlihatkan hasil dari pilihan Sentot. Petani yang berkidung bahagia, hidup tenang dan sejahtera selepas perang. Sentot tidak salah dengan keputusannya.

Aji menaruh keterangan tentang kelanjutan kisah ini di akhir halaman. Setelah bergabung dengan militer Belanda, Sentot dikirim berperang ke Sumatera melawan kaum Padri.

Entah disengaja atau tidak, penutup ini terasa begitu ironis bagi yang mengerti tentang sejarah perang Padri. Diponegoro mengobarkan perang Jawa dalam semangat memerangi kafir dan menegakkan negeri Islam, sedang kaum Padri berperang dalam semangat yang sama – melawan kaum kafir demi menegakkan negeri Islam.

Begitu banyaknya hal yang ingin disampaikan dalam komik ini membuat informasi berdesakan. Informasi-informasi ini kebanyakan disampaikan dalam bentuk dialog panjang. Beberapa bahkan seperti teks sejarah yang diberi ilustrasi. Praktis, hanya bagian penyergapan terhadap pos Belanda yang dihadirkan menggunakan kekuatan sekuensial komik.

“Harimau dari Madiun” menelantarkan struktur cerita dan tangga dramatik. Saya akan keburu menuduh Aji sebagai tidak mampu kalau saja tidak mengikuti komik-komiknya sejak awal karirnya sebagai komikus.

Sejalan dengan komik-komiknya yang lain, saya menduga kalau Aji memang sengaja meninggalkan itu semua. Ia mengambil sikap menelantarkan eksplorasi artistik maupun seni bertutur dalam komik. Ia lebih memilih fokus kepada gagasan-gagasan maupun ideologi yang ingin ia sampaikan.

Dengan sikap itulah “Harimau dari Madiun” dibuat. Sikap untuk membuat sosok yang dapat membangkitkan rasa percaya diri dan mengobarkan perlawanan terhadap penindas.

Dalam ruang kosong sejarah, Aji Prasetyo memberi Sentot Prawirodirjo muka. Muka yang sama yang diberikan pada Pangeran Diponegoro. Yang tidak kalah dalam peperangan tapi kalah karena kecurangan penjajah. Bedanya muka yang diberikan pada Diponegoro berdasar pada teks sejarah, sedang muka yang diberikan pada Sentot berdasar imajinasi Aji Prasetyo.

Oleh -
0 117
Aksen-Teroris-Visual-Aji-Prasetyo

Tak berbeda jauh dengan komik sebelumnya, Teroris Visual ini masih mengangkat kritik sosial sebagai konten utamanya, namun komik kritik gaya Aji ini cukup berbeda dari komik kritik lain di Indonesia, yang kebanyakan berbentuk komik strip ataupun karikatur. Aji mengembangkan komik dengan genre sendiri (?) yang kerap disebut komik opini, sebuah komik kritik yang mengkritik lebih dalam dari sekedar nyinyir-nyinyiran 3-4 panel a la komik strip. Ia membangun kritik kritik dalam opininya dibungkus dengan teori-teori, juga data data sejarah, juga ayat ayat kitab suci.

Dalam setiap panelnya, nampak bahwa komikus ini melakukan riset yang cukup dalam tentang apa yang ia bicarakan (terlepas dari benar tidaknya opininya tentang hal itu, karena kebenaran universal itu tidak ada di dunia, begitulah kredo dunia postmodern). Meski begitu, tak semua komik di dalam buku ini merupakan komik opini, beberapa lebih merupakan sebuah reportase/hasil investigasi, dan komik fiksi. Terbagi dalam 5 bab, Aji berupaya menyuarakan opini opini dan kritik kritiknya kepada para pembaca.

Di bagian pertama, pengantar sebelum bab I, Aji membahas apa yang dia maksud dengan teroris visual, yaitu poster poster caleg pada masa kampanye, yang memang menjijikan dan norak. Saya pun sepakat untuk mengatakannnya sebagai teror visual yang mengganggu. Lebih dalam Aji membahasnya dalam balon balon narasi yang lugas dan gaya gambarnya yang unik, tentang betapa dangkalnya gaya gaya kampanye yang seperti itu.

Pada Bab I, Merayakan Manusia, satu yang menjadi perhatian saya adalah ketika Aji membahas mengenai kegiatan ospek mahasiswa baru, yang licik dan dipenuhi unsur bisnis yang kotor dan menyedihkan. Sangat menyedihkan memang melihat bagaimana mahasiswa baru dieksploitasi oleh kakak angkatannya untuk mendapatkan keuntungan finansial. Sangat tidak mendidik. Hih!

Aji juga membandingkan bagaimana budaya berbagi yang ada di masa lalu, yang dihadapkan pada fenomena masa kini dimana semua hal bisa dijadikan komoditi dan dijual, termasuk buang air kecil dan buang air besar.

Di Bab II, Wanita Berdaya dan Mulia, Aji membahas tentang wanita, dalam perspektif agama, politik, feminisme, dalam konteks perempuan di Indonesia. Mendasarkan argumennya pada sejarah bahwa di Indonesia cukup banyak wanita yang menjadi pemimpin kerajaan ataupun pemimpin perang, juga perbandingan pembagian pekerjaan antara pria dan wanita dalam konteks kekinian, Aji menyerang opini umum (setidaknya ini merupakan pernyataan dari beberapa orang, termasuk pejabat publik) bahwa wanita adalah makhluk yang lemah, yang memiliki 9 perasaan dan satu logika, dan merupakan orang nomor dua dalam rumah tangga, yang menyebabkan wanita pada umumnya berada dalam posisi yang kurang menguntungkan baik dalam hubungan rumah tangga, agama, dan juga politik. Aji juga menyinggung tentang Gerwani, organisasi sayap PKI, yang getol menolak prostitusi dan poligami, yang kemudian ikut hancur akibat genosida 1965.

Pada Bab III, Media yang belum Kunjung Memediasi, adalah tentang acara acara televisi yang kalau kata Navicula, band grunge itu, sebagai televishit. Yap. Televishit. Acara televisi yang merendahkan perempuan, acara amal yang palsu, juga infotainment yang memuakkan, semua tak luput dari kritik pedas Aji.

Setelah itu masih ada 3 bab lagi dalam komik ini. Bab IV, Sebelum Kita Lupa Berbudaya, yang membahas tentang budaya lokal versus budaya impor, termasuk juga kecenderungan salah satu kelompok agama tertentu yang cukup sering menyerang budaya tertentu. Lalu Bab V Negeriku, Negara Siapa? yang salah satunya mengisahkan seorang teller bank yang dijebak dan dikriminalisasi (ini kisah nyata yang menyedihkan), yang ditutup dengan manis di Bab VI: Salam Penutup Dari Lembah Biru, kisah tentang seorang laki laki pulang kampung yang tak menemukan lagi kekasihnya, lalu berjalan dengan minuman keras ditangan penuh keputusasaan dan melankolia.

***

Di luar dunia komik, Aji dikenal juga sebagai musisi, dan aktivis. Yang saya tahu, baru baru ini Aji juga ikut berpartisipasi dalam album musik sebuah kelompok folk Surabaya, Silampukau. Aji juga kerap mengadakan diskusi diskusi di warung kopinya atau dalam acara acara lain, termasuk di forum dunia maya.

Sepanjang pengetahuan saya, ketajaman kritik Aji dalam komik bukan tanpa masalah. Booth komik Aji pernah dirusak sekelompok orang dalam sebuah pameran beberapa waktu yang lalu. Termasuk juga beberapa kali perdebatan perdebatan di dunia maya muncul karena coretan gambarnya. Blurb dari Soe Tjen Marching, pendiri Lembaga Bhinneka, di bagian belakang buku bahkan menyebutkan bahwa komik ini adalah sebuah karya balas dendam terhadap apa yang menimpa Aji tersebut.

Secara keseluruhan, saya menilai komik ini adalah komik yang serius, dengan wacana yang serius pula. Tema yang beragam, mulai dari sejarah, opini, reportase, juga fiksi membuat komik ini jadi tidak membosankan. Beberapa bahkan mengagetkan, terutama ketika melihat bagaimana Aji mengembangkan opininya lewat garis-garis gambar yang tegas.

Melalui komik ini, saya rasa saya saya harus menempatkan Aji sebagai satu komikus terbaik di Indonesia saat ini. Kritik yang keras dan lugas, juga padat dan berisi, jarang ditemukan dalam komik lainnya; mungkin hingga saat ini, dan dengan komik ini pula, saya mengamini ucapan Beng Rahadian dalam acara televisi “Mata Najwa” tempo hari lalu, bahwa saat ini komik Indonesia sedang dalam puncak keindahanannya dalam segi artistik dan keragaman tema. You rock, Aji.

Di luar isinya yang istimewa tersebut, ada beberapa hal kecil yang mengganggu kenyamanan saya sebagai pembaca. Yang pertama adalah kata pengantar yang tidak jelas siapa penulisnya. Tidak tahu apakah hal tersebut cukup penting atau tidak, tapi saya kira saya perlu tahu siapa yang menulis pengantar tersebut, apalagi pengantar tersebut dituliskan dengan sudut pandang orang pertama.

Yang kedua adalah foto sang komikus di halaman 10. Menurut saya pemasangan foto tersebut agak mengganggu visual komik secara keseluruhan, karena letaknya yang berada di halaman utama komik. Barangkali lebih baik foto tersebut diletakkan di bagian belakang, bersama dengan foto-foto Aji yang lainnya yang juga ada di komik ini.

Yang terakhir, adalah pemilihan jenis huruf yang dipakai untuk penjelasan diawal bab, termasuk juga untuk kata pengantar. Jenis huruf yang dipakai tampak kurang “nyambung” dengan rangkaian gambar yang ada. Tapi tenang, ini hanya penilaian prbadi, sangat subjektif, dan tanpa acuan atau standar penilaian tertentu yang bisa dikuliti dan diperdebatkan layaknya sebuah kritik komik yang ideal. Demikianlah.

Oleh -
0 144
Aksen-Aji-Prasetyo-Wawancara

Catatan editor: Artikel wawancara ini pertama kali dimuat di Gerbong Belakang Creatives, dan bisa diakses melalui tautan ini

Tadi malam (05/06/2015) saya sedang menulis ulasan saya untuk komik Teroris Visual karya Aji Prasetyo, sembari online di facebook. Tak disangka, Mas Aji, sang penulis, juga sedang online. Maka segera saya mencoba chatting dengannya. Sebuah wawancara virtual, yang sebenarnya sudah saya rencanakan sejak saya membaca komik Teroris Visual ini. Syukurlah, Mas Aji berkenan menjawab pertanyaan pertanyaan saya. Berikut petikannya:

PGB: Saya
AP: Aji Prasetyo

*****

PGB: Halo Mas Aji, saya PGB. Saya udah beli komik mas Aji nih, Teroris Visual. Keren.

AP: Halo mas, makasih apresiasinya. Boleh dong diupload capture halaman favoritnya, sekalian ulasan seperlunya. Buat evaluasiku ajaa

PGB: Di blogku ya mas, sek lagi tak rampungkan.

AP: Asoooy, makasih banget. Ntar aku share.

PGB: Betewe kalo boleh saya bikin beberapa pertanyaan buat mas Aji boleh? Untuk blog juga sih..

AP: Silahkan, monggo kang..

PGB: Kritik dalam komik Mas Aji cukup keras, sebenarnya siapa yang mas tuju? Maksud saya pangsa pasar pembacanya..

AP: Pangsa pasar yang kutuju adalah silent majority.

PGB: Bisa lebih spesifik mas, siapa sih silent majority itu?

AP: Mereka butuh kepastian bahwa apa yang nurani mereka rasakan memang benar adanya. Mereka cuma butuh pemantaban, bahwa yang mereka rasakan pun diresahkan oleh yang lain pula. Misalnya saja, seorang muslim yang dalam hati kecilnya sebenarnya kurang sreg dengan apa yang diajarkan oleh seorang ustad. Tapi tidak punya keberanian untuk mengkritisinya. Kalangan seperti ini butuh “ruang curhat” yang bebas dari intimidasi dogmatis. Tidak semua orang cukup beruntung untuk ditakdirkan punya kumpulan yang kritis. Tapi semoga dengan media sosial dan karya-karya kritis seperti ini mereka sadar bahwa mereka “tidak sendirian”

PGB: Oke,, terpengaruh dari kehidupan sosial di sekitar Malang ya mas? Atau Indonesia secara umum?

AP: Indonesia secara umum. Apa yang dilakukan FPI di masa-masa kebesaran mereka, misalnya, biarpun terjadi di Jakarta, tapi oleh media disebarkan ke seluruh pelosok Indonesia. Keresahan di daerah-daerah pun terjadi meskipun yang digebukin FPI cuma di monas. Malang cenderung kondusif. Banser masih pegang kendali. FPI tidak bisa macam-macam di sini. Tapi demi melihat ulah mereka di tivi, marah lah kita.

PGB: Yap, got it..

AP: Kasus pemukulan jemaah paskah di Yogya misalnya, sangat menyakiti perasaan kita-kita yang di sini. Termasuk kita marah pada penguasa. Mereka abai pada sumpah mereka menjaga konstitusi, bahwa tiap warga negara berhak beribadah sesuai dengan agamanya masing masing, adalah dijamin oleh UUD. Dijamin oleh konstitusi. Tapi apa tindakan negara saat warga negaranya diserang saat beribadah? Atau saat tempat ibadahnya ditutup paksa?

PGB:Radikal, kritis, adalah sesuatu yang gampang dijual. Kaum muda cenderung mencari simbol-simbol perlawanan lewat musik dan mungkin komik salah satunya. Perlawanan bisa jadi berubah jadi komoditi. Dalam konteks komik yang mas bikin, pendapat mas Aji bagaimana?

AP: Komoditi memang menggiurkan. Tapi jika dijual oleh orang yang hatinya gak kesitu, hambar jadinya. Musik reliji misalnya.Komikku diawali dengan unduhan gratis di media sosial. Misiku adalah mengajak orang untuk marah bersama. Banyak hal yang layak kita gugat namun melengang begitu saja. Saatnya untuk menumbuhkan kemarahan bersama tadi untuk menjadi kekuatan perlawanan.
Jika ada yang menduga aku menjual simbol perlawanan, well,,, bahkan komik tidak mampu untuk menghidupiku. Itulah kenapa aku masih main musik dan buka kedai kopi (grin emoticon).
Bahkan jika aku dapat pemasukan dari berkomik misalnya, kugunakan untuk operasional pergerakan lokal. maksudnya aku dan para “pengikutku” di sini

PGB: Haha, saya ga menuduh lo mas…

AP: Jaman sekarang orang mau keluar duit cuma untuk relaksasi, tidak lebih. Komikku dan gaya mbanyolku mungkin bisa jadi media relaksasi, tapi, aku penganut pakem kuno. Leluhur kita bilang, tontonan itu haruslah juga tuntunan. Maka itulah yang kulakukan dengan komikku.

PGB: Oke lanjut, ini kan komik kedua setelah Hidup Itu Indah

AP: Yup

PGB: Nah, menurut mas Aji, adakah yang berubah, maksud saya pembaca komik mas, setelah dia membaca komik komik mas Aji? Mas Aji pernah mengukur gak,  seberapa signifikan komik mas Aji merubah mindset seseorang, dalam hal ini pembaca komik mas pastinya?

AP: Jika di antara seribu pembaca komikku, hanya sepuluh orang yang tercerahkan, buatku itu sudah patut disyukuri. Hahaha. Kita seperti petani. Lakukan yang terbaik. Soal seberapa hasil panen kita terima dengan ilmu ikhlas.
Tapi ijinkan aku berbagi kegembiraan dengan sampeyan,…

PGB: Hahahaha… Aku gembira kok mas.

AP: Kasus Atik bank Jatim sudah diekspos gila-gilaan sejak 2011. Tapi baru diangkat oleh “Mata Najwa” sejak membaca komikku. Sekelompok mahasiswa UIN di sebuah kota di jatim tergerak membela kompleks lokalisasi yang akan ditutup warga, karena mereka terinspirasi analogi dalam komikku. Aku bersyukur, jalan komik ternyata bisa kugunakan dengan cukup efektif

PGB: Oke, pertanyaan lanjutan nih. Untuk genre komik yang begini (mas sebut komik opini, bener ga?) mas terpengaruh oleh siapa?

AP: Seno Gumira yang menamainya komik opini. Ayu Utami lebih suka dengan istilah “komik essay”. Aku penggemar Dwi Koendoro. Namun aku gak puas jika hanya mengomel dalam bentuk komik strip. Caraku meracau butuh lahan yang lebih lebar, hehe.

PGB: Dwi Koendoro komikus Sawung kampret?

AP: Yup, dan Panji Koming yang rutin dimuat di Kompas itu

PGB: Oke,, pertanyaan kedua dari terakhir ya mas.. Pendapat mas tentang komik Indonesia saat ini?

AP: Geliat sudah mulai muncul meskipun kita harus berdarah-darah untuk bisa bersaing dalam pasar internasional. Industrinya masih dalam proses pembentukan., namun aku optimis. Apalagi jika komikus kita tidak hanya fokus rebutan pasar, namun lebih pada memenuhi kebutuhan segmen yang ia tuju.
Misalnya di Iran, karya yang mendunia salah satunya adalah Persepolis karya Satrapi (Marjan Satrapi; pen.). Itu bukan komik, tapi lebih tepatnya graphic novel. Untuk pasar komik dalam negerinya, aku yakin lebih banyak yang tergila2 pada manga atau marvel (Marvel Comic; pen). Tapi karya Satrapi mendunia, karena dia tidak berusaha berebut pasar, melainkan fokus pada pencapaian. Ambisi ini yang harus dimiliki seniman kita. Pasar ntar pasti ngikut sendiri. Satu lagi, karya seniman kita sebaiknya merespon masalah bangsanya. Bukannya abai dan lantas hanya fokus pada bisnisnya doing. Itu yang membuat kita cuma suka mengekor tren, bukan menciptakannya

PGB: Berarti mas ga percaya: “seni untuk seni” ? Duh nambah pertanyaan, hehehe

AP: Bukan tidak percaya, tapi lebih memilih tidak ikut mengamininya (grin emoticon)

PGB: Oke, mas,,, Abis ini aku kirim link blogku ya.. Satu kalimat dong untuk blogku

AP: Jiah,…sudah jadi?? Tak bacanya dulu ya

PGB: Bla bla bla (off the record)

AP: Bla bla bla (off the record)

PGB: Betewe aku tuh pernah ketemu mas aji dulu, tahun 2013 nek ga salah. Di Surabaya, waktu event komik di Mall Tunjungan Plaza, cuma ga sempet foto2..hehe..
Betewe thanks ya mas untuk wawancaranya

AP: Waah, maaf jika aku lupa kalo kita pernah ketemu. Oke bro, kapanpun deh. Aku makasih juga untuk reviewmu yang-meskipun belum kelar kubaca, sungguh keren.

PGB: Sama sama mas… Terimakasih banyak juga

Esei

Terpopuler Dalam Seminggu