Tagar Konten bertagar dengan "komik Indonesia"

komik Indonesia

Oleh -
0 23

Rilis terbaru dari KOSMIK: Kompendium Wanara karya Sweta Kartika, akhirnya terbit. Serunya lagi, tidak hanya Wanara 02 yang rilis, namun Wanara Vol. 01 juga dicetak ulang. Menurut Sweta, hal ini adalah salah satu bentuk keberhasilannya dalam menyuarakan gagasannya kepada pembaca.

Komik tentang perjuangan Seta dan Lima Mandala dalam menumpas kejahatan yang dipimpin oleh Bos Panda ini dibuat untuk merefleksikan industri komik Indonesia. Dalam komik, Sweta memulai cerita dari sebuah kota dimana kejahatan semakin merajalela karena para superhero senior sudah tidak lagi setangguh dulu. Adalah Panca, salah satu superhero senior yang secara aktif mengumpulkan pemuda berbakat untuk dilatihnya menjadi penerus.

Kondisi ini sama dengan yang dialaminya selama bergelut di industri komik Indonesia. Kita pernah memiliki banyak kreator senior yang hebat dengan deretan karya yang luar biasa. Sekarang mereka sudah harus segera digantikan oleh generasi yang lebih muda. Banyak kreator komik senior yang beralih profesi, tapi masih ada pula yang masih aktif berkarya komik sambil melatih juniornya.

Konsep kesimbangan pada Wanara 02

Melihat konsep cerita yang kental dengan budaya lokal, barangkali ada yang tidak percaya bahwa komik ini dibuat lebih 6 tahun yang lalu. Manuskrip pertama Wanara dibuat pada Desember 2010. Komik ini kemudian diterbitkan secara online  di webcomic Makko.co pada Mei 2011 dengan stok 2 chapter. Tantangan saat itu adalah adanya tanggung jawab untuk menyelesaikan sekitar 30 halaman per bulan. Disaat yang sama, Sweta juga sedang menempuh pendidikan program Magister dan juga mengerjakan beberapa proyek ilustrasi lain. Meski begitu, menurutnya yang paling sulit justru bagaimana menyajikan kualitas cerita yang dapat dinikmati pembacanya.

Semua proses pembuatannya, baik Wanara Vol. 01 maupun Wanara Vol. 02 pun sama: digambar sebanyak 20-32 halaman per bulan. Bedanya, pada buku kedua ini, Sweta melakukan lebih banyak riset. Pada tahun 2012, dia mengalokasikan 2 bulan untuk berkeliling ke 3 Kota untuk menemui beberapa narasumber. Kala itu Sweta juga sedang mempersiapakn diri untuki sidang Thesis.

Jika dalam Wanara Vol. 01 Sweta fokus untuk menciptakan cerita dengan tujuan utama pada pembentukan jagoan Wanara, di buku kedua nanti Sweta berusaha membangun sesuatu yang lebih besar. Dalam setiap dialognya, Sweta ingin menekankan pada konsep keseimbangan dimana apabila ada satu variable dalam alam raya ini yang dimusnahkan, maka akan mempengaruhi banyak hal. Ketika ini terjadi, alam akan beradaptasi untuk mengembalikan keseimbangan dengan cara misterius.

“Saya berharap pembaca bisa memaknai inti gagasan ini lebih jauh karena yang saya usung mengandung nilai spiritualitas. Tentunya, jika nilai ini benar-benar ditangkap oleh pembaca, akan ada semacam kehati-hatian bagi semua untuk berbuat keburukan.”

Dalam mengembangkan cerita Wanara, Sweta mengaku banyak mengambil referensi dari film. Melalui film, Sweta belajar pacing dan penataan plot, serta cara menghadirkan karakter yang kuat. Beberapa judul film yang paling mempengaruhi pembuatan komik ini diantaranya Watchmen dan Zack Snyder.  Sesekali, tayangan National Geographic juga digunakan sebagai sumber acuan.

Wanara Vol 02 sudah bisa dibeli di toko buku. Komik ini resmi rilis pada acara Pasar Komik Bandung 14 Mei 2017.

Sebagai sebuah genre, komik bertema sejarah mungkin adalah salah satu yang cukup jarang hadir dalam wacana komik Indonesia pasca tahun 2000. Sepanjang pengetahuan saya, beberapa komik sejarah yang patut dicatat adalah Harimau dari Madiun karya Aji Prasetyo, Pejuang Muda: Longmarch Divisi Siliwangi karya Sungging, dan beberapa komik terbitan Metha Studio yang menerbitkan komik bertema sejarah dibalut dengan cerita-cerita fiksi. Untuk yang bertema lebih spesifik yaitu sejarah tokoh, tercatat John Lie terbitan kolektif asal Surabaya Milisi Fotocopy, yang menceritakan sejarah kehidupan pahlawan nasional beretnis Tionghoa itu. Selebihnya, saya tak tahu. Pernyataan saya di kalimat pertama yang menyatakan bahwa komik bergenre sejarah ini cukup jarang hadir, lebih disebabkan karena ketidaktahuan saya. Kalau ternyata memang lebih banyak, mohon untuk diluruskan.

Nah, kali ini saya baru saja mendapatkan dan membaca sebuah komik tentang tokoh sejarah yang bukan hanya melegenda karena perjuangannya melawan penjajahan, tapi juga mengangkat wacana kepemimpinan wanita dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Adalah Nyimas Ratu Kalinyamat, satu dari tiga wanita Jepara yang menjadi ikon perjuangan bangsa, yang kisah hidupnya diangkat dalam sebuah novel grafis biografi sejarah yang apik oleh Muhammad B. Pontian.

Sebagai komik sejarah, Pontian sebenarnya tidak menawarkan wacana baru mengenai kehidupan Ratu Kalinyamat. Novel grafis ini memfokuskan jalinan cerita berdasarkan sosok sejarah Ratu Kalinyamat, yang lahir di Demak, dan meninggal di Jepara pada tahun 1579. Puteri Sultan Trenggono yang memerintah Demak pada tahun 1521-1546 itu sangat terkenal di kalangan bangsa Portugis karena sosoknya yang sangat berani menentang penjajahan bangsa asing (Portugis) yang merugikan orang-orang Jepara. Kisah hidup Ratu Kalinyamat itu ditulis dan digambarkan ulang dalam narasi dan ilustrasi sepanjang 158 halaman yang dibagi menjadi 5 bab, mulai dari perkenalan sosok Ratu Kalinyamat hingga masa kejayaannya. Bagian yang paling diingat orang, selain serangannya kepada Portugis yang sangat heroik itu, yaitu pertapaannya, mengambil 1 porsi bab tersendiri.  Beberapa narasi sejarah mengisahkan bahwa Nyimas Ratu Kalinyamat melakukan pertapaan telanjang. Namun demikian, Pontian menampilkan adegan pertapaan itu dengan cara yang lebih halus, alih alih menampilkan ketelanjangan sosok perempuan legendaris tersebut. Cukup aman untuk yang ingin memperkenalkan novel grafis ini pada pembaca di bawah umur 18 tahun.

Satu hal yang penting dicatat —saya sependapat dengan pengantar novel grafis ini, adalah tata letak panil-panilnya. Mengutip pengantar penerbit, Pontian “secara sadar menciptakan karya sekuensialnya dengan kesadaran ruang yang berbeda dengan jenis karya lainnya.” Jika anda membaca novel grafis ini, anda akan menemukan cukup banyak ruang-ruang kosong yang sengaja diciptakan oleh Pontian, yang —lagi lagi mengutip pengantar dari penerbit: “…membantu penikmat karya untuk tidak tergesa-gesa dalam menikmati narasi yang ditawarkan…”

Di tengah kebangkitan komik lokal yang perlahan-lahan mulai menunjukkan geliatnya, untuk kemudian disesakkan oleh komik-komik strip bergenre humor dan komedi yang lama-lama mulai terasa membosankan, Nyimas Ratu Kalinyamat menjadi alternatif bagi penikmat komik lokal yang menginginkan tema-tema yang lebih serius dan dewasa, yang nampaknya belum banyak digarap oleh komikus lokal. Di sisi lain, novel grafis ini dapat dipandang sebagai salah satu upaya untuk memperkenalkan kembali tokoh-tokoh sejarah bangsa melalui medium yang katanya ‘memiliki tenaga besar untuk mempengaruhi siapa saja dan kapan saja’¹ ini.

Terakhir, seperti tertulis dalam pengantarnya: “Nyimas Ratu Kalinyamat menjadi sebuah buku yang patut dinikmati oleh para penggemar cerita-cerita sejarah yang dituturkan secara visual-sekuensial.”

Jakarta, Mei 2017


¹Kutipan milik Agus Dermawan T, kritikus seni dan penulis buku-buku budaya, yang saya ambil dari sini dan sini.

Oleh -
2 608
Rak komik

Gambar untuk kepentingan ilustrasi

Seberapa sering kamu ketika di toko buku kamu nemu komik yang kamu tertarik melihat sampulnya, lalu melihat tulisan Volume 01 atau sejenisnya tertera di salah satu sudutnya, dan memutuskan untuk meletakkan kembali buku itu seolah-olah kamu tidak pernah melihat?

Saya sih begitu. Ngomong-ngomong, sebelum ketenangan batinmu terganggu karena tulisan saya berikut ini, saya mengingatkan ini adalah murni uneg-uneg saya. Ndak peduli gimana tulisan ini akan berdampak pada kejiwaan kamu. Saya nggak melakukan riset apapun untuk tulisan ini, murni dengan keyakinan bahwa saya nggak merasa istimewa. Jadi, pasti ada orang lain yang sepemikiran denganku juga.

Jika dilihat dari nilai ekonomis di mata author-nya, komik bersambung tentu saja lebih menguntungkan. Bayangkan dalam satu premis, kamu membuat ratusan jilid buku, berapa keuntungan yang akan kamu dapat? Bisa kaya berkat ngelakuin kegiatan yang kita suka, apalagi yang tak lengkap di hidupmu?
Well, kecuali kamu memang sudah dikontrak untuk menerbitkan sejuta volume buku oleh penerbit yang terpercaya, kupikir ada baiknya mempertimbangkan ulang untuk mencetak dan memasarkan sebuah judul yang tidak habis dalam satu terbitan. Kenapa?

Karena bagi saya, buku yang bagus adalah buku yang selesai. Semua cerita dahsyat akan terasa seperti tahi ayam bagi pembacanya apabila si author tidak mampu menyajikan akhir dari kisah yang ia tawarkan. Berapa orang yang mengamuk karena komik Hunter X Hunter tak jelas juntrungnya? Berapa orang yang dalam tidurnya termangu-mangu ingin tahu bagaimana sebenarnya nasib Shinici Kudo? Berapa ruh mereka yang telah meninggal menjadi hantu penasaran karena ingin tahu akan seperti apa One Piece berakhir? Bagaimana rasanya pembaca Topeng Kaca ditinggal oleh author-nya? Bagaimana dahsyatnya ketika Toonderella ditinggal hiatus selamanya oleh author kesayangannya?

Mari kita mencoba menerima kenyataan bahwa meski perkomikan di Indonesia mulai mengeliat, menerbitkan sebuah judul komik dalam versi cetak sebenarnya masih membuat nafas tersengal-sengal mau itu dalam naungan penerbitan mayor maupun independen.

Dalam penerbitan mayor, angka penjualan karya adalah penentu nasib dari kelanjutan komik kita. Jika penjualan tidak bagus, ya sudah. Dihentikan. Sementara itu, dalam penerbitan indie pun semua kembali ke kocek kamu. Kuat nggak buat nyetak segitu banyak volume, kuat nggak mengerjakan segitu banyak jilid ketika kamu tidak ada tanggung jawab hitam di atas putih untuk menyelesaikan ceritamu. Motivasi manusia itu cair, bung.

Jika kamu berpikir kalau nggak laku berarti nggak ada yang suka dan dihentikan pun nggak akan ada yang tidurnya terganggu, berarti kamu melupakan beberapa manusia yang anomali. Mereka yang memiliki selera berbeda dengan kamu-kamu yang mainstream. Sebagai author, mana tanggung jawabmu dengan rusaknya kebahagiaan pembacamu? Kamu mau dapat teror seperti yang dialami Hideaki Anno ketika dia nggak bisa memberi penutup cerita yang memuaskan penggemarnya?
Bagi komikus yang membuat komik bersambung, apa sih sebenarnya yang membuat kalian yakin bisa menyelesaikan komik-komik itu? Apa yang membuat kalian tidak berpikir untuk membuat sebuah komik tebal yang berisi cerita yang selesai di buku itu? Buat cerita yang padat dan tidak bertele-tele, tidak perlu banyak filler lah.

Jika kamu merasa cerita yang padat tidak bisa menyampaikan ide-ide kamu dan meninggalkan kesan ke pembacamu, kamu kurang nonton film-film dari Studio Ghibli dan Disney. Berapa judul karya mereka yang masih tertancap di kepalamu setiap detil ceritanya?

Karena ini murni cuma uneg-uneg, aku sebenernya ga ada rencana untuk menyimpulkan isi tulisan ini. Aku cuma mau ngomong, ke kamu yang mau baca, mbok ayok to. Kita hijrah dari komik bersambung ke komik one shoot. Yuk!

Ayo to
Ayoo
Ngeyel?
Slenthik lho

Saat sampai pada halaman kedua komik ini —saya sedang dalam perjalanan di kereta jarak pendek saat membacanya— saya segera berjanji dalam hati untuk menuliskan sedikit komentar saya. Saat itu, sebenarnya perasaan saya sedang kalut. Biasalah, banyak urusan duniawi yang membuat hati dan otak saya menjadi tidak karuan, tapi tak perlu saya ceritakan di sini karena itu bukan urusan anda, dan anda juga tidak akan peduli. Lagi pula saya bukan Deidra Mesayu, pembuat komik yang akan saya tulis reviewnya ini. Kalau anda nanti membaca komiknya, anda akan tahu mengapa saya menulis begini.

Chandra Agusta | Sekuensi.com

Pertama, untuk mempermudah, walaupun bentuk karya Deidra ini adalah ilustrasi berteks (seperti tertulis pada pengantarnya yang ditulis oleh kritikus komik kita yang termasyhur a.k.a M. Hadid), atau teks berilustrasi, saya akan tetap menyebutnya sebagai sebuah komik. Saya tidak tahu, dan tidak ingin memperdebatkan, apakah dalam karya ini unsur-unsur komik itu sudah tercapai atau tidak, namun karena karya ini berada dalam sebuah kompilasi komik milik kolektif Barasub yang punya jargon “Manifeskuensi”, kita anggap saja ini memang komik.

Komik setebal 25 halaman (termasuk cover depan dan belakang) ini berjudul Deidra Dengue Danar, Komik Pendek Berselimut Racun Aedes Aegypti, merupakan komik kedua dalam kompilasi komik bertajuk Beringas Vol. 2. Bentuknya, kalau dilihat-lihat dan dimirip-miripkan, mungkin dapat digolongkan ke dalam kategori graphic diary, seperti komiknya Tita Larasati dengan Curhat Tita-nya. Sudah barang tentu sebagai graphic diary, ceritanya sangat personal. Saya tidak tahu apakah ini benar-benar kisah nyata si komikus, tapi anggap saja begitu, dan disitulah letak kekuatan ceritanya.

Ia memulai narasinya dengan memperkenalkan dirinya sendiri, sebagai seorang yang aneh (walaupun ia menegaskan bahwa banyak orang punya kecenderungan mengaku-ngaku sebagai orang aneh). Ia juga mempertegas karakter dirinya dengan menceritakan kebiasaan-kebiasaannya, hobinya, dan hal yang dibencinya, yaitu nyamuk. Dari nyamuk inilah semua cerita dimulai. Pacarnya digigit nyamuk dan terserang demam berdarah. Ia dengan kasih sayang dan pengorbanan yang tidak sedikit merawat sang pacar sampai sembuh. Sialnya, setelah sembuh pacarnya justru kencan dengan mantannya. Mereka kemudian putus, dan ia patah hati. Dalam suasana patah hati itu ia memberikan tips-tips bagaimana mengatasinya hingga ia sembuh dari luka hatinya.

Sebuah cerita yang sebenarnya sangat sederhana, tapi kalau anda membaca komik ini, anda akan mengetahui kuatnya Deidra dalam membangun narasi. Dalam cerita yang sederhana itu, dengan balutan kalimat-kalimat dan ilustrasinya, Deidra menyampaikan rasa cintanya, kemarahannya, serta tips-tips menghadapi keadaan patah hati, membuat saya terhanyut, ikut terharu, lalu ikut marah dan jengkel, untuk kemudian ikut merasa bahagia karena semua berakhir baik-baik saja. Tentu saja saya membacanya sambil tertawa-tawa. Menertawakan nasib buruk orang lain mungkin adalah salah satu bentuk hiburan terbaik.

Chandra Agusta | Sekuensi.com

“Aku menangis hebat. Aku menangis meski tetap hebat”, tulis Deidra dalam adegan ketika ia mengetahui pacarnya berboncengan dengan mantannya. Sebuah kalimat ajaib yang membuat saya memaki dalam hati.
Lalu ada kalimat: “Akupun bertanya-tanya kenapa setelah dia meledek menu lauk keluargaku yang selalu cuma tahu dikuahi santan, aku masih ingin dia tetap bersamaku sambal menangis tersedu-sedu.” Lalu: “Aku ingin meninju perut laki-laki yang menghina cara hidup dan sistem lauk keluargaku padahal dia beli sepatu vans minta aku menambah seratus ribu…” Sistem lauk? Apa itu? Sialan betul.

Mungkin kemampuan untuk menceritakan kisah hidupnya ini hanya dimiliki oleh orang-orang yang ekstrovert, yang dengan senang hati mengisahkan cerita pribadinya kemudian membagikannya ke publik, untuk kemudian kita baca sambal tertawa sambil guling guling di lantai kereta saking lucunya. Agak ironi juga sih, tapi saya pikir komik ini dibuat untuk tujuan itu (ini mungkin perlu dipertanyakan ulang, karena komik ini dimuat dalam kompilasi bernama Beringas :p), dan itu berhasil untuk saya. Jadi di kereta, mendung yang menggelayuti perasaan saya tadi jadi agak sedikit menjadi cerah. Dan seperti kalimat saya di paragraf pertama tadi, saya jadi tidak perlu menceritakan kekalutan hati saya, terutama karena saya mungkin tidak bisa menyusun kalimat yang lucu dan menghibur, dan karena kelucuan tersebut hari ini, saat tulisan ini dituliskan, sudah menjadi milik komik ini.

Jakarta, 1 Mei 2017

Sebagian dari kita percaya bahwa hidup ini dikendalikan oleh sebuah kekuatan yang tak nampak, yang membuat seluruh makhluk hidup, khususnya manusia, tunduk pada suatu keadaan tertentu yang tidak dapat dihindarinya. Kekuatan itu, yang karena tak nampak dan mungkin susah dipahami, kemudian dikembangkan dalam konsep-konsep yang dapat dipahami manusia, lalu diberi berbagai macam nama. Konsep-konsep itu berkembang luas melalui tradisi lisan dan tulisan manusia.

Narasi paling populer untuk menjabarkan konsep-konsep ini tentu saja adalah kitab-kitab suci agama, yang mengatakan dengan tegas bahwa apa yang tertulis di dalamnya berasal dari pemilik kekuatan itu sendiri. Lainnya, yang juga punya pengaruh besar, tentu saja adalah sains dan ilmu pengetahuan. Bedanya, agama mempertahankan posisi kekuatan tersebut sebagai sesuatu yang misterius, dan yang dibutuhkan hanyalah mengimaninya saja, sedangkan sains memposisikannya sebagai sesuatu yang bisa diselidiki, ditelaah, disanggah, dan dipertahankan dengan metode-metode tertentu, agar dapat dibuktikan dan disusun menjadi teori teori yang universal, katakanlah misalnya hukum fisika, kimia, dan lainnya.

Di luar itu, banyak narasi lain yang beredar, termasuk di dalamnya adalah produk produk budaya populer saat ini, salah satunya adalah cergam¹. Walaupun untuk yang terakhir ini sifatnya lebih bebas, dalam artian tidak perlu diimani, dan tidak perlu pembuktian dengan metode-metode tertentu, imajinasi semacam ini tetap bisa dikategorikan sebagai konsep-konsep alternatif.

Soliter, sebuah cergam karya Poton V, mencoba menawarkan konsepnya mengenai kekuatan tersebut, dan bagaimana kekuatan tersebut mengatur kehidupan manusia. Dalam dunia imajinasinya yang tertuang dalam panil-panil cergam, Soliter menggambarkan sebuah dunia di mana kehidupan manusia diatur oleh Four Horsemen, sebentuk ‘makhluk-makhluk’ yang mempunyai tugas khusus untuk mengatur berbagai hal dalam kehidupan manusia, semacam konsep dewa-dewa atau malaikat dalam agama-agama. Setiap ‘makhluk’ itu mempunyai tugas yang spesifik, ada yang mengatur kebencian, penyakit, mimpi, kematian, keserakahan, mukjizat, dll dsb. Namun demikian, keberadaan ‘makhluk’ bertugas khusus ini ternyata juga tak bisa lepas dari sesuatu yang dinamakan takdir, begitulah kira-kira garis utama dari kisah ini. Dalam kalimat pembuka, dengan lugas Poton menuliskan: “ada beberapa hal [tak] kasat mata… yang membuat kehidupan ini… menjadi tunduk kepada takdir…”²

Dikisahkan, Sirna, petugas pengendali mimpi yang tugasnya adalah menghapus mimpi manusia di penghujung malam, sedang berada dalam kebosanan karena rutinitas pekerjaannya. Pada suatu ketika, ia mendapati sebuah mimpi yang menggambarkan percintaan sosok dirinya dengan sang pemilik mimpi, seorang wanita yang berprofesi sebagai penyanyi dangdut bernama Yati. Penasaran, ia akhirnya mengetahui bahwa Yati bermimpi dalam kondisi koma. Singkat cerita, Sirna menjadi simpati dan jatuh cinta pada seorang wanita itu. Ia, dibantu Maut, pengendali kematian, mencari cara untuk dapat melepaskan penderitaan Yati, melalui sebuah petualangan di Kebun Malapetaka. Paska kesembuhan Yati, mimpi-mimpi percintaannya dengan Sirna justru menghilang. Sirna yang sudah kadung cinta menjadi kecewa. Untuk mendapatkan cintanya, Sirna memutuskan mengubah dirinya menjadi manusia, dan cerita terus mengalir hingga berakhir dengan tragis di tangan takdir, yang ironisnya justru hanya dianggap permainan oleh pengendalinya.

Jika kita mengamati cergam-cergam Poton, termasuk beberapa karyanya terdahulu seperti Jagger Myth, Tuna Kala, Hama, atau Djinah 1965, kita dengan mudah dapat mengetahui bahwa gaya ilustrasi Poton tidaklah fokus pada detail. Tak ada gambar-gambar bombastis seperti tokoh-tokoh yang keluar dari panil ataupun yang penuh detail dengan gaya realis. Adegan demi adegan dalam panil-panil cergamnya tercetak dalam gambar-gambar sederhana para tokoh dan aktivitasnya, nyaris tanpa tambahan apapun selain balon kata dan narasi. Sangat banyak dijumpai panil gambar yang bahkan tidak memiliki gambar latar, diganti dengan blok-blok hitam ataupun arsiran. Meski demikian, konsistensi karakter tokoh-tokohnya tetap terjaga dengan baik. Kejelian Poton memanfaatkan ciri khusus untuk setiap tokoh saya pikir adalah kuncinya. Misalnya, Sirna digambarkan berambut gondrong a la suku Indian lengkap dengan bulu unggasnya, Maut dengan kacamata dan topi, juga pengawas kebun Malapetaka yang memakai masker. Penggunaan ciri khusus tersebut memudahkan identifikasi pembaca untuk membedakan satu tokoh dari lainnya. Sebagai catatan tambahan, saya cukup terkesan pada panil-panil di setiap pergantian chapter dan pembukaan chapter baru. Sebuah komposisi layout yang manis dan enak dilihat.

Sebaliknya dari gambar yang sederhana, Poton adalah komikus yang cukup serius membangun jalan cerita. Teknik pengisahan cerita dalam cergam ini memang bukan sesuatu yang baru. Menggunakan rumus drama tiga babak: pengenalan tokoh, konflik, dan penyelesaian konflik, dengan alur maju yang konstan, tak berarti jalan cerita menjadi asal-asalan dan membosankan. Poton cukup lihai membentuk karakter tokoh-tokohnya dalam dialog-dialog dan gambar, sembari merambat masuk ke konflik utama tanpa harus bertele-tele menambahkan halaman khusus daftar tokoh seperti yang sering kita jumpai dalam komik-komik Jepang. Dalam beberapa panil, dapat kita lihat juga bagaimana Poton membangun ketegangan/suspense cerita dengan cukup baik, misalnya dalam adegan petualangan di Kebun Malapetaka dan saat pelarian Sirna dan Yati di jalanan.

Pendekatan kelokalannya juga harus menjadi perhatian khusus. Lihatlah bagaimana identitas-identitas kelokalan yang berserakan dengan alami tanpa harus terlihat dipaksakan: Yati yang penyanyi dangdut, bapaknya yang tidak mau melakukan suatu pekerjaan karena menganggap hal tersebut adalah urusan perempuan, mimpi Yati menjadi juri Diva Dangdut Indonesia, atau ajakan Sirna kepada Yati untuk kawin lari karena hubungan mereka tak direstui oleh ayah Yati, juga penggerebekan di hotel.

Musik pengiring kiamatChandra Agusta | Sekuensi.com
Preview panel: musik pengiring kiamat; hal. 100

Selain itu, Poton juga piawai menyelipkan humor-humor gelap dalam cerita ini. Beberapa yang bisa saya tunjukkan, misalnya pada adegan alarm kiamat, yang berubah menjadi musik gubahan Beethoven, Symphony no. 7 in A Major, Op 92-II, Allegreto. Pengawas Kebun Malapetaka dengan enteng mengomentarinya dengan: “tak kusangka akhir dunia diiringi oleh musik ini…” ditimpali gumaman Maut: “aku berharap mereka bakal memutar Lux Aeterna atau No Surprises…”

Bagian sampulnya pun sangat apik. Potret tampak belakang Sirna sang tokoh utama, dengan pilihan warna yang eye-catching. Bagus! Secara keseluruhan, penilaian saya untuk cergam setebal 104 halaman ini adalah: Sangat Layak Untuk Anda Koleksi.

Bogor – Jakarta, April 2017

¹ Cergam: cerita bergambar. Saya menggunakan istilah ini untuk menggantikan kata komik. Dalam sebuah obrolan saya dengan Poton, ia menyatakan menolak untuk menggunakan istilah komik untuk Soliter. Menurutnya, komik merujuk pada cerita bergambar untuk kisah kisah yang lucu. Ia lebih sepakat untuk menggunakan istilah cergam bagi karya-karyanya.

² Kata [tak] dalam kutipan tersebut adalah tambahan dari saya. Merujuk pada KBBI, kasat mata berarti dapat dilihat, konkret, atau nyata. Dalam konteks Soliter, penggunaan yang tepat menurut saya adalah tak kasat mata.

Esei

Terpopuler Dalam Seminggu