Tagar Konten bertagar dengan "kharisma jati"

kharisma jati

Oleh -
0 465
Pertarungan
Ilustrasi konflik dan pertentangan

Pernah menyindir teman, saudara, atau siapapun di media sosial? Sebagian mungkin pernah, bahkan sering, dan sebagian lainnya mungkin tidak berpikir ke arah itu. Menyindir orang lain melalui media sosial ini memang menyenangkan –bagi yang suka- dan mungkin cukup efektif untuk menyampaikan pesannya. Tapi jangan dikira bahwa sindir menyindir secara terbuka seperti itu hanya terjadi di era media sosial sekarang ini saja. Paling umumnya, sindir menyindir ini sebenarnya terjadi di dunia sastra, mungkin juga musik. Salah satunya yang paling saya ingat di medan sastra lokal adalah jurnal boemipoetra yang selalu menyerang Goenawan Mohamad dan gengnya.

Yang terakhir lagi, sebuah catatan dari Anindita S. Thayf di facebooknya yang menyerang “sastrawan sosialita” di mana kolom komentarnya juga dipenuhi argumen argumen penulis lain yang tidak setuju dengan pendapatnya, salah satunya Ika Natasha. Di dunia musik, Rhoma Irama menulis lagu berjudul “Musik” untuk membalas kecaman salah satu kelompok rock bernama “Giant Step” yang menyebut musik Rhoma sebagai “musik tai anjing”.

Nah, bagaimana dengan dunia komik?

Di akhir 60an, terjadi sebuah konflik yang cukup serius antara Ganes TH dan A. Tatang S. Ganes TH adalah komikus legendaris yang terkenal dengan Si Buta Dari Gua Hantu, dan A. Tatang S, komikus yang lebih kita kenal melalui komik Gareng Petruknya, membuat sebuah komik parodi berjudul Si Gagu Dari Gua Hantu. Dalam sebuah forum komik di facebook, Hans Jaladara mengatakan bahwa akar konflik bermula pencurian ide. Ganes TH sebagai salah satu komikus yang dituakan pada masa itu, sering menerima konsultasi untuk para komikus komikus lainnya, termasuk A. Tatang S, bahkan mungkin saling berbagi ide.

Namun rupanya A. Tatang S justru menerbitkan ide komik dari Ganes TH tersebut lebih dulu dengan penerbit lain. Tentu saja hal ini membuat Ganes berang. Konflik kedua komikus ini ikut diperkeruh oleh penerbit masing masing: Ganes TH dengan penerbit Eres dan A Tatang S dengan Sastra Kumala. Maka lahirlah komik parodi (kalau tidak bisa dibilang plagiat) paling menghebohkan dalam sejarah komik modern di Indonesia: Si Gagu dari Gua Hantu karya A. Tatang S yang diterbitkan oleh Sastra Kumala.

sampul si Gagu dari Gua HntuChandra Agusta | Sekuensi.com
Sampul si Gagu dari Gua Hantu

Dalam Si Gagu Dari Gua Hantu, A. Tatang S menjadikan Ganes TH –di komik disebut sebagai Mat Ganes- sebagai tokoh penjahat yang mati dibunuh oleh Si Buta -salah seorang penjahat lain dalam komik ini- dalam sebuah pertarungan. Si Buta ini kemudian mati terbunuh pula oleh Tokoh utama komik ini, yakni Si Gagu dari Gua Hantu.

Dilihat dari penggambaran karakternya, memang bisa diartikan bahwa A. Tatang S memang berniat untuk menyerang Ganes TH. Penamaan karakter penjahat sebagai Mat Ganes, kemudian Tokoh Si Buta yang berubah menjadi antagonis, hingga akhirnya kedua Tokoh tersebut mengalami nasib yang sama: kematian.

Ganes TH, di pihak lain, kemudian menerbitkan Tjisadane, Januari 1969 di bawah bendera penerbit Eres. Dalam komik itu Ganes membuat sebuah Tokoh bernama Atang, seorang tukang comot dan pengkhianat, yang hidupnya berakhir dengan cara dibunuh.

Konflik ini tak berhenti sebatas sindiran dalam panel gambar dan balon kata saja. Sebuah kelompok bernama IKASTI (Ikatan Seniman Tjergam Indonesia) membuat sebuah surat protes kepada Kepala Seksi Bina Budaja, Komdak VII Djaja, yang mungkin merupakan pemegang otoritas penerbitan komik saat itu. Surat bertanggal 3 Juli 1969 tersebut berisi tuntutan untuk mencabut izin terbit komik Si Gagu dari Gua Hantu serta memusnahkan semua edisi yang telah beredar.

panel dalam komikChandra Agusta | Sekuensi.com
Adegan dalam komik
panel dan suratChandra Agusta | Sekuensi.com
panel komik dan surat protes para komikus

Komik Indonesia pada masa itu biasanya terbit berkala. 1 judul terdiri dari belasan jilid. Sepanjang konflik itu, pada komik komik Si Gagu yang terbit berkala tersebut, A Tatang S juga tampak mencoba meraih dukungan dari rekan rekan sesama komikus. Ia menuliskan salam (menuliskan salam dan ucapan dalam komik ini adalah hal yang sangat biasa pada komik pada waktu itu, anda bahkan bisa menemukan semacam dukungan untuk Rano Karno –waktu itu masih aktor cilik- dari Kus Bram dalam komiknya Labah Labah Merah) kepada Sim, Zaldy, dan Jan Mintaraga (juga istrinya, Linda) untuk menggalang kekuatan. Ironisnya, Zaldy dan Jan, beserta Hans Jaladara, Toha, dan Absony, justru ikut menandatangani surat protes dari IKASTI yang mendukung Ganes TH. Pada akhirnya, komik Si Gagu Dari Gua Hantu ini tak pernah dilanjutkan.

Komik HarChandra Agusta | Sekuensi.com
Sebuah sindiran dalam komik
Komik-panelChandra Agusta | Sekuensi.com
Si Buta?

Selain konflik dua komikus di atas, beberapa yang saya temukan lainnya, yaitu sindir menyindir dalam komik karya Har berjudul Sanggar Atas Angin. Dalam sebuah panel, Har menyindir Anda S. dengan mengatakan bahwa komik Anda memiliki tema cerita yang hampir mirip dengan karya Absony, Anak Kuburan.

Plagiarisme nampaknya adalah pemicu konflik yang paling utama dalam dunia dunia kreatif termasuk dunia komik, namun tentu tak hanya itu.  Sebagai tambahan, walaupun ini mungkin bukanlah konflik konflik, adalah komik karya Kharisma Jati, God You Must Be Joking, yang menyebut-nyebut, atau menggambarkan Beng Rahadian.

God You Must be Jocking
Chandra Agusta | Sekuensi.com Salah satu strip GYMBJ (credit: K Jati)

Yang paling baru, beberapa tokoh komikus dan pemerhati komik tanah air menuliskan status dukungan dan kecaman (beberapa diantaranya berbentuk komik) sebagai respon terhadap konflik -katakanlah begitu- antara Sheila Rooswitha dan Kharisma Jati. Jati memang dikenal dengan komik komiknya yang liar, baik ide maupun visualnya. Komik komiknya kerap menampilkan adegan sadis dan konten konten berbau seksual (walaupun tak semuanya begitu, tentu saja). Dalam sebuah komiknya yang diunggah di internet, Jati dianggap menyerang Sheila Rooswitha secara personal. Hal ini memancing reaksi komikus komikus lain, terutama juga yang concern pada isu isu pornografi dan kekerasan seksual.

fb_img_1477904505437Chandra Agusta | Sekuensi.com
Komik Aji Prasetyo

Demikian sekelumit kejadian dalam dunia komik tanah air, sekiranya bisa menjadi bahan obrolan ringan antar sesama penggemar komik tanah air.

Catatan:

* Tulisan ini dibuat berdasarkan sebuah postingan John De Rantau berjudul 100 Komik Indonesia Terbaik Yang Harus Dibaca Sebelum Kau Mati, 10/100 di grup facebook “Komik Indonesia Semua Zaman” (dapat dilihat di link ini). Foto dan juga diambil dari tempat yang sama. Credit untuk semua yang terlibat dalam diskusi tersebut, mohon maaf tak bisa disebut satu persatu karena terlalu banyak.

* Gambar panel komik Har diambil dari postingan Ardian Syamsi, masih di grup facebook “Komik Indonesia Semua Zaman”

* Gambar komik God You Must Be Joking diambil dari facebook Kharisma Jati

Gambar Komik buat Lala dari Aji Prasetyo diambil dari facebook Aji Prasetyo

 

Oleh -
0 1287

Bangsat! Kata itu sepertinya cocok untuk menggambarkan betapa brengseknya komik ini, God You Must Be Joking (selanjutnya disebut GYMBJ), sekaligus betapa berani komikusnya, Kharisma Jati. GYMBJ awalnya adalah komik strip yang terbit di facebook, entah sejak tahun berapa. Bulan Mei 2016 yang lalu, akhirnya kumpulan komik strip digital tersebut dicetak dalam bentuk buku komik oleh K. Jati Studio.

Sebagai materi yang direproduksi (saya kurang paham apakah seluruh materi pernah diedarkan via facebook atau ada yang sama sekali baru), jika anda memang belum pernah membacanya sebelumnya, bersiaplah untuk sebuah serangan jantung dan goyahnya iman. Berani jamin, komik ini akan susah dinikmati oleh pembaca yang mudah tersinggung, temperamental, atau mengidap tekanan darah tinggi. Di GYMBJ, Jati membawa komik strip ke dalam wacana wacana yang lebih serius dari sekedar lelucon menyedihkan khas komik digital di media sosial tentang jomblo, menikah, skripsi, dan hal hal tolol semacam itu. GYMBJ bertutur tentang agama, Tuhan, eksistensi manusia, seks, dan tak lupa juga tentang dunia komik dan kritik komik dalam lelucon lelucon yang kasar dan menohok ulu hati.

Isu yang dibahas dalam komik K. Jati ini boleh dibilang cukup berani ditengah suasana sosial politik sekarang ini, di mana razia dan amuk massa bisa terjadi di mana saja dan kapan saja, apalagi kalau sudah menyinggung agama. Membahas dan mempertanyakan agama, apalagi mengejeknya, bisa jadi adalah hal yang paling berbahaya di negeri ini, selain tentu saja membahas komunisme. Beraninya lagi, Jati bahkan tak menggunakan nama pena atau alias dalam merilis komik komiknya. Sebagai salah satu penggemarnya, saya berdoa agar dia tidak ditimpa hal hal buruk gara gara komik komiknya (ingat kasus Aji Prasetyo dengan komik “Hidup Itu Indah”nya).

Sayangnya, dari sekian banyak komik strip dalam GYMBJ, tercatat hanya 6 komik saja yang diberi sub judul. Sisanya hanya bertuliskan God You Must Be Joking, dan alamat email komikus jika anda ingin melayangkan komplain, tanpa sub judul. Bahkan tak ada nomor halaman. Bayangkan kalau komik ini akan dibedah oleh Hikmat Darmawan atau M. Hadid (dua orang ini sering membahas komik dengan serius, baik dari segi estetika maupun tema temanya), tentu mereka akan kesulitan untuk membahas komiknya secara spesifik . Saya akan tuliskan ini sebagai salah satu kekurangan komik ini yang berhasil saya temukan.

Terakhir, mungkin dapat dikatakan bahwa Jati dan GYMBJ-nya adalah satu dari sedikit komikus yang masih dengan gagah mengangkat wacana yang tidak pop dan berbahaya dalam komik komiknya. Beginilah seharusnya komik bawah tanah dibuat, untuk menuliskan ide dan tema tema yang tak mungkin dapat ditemukan dalam komik komik di toko buku.

Oleh -
0 1104
Class Struggle by Kharisma Jati

Perjumpaan saya dengan komik Indonesia lebih sering terjadi karena ketidaksengajaan. Sungguh sebuah kalimat pembuka yang buruk untuk tidak mengatakan bahwa komik Indonesia memang susah didapatkan selain pada acara pameran komik atau pembelian online melalui group facebook berisi maniak komik bangkotan senior yang melelang koleksi koleksinya dengan harga yang bikin geleng geleng kepala. Begitu juga perjumpaan saya dengan komik ini. Di sebuah siang di awal Februari 2016, saya mengunduh sebuah zine elektronik bernama Bhinneka dari Yayasan Bhinneka Nusantara. Saya mendapatkan tautan untuk mengunduhnya dari akun twitter Soe Tjen Marching, yang juga founder yayasan ini (klik disini untuk mengunduh). Zine ini dijuduli dengan sebuah kalimat yang agak seram, sesuai dengan tema yang diangkatnya untuk untuk edisi ini (Oktober 2015), yaitu “Setengah Abad Genosida ‘65”, dan saya menemukan sebuah komik karya Kharisma Jati di dalamnya. Taraaaa…

Komik ini menambah daftar karya yang mengangkat tema ’65 dalam format sekuensial alias komik. Sebenarnya masih ada 1 komik lagi di zine ini, yaitu komik berjudul Produk Propaganda karya Aji Prasetyo, tapi saya lebih tertarik untuk membahas komik Kharisma Jati ini.

Tapi sebelumnya, saya ingin meminta maaf terlebih dahulu. Pertama karena saya menulis dengan gaya seorang hipster yang biasa saja, lalu saya sebenarnya tidak paham betul mengenai tragedi ‘65, dan yang terakhir adalah karena pemahaman saya terhadap teori-teori dalam dunia sekuensial amatlah lemah.

Komik berjudul Class Struggle ini hanya terdiri dari 5 halaman saja. Dengan jumlah halaman yang sedikit itu, narasinya tampak lebih kuat untuk menggambarkan situasi peristiwa yang ingin digambarkan ketimbang gambar visualnya. Asumsi saya, komik ini pastilah menggambarkan tragedi ‘65, terlepas tidak ada satu narasipun yang menyatakan bahwa peristiwa yang digambarkan merujuk pada peristiwa tersebut, kecuali kata “kup” di awal komik. Alasan lain yang memperkuat asumsi tersebut adalah bahwa komik ini dimuat di zine yang berjudul “Setengah Abad Genosida ‘65”( yaiyalah goblog).

Komik dibuka dengan sebuah panel yang menggambarkan orang orang yang digiring ke dalam sebuah truk oleh manusia berkepala serigala (atau serigala yang berjalan tegak?) yang menenteng senjata. Pemilihan serigala bersenjata sebagai sisi kelompok yang menang dalam komik ini mungkin hendak mewakili satu kelompok militer (yang disebut-sebut sebagai aktor utama dalam tragedi 65) dan juga rakyat sipil/paramiliter yang dipersenjatai. Sebuah perumpamaan latin “homo homini lupus” nampaknya benar benar telah terjadi atas nama revolusi. Sebuah perumpaan yang dengan pedih harus kita akui kebenarannya, karena kitalah manusia itu.

“Dari kejauhan mereka bilang: kup prematur itu telah gagal. Kami menanti dengan waspada apa yang terjadi kemudian”. Begitu tertulis dalam narasinya. Kharisma Jati menempatkan dirinya sebagai pihak pertama jamak, dengan menggunakan kata “kami”, yang menjelaskan secara gamblang posisinya dalam peristiwa yang dilukiskannya ini. Ia memilih untuk berada di pihak korban, atau mewakilinya, setidaknya begitulah tafsir sederhana saya.

Panel selanjutnya menggambarkan adegan seorang lelaki dan perempuan yang menatap ke arah luar melalui jendela dengan ekspresi yang penuh ketakutan. Penyebab ketakutan itu tergambarkan dalam panel ketiga dimana digambarkan para serigala bersenjata itu melakukan eksekusi terhadap sebarisan manusia yang tengah duduk berlutut.

Dua panel di halaman selanjutnya menggambarkan sebuah bangunan yang hancur, wajah wajah ketakutan, dan lagi lagi penembakan yang dilakukan oleh oknum serigala bersenjata. Di narasinya tertulis: “Pak Guru dan teman-temannya yang telah mengajari kami baca tulis digiring paksa ke dalam truk dan dibawa pergi entah kemana”. Pemilihan kata “pak guru”, “yang telah mengajari kami baca tulis” dalam tafsir saya menjelaskan bahwa betapa pembantaian yang dilakukan itu benar benar tanpa pandang bulu. Guru, dalam etika ketimuran, dianggap sebagai tokoh yang mulia dan dihormati. Melawan guru, contohnya, dianggap sebagai sikap yang sangat tidak terpuji. Dari kalimat ini dapat kita tarik kesimpulan bahwa Jati berusaha membuat kesan tentang betapa peristiwa ini sangatlah kejam,brutal, dan amoral. Sebuah kondisi yang sangat jauh melenceng dari etika ketimuran yang oleh sebagian orang di negeri ini sangat diagung-agungkan.

Selanjutnya, Jati mencoba melakukan perbandingan antara kekejaman yang terjadi pada peristiwa ‘65 dengan kejadian yang juga menyedihkan di tahun tahun sebelumnya, penjajahan Belanda. “Sejak jaman Belanda, belum pernah begitu banyak orang di negara ini mati atau kehilangan kebebasan… demi pembentukan sebuah tatanan politik baru”. Dari kalimat itu Jati ingin mempertegas bahwa kekejaman pada masa penjajahan, yang banyak sekali dikisahkan baik dalam buku sejarah resmi maupun bentuk bentuk produk budaya lainnya, yang dilakukan oleh bangsa lain, memakan korban tidak lebih banyak dari tragedi ‘65, yang dilakukan oleh dan terhadap bangsa sendiri, yang sayangnya justru tak banyak dikisahkan, setidaknya dalam narasi sejarah resmi.

Pada halaman berikutnya, dalam dua buah panel tergambar kembali kebengisan para serigala bersenjata, yang menunjukkan wajah buasnya dengan mulut menganga dan lidah yang terjulur keluar serta air liur yang menetes-netes. Dibawahnya terbaring korban korban keganasan mereka, dengan kondisi yang mengenaskan. “Ini adalah revolusi demokrasi. Mereka yang jahat, yang ingin mendirikan Negara dalam Negara. Yang durhaka terhadap cita cita republik harus dibersihkan!, dalihnya”. Narasi yang menggambarkan alasan para serigala bersenjata untuk melakukan pembantaian. Bagi mereka, cita cita republik adalah segala-galanya, dan kemanusiaan tidak lebih tinggi posisinya ketimbang hal itu, sehingga setiap yang durhaka terhadapnya pantas untuk dianggap jahat dan dihabisi.

“Persetan dengan terpaan prasangka, tuduhan. Konflik & kebencian. Teori konspirasi, infiltrasi & perang urat syaraf. Kami tidak terlalu peduli siapa yang terlibat, atau siapa yang ditunggangi CIA. Kepedulian kami ada pada sahabat terpercaya yang tengah berjuang di sebelah kami”. Saya agak bingung untuk menafsirkan narasi ini. Tidak cukup jelas bagi saya, apakah narasi ini mewakili tokoh dalam komik, atau mewakili Jati sendiri sebagai komikus. Jika mewakili tokoh dalam komik, jelas bahwa terdapat ketidaksesuaian konteks waktu antara kejadian yang digambarkan dengan informasi yang dituliskan. Teori konspirasi dan keterlibatan CIA dalam tragedi 65, sejauh pengetahuan saya, muncul setelah kejadian, sehingga tidak mungkin tokoh dalam komik dapat mengetahui informasi itu. Dengan asumsi itu, saya beranggapan bahwa narasi ini adalah adalah narasi komikus sebagai pengamat yang mengambil sikapnya.

Tapi tunggu, dalam konteks manakah komikus dalam narasinya :” Kepedulian kami ada pada sahabat terpercaya yang tengah berjuang di sebelah kami” berada? Kalau dalam konteks masa lalu, saat peristiwa dalam komik ini terjadi, perjuangan apakah yang dimaksudkan? Sosialisme? Komunisme? Atau dalam konteks waktu sekarang, saat ini, saat kita mengenang peristiwa 65 sebagai sebuah tragedi kemanusiaan, perjuangan ini mungkin bisa diartikan sebagai usaha usaha rekonsiliasi, seperti yang selama ini didengung-dengungkan. Atau juga perjuangan untuk mendapatkan kesetaraan hak sebagai warga Negara, tanpa diskrimasi hanya karena seseorang, atau keturunannya, di masa lalu memiliki hubungan dengan PKI dan afiliasinya. Atau juga perjuangan agar Negara menyampaikan permintaan maaf secara resmi kepada korban peristiwa 65.

Narasi ini sama samarnya dengan narasi berikutnya, yang berapi-api dan cukup provokatif “Bagi kami, hidup adalah membela segala hal yang kami percayai!”.Tentu saja lagi lagi kita akan memunculkan pertanyaan yang sama: apakah yang dipercayai itu? Komunisme? Sosialisme? Tidak cukup jelas. Dan lalu, tidakkah “membela segala hal yang kami percayai” terdengar seperti fanatisme, yang barangkali tak berbeda dengan fanatisme agama agama yang melakukan teror atas nama Tuhan. Sebagai bagian dari masyarakat ilmiah mantan anak kuliahan,  yang memulai segala sesuatu dengan keraguan dan pertanyaan, saya tentu tidak sepakat dengan pembelaan yang fanatik semacam itu. Narasi itu seakan akan menegaskan tentang suatu keyakinan yang anti dialog.

Atau mungkin membela yang dimaksud adalah membela kawan kawan korban untuk memperoleh kembali hak hak mereka sebagai warga Negara (dalam zine ini dituliskan tentang banyak sekali kisah sedih para eks tapol 65 dan keturunannya yang dikebiri hak haknya sebagai warga Negara), dan yang lainnnya yang saya tulis dalam 2 paragraf sebelum ini? Kalau itu tentu saja saya sepakat dan mendukung, dan akan ikut mengucapkan kalimat dalam narasi terakhir: “Perjuangan kami tak pernah mati”.

Baca juga: Aku, Humor, dan Takdir: Representasi ‘65-66 Dalam Komik Indonesia 

Esei

Terpopuler Dalam Seminggu