Tagar Konten bertagar dengan "budaya populer"

budaya populer

Oleh -
2 608
Rak komik

Gambar untuk kepentingan ilustrasi

Seberapa sering kamu ketika di toko buku kamu nemu komik yang kamu tertarik melihat sampulnya, lalu melihat tulisan Volume 01 atau sejenisnya tertera di salah satu sudutnya, dan memutuskan untuk meletakkan kembali buku itu seolah-olah kamu tidak pernah melihat?

Saya sih begitu. Ngomong-ngomong, sebelum ketenangan batinmu terganggu karena tulisan saya berikut ini, saya mengingatkan ini adalah murni uneg-uneg saya. Ndak peduli gimana tulisan ini akan berdampak pada kejiwaan kamu. Saya nggak melakukan riset apapun untuk tulisan ini, murni dengan keyakinan bahwa saya nggak merasa istimewa. Jadi, pasti ada orang lain yang sepemikiran denganku juga.

Jika dilihat dari nilai ekonomis di mata author-nya, komik bersambung tentu saja lebih menguntungkan. Bayangkan dalam satu premis, kamu membuat ratusan jilid buku, berapa keuntungan yang akan kamu dapat? Bisa kaya berkat ngelakuin kegiatan yang kita suka, apalagi yang tak lengkap di hidupmu?
Well, kecuali kamu memang sudah dikontrak untuk menerbitkan sejuta volume buku oleh penerbit yang terpercaya, kupikir ada baiknya mempertimbangkan ulang untuk mencetak dan memasarkan sebuah judul yang tidak habis dalam satu terbitan. Kenapa?

Karena bagi saya, buku yang bagus adalah buku yang selesai. Semua cerita dahsyat akan terasa seperti tahi ayam bagi pembacanya apabila si author tidak mampu menyajikan akhir dari kisah yang ia tawarkan. Berapa orang yang mengamuk karena komik Hunter X Hunter tak jelas juntrungnya? Berapa orang yang dalam tidurnya termangu-mangu ingin tahu bagaimana sebenarnya nasib Shinici Kudo? Berapa ruh mereka yang telah meninggal menjadi hantu penasaran karena ingin tahu akan seperti apa One Piece berakhir? Bagaimana rasanya pembaca Topeng Kaca ditinggal oleh author-nya? Bagaimana dahsyatnya ketika Toonderella ditinggal hiatus selamanya oleh author kesayangannya?

Mari kita mencoba menerima kenyataan bahwa meski perkomikan di Indonesia mulai mengeliat, menerbitkan sebuah judul komik dalam versi cetak sebenarnya masih membuat nafas tersengal-sengal mau itu dalam naungan penerbitan mayor maupun independen.

Dalam penerbitan mayor, angka penjualan karya adalah penentu nasib dari kelanjutan komik kita. Jika penjualan tidak bagus, ya sudah. Dihentikan. Sementara itu, dalam penerbitan indie pun semua kembali ke kocek kamu. Kuat nggak buat nyetak segitu banyak volume, kuat nggak mengerjakan segitu banyak jilid ketika kamu tidak ada tanggung jawab hitam di atas putih untuk menyelesaikan ceritamu. Motivasi manusia itu cair, bung.

Jika kamu berpikir kalau nggak laku berarti nggak ada yang suka dan dihentikan pun nggak akan ada yang tidurnya terganggu, berarti kamu melupakan beberapa manusia yang anomali. Mereka yang memiliki selera berbeda dengan kamu-kamu yang mainstream. Sebagai author, mana tanggung jawabmu dengan rusaknya kebahagiaan pembacamu? Kamu mau dapat teror seperti yang dialami Hideaki Anno ketika dia nggak bisa memberi penutup cerita yang memuaskan penggemarnya?
Bagi komikus yang membuat komik bersambung, apa sih sebenarnya yang membuat kalian yakin bisa menyelesaikan komik-komik itu? Apa yang membuat kalian tidak berpikir untuk membuat sebuah komik tebal yang berisi cerita yang selesai di buku itu? Buat cerita yang padat dan tidak bertele-tele, tidak perlu banyak filler lah.

Jika kamu merasa cerita yang padat tidak bisa menyampaikan ide-ide kamu dan meninggalkan kesan ke pembacamu, kamu kurang nonton film-film dari Studio Ghibli dan Disney. Berapa judul karya mereka yang masih tertancap di kepalamu setiap detil ceritanya?

Karena ini murni cuma uneg-uneg, aku sebenernya ga ada rencana untuk menyimpulkan isi tulisan ini. Aku cuma mau ngomong, ke kamu yang mau baca, mbok ayok to. Kita hijrah dari komik bersambung ke komik one shoot. Yuk!

Ayo to
Ayoo
Ngeyel?
Slenthik lho

Oleh -
0 678
Aksen Festival Komik dan Animasi 2015

Direktorat Kesenian dan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan bakal menyelenggarakan Festival Komik dan Animasi 2015 yang kali ini mengambil tempat di Lawang Sewu, Komplek Tugu Muda Jl. Pemuda, Semarang, Jawa Tengah.

Festival Komik dan Animasi 2015 kali ini bakalan penuh dengan acara-acara asyik seperti bazaar komik dan animasi, pameran komik dan animasi, pemutaran animasi, diskusi, launching komik, dan kompetisi cosplay. Selain itu akan diselenggarakan juga workshop komik dan animasi yang mengambil tempat berbeda, yakni di Museum Ronggowarsito Jalan Abdulrahman Saleh No 1 Kalibanteng Kulon Semarang Jawa Tengah.

Jadwal Hari Pertama

Tempat TanggalJamMateri AcaraPemateri
Lawang Sewu
Rabu, 18 November 2015
13:00 - 14:45Diskusi panel :

Selingkuh Komik Dengan Kopi x Geliat Komik Kampus
Beng Rahadian, Aji Prasetyo x Kedai Kopi Tjangkir, Bintang Suhadiyono, Azrul Sukma, M. Agung Perkasa.

Moderator: M. Hadid
Lawang SewuRabu, 18 November 2015
15:00 - 16:45Pembukaan festival dan tur pamerann/a

Jadwal Hari Kedua

TempatTanggalJamMateri AcaraPemateri
Museum Ronggorwarsito19 November 201509:00 - 15:00Workshop Komik : Teknik bertutur dalam Komik StripBeng Rahadian
Lawang Sewu19 November 201510:00 - 11:45Talkshow animasi:
Membangun Ekosistem Animasi Indonesia
Ahmad Rofiq & Rifan

Moderator : Kurnia
Lawang Sewu19 November 201513.00 – 14.45Segi Empat: Peran Media Sosial dalam Dunia KomikKomikin Ajah (Reza Fadilah), Faza Meonk, Tamam

Moderator : M. Hadid
Lawang Sewu19 November 201515:00 - 15:45Rally Launching Komik

Kidung Malam, Majalah Kosmik
Aji Prasetyo, dkk., Rendi

Moderator : Kurnia H. Winata
Lawang Sewu19 November 201516:00 - 16:45JAMSTRIP ANTAR KOMIKUSn/a

Jadwal Hari Ketiga

Tempat TanggalJamMateri AcaraPemateri
Museum RonggowarsitoJumat, 20 November 201509:00 - 15:00Workshop Animasi

Teknik membuat Animastrip
Firman Widyasmara
Lawang SewuJumat, 20 November 201510:00 - 11:45COMIC Battle

SMA vs SMA
n/a
Lawang SewuJumat, 20 November 201513.00 – 13.45DISKUSI ANIMASI
Animasi webseries indonesia
Kasatmata, Hompimpa (Hafshoh Mubarak)

Moderator : Bagus W. Ramadhan
Lawang SewuJumat, 20 November 201514.00 – 14.45Diskusi komik

Komunitas Komik Daerah: Posisi dan Peranannya di Medan Komik Indonesia
Forum Komik Jogja (Tamam, dkk), Komisi Solo (Mujix), Raincity Artholic (Isha Muhammad)

Moderator: Bagus W. Ramadhan
Lawang SewuJumat, 20 November 201515.00 – 15.45Talkshow ANIMASI : TV Series vs WebseriesDaryl Wilson, Rofiq, Yudis

Moderator : Bagus W. Ramadhan
Lawang SewuJumat, 20 November 201516.00 – 16.45Rally Launching KomikElang Bondol (Tamam), Shonen Fight (Rizqi Rinaldy), Yuk Berinternet (Valens Riyadi,

Kurnia)

Moderator : Bagus W. Ramadhan

Jadwal Hari Keempat

Tempat Tanggal JamMateri Acara Pemateri
Lawang SewuSabtu, 21 November 201510:00 - 10:45COMIC Battle Komikus / Lomba Komik Strip on the Spotn/a
Lawang SewuSabtu, 21 November 201511:00 - 11:45DISKUSI ANIMASI:

Peran Festival dalam dan luar negeri untuk promosi animasi pendek
Firman Widyasmara, Daryl Wilson, Rifan

Moderator : Bagus W. Ramadhan
Lawang SewuSabtu, 21 November 201513:00 - 15:00COSPLAY PERFOMANCE : Juri Cosplay dari Daikon Skyn/a
Lawang SewuSabtu, 21 November 201515:15 - 15:45(Pe)Nama(An) dan Etnisitas: Kasus "Battle of Surabaya" dan "Lampion"Aris Mybret dan MVC Pictures (agung)

Moderator : Salafi Handoyo
Lawang SewuSabtu, 21 November 201516:00 – 16:30Penutupann/a

 

Oleh -
0 1997
Aksen-Komik-Tentang-Musik-featured-image

Ketika Rollingstone Indonesia mengangkat sebuah tulisan bertajuk “Gagasan Menyinergikan Komik dan Musik Indonesia”, saya terilhami untuk menulis sebuah tulisan dengan tema komik tentang musik. Ini ditulis berdasarkan pemahaman dan pengetahuan saya tentunya.

Seperti kita tahu, meskipun keduanya sama-sama berada di ranah budaya pop, perkembangan kedua hal ini sangatlah jauh berbeda. Musik Indonesia, boleh dikata telah menjadi raja di tanahnya sendiri. Ratusan musisi lahir, berkembang, dan berkarya dalam hingar bingar panggung musik tanah air. Dari yang dirilis major label ataupun independen, bergenre metal hingga dangdut, klasik sampai kontemporer, semua saling berebut simpati khalayak.

Kondisi yang jelas berbanding terbalik dengan Komik Indonesia. Meski pernah berjaya di dekade 70-an, (era yang disebut sebagai era kejayaan Komik Indonesia), kondisi komik Indonesia setelah era itu, setidaknya hingga akhir dekade 2000-an, maaf kata, sangat menyedihkan. Jumlah terbitan komik sangatlah sedikit. Jika kita dapat mengikuti banyaknya perdebatan perdebatan yang seru ataupun menjijikkan antara musik major label dan indie, dan perdebatan antar genre dalam musik yang sampai sekarang tak jua selesai, dalam dunia komik justru sangat sepi. Bagaimana mungkin muncul perdebatan dan diskusi jika terbitan komiknya saja bahkan tak pernah ada.

Tentu saja saya terlalu hiperbolik bila mengatakan tak ada penerbitan sama sekali, karena pada kenyataannya dunia komik, meski sangat sepi, tapi tak mati. Semangat untuk terus memunculkan komik-komik lokal di tanah air sendiri ini sesungguhnya tetap bertahan. Dan semangat itu, jika dilihat dari jumlah penerbitan komik dalam dua tahun terakhir, menunjukkan peningkatan yang cukup untuk membuat penikmat komik lokal tersenyum senang.

Nah, lalu apa kaitannya dengan artikel Rolling Stone tadi? Baiklah, begini. Saya sebenarnya tidak cukup paham bentuk seperti apakah yang dimaksudkan Rolling Stone sebagai kesinergian antara komik dan musik. Apakah itu semacam soundtrack untuk sebuah komik, komik untuk sebuah album musik, komik tentang musik atau lagu yang diangkat dari kisah komik, atau musikalisasi komik, atau komikalisasi musik, ataukah komik yang berkaitan dengan kisah seorang seniman musik/band?.

Nah, untuk yang terakhir, yaitu komik yang mengisahkan seniman musik/musisi/band adalah sama dengan maksud saya membahas komik tentang musik. Berikut adalah 10 komik yang berhasil saya himpun berdasarkan koleksi pribadi yang saya miliki.

1. Kornchonk Chaos – Iwank

Aksen-komik-tentang-musik-Kornchonk-ChaosChandra Agusta | Sekuensi.com

Ini adalah komik biografi dari sebuah band parodi bernama Kornchonk Chaos, dimana Iwank juga menjadi salah satu personelnya. Band ini cukup punya nama di Jogja, dan di komik ini Iwank menceritakan asal usul dan perjalanan Kornchonk Chaos dengan jujur, lugas dan datar. Sangat khas Iwank. Tak ada cerita cerita heroik dan penuh dramatisasi, apalagi nasihat dan moral. Kekonyolan dan banyolan sederhana justru membuat komik ini, seperti komik Iwank lainnya, jadi lebih segar untuk dibaca. Setebal 91 halaman, komik ini awalnya merupakan komik fotokopi dan sempat diterbitkan dalam bentuk komik cetak.

Oleh -
0 100
Aksen-Mangafest

[Sumber foto: Facebook Mangafest UGM]

Para penggemar komik atau pengemar budaya pop Jepang yang berdomisili di Yogyakarta umumnya sudah tidak asing lagi dengan Mangafest, sebuah festival yang mengusung komik Indonesia sebagai sajian utama dengan pemanis budaya pop Jepang seperti cosplay, idol group, dan band lagu-lagu Jepang yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Sastra Jepang FIB UGM. Setelah berjalan selama empat tahun, Mangafest 2014 mengambil tema “Aksi Untuk Indonesia”. Kesan yang pertama kali saya dapat saat mendengar tema tersebut adalah, kok klise banget sih temanya. Sama seperti anak-anak yang saat ditanya mengenai cita-cita hanya bisa menjawab, ingin berguna bagi nusa dan bangsa. Terlalu umum, saya tidak merasa akan ada sesuatu yang spesial yang didapat lewat acara ini.

Tentu saja saya tidak boleh menilai sebuah acara hanya sekedar lewat tema yang dibaca sekilas. Ada baiknya bila saya ikut serta dan menikmati sajian yang dihadirkan oleh para panitia. Sayangnya, tahun ini saya dan beberapa orang teman malah menjajal hal baru dengan mencari peruntungan lewat berdagang ramen di salah satu kedai yang disewakan dalam area Mangafest. Ramen merupakan salah satu kuliner [berbentuk mie] yang digemari Naruto. Karena disambi berdagang, saya malah jadi tidak bisa maksimal dalam menikmati acara. Agak ironis sih, penggemar berat komik malah jualan mie di acara bertema komik. Maklum, udah umurnya mencari nafkah sih, hehehe. Dari kedai yang berjarak yang cukup jauh dari panggung utama, saya melihat acara Mangafest dibuka pada pukul 10.30 oleh penampilan tari rampoe geleng dari Aceh dan tari legong dari Bali yang dibawakan oleh para penari dari Fakultas Ilmu Budaya UGM.

“Mas, kok malah nonton sih. Saya pesen ramen 2!”

“Ups, sori, bro.”

Ternyata begini toh rasanya nyari duit.

Untungnya nasib baik berpihak pada kami, tidak sampai sore, dagangan ludes tak tersisa, meski badan rada lemas seusai melayani pelanggan yang berjubel. Saya pun langsung ngeloyor ke pintu keluar untuk kembali menuju pintu masuk; supaya bisa merasakan hal yang sama dengan pengunjung lain. Setelah disambut oleh seorang perempuan resepsionis yang ramah, saya disambut oleh kata-kata yang tertulis dengan cat hitam yang diberi penekanan dengan cat merah pada dinding sebelah pintu utama.

Dewasa ini, komik menjadi salah satu budaya populer yang tidak bisa dikesampingkan keberadaannya memberikan memberikan warna tersendiri bagi dunia hiburan termasuk di Indonesia. Namun sayangnya komik asli Indonesia justru kurang mendapat tempat karena masih harus bersaing dengan komik-komik asing. Untuk itu, MangaFest hadir sebagai salah satu wadah bagi komik-komik Indonesia untuk unjuk gigi dan terus beraksi untuk Indonesia.”

Setelah merenungi tulisan tersebut barang sejenak, sepertinya saya mulai mendapat gambaran mengenai tema “Aksi Untuk Indonesia” yang diusung oleh Mangafest 2014 meski masih samar. Saat ini komik Indonesia memang masih kalah bersaing dengan komik-komik terjemahan. Dalam sebulan, judul komik Indonesia yang terbit bisa dihitung dengan jari. Berbeda dengan komik-komik terjemahan, seperti komik Jepang, misalnya. Dalam sebulan bisa puluhan judul yang diterbitkan, itu pun dalam kuantitas yang berbeda dan mendapat prioritas penempatan di rak-rak toko buku. Acara seperti Mangafest menjadi salah satu kesempatan baik untuk lebih memperkenalkan komik Indonesia yang jumlahnya sedikit dan biasanya nyasar di rak buku agama, politik, atau malah buku-buku masakan.

Setelah merenung cukup lama sampai ditegur perempuan manis yang saya lupa tanya namanya, saya masuk ke dalam ruang pameran yang memajang 25 karya terbaik dalam Manga Drawing Competition, lomba komik yang diselenggarakan oleh Mangafest 2014. Komik-komik yang dipajang dalam ruang pameran mendapat perlakuan yang amat baik. Setiap komik ditata apik dalam satu bingkai besar yang dipajang berjarak antara satu komik dengan komik lain. Selain itu, cahaya lampu yang berpijar tidak terlalu terang membuat saya merasa seperti benar-benar berada di pameran seni. Sayangnya masih saja ada kasak-kusuk terdengar kurang enak di antara pengunjung.

Bagus sih komiknya, tapi gayanya masih Jepang banget.”

“Ah, namanya juga Mangafest, makanya yang dikirim banyak yang gayanya kejepang-jepangan, biar kayak manga.”

“Biar lebih Indonesia, kenapa namanya bukan Komikfest aja ya?.”

“Iya ya, hahaha.”

“Halah”, begitu saya mendesah di dalam hati. Tiba-tiba saya merasa beruntung pernah belajar linguistik meskipun nilainya gak bagus-bagus amat. Tentu saja, seperti kata “manga” yang merupakan bahasa Jepang, “komik” juga bukan merupakan bahasa Indonesia asli melainkan berasal dari bahasa Inggris. Dulu sekitar tahun 1960 pernah ada istilah untuk menyebut komik di Indonesia sebagai cergam, singkatan dari cerita bergambar. Sayangnya, istilah cergam tidak bertahan lama sehingga istilah komik pun digunakan kembali. Lalu, kenapa acara ini menggunakan nama Mangafest? Menurut saya, hal ini tidak lain karena panitia yang menyelenggarakan acara ini adalah mahasiswa dari jurusan sastra Jepang UGM. Manga itu sendiri berarti cergam atau komik dalam bahasa Jepang, tidak lebih. Bahkan, seandainya komik Panji Tengkorak atau Si Buta dari Goa Hantu dibawa ke Jepang, komik-komik itu juga akan disebut manga. Belajar bahasa itu penting!

Dari ruang pameran, saya langsung beranjak menuju area Comiket yang merupakan singkatan dari Comic Market, area khusus untuk berjualan komik dan merchandise buatan sendiri. Di sana sudah berjejer dengan rapi sekitar 30 meja yang menjajakan produk masing-masing pengkarya. Banyak pengunjung tampak antusias saat berbelanja di area Comiket. Bahkan ada seorang pengunjung yang terlihat belum puas meski sudah membelanjakan uangnya lebih dari lima ratus ribu rupiah. Pasar yang lumayan potensial untuk ukuran komik Indonesia.

Saat saya tiba, sedang berlangsung acara launching kompilasi komik NiiBii jilid kelima. Kompilasi komik yang diterbitkan secara independen oleh studio NiiBii di bawah kepemimpinan Ahmad Arsyad yang juga terkenal sebagai komikus pencinta sepak bola pencipta komik The Last Kickers yang terbit rutin di surat kabar Jogja dan Solo. Bisa terbit hingga jilid kelima meski hanya dicetak secara independen merupakan bukti keseriusan dan konsistensi Ahmad Arsyad dan kawan-kawan yang layak diacungi jempol. Salut!

Seusai launching kompilasi komik NiiBii jilid kelima, acara dilanjutkan dengan acara launching komik 17+ jilid kedua karya dari Kharisma Jati. Bersama Beng Rahadian selaku editor dari Cendana Art Media, mereka memaparkan bahwa khalayak umum berhak memperkaya khazanah bacaan komik mereka dengan “novel grafis” yang [konon] alur ceritanya lebih kelam dan rumit ketimbang komik pada umumnya.

Selain launching komik, pada area Comiket, ada hal baru yang saya temukan di Mangafest 2014. 12 komik terbaik pada Manga Drawing Competition tahun ini dan 3 komik yang menjadi juara di Manga Drawing Competition tahun lalu dicetak dalam bentuk kompilasi komik oleh Metha Studio dan dijual bebas di salah satu stand Comiket. Menurut saya, ini adalah satu pencapaian panitia Mangafest tahun ini yang patut mendapat apresiasi. Dengan dicetaknya kompilasi komik tersebut, komik-komik karya dari peserta tidak hanya bisa dinikmati dengan lebih bebas, melainkan juga terarsip dengan lebih baik dan lebih mudah diakses untuk berbagai keperluan; seperti penelitian ilmiah. Acara pada hari pertama berakhir dan ditutup dengan berbagai macam penampilan band yang membawakan lagu-lagu Jepang.

Hari kedua dimulai pukul 09.00. Dari kedai ramen di kejauhan saya melihat acara dibuka oleh pertunjukan angklung yang dibawakan oleh anak-anak dari SDIT Baitussalam Prambanan. Sesekali saya melongok ke arah panggung untuk melihat pertunjukan mereka, sekalian menyapa perempuan Maid Cafe yang letaknya tepat di sebelah kedai ramen. Di kejauhan, tampak anak-anak SDIT Baitussalam Prambanan membawakan beberapa lagu wajib dengan permainan angklung yang apik dan sangat rapi seperti bukan level anak SD. Bila mereka terus mengasah ketrampilan seni hingga dewasa, tidak terbayang akan jadi seperti apa anak-anak itu kelak. Luar biasa!

Setelahnya, acara dilanjutkan dengan lomba karaoke dimana peserta harus menyanyikan lagu-lagu Jepang. Lumayan. Ada hiburan yang bisa dinikmati sembari melayani pelanggan yang jumlahnya bejibun menyerbu kedai. Siang harinya, saya dipanggil panitia untuk briefing acara talkshow komik yang akan diadakan seusai launching komik Si Juki karya Faza Meonk. Apa boleh buat, akhirnya saya pun pergi ke ruang briefing dengan hati riang gem . . . . uhuk, terpaksa meninggalkan teman-teman di kedai karena sudah berjanji menjadi host di acara talkshow tersebut. Sorry, guys. Kalian kuat kok! (Ditimpuk mangkok ramen).

Uniknya, salah satu pembicara dalam talkshow tersebut adalah Faza Meonk yang baru saja selesai merilis komik terbarunya. Jadi, abis turun panggung, doi naek panggung lagi, hahaha. Capek gak lu, za? Mudah-mudahan penonton tetep seneng yak?

Selain Faza, pembicara lainnya adalah Hasmi, kreator dari Gundala Putra Petir yang populer pada tahun 1970an dan Is Yuniarto, kreator dari Garudayana Saga. Talkshow tersebut mengambil tema “Perjuangan Komikus”. Pada awalnya, talkshow akan diadakan di panggung utama. Karena hujan turun, acaranya pun dipindah ke area Comiket. Saat saya dan para komikus pembicara memasuki area Comiket, tampak pengunjung yang ramai memadati tempat talkshow, mudah-mudahan mereka memang peserta talkshow yang memiliki minat besar pada komik Indonesia. Jadi bukan cuma sekedar numpang neduh saja.

Talkshow diawali dengan opini dari Hasmi yang menyatakan bahwa perjuangan komikus di zaman sekarang jauh lebih sulit karena jumlah saingannya yang amat banyak. Komikus di masa lalu tidak banyak saingan, bahkan seringkali mereka mendapat order dari penerbit dengan honor yang menggiurkan. Faza menambahkan, meski saingan di masa sekarang jauh lebih banyak, tetapi publikasi karya saat ini lebih mudah karena adanya jejaring sosial di internet. Setelah diunggah, komikus bisa langsung mendapat respon dan berinteraksi dengan pembaca.

Setelahnya, talkshow pun mengalir ringan. Is Yuniarto pun menceritakan pengalamannya sewaktu baru memulai debut. Meski saat ini dia termasuk komikus yang sukses dengan jumlah penggemar yang tidak sedikit, siapa sangka bahwa komiknya justru ditolak penerbit saat pertama kali diajukan. Pengalamannya ditolak tidak membuatnya menyerah, justru hal tersebut dijadikannya cambuk agar lebih semangat dalam berkarya dan usahanya terbukti tidak sia-sia.

Saat memasuki sesi tanya jawab, hujan turun semakin lebat dan dahsyat. Angin kencang menghamburkan rinai hujan ke dalam area Comiket yang menyebabkan para panitia kelabakan lantaran para pembicara kecipratan air hujan. Keadaan semakin diperparah dengan listrik mati dan genset belum disiapkan. Karena kondisi sudah semakin tidak menentu,  akhirnya talkshow pun ditutup dan acara ditunda untuk sementara waktu.

Pukul 6 sore, akhirnya jaringan listrik untuk bagian panggung berhasil dinyalakan menggunakan genset yang telah siap setelah 2 jam berlalu. Acara di panggung pun dilanjutkan dengan pertunjukan tarian Jepang yang dibawakan Djoh, penampilan kabaret Cosplay oleh tim Bungah dan penampilan band-band yang membawakan lagu Jepang. Sayangnya, genset yang disiapkan hanya tersedia untuk bagian panggung saja. Area lain seperti Comiket dan kedai-kedai makanan tetap gulita dan hanya disediakan lilin sebagai cahaya penerangan. Untungnya, pada pukul 7 malam.

Secara keseluruhan, acara Mangafest 2014 memang mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Lewat semua sajian yang telah saya nikmati di Mangafest, saya mengambil kesimpulan bahwa tema “Aksi Untuk Indonesia” yang diusung tahun ini bisa berarti bahwa kita dapat melakukan sesuatu untuk Indonesia lewat aksi apapun, termasuk komik. Karena pada dasarnya, setiap penduduk Indonesia pasti ingin melakukan aksi demi kemajuan negerinya. Merdeka! (sambil mengayunkan bambu runcing). Semoga Mangafest dapat menunjukan performa yang lebih baik lagi di tahun-tahun mendatang.

Oleh -
0 78
Aksen mangafest banner

Berikut Press Release yang dikirimkan kepada kami, perihal jadwal Mangafest 2014 yang akan mengambil tempat di Jogja National Museum.

Mangafest “Indonesia in Action”

Mangafest 2014 akan diadakan di Jogja National Museum, Yogyakarta, pada hari Sabtu-Minggu, 15-16 November 2014. Acara ini diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jepang, Universitas Gajah Mada, Yogaykarta. Dan … gratis.

Informasi lebih lanjut bisa dilihat di Facebook (pada akun “Mangafest UGM”), Twitter (@mangafest_UGM), dan situs Himaje.wix.com/mangafest.

Event:

1.      National Manga Drawing Competition

  • 25 karya terbaik National Manga Drawing Competition akan dipamerkan di acara utama MangaFest 2014
  • 12 karya terbaik akan diterbitkan.

2.      Lomba karaoke

  • Pelaksanaan lomba karaoke yaitu pada minggu, 16 November 2014.

3.      Speed Drawing Competition

  • Umum
  • Kuota terbatas
  • Biaya pendaftaran [Rp 20.000]
  • Lokasi perlombaan [Jogja National Museum, minggu, 16 November 2014]
  • Waktu perlombaan 2 jam
  • Tema [Mada Feya In Action]

Maskot MangaFest 2014 dalam balutan budaya Indonesia yang mencerminkan sikap aktif bangsa Indonesia untuk tampil di panggung nasional.

4.      Manga Quiz

Lomba cerdas cermat mengenai pengetahuan tentang manga, namun tidak terbatas hanya komik Jepang, namun juga komik Indonesia dan juga Amerika.

  • Umum
  • Kuota 9 tim (terdiri dari 2-3 orang per tim)
  • Biaya pendaftaran [Rp15.000/tim]
  • Lokasi Perlombaan [Jogja National Museum, Sabtu, 15 November 2014]

5.      Cos-street of the day

Akan dipilih dua orang cos-street yang datang ke acara MangaFest setiap harinya yaitu sabtu dan minggu di Jogja National Museum dan akan mendapatkan hadiah menarik dan sertifikat. Pemenang ditentukan oleh voting pengunjung.

6.      Workshop Dubbing

  • Pelaksanaan [Sabtu, 15 November 2014]
  • Tempat [Jogja National Museum]
  • Biaya pendaftaran [Rp25.000]
  • Pembicara

1. Agus Nur Hasan (dubber Suneo (2006-2008) di anime “Doraemon”, dubber Pria Bertopi Kuning di kartun “Curious George”)

2. Wiwiek Supadmi (dubber  Sun Goku di anime “Dragon Ball”, dubber Tony Chopper di “One Piece the Movie”)

3. Yunita Dian (penerjemah film dan komik Jepang)

7.      Workshop Manga

  • Pelaksanaan [Minggu, 16 November 2014]
  • Tempat [Jogja National Museum]
  • Biaya pendaftaran [Rp 40.000]
  • Pembicara [Sweta Kartika (komikus “Nusantaranger”, “Grey dan Jingga”]

8.      Talkshow Manga

  • Pelaksanaan [Minggu, 16 November 2014]
  • Tempat [Jogja National Museum]
  • Pembicara

1.      Is Yuniarto (komikus “Wind Rider”, “Garudayana”)

2.      Faza Meonk (komikus “Si Juki”)

3.      Hasmi (komikus “Gundala Putra Petir”)

9.      Pojok Aksi

Semacam game corner dimana pengunjung bisa bermain beberapa macam permainan seru dan bisa juga mendapatkan hadiah menarik. Hadiah utama PS Vita. Dengan cara memainkan paket full game dengan membayar sebesar Rp10.000.

10.  Comiket

Comiket atau comic market adalah tempat untuk orang yang ingin menjual karya original buatannya baik berupa komik ataupun merchandise.

11.  Stand makanan dan festival

Penampil:

  • Vienda Billy
  • Al©Beats
  • The Agony
  • Angklung SDIT Baitusalam Prambanan
  • DJOH
  • Plan B
  • Bungah Cosplay Team
  • O-Ha Wotagei
  • Rampoe UGM
  • Hikari
  • The Monkey Circus
  • Papan Hitam
  • Noemi
  • Kesuru
  • Neko
  • Japanese Accoustic Voldemort
  • Gamburisu
  • Jogja Kendo Community
Aksen Poster Mangafest 2014
Klik untuk memperbesar

Esei

Terpopuler Dalam Seminggu