Tagar Konten bertagar dengan "Kronik Komik Tionghoa"

Kronik Komik Tionghoa

Oleh -
0 302
Komik Tionghoa

Oleh: Iqra Reksamurty

Untuk komik bergenre roman, Jan Mintaraga adalah nama yang paling terkenal. Komik Jan memang menjadi ikon komik roman pada masa itu, bahkan dalam hal ilustrasi dan ide cerita. Lebih jauh lagi, gayanya banyak ditiru oleh komikus lain. Selain Jan, komikus Zaldy juga terkenal sebagai penggarap cerita roman.

Lahir di Jakarta 21 Januari 1942 – sebagai anak tertua dari empat bersaudara – Zaldy Armadeis adalah komikus yang terkenal dengan cerita romannya. Ia lahir di Jakarta dengan nama Zaldy Purwanta dari orang tua keturunan China.

Genre komik-komik Zaldy adalah roman remaja. Genre ini menitikberatkan ceritanya pada kisah romansa diantara dua insan laki-laki dan perempuan. Detil-detil yang ada dalam komik-komik Roman remaja mampu menjadi potret tentang keinginan untuk menjadi “Barat”.

Karakter Lelaki yang ganteng dan juga karakter perempuan yang cantik adalah sebuah kewajiban pada komik-komik roman. Pilihan nama-nama karakter dengan sangat gamblang memperlihatkan preferensi kebarat-baratan (Ella, Selvy, Charles, Erwin, Anita, dan Susan.) Hanya nama orang tua saja yang masih terasa unsur Indonesia-nya seperti pak Handoko dan ibu Rahmi. Karakter-karakter muda biasanya berpenampulan modis dan rapi seperti bintang iklan. Karakter ibu selalu digambarkan bersanggul dan memakai kebaya dan jarik khas Jawa.

Bentuk modernitas digambarkan dalam bentuk kota metropolitan yang modern. Bentuk-bentuk modernitas tersebut masih akan terlihat walaupun setting berganti ke wilayah pedesaan. Arsitektur dan juga desain interior menunjukan taraf kehidupan yang tinggi. Unsur agraria pada sebuah desa tidak pernah digambarkan. Desa ada hanya sebagai tempat di mana tokohnya memilki villa mewah. Bentuk rumah selalu ditampilkan dalam desain-desain bergaya modern.

Cerita-cerita Zaldy biasanya mengambil sudut pandang karakter wanita, di mana biasanya karakter wanita tersebut berasal dari ekonomi yang lebih rendah daripada tokoh prianya. Tokoh-tokoh pria terkadang masih kuliah pada sebuah universitas, menunjukan mereka memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi dari karakter wanitanya. Bilamana karakter pria tersebut kuliah di luar negeri dan terpaksa meninggalkan Indonesia, bisa dipastikan kontak komunikasi akan terputus untuk waktu yang cukup lama.

Mobil pribadi selalu menjadi alat transportasi utama, transportasi umum dan juga motor sangat jarang terlihat dalam karya-karya Zaldy. Untuk gambar-gambar mobil, komikus Zaldy agaknya hanya mengambil refrensi dari model-model mobil yang kelihatannya keren.  Rumah/villa mewah dan juga mobil pribadi menggambarkan taraf kehidupan yang tinggi. Kemampuan untuk bersekolah di luar negeri tidak hanya menunjukan status yang mentereng, tetapi juga harapan akan kepastian untuk tidak hidup susah. Hal tersebut biasanya dimiliki oleh pihak laki-laki

Marcel Bonneff menuliskan: Zaldy telah membuat sekitar 60 judul diantara tahun 1966 sampai tahun1971. Dari koleksi yang pernah saya baca, stempel polisi* bertanggal paling akhir dalam karya Zaldy adalah pada tahun 1981. Komik  Zaldy yang berjudul ‘Setitik Air Mata buat Peter ‘ juga diangkat ke layar lebar dengan judul Air Mata Kekasih. Ini merupakan film perdana PT Rapi Film  yang dibintangi oleh Suzana. Komik Zaldy yang diangkat ke layar lebar ini bercorak roman remaja yang bercerita tentang kisah asmara yang menjadi ciri khas komik  Zaldy. Salah satu yang menarik dari komik Zaldy ini adalah pengangkatan cerita tentang kegetiran-kegetiran hidup yang disebabkan oleh cinta dan tentu hal itu merupakan gambaran kehidupan yang nyata.

Catatan Editor:

*Pada tahun 1967, polisi melakukan sistem pengawasan terhadap terbitan komik, di mana naskah komik akan diperiksa oleh perwira ahli yang memiliki wewenang untuk mengeluarkan izin percetakan. Izin biasanya diberikan dalam bentuk cap pengesahan yang diterakan pada salah satu gambar di dalam komik. Lebih lanjut baca: Marcel Bonneff, Komik Indonesia (KPG: April 2008).

Tulisan Terkait seri Orang-Orang Tionghoa di Medan Komik Indonesia

makin-malam-makin-kelamZaldy
Panel dalam komik ‘Makin Malam Makin Kelam’

Oleh -
0 265
Komik Tionghoa

Seri keempat dari rangkaian tulisan “orang-orang Tionghoa di Medan Komik Indonesia”. Di bawah ini tautan untuk menikmati seri pertama sampai seri ketiga yang telah dimuat di hari-hari sebelumnya:


Oleh: Iqra Reksamurty

Lahir dengan nama Liem Tjong Ha, Hans adalah anak dari Tjioe Kim Lian (Haliman Linggodigdo) dan Tjioe Kim Lian (Yana Martina) yang dilahirkan di Kebumen pada tanggal 4 April 1947. Orang yang memiliki nama Indonesia Rianto Sukandi ini adalah anak ketiga dari 4 bersaudara. Ia memiliki seorang kakak laki-laki, seorang kakak perempuan, dan juga adik perempuan yang bernama Eveline. Awalnya Hans Jaladara memakai nama pena Hans Saja, namun kemudian ia menambahkan Jaladara untuk membedakannya dengan Dokter Hans, seorang dokter yang terkenal pada masa itu.

Hans Jaladara seorang komikus yang mampu merepresentasikan komik Indonesia pada masa Orde Baru. Karyanya yang paling populer yaitu Panji Tengkorak, yang bukan hanya dicetak ulang tetapi juga dibuat ulang sampai 2 kali yaitu pada tahun 1985 dan 1996, tetapi juga diberi revisi serta perbaikan-perbaikan oleh Hans sendiri.

Serial Panji Tengkorak kemudian menjadi sebuah  seri yang  panjang yang tidak hanya berhenti begitu satu seri tamat; namun disusul dengan seri yang lainnya yang  saling bersambung satu sama lain dalam urutan: Walet merah, Si Rase Terbang, Kembalinya si Rase Terbang, Pandu Wilantara dan  Dian dan Boma.

Selain Panji Tengkorak, Walet Merah juga sempat dibuat ulang dan diterbitkan pada tahun 2002. Sebenarnya Hans sudah menyiapkan versi perbaikan dan revisi untuk sekuelnya, yaitu Si Rase Terbang (naskah selesai dibuat pada tahun 2002 juga). Akan tetapi belum ada penerbit yang mau menerimanya.

Diterbitekstrak-karya-Hans-Jaladarakannya Panji Tengkorak pada tahun 1996 dalam gaya gambar manga membuat banyak anggapan bahwa Hans telah membanting gaya gambarnya ke arah manga. Hans menampik hal tersebut, walaupun ia sendiri mengakui bahwa tuntutan penerbit pada akhirnya memberi pengaruh pada hasil gambarannya.

Hans mengatakan bahwa gaya gambarnya bukan gaya gambar Jepang, akan tetapi diduga bahwa ia diminta oleh penerbit (Elex Media Komputindo) karena memang ada kedekatan antara gaya gambarnya dengan gaya gambar Jepang. Bila kita melihat karya-karyanya dari awal, terutama pada tahun 80an (Dewi Kwan In sampai kembalinya Si Rase Terbang), maka akan terlihat transisi yang akan membentuk gaya gambar yang tertuang pada Panji Tengkorak (1996).

Komik-komik milik Hans memiliki nuansa Tiongkok yang sangat kental, hal ini disebabkan karena Hans banyak menonton film-film dari Hong Kong dan Amerika. Bahkan dalam Serial Kembalinya Si Rase Terbang, Suwita Yajengsari pendekar wanita yang menyandang gelar Si Rase terbang tidak bertualang di negerinya sendiri, namun di negeri seberang yang bernama Negeri Matahari yang saat itu tengah dikooptasi oleh Negeri Naga Kuning. Simbolisme itu terlihat cukup jelas bahwa tempat Suwita berkelana adalah Jepang yang sedang diokupasi oleh tentara-tentara Tiongkok.

Kondisi negeri matahari sedang dikuasai oleh militer yang berkuasa. Dimana rakyatnya sedang menghimpun kekuatan untuk melawan para “penjajah mereka”. Suwita sendiri terlibat dalam urusan politik luar negeri tersebut karena ia memang diminta untuk membantu dalam urusan tersebut sebagai syarat untuk mendapatkan obat yang digunakan untuk mengobati Pandu Wilantara.

Ekstrak-karya-Hans-Jaladara-2

Meskipun berlokasi di “negeri matahari” tapi unsur Jepang kurang terlihat sama sekali selain dari keberadaan pendekar kuncung, Yogi barangkali adalah karakter penduduk asli yang mampu ilmu bela diri. Akan tetapi cukup jelas kalau karakter ini lebih seperti Bruce Lee apalagi dengan senjata double-stick-nya. Unsur Tiongkok sangat kental sekali di sini. Barangkali serial “Kembalinya si Rase terbang” ini lebih bisa dikatakan sebagai komik silat China daripada komik silat Indonesia

Hans juga pernah membuat komik dengan setting Tiongkok pada tahun 1985, yang berkisah tentang dewi Kwan In, sang dewi  welas asih. Dalam komik ini beliau tidak menggunakan nama Hans Jaladara, namun memakai nama Lim C. H

Selain membuat ulang Panji Tengkorak dan juga sekuelnya Walet Merah, di tahun 1990-an hans masih membuat komik, antara lain Roy (sebuah komik silat modern) dan juga Putri Zhiha (komik fiksi ilmiah robot.) Pada tahun 2004 hans juga masih membuat sekuel Walet Merah dan Si Rase Terbang, akan tetapi belum ada penerbit yang mau membeli naskah tersebut. Kebanyakan penerbit memintanya agar dia membuat Si Rase Terbangd engan model lamanya seperti komik-komik era 1970-an. Akan tetapi Hans tetap bersikukuh bila ada yang ingin menerbitkan Si Rase Terbang kembali haruslah memakai versi baru yang telah ia revisi sendiri. Komik terakhir Hans yang terbaru adalah Intan Permata Rimba, komik silat yang sebelumnya dimuat di koran Suara Merdeka dari tahun 2006 sampai 2009 dengan nama Intan Perawan Rimba.

Oleh -
0 503
Komik Tionghoa

Ini adalah bagian ketiga dari seri tulisan orang-orang Tionghoa di medan komik Indonesia. Anda bisa menikmati seri pertama dan seri kedua di bagian lain dari laman Jurnal Komik Online.


Oleh: Iqra Reksamurty

Ekstrak-karya-Ganes-THKomikus Ganes TH lahir di Tanggerang Jawa Barat pada Tanggal 10 Juli 1935, ia merupakan salah satu legenda dunia komik Indonesia, bisa dibilang karya legendaris-nya adalah Si Buta Dari Gua Hantu, yang merupakan serial komik silat nomor satu di Indonesia saat itu. Ganes mengatakan bahwa inspirasi Si Buta Dari Gua Hantu berasal dari film koboi buta Italia yang dibintangi Cameron Mitchell, The Blind Gunfighter. Ganes juga juga menyangkal kalau komiknya dikatakan terinspirasi dari komik Jepang Zato Ichi tentang samurai pemijat buta.

Selain Si Buta Dari Gua Hantu, sebagian besar karyanya yang lain berlatar belakang Betawi tempo dulu seperti: Tuan tanah Kedawung, Jampang, Taufan, dan Reo Anak Serigala.  Ganes bukan hanya berkiprah di dunia komik tapi juga menerobos dunia film sebagai menulis skenario merangkap penata kostum.

Ganes sebenarnya bukanlah  nama asli sang komikus Si Buta Dari Goa Hantu, namun nama pena yang ia pakai dan diambil dari  nama  putra pertamanya yang meninggal muda. Nama tersebut kemudian disandingkan dengan nama lengkapnya: Ganes Thiar Sansota.

Ganes Th semenjak kecil sudah tertarik pada lukisan dan sempat kuliah di Akademi Seni Rupa Indonesia, Yogyakarta. Setelah kembali ke Jakarta, ia meneruskan melukis dan memasok ilustrasi pesanan khususnya karikatur untuk sebuah harian komunis Wartha Bakti. Kegiatan itulah yang sempat membuat posisinya terancam pasca peristiwa tahun 1965.

Ganes kemudian mencoba membuat komik, yang dimulainya dengan membuat komik roman meski akhirnya ia memilih banting setir ke arah komik silat (Siaw Tik Kwie/Otto Swastika diperkirakan memiliki andil dalam pilihannya itu), di mana genre ini lah yang kemudian menaikan namanya. Ganes sangat giat saat ia berada dalam IKASTI*.

Komik-komik Ganes membawa pesan “Wawasan Nusantara” dan semangat cinta tanah air. Hal ini tercermin jelas pada serial Si Buta Dari Goa Hantu, dengan tokoh manusia Indonesia dan dialek Indonesia serta “rute” jalan cerita yang jelas menggambarkan wawasan Nusantara.

Barda Mandrawata merupakan nama yang terkesan seperti nama-nama orang Jawa Barat. Dalam petualangannya, si buta melakukan perjalanan antropologis di nusantara. Tempat-tempat yang ia kunjungi jelas menggambarkan tempat-tempat yang ada di Indonesia, seperti Borobudur (Jawa Tengah), Pantai Sanur (Bali), Tambora, Teluk Bone (Sulawesi), dan seterusnya.

Akan tetapi setting Si Buta Dari Gua Hantu sendiri tidak pernah jelas berada dalam periode kapan, tentang kerajaan-kerajaan Hindu, Budha, maupun Islam juga tidak pernah mendapat bahasan khusus sebagai latar belakang – barangkali agar bisa tetap netral. Namun si Buta beberapa kali bertemu dengan orang Asing (VOC), dan bertempur melawan mereka. Pertemuan atau pertempuran dengan orang asing tersebut biasanya bukan urusan politik, namun lebih pada aspek kemanusiaan yang disebabkan keserakahan orang-orang asing tersebut.

Ganes juga pernah membuat komik yang ceritanya bersumber dari kisah-kisah Cina asli seperti salah satu cerita dari zaman tiga kerajaan. Komikus selain Ganes yang juga menggambar komik yang berdasarkan cerita-cerita dari Cina adalah Hans Jaladara, namun tidak seperti Hans yang menggunakan nama samaran lain agar komiknya dikira karya orang luar, Ganes tetap memakai nama Ganes Th saat menggarap karya-karya asing tersebut.

Salah satu karya Ganes yang menarik lainnya adalah Serigala Kota Intan yang dimuat dalam majalah Hai. Komik tersebut dimuat pada tahun 1985 secara berseri. Serigala Kota Intan memakai etnis Tionghoa dalam kisahnya, ia juga tidak segan-segan untuk memperlihatkan tradisi Tionghoa dan juga Tarian Barongsai pada halaman pertama komik tersebut. Setting kota Intan di sini bukanlah reka-reka, namun sebuah tempat yang berada di daerah Glodok sebuah daerah pecinan yang berada di Jakarta pusat. Jembatan kota intan yang menjadi tempat perkelahian dalam puncak cerita  di sekitarnya terdapat pasar ikan tergambarkan dengan baik.

Ekstrak-karya-Ganes-TH-2

Karakter-karakter dalam Serigala Kota Intan semuanya adalah orang-orang Tionghoa atau peranakan, baik protagonis maupun Antagonis. Dari sini dapat dilihat orang-orang Tionghoa yang sebenarnya sudah sedikit banyak membaur dengan kebudayaan-kebudayaan masyarakat “pribumi”. Seperti tokoh perempuan yang masih bernama Tionghoa tapi pakaiannya sudah mengenakan pakaian-pakaian penduduk setempat, juga ayahnya yang mengenakan peci dan sarung. Penampilan dari tokoh antagonis tidak jauh berbeda, akan tetapi tempat mereka tinggal memang masih lebih kuat unsur tanah asal mereka.

Sebenarnya Serigala Kota Intan adalah reka ulang dan pengembangan dari komik Ganes sebelumnya yaitu Kali Djodo. Keduanya memiliki cerita yang sama. Akan tetapi kapan Kali Djodo tidak diketahui dengan pasti (tanggal terbitnya – ed) karena tidak tercantum tanggal perederannya.

Seperti komikus lainnya, kehidupan pribadi Ganes juga mempengaruhinya dalam berkarya. Awalnya Ganes memang terhitung sadis dalam menggambar adegan, dalam Prahara di Bukit Tandus (1968) si buta tidak segan-segan untuk membunuh siapa pun yang menyerangnya, walau itu hanya sekedar refleks. Namun belakangan hal-hal sadis tersebut semakin dikurangi, bahkan dalam Si Buta kontra Si Buta (1978) Barda Mandrawata masih membiarkan antagonis dalam cerita tersebut hidup untuk menembus dosanya pada orang-orang yang telah dizaliminya. Akan tetapi kematian istri Ganes pada tahun 1989 membuat komikus ini mengalami depresi, akibatnya dalam Mawar Berbisa suasana suram sangat terlihat, dan si Buta kembali menjadi sadis dalam cerita ini.  Ganes TH meninggal pada tanggal 10 Desember 1995.

Catatan Editor

* IKASTI:  Ikatan Seniman Tjergamis Indonesia

Oleh -
0 216
Komik Tionghoa

Setelah sebelumnya menyajikan bagian pertama dari kisah orang-orang Tionghoa di medan komik Indonesia. Jurnal komik online kini memuat lagi seri berikutnya yang akan memaparkan tema yang sama. Kami berterima kasih kepada Iqra Reksamurty yang bersedia membagi tulisannya di sini.


 Oleh: Iqra Reksamurty

Untuk memberi gambaran mengenai perkembangan komik Tionghoa pada masa Orde Baru, dibawah ini dijelaskan posopografi* para komikus Tionghoa serta kontribusinya dalam dunia komik Indonesia terutama pada masa Orde Baru.

  1. Kho Wan Gie

Sebagai seorang komikus, Kho Wan Gie jelas berhak menyandang predikat yang istimewa, bukan hanya karena dirinya dianggap sebagai “penduduk” Indonesia pertama yang membuat komik Indonesia, namun ia juga terus berkarya sepanjang hidupnya sampai akhir hayatnya.

Kho Wan Gie terlahir di Indramayu pada bulan Agustus  tahun 1908, ia bersama dengan Siauw Tik Kwie atau Otto Swatika, komikus Sie Djin Koei, mereka belajar seni lukis dari pelukis Belanda Jan Franck dan H. Van Vethhuizen.

Pada tahun 1927, ia mencoba berkonsentrasi penuh pada dunia lukis dengan meninggalkan pekerjaan lamanya sebagai seorang pelayan toko dan mulai bekerja pada majalah Panorama. Dua tahun kemudian ia pindah ke harian Sin Po. Ang Jan Goan, pemilik surat kabar tersebut kemudian memintanya untuk menggambar serial komik di hariannya. Mula-mula karakter yang dipakai oleh Kho Wan Gie tidak memiliki nama tetap, baru pada tanggal 17 Januari 1931, tokohnya diberi nama “Put On” alias “si Gelisah”. Karakternya ini kemudian menjadi idola baru para pembaca Sin Po yang kehadirannya ditunggu setiap hari Kamis. Apabila absen sekali saja, harian ini akan mendapatkan banyak surat pertanyaan dari para pembacanya.

Riwayat hidup seorang karakter komik strip biasanya akan ikut pada media tempat dia berada, pada masa pendudukan Jepang, Jepang melarang semua media massa terbit, dan harus seizin dengan Jepang. Koran Sin Po dibredel; terlebih lagi karena surat kabar ini memiliki afiliasi kuat dengan Tiongkok. Setelah kemerdekaan, Put On kembali berlanjut, kali ini melalui majalah Pantjawarna dan Wartha Bakti. Sampai kemudian majalah-majalah tersebut dibredel pasca G30S karena beraliran kiri.

Kho Wan Kie kemudian memakai nama pena Sopoiku, yang dalam bahasa Indonesia berarti “siapa itu”. Nama pena tersebut memiliki berbagai tafsiran, antara lain bahwa Kho Wan Kie sebenarnya ingin agar para pembacanya dulu segera mengenalnya beserta tulisannya.

Sebagai Kho Wan Gie, dia hanya membuat Put On. Namun setelah majalah Wartha Bakti tempat Put On berada dibredel. Dengan nama barunya Sopoiku justru menjadi lebih produktif dan eksploratif dalam berkarya. Pasca G30S dia berhenti membuat Put On dan membuat komik lain dengan karakter-karakter baru seperti Nona Agogo, Bolong Jilu (Agen Rahasia 013), Dalip dan Dolop, dan Djali Tokcer.

Salah satu nilai kekuatan Kho Wan Gie dalam berkomik ada pada dialeknya, Kho wan Gie cenderung memakai bahasa yang santai, gaul, dan juga mencirikan identitas. Dalam Put On dialek Melayu yang unsur Tionghoa-nya tampak sangat kental terutama pada masa sebelum kemerdekaan. Dalam Djali Tokjer dialek betawinya yang  terasa kuat. Dari bahasa-bahasa yang dipakai dapat dilihat transisi dialek dari masa ke masa.

Karakter Put On sebenarnya sangat menarik karena menggambarkan bagaimana kehidupan peranakan Tionghoa di Indonesia. Walaupun karakter Put On merupakan seorang keturunan Tionghoa, namun karakter ini sangat nasionalis. Terlihat dengan bagaimana karakter ini sangat mengidolakan Bung Karno dan juga selalu menghadiri upacara 17 agustus.

Pada masa Orde Baru, karakter-karakter Kho Wan Gie tidak ada yang menunjukan ciri-ciri etnis Tionghoa. Meski demikian dialek yang ada pada komik-komiknya masih dengan kuat menggambarkan karakternya sebagai seorang yang hidup di daerah Jakarta. Kho Wan Gie juga menjauhkan komik-komiknya dari kehidupan-kehidupan glamor seperti yang banyak terjadi dalam komik-komik roman remaja, suasana dalam komiknya lebih dekat dengan masyarakat yang berada pada kelas menengah ke bawah.

Kho Wan Gie terus membuat komik dari tahun 1930 sampai akhir hayatnya di tahun 1983, dan hanya sempat terhenti pada masa pemerintahan Jepang. Bisa dibilang Kho Wan Gie telah melewati berbagai era di Indonesia, yaitu  dari  masa kolonial,  masa  revolusi (perang pasca kemerdekaan – ed), “orde lama”, dan juga orde baru. Meskipun Kho Wan Gie memakai nama samaran Sopoiku dalam berkarya, ia tidak mengganti namanya dalam kehidupan pribadinya. Pada saat Kho Wan Gie meninggal, koran-koran tetap mencantumkan nama aslinya.

Catatan editor: 

*Posopografi: biografi kolektif yang berisi catatan tentang orang-orang penting.

Oleh -
0 274
Komik Tionghoa

Catatan editor: Di bawah ini adalah pengantar untuk bahan tulisan bertema orang-orang Tionghoa di medan Komik Indonesia dengan sumber utama skripsi Iqra Reksamurty berjudul Komik Peranakan Tionghoa di masa Orde Baru (Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gajah Mada 2014). Jurnal komik online telah mendapatkan izin langsung dari penulis skripsinya untuk menayangkan beberapa bagian dari tulisannya di sini, serta di laman lain yang terkait dengan pembahasan judul tersebut. Karenanya Jurnal komik online akan menayangkannya dalam beberapa seri tulisan meski tidak semua bagian dari skripsi tersebut akan ditayangkan di sini.

Bagian pengantar ini telah mengalami pemotongan dan penyelarasan teknis-bahasa, serta penghilangan bagian catatan kaki. Meski demikian, penyelarasan dan pemotongan tidak dimaksudkan untuk menghilangkan keseluruhan makna dan tujuan pada tulisan tersebut. Bagian kedua dari tulisan ini akan memaparkan satu sosok komikus Tionghoa: Kho Wan Gie.


Oleh: Iqra Reksamurty

Ada banyak anggapan mengenai komik, antara lain sebagai racun masyarakat, pahlawan kebudayaan, ataupun sumber inspirasi dan pengetahuan. Kontradiksi ini menjadikan komik mempunyai fungsi ganda sebagai barang yang dinista dan pada saat bersamaan dijunjung tinggi yang bersamaan.

Komik Indonesia Modern: Titik Awal

Sejarah komik modern di Indonesia berangkat dari Harian Sin Po di Jakarta. Pada tahun 1930 Kho Wan Gie mengisi surat kabar berbahasa Melayu ini dengan komik setiap minggunya. Setahun kemudian tokoh komik strip miliknya diberi nama Put On. Kepopuleran karakter ini segera menginspirasi kemunculan tokoh-tokoh serupa seperti Si Tolol dalam Star Magazine dan juga Oh Koen dalam Star Weekly. Komik-komik asing juga mulai masuk dan dikenal di Indonesia pada masa Kolonial Belanda. Harian Belanda De Java Bode memuat Flippie Flink dalam rubrik anak-anak. Diikuti mingguan De Orient memuat pertuangan Flash Gordon. Pada awal Perang Dunia II sebelum Jepang menduduki Indonesia, Nasrun AS membuat Legenda Mentjari Puteri Hidjau yang dimuat pada harian Ratoe Timoer yang terbit di Solo. Nasrun A.S adalah penduduk pribumi pertama yang membuat komik Indonesia. Legenda Mentjari Puteri Hidjau juga merupakan komik Indonesia pertama yang lepas dari gaya gambar kartun dan bukan merupakan komik humor.

Pada masa pendudukan Jepang, media massa diberangus dan dikontrol ketat oleh Jepang. Hal tersebut praktis menghentikan peredaran komik-komik strip yang sudah mengisi surat kabar tempat mereka bernaung selama ini secara teratur. Setelah Jepang menyerah kepada sekutu, aktivitas media massa mengalami kesulitan mendapatkan kertas akibat pertempuran sengit yang terjadi di berbagai daerah. Kondisi ini tidak menguntungkan bagi perkembangan komik di dalam negeri. Selain itu terjadi penetrasi yang deras dari komik luar negeri. Komik-komik seperti Tarzan, Rip Kirby, dan Phantom juga sudah merambah mengisi kolom-kolom surat kabar lokal.

Pada tahun 1950-an komik Indonesia baru dapat bergerak kembali.

Abdulsalam muncul sebagai pelopor dengan komik Kisah Pendudukan Jogja dan Pangeran Diponegoro lewat harian Kedaulatan Rakyat. Kisah Pendudukan Jogja ini kemudian menjadi komik Indonesia pertama yang dibukukan. Di luar Abdulsalam, salah satu komik yang patut mendapat perhatian pada periode revolusi kemerdekaan adalah Sie Djin Koei karya Siaw Tik Kwie yang dimuat pada majalah Star Weekly. Komik yang ceritanya mengambil dari legenda Tiongkok ini kepopulerannya mampu mengalahkan Flash Gordon, Tarzan, dan juga jagoan-jagoan asing lainnya.

Munculnya gerakan anti-komunis yang dibarengi dengan perpindahan kekuasaan ke Orde Baru mengakibatkan ditutupnya semua surat kabar yang dianggap berafiliasi dengan komunis, termasuk diantaranya Star Weekly yang memuat Put On. Di sini perjalanan panjang Put On yang menjadi pelopor komik Indonesia berhenti.

Ringkasan tentang Munculnya Orde Baru

Rezim Orde Baru yang militeristik memungkinkan militer memiliki “Dwifungsi”, yakni untuk menjaga negara dari ancaman baik dari luar maupun dalam negeri. Hal tersebut membuat militer memiliki posisi yang kuat dalam politik dan pemerintahan, termasuk memiliki jatah kursi yang cukup besar dalam parlemen. Di bawah sistem ini militer memiliki peran sebagai administrator pada semua tingkat pemerintahan. Akibatnya militer menjadi ikut terlibat dalam penyusunan kebijakan-kebijakan politik Orde Baru. Dari sini semua organisasi baik politik maupun sosial mendapatkan pengawasan langsung oleh militer.

Meski demikian, pemerintahan Orde Baru memilih untuk lebih berfokus pada perbaikan dan pengembangan ekonomi sebagai tujuan utamanya. Karenanya di satu sisi ekonomi Indonesia mampu terpulihkan dan juga berkembang pesat meski nyatanya bersandar pada hutang luar negeri yang sangat besar. Namun di sisi lain perkembangan ekonomi ini juga dibarengi dengan praktek korupsi yang merajalela serta kesenjangan ekonomi dan sosial yang semakin lebar antara masyarakat kelas bawah dan kelas atas.

Pada masa Orde Baru stabilitas dan keamanan negara merupakan prioritas utama. Usaha rezim untuk memelihara dan menjaga legitimasi dan hegemoninya tidak hanya ditempuh melalui pembangunan ekonomi, namun juga tindakan-tindakan represif. Dalam hal ini militer juga berfungsi sebagai instrumen utama pemerintah dalam menjalankan tindakan-tindakan represif tersebut. Tindakan-tindakan yang brutal terkadang digunakan rezim ini untuk membungkam orang-orang yang dianggap membahayakan stabilitas pemerintahan. Sebagaimana tindakan-tindakan represif dilakukan, usaha-usaha bersifat persuasif juga dilakukan dengan mengawasi ketat media massa dan juga lembaga-lembaga pendidikan. Pada dasarnya negara mencoba memanfaatkan media massa dan lembaga-lembaga pendidikan tersebut sebagai instrumen hegemoninya.

Orang-orang Tionghoa di Medan Komik Indonesia

Namun bagi komik yang tergantung pada industri cetak, suasana negara yang lebih stabil membawa kemapanan pada industri percetakan di Indonesia. Hal ini mengakibatkan permintaan akan komik menjadi semakin besar. Penerbit tidak kesulitan untuk mendapatkan komikus, karena banyak komikus-komikus baru yang mengejar popularitas dan mau dibayar rendah. Masa akhir 1960-an dan awal 1970-an dikenal sebagai masa keemasan komik di Indonesia, anggapan itu bukan tidak berdasar karena karena setiap bulannya terbit puluhan judul komik di dalam negeri. Hal tersebut menjadikan pasar komik Indonesia berkembang meski tidak diimbangi dengan kemampuan penggarapan komik yang baik.

Meskipun komik digemari oleh masyarakat, menjadi komikus bukanlah pekerjaan yang dianggap bergengsi pada saat itu. Orang-orang yang kemudian mau mengambil pekerjaan yang kurang bergengsi itu adalah orang-orang Tionghoa.

Di Jakarta pada waktu itu dikenal lima serangkai yang disebut-sebut sebagai lima komikus terbesar ibu kota, mereka adalah Ganes Th, Hans Jaladara, Jan Mintaraga, Zaldy, dan SIM. Ganes Th dan  Hans Jaladara dikenal lewat komik-komik silatnya, sementara Jan Mintaraga, Zaldy, dan Sim dikenal lewat komik-komik romannya. Dari kelima orang tersebut empat di antaranya adalah Etnis Tionghoa, hanya Jan Mintaraga yang bukan merupakan orang Tionghoa atau keturunan.

Di sisi lain, kebanyakan penerbit-penerbit komik yang ada pada kisaran akhir tahun 1960-an dan awal 1970-an juga merupakan orang-orang Tionghoa, Karya-karya para komikus yang memiliki nama besar baik yang merupakan keturunan Tionghoa maupun yang bukan seperti Teguh Santosa, dan Djair Warni, hampir seluruhnya merupakan dipegang oleh penerbit-penerbit yang dipegang oleh orang-orang Tionghoa.

Esei

Terpopuler Dalam Seminggu