Tagar Konten bertagar dengan "literasi"

literasi

Oleh -
0 465
Pertarungan
Ilustrasi konflik dan pertentangan

Pernah menyindir teman, saudara, atau siapapun di media sosial? Sebagian mungkin pernah, bahkan sering, dan sebagian lainnya mungkin tidak berpikir ke arah itu. Menyindir orang lain melalui media sosial ini memang menyenangkan –bagi yang suka- dan mungkin cukup efektif untuk menyampaikan pesannya. Tapi jangan dikira bahwa sindir menyindir secara terbuka seperti itu hanya terjadi di era media sosial sekarang ini saja. Paling umumnya, sindir menyindir ini sebenarnya terjadi di dunia sastra, mungkin juga musik. Salah satunya yang paling saya ingat di medan sastra lokal adalah jurnal boemipoetra yang selalu menyerang Goenawan Mohamad dan gengnya.

Yang terakhir lagi, sebuah catatan dari Anindita S. Thayf di facebooknya yang menyerang “sastrawan sosialita” di mana kolom komentarnya juga dipenuhi argumen argumen penulis lain yang tidak setuju dengan pendapatnya, salah satunya Ika Natasha. Di dunia musik, Rhoma Irama menulis lagu berjudul “Musik” untuk membalas kecaman salah satu kelompok rock bernama “Giant Step” yang menyebut musik Rhoma sebagai “musik tai anjing”.

Nah, bagaimana dengan dunia komik?

Di akhir 60an, terjadi sebuah konflik yang cukup serius antara Ganes TH dan A. Tatang S. Ganes TH adalah komikus legendaris yang terkenal dengan Si Buta Dari Gua Hantu, dan A. Tatang S, komikus yang lebih kita kenal melalui komik Gareng Petruknya, membuat sebuah komik parodi berjudul Si Gagu Dari Gua Hantu. Dalam sebuah forum komik di facebook, Hans Jaladara mengatakan bahwa akar konflik bermula pencurian ide. Ganes TH sebagai salah satu komikus yang dituakan pada masa itu, sering menerima konsultasi untuk para komikus komikus lainnya, termasuk A. Tatang S, bahkan mungkin saling berbagi ide.

Namun rupanya A. Tatang S justru menerbitkan ide komik dari Ganes TH tersebut lebih dulu dengan penerbit lain. Tentu saja hal ini membuat Ganes berang. Konflik kedua komikus ini ikut diperkeruh oleh penerbit masing masing: Ganes TH dengan penerbit Eres dan A Tatang S dengan Sastra Kumala. Maka lahirlah komik parodi (kalau tidak bisa dibilang plagiat) paling menghebohkan dalam sejarah komik modern di Indonesia: Si Gagu dari Gua Hantu karya A. Tatang S yang diterbitkan oleh Sastra Kumala.

sampul si Gagu dari Gua HntuChandra Agusta | Sekuensi.com
Sampul si Gagu dari Gua Hantu

Dalam Si Gagu Dari Gua Hantu, A. Tatang S menjadikan Ganes TH –di komik disebut sebagai Mat Ganes- sebagai tokoh penjahat yang mati dibunuh oleh Si Buta -salah seorang penjahat lain dalam komik ini- dalam sebuah pertarungan. Si Buta ini kemudian mati terbunuh pula oleh Tokoh utama komik ini, yakni Si Gagu dari Gua Hantu.

Dilihat dari penggambaran karakternya, memang bisa diartikan bahwa A. Tatang S memang berniat untuk menyerang Ganes TH. Penamaan karakter penjahat sebagai Mat Ganes, kemudian Tokoh Si Buta yang berubah menjadi antagonis, hingga akhirnya kedua Tokoh tersebut mengalami nasib yang sama: kematian.

Ganes TH, di pihak lain, kemudian menerbitkan Tjisadane, Januari 1969 di bawah bendera penerbit Eres. Dalam komik itu Ganes membuat sebuah Tokoh bernama Atang, seorang tukang comot dan pengkhianat, yang hidupnya berakhir dengan cara dibunuh.

Konflik ini tak berhenti sebatas sindiran dalam panel gambar dan balon kata saja. Sebuah kelompok bernama IKASTI (Ikatan Seniman Tjergam Indonesia) membuat sebuah surat protes kepada Kepala Seksi Bina Budaja, Komdak VII Djaja, yang mungkin merupakan pemegang otoritas penerbitan komik saat itu. Surat bertanggal 3 Juli 1969 tersebut berisi tuntutan untuk mencabut izin terbit komik Si Gagu dari Gua Hantu serta memusnahkan semua edisi yang telah beredar.

panel dalam komikChandra Agusta | Sekuensi.com
Adegan dalam komik
panel dan suratChandra Agusta | Sekuensi.com
panel komik dan surat protes para komikus

Komik Indonesia pada masa itu biasanya terbit berkala. 1 judul terdiri dari belasan jilid. Sepanjang konflik itu, pada komik komik Si Gagu yang terbit berkala tersebut, A Tatang S juga tampak mencoba meraih dukungan dari rekan rekan sesama komikus. Ia menuliskan salam (menuliskan salam dan ucapan dalam komik ini adalah hal yang sangat biasa pada komik pada waktu itu, anda bahkan bisa menemukan semacam dukungan untuk Rano Karno –waktu itu masih aktor cilik- dari Kus Bram dalam komiknya Labah Labah Merah) kepada Sim, Zaldy, dan Jan Mintaraga (juga istrinya, Linda) untuk menggalang kekuatan. Ironisnya, Zaldy dan Jan, beserta Hans Jaladara, Toha, dan Absony, justru ikut menandatangani surat protes dari IKASTI yang mendukung Ganes TH. Pada akhirnya, komik Si Gagu Dari Gua Hantu ini tak pernah dilanjutkan.

Komik HarChandra Agusta | Sekuensi.com
Sebuah sindiran dalam komik
Komik-panelChandra Agusta | Sekuensi.com
Si Buta?

Selain konflik dua komikus di atas, beberapa yang saya temukan lainnya, yaitu sindir menyindir dalam komik karya Har berjudul Sanggar Atas Angin. Dalam sebuah panel, Har menyindir Anda S. dengan mengatakan bahwa komik Anda memiliki tema cerita yang hampir mirip dengan karya Absony, Anak Kuburan.

Plagiarisme nampaknya adalah pemicu konflik yang paling utama dalam dunia dunia kreatif termasuk dunia komik, namun tentu tak hanya itu.  Sebagai tambahan, walaupun ini mungkin bukanlah konflik konflik, adalah komik karya Kharisma Jati, God You Must Be Joking, yang menyebut-nyebut, atau menggambarkan Beng Rahadian.

God You Must be Jocking
Chandra Agusta | Sekuensi.com Salah satu strip GYMBJ (credit: K Jati)

Yang paling baru, beberapa tokoh komikus dan pemerhati komik tanah air menuliskan status dukungan dan kecaman (beberapa diantaranya berbentuk komik) sebagai respon terhadap konflik -katakanlah begitu- antara Sheila Rooswitha dan Kharisma Jati. Jati memang dikenal dengan komik komiknya yang liar, baik ide maupun visualnya. Komik komiknya kerap menampilkan adegan sadis dan konten konten berbau seksual (walaupun tak semuanya begitu, tentu saja). Dalam sebuah komiknya yang diunggah di internet, Jati dianggap menyerang Sheila Rooswitha secara personal. Hal ini memancing reaksi komikus komikus lain, terutama juga yang concern pada isu isu pornografi dan kekerasan seksual.

fb_img_1477904505437Chandra Agusta | Sekuensi.com
Komik Aji Prasetyo

Demikian sekelumit kejadian dalam dunia komik tanah air, sekiranya bisa menjadi bahan obrolan ringan antar sesama penggemar komik tanah air.

Catatan:

* Tulisan ini dibuat berdasarkan sebuah postingan John De Rantau berjudul 100 Komik Indonesia Terbaik Yang Harus Dibaca Sebelum Kau Mati, 10/100 di grup facebook “Komik Indonesia Semua Zaman” (dapat dilihat di link ini). Foto dan juga diambil dari tempat yang sama. Credit untuk semua yang terlibat dalam diskusi tersebut, mohon maaf tak bisa disebut satu persatu karena terlalu banyak.

* Gambar panel komik Har diambil dari postingan Ardian Syamsi, masih di grup facebook “Komik Indonesia Semua Zaman”

* Gambar komik God You Must Be Joking diambil dari facebook Kharisma Jati

Gambar Komik buat Lala dari Aji Prasetyo diambil dari facebook Aji Prasetyo

 

Oleh -
0 129
Aksen-Simon-Hureau-Poster

Komikus Perancis, Simon Hureau, akan datang ke Indonesia. Beberapa kota akan disinggahinya termasuk Yogyakarta dan Solo. Di Yogyakarta Hureau akan mengadakan workshop komik, pameran, dan diskusi komik pada Rabu, 4 November dan Kamis, 5 November 2015.  Anda bisa menyimak informasinya melalui poster yang tertaut di bawah ini.

Aksen-Simon-Hureau-Poster-Jogja
Workshop, pameran dan diskusi komik di Jogja

Menurut kabar, Hureau menerbitkan komik dewasa (“novel grafis”) pertama kalinya pada tahun 2003. Simon Hureau juga menerbitkan beberapa kisah perjalanan, beberapa karya untuk anak  kecil, namun kebanyakan karya yang ia terbitkan katanya berjenis “novel grafis”.

Setelah Yogyakarta, Solo adalah kota yang juga bakal dikunjungi Hureau. Di Solo acara yang diadakan bertajuk “Jamstrip Party with Simon Hureau”, dan rencananya bakal diadakan pada tanggal 6 dan 7 November.

Oleh -
0 57
Aksen-Island-of-Images
Nomor ArsipAS0001KT
JudulIndonesian Comics in Island of Images
PengarangIwan Gunawan & Hikmat Darmawan (editor)
Tahun Terbit2015
Jumlah Halaman24
PenerbitComics Exhibition Team of Indonesian Guest of Honor Franfurt Book Fair 2015 & re:ON Comics

Island of Images: Preview

Kebanyakan orang sudah tahu bahwa tahun ini Indonesia menjadi tamu kehormatan di ajang Frankfurt Book Fair (FBF)yang sudah berlangsung pada 19-23 Oktober 2015 silam. Ajang yang mempertumkan para pelaku bisnis buku di seluruh negara itu juga menghadirkan komik-komik Indonesia, yang mendapatkan tempat untuk dipajang di sana.

Kharisma Jati dan Aji Prasetyo, dua komikus Indonesia yang berkesempatan hadir di ajang tersebut, kembali ke Indonesia dengan membawakan oleh-oleh berupa buku kecil dengan visual sampul berwarna hitam yang terlihat sederhana. Buku tersebut berjudul Indonesian Comics in Island of Images. 24 halaman buku tersebut memuat dua tulisan kuratorial tentang komik Indonesia.

Satu ditulis oleh Iwan Gunawan berjudul Brief History of Indonesia Comics; sementara satu lagi ditulis oleh Hikmat Darmawan dan berjudul Indonesian Comics in the Map of World Graphic Novel. Kedua penulis tersebut sekaligus adalah kurator untuk pameran komik di FBF 2015.

Halaman-halaman lain di dalam buku tersebut berisi profil singkat masing-masing komikus yang berangkat ke Frankfurt dan juga siapa kurator yang bertanggung jawab menyeleksi komik-komik yang dipajang di ajang tersebut.

Tampaknya buku tersebut ditujukan bagi para pembaca/penikmat komik di luar Indonesia (baca: para bule yang ingin tahu tentang komik Indonesia, yang datang ke FBF) yang ingin mengetahui sedikit gambaran tentang medan komik Indonesia.

Hanya saja, meski ada label “kurator” yang disematkan sebagai keterangan di dalam Island of Images, buku kecil tersebut tidak memberikan keterangan lengkap tentang karya mana saja yang turut berangkat dan dipajang di Frankfurt Book Fair.

Memang di tulisan kedua kurator – Hikmat Darmawan dan Iwan Gunawan – pembaca akan menemukan sejumlah gambar komik yang dilengkapi keterangan siapa komikus yang menciptakannya; namun sulit ditemukan keterangan lanjutan, terutama yang bisa menjawab pertanyaan di atas.

Island of Images: Galeri

Oleh -
1 428
Aksen-Harimau-Dari-Madiun-plus-1

Oleh: Kurnia Harta Winata

Mengapa Aji Prasetyo memutuskan rasa iba kepada petani sebagai alasan Sentot Prawirodirjo meninggalkan Diponegoro dan bergabung dengan Belanda? Aji melakukannya pada “Harimau dari Madiun”, sebuah komik pendek yang ia buat berdasar sejarah perang Jawa. Ia memainkan ruang kosong dalam sejarah. Ia isi kekosongan itu dengan imajinasinya.

Untuk memahami apa yang dilakukan Aji pada “Harimau dari Madiun”, kita perlu mencermati komik-komik Aji yang lain. Aji adalah komikus yang konsisten. Hampir semua komik-komiknya memiliki nafas yang sama. Perlawanan terhadap penindas.

Perlawanan Aji tidak sekadar perlawanan biasa ala umumnya komik kritik sosial. Komik-komik Aji, seperti yang bisa kita baca di “Hidup Itu Indah” dan “Teroris Visual” adalah komik-komik yang mengajak berkelahi. Ia menyerang secara terbuka lawan-lawan ideologisnya. Provokatif. Sengaja memanas-manasi pembaca dengan harapan mereka mendidih marah kemudian bertindak.

Logika maupun data yang ia paparkan dalam komiknya serupa amunisi yang ia bagikan kepada para pembaca. Siap untuk langsung digunakan dalam adu argumen. Termasuk fakta-fakta sejarah yang sering ia kutip.

Namun kita harus bijak dalam memandang sejarah. Teks sejarah tidak pernah benar-benar obyektif. Ketika sejarah dituturkan, ia tidak pernah bisa lepas dari bingkai. Mana yang diceritakan dan mana yang tidak. Kadang pemilihan ini dilakukan dengan maksud menggiring pembaca ke arah opini tertentu. Kadang pemilihan ini memang sesuatu yang tidak terelakkan karena ruang yang terbatas. Mau tidak mau penutur harus memilah, ini diceritakan dan itu tidak. Tentu dengan alasannya tersendiri. Alasan inilah yang membuat teks sejarah saya sebut sebagai subyektif.

Seingat saya saat sekolah dahulu, Pangeran Diponegoro dikisahkan kalah karena kelicikan Belanda. Belanda yang frustasi seolah tak akan menang jika ia tidak berbuat curang. Dalam keadaan hampir bangkrut, Belanda mengajak Diponegoro berunding. Dalam perundingan itu Diponegoro ditangkap dengan liciknya. Ia dijebak. Itu gambaran yang tertanam di kepala.

Ketika saya dewasa dan mulai membaca teks sejarah di luar pelajaran sekolah, saya mulai mendapati gambaran yang lain. Saat perundingan terjadi, Diponegoro sudah dalam keadaan terjepit. Kekalahannya hanya menunggu waktu. Buku Sejarah Nasional Indonesia (buku babon sejarah Indonesia!) menyatakan kalau perundingan itu adalah strategi Belanda untuk mengalahkan bangsa Jawa dengan budaya Jawa itu sendiri. Menang tanpa ngasorake. Menang tanpa merendahkan yang kalah. Belanda memberi muka pada Diponegoro. Beberapa sumber barat bahkan menyatakan bahwa Diponegoro memang menyerah dalam perundingan itu.

Perang Jawa memang sangat dahsyat. Pangeran Diponegoro muncul sebagai ikon perlawanan rakyat terhadap penguasa penindas. Ia mengobarkan perang terhadap Belanda tidak dalam kapasitasnya sebagai raja, pun tidak dalam rangka merebut kekuasaan. Ini yang saya tangkap sebagai alasan mengapa Aji tampak terobsesi dengan Perang Jawa. Perjuangan Diponegoro dalam perang Jawa paralel dengan perjuangannya melalui komik. Perlawanan terhadap penindas.

Kalau kita melihat pernyataan Aji mengenai “Harimau dari Madiun”, kita bisa mendapatkan nafas yang serupa.

“Kini saatnya warga Madiun membangun kepercayaan dirinya. Mereka berhak tahu bahwa banyak tokoh legendaris yang lahir dari sana. Bahwa Madiun adalah kampung halaman para petarung, memang begitulah adanya. Karena di sana, naluri melawan penindas sudah terwariskan dari generasi ke generasi.”

“Masa Madiun cuma dikenal karena pemberontakan PKI-nya?” ujar Aji.

Secara efektif, komik ini memiliki 33 halaman. Ada enam bagian pokok yang dipaparkan.

Pertama, kehidupan tenang dan bahagia petani era pasca perang Jawa. Bagian ini digunakan sebagai pembuka dan penutup cerita.

Kedua, keahlian Sentot dalam berperang. Diceritakan bagaimana Sentot menyusun strategi, kepiawaian prajuritnya yang mantan petani dalam “membunuh”, dan tentara Belanda yang gentar dan tak mampu berbuat apa-apa menghadapi pasukan Sentot.

Ketiga, penjelasan singkat tentang latar perang Jawa dan motivasi Pangeran Diponegoro.

Keempat, penjelasan tentang Raden Ronggo Prawirodirjo III, ayah Sentot Prawirodirjo, yang berani angkat senjata melawan Belanda. Sikap ini diyakini turut menginspirasi sikap Pangeran Diponegoro.

Kelima, keadaan rakyat yang sengsara semasa perang. Dalam keadaan miskin dan kelaparan, terlebih mereka masih merasa harus membayar pajak kepada pasukan Pangeran Diponegoro.

Keenam, Sentot memutuskan berperang karena kasihan pada rakyat yang diperjuangkan malah jadi semakin menderita.

Aji tampak merasa harus memberikan begitu banyak informasi untuk mendukung gagasannya. Motivasi Pangeran Diponegoro mengobarkan perang Jawa diberikan karena itu tampak sejalan dengan motivasi Sentot maju berperang. Menghancurkan penguasa yang menyesengsarakan rakyat.

Cerita tentang pertempuran pasukan Sentot dan pasukan Belanda digunakan untuk menggambarkan bahwa bukan hanya muncul sebagai petarung handal, Sentot juga ahli dalam menyusun taktik.

Ayah Sentot pun disebut-sebut sebagai orang yang dikagumi oleh Pangeran Diponegoro. Coba kita kutip salah satu dialog antara Sentot dan orang kepercayaan ayahnya,

“Paman, jawablah dengan jujur. Apakah persamaan antara aku dengan ayahku?”

“Hehe, Raden…kalian tidak ada beda, dalam hal apapun!”

Dialog ini ditempatkan Aji persis di bawah teks yang menerangkan kalau Pangeran Diponegoro sangat mengagumi ayah Sentot. (Gambar 1)

Aksen-Dialog-dalam-Harimau-dari-MadiunAji Prasetyo

Teks sejarah hanya menyebut kalau Sentot menyerah pada Belanda. Ini tidak dapat dibiarkan Aji. Dalam rangka membuat Sentot Prawirodirjo sebagai icon Madiun penghasil petarung heroik yang berdiri melawan penindas, Aji tidak bisa membiarkan Sentot menyerah sebagai pengecut. Sentot harus memiliki alasan mulia.

Sentot yang digambarkan dalam komik ini perkasa tak terkalahkan akhirnya memutuskan berhenti berperang. Dalam dialog, ia berujar kalau perang ini sudah tak dapat ia menangkan. Ia kasihan harus melihat rakyat menderita lebih lama. Ini adalah alasan yang dihadirkan Aji, diselipkan ke dalam ruang kosong sejarah.

Aji juga memperlihatkan hasil dari pilihan Sentot. Petani yang berkidung bahagia, hidup tenang dan sejahtera selepas perang. Sentot tidak salah dengan keputusannya.

Aji menaruh keterangan tentang kelanjutan kisah ini di akhir halaman. Setelah bergabung dengan militer Belanda, Sentot dikirim berperang ke Sumatera melawan kaum Padri.

Entah disengaja atau tidak, penutup ini terasa begitu ironis bagi yang mengerti tentang sejarah perang Padri. Diponegoro mengobarkan perang Jawa dalam semangat memerangi kafir dan menegakkan negeri Islam, sedang kaum Padri berperang dalam semangat yang sama – melawan kaum kafir demi menegakkan negeri Islam.

Begitu banyaknya hal yang ingin disampaikan dalam komik ini membuat informasi berdesakan. Informasi-informasi ini kebanyakan disampaikan dalam bentuk dialog panjang. Beberapa bahkan seperti teks sejarah yang diberi ilustrasi. Praktis, hanya bagian penyergapan terhadap pos Belanda yang dihadirkan menggunakan kekuatan sekuensial komik.

“Harimau dari Madiun” menelantarkan struktur cerita dan tangga dramatik. Saya akan keburu menuduh Aji sebagai tidak mampu kalau saja tidak mengikuti komik-komiknya sejak awal karirnya sebagai komikus.

Sejalan dengan komik-komiknya yang lain, saya menduga kalau Aji memang sengaja meninggalkan itu semua. Ia mengambil sikap menelantarkan eksplorasi artistik maupun seni bertutur dalam komik. Ia lebih memilih fokus kepada gagasan-gagasan maupun ideologi yang ingin ia sampaikan.

Dengan sikap itulah “Harimau dari Madiun” dibuat. Sikap untuk membuat sosok yang dapat membangkitkan rasa percaya diri dan mengobarkan perlawanan terhadap penindas.

Dalam ruang kosong sejarah, Aji Prasetyo memberi Sentot Prawirodirjo muka. Muka yang sama yang diberikan pada Pangeran Diponegoro. Yang tidak kalah dalam peperangan tapi kalah karena kecurangan penjajah. Bedanya muka yang diberikan pada Diponegoro berdasar pada teks sejarah, sedang muka yang diberikan pada Sentot berdasar imajinasi Aji Prasetyo.

Oleh -
0 168
Aksen-Hidup-dan-Mati-di-Tanah-Sengketa

Beberapa waktu lalu, bertepatan dengan hari kebangkitan nasional, sekelompok mahasiswa mengadakan demonstrasi dengan mengangkat tema yang menurut sebagian orang adalah rasis, yaitu tentang pribumi dan non pribumi. Menurut akun twitter organisasi mahasiswa yang menginisiasi demonstrasi tersebut, isu tersebut diangkat karena mereka melihat ketimpangan sosial ekonomi antara pribumi dan non pribumi (dalam terminologi yang mereka maksudkan).

Organisasi mahasiswa ini menganggap bahwa etnis non pribumi, Tionghoa peranakan, mendominasi sektor ekonomi di Indonesia, dan kaya raya, sedangkan etnis pribumi (entah siapa yang dimaksudkan dengan pribumi ini) hidup miskin dan menderita. Sangat picik memang, dan menyedihkan, betapa kebencian berbau rasial macam begitu masih ada di negeri ini.

Saya pikir, selain membaca kitab kitab suci dan buku buku teori (seandainya mereka benar benar membaca), kelompok tersebut setidaknya perlu membaca komik yang bakal saya bahas ini: Hidup Mati di Tanah Sengketa, karya Redi Murti, yang diterbitkan oleh Milisi Fotocopy, Surabaya.

***

Komik yang terbit tahun 2014 ini adalah komik eksperimental yang berkisah tentang kehidupan warga Tionghoa peranakan yang miskin di kawasan kumuh di sudut kota Surabaya, Tambak Bayan. Seperti layaknya sebuah kota yang terus menerus membangun, Surabaya – yang merupakan kota terbesar kedua di negeri ini – seperti juga kota kota besar lain, tak pernah lepas dari permasalahan permasalahan sosial seperti yang dimaksud komik tersebut, termasuk juga di dalamnya kemiskinan struktural dan okupasi lahan oleh pemilik modal atas nama pembangunan yang mengancam masyarakat miskin di kawasan itu.

Nampaknya paradigma pembangunan tak pernah berubah sejak dahulu, atau setidaknya sejak era Orde Baru. Kebijakan pembangunan kawasan selalu dilakukan dengan skema top down, di mana pengambil kebijakan membuat program program pembangunan dari balik meja dengan melibatkan pemilik modal tanpa merasa perlu untuk mendapatkan persetujuan/aspirasi penduduk sekitar. Orang-orang lokal cenderung dianggap sebagai bodoh, tidak mampu berpartisipasi, dan cenderung diposisikan sebagai penghambat bagi pembangunan. Hal itu pulalah yang diangkat Redi dalam komik ini. Dalam pengantarnya, disebutkan:”komik ini layak dimiliki dan dibaca oleh mereka pencinta dan pemerhati masalah perkembangan kota sebagai salah satu referensi sejarah kampung pecinan di Surabaya yang terancam punah, oleh beton beton modern para pemodal, yang belum tentu bermanfaat bagi masyarakat Surabaya”

Komik ini terbagi dalam dua bagian. Pada bagian I, Kisah dimulai dari Dani, seorang pemuda peranakan Tionghoa di Tambak Bayan, menemukan sebuah foto lama di lemari ibunya. Foto ibunya, Boboh, dan dua orang temannya di masa muda, saat masih anak-anak. Dani yang penasaran lalu bertanya pada ibunya. Lalu mulailah si ibu menceritakan kehidupannya di masa lalu, sebagai bagian dari sejarahnya, yang juga sejarah orang orang Tionghoa peranakan di Indonesia, khususnya Tambak Bayan.

Tersebutlah Lie Jiuwee, teman Boboh dalam foto tersebut, yang pada tahun 1930-an datang ke Surabaya bersama orangtuanya, dengan kapal laut, mengungsi dari daerah asalnya, RRT (Republik Rakyat Tingkok – ed), karena situasi ekonomi politik RRT yang sedang bergejolak saat itu. Tak lama setelah berada di Surabaya, ayah Jiuwee meninggal dunia. Ibunya tak punya cukup uang untuk terus menyekolahkannya, maka Jiuwee kecil ini berjualan untuk membantu keuangan keluarga.

Waktu berjalan, Jepang menguasai kota di tahun 1942. Situasi mulai berubah, suasana tak aman, perang terjadi di sana-sini. Sebagian penduduk yang punya cukup uang pindah ke Malang, daerah yang lebih kondusif dan aman pada saat itu. Jiuwee tidak pindah, tentu saja karena kemiskinannya. Pada tahun 1945, terjadi perang antara tentara pendudukan Jepang dan tentara republik yang dibantu pemuda. Pada waktu itu pula, salah satu anak di foto yang ditemukan Dani tersebut, teman Jiuwee dan Boboh, tewas terbunuh. Boboh mengenangnya sebagai kisah yang gelap dalam sejarah hidupnya.

Paska kemerdekaan republik, suasana kembali berubah. Kampung kampung di Surabaya mulai menggeliat, hingga saat terbitnya peraturan pemerintah di tahun 1959 tentang keharusan warga pendatang (Tionghoa) merubah status kewarganegaraan menjadi WNI. Banyak dari warga Tambak Bayan yang kemudian kembali ke negara asalnya, RRT. Warga Tionghoa tersebut makin terjepit paska 65, setekah terjadi genosida besar besaran terhadap para pendukung komunis. Mereka, karena rasnya, dicurigai dan dianggap ikut mendukung Peking (Beijing) dan ideology komunisnya.

Pada bagian kedua, dikisahkan tentang keadaan Tambak Bayan setelah kemerdekaan. Banyak warga Tionghoa totok dan peranakan diharuskan untuk menjadi WNI dengan segala kerumitan birokrasinya. Di era Orde Baru, daerah ini tak luput dari pembangunan a la Soeharto, di mana pemilik modal menjadi anak emas pembangunan.

“Segalanya cepat dilupakan. Tak ada bekas masa lalu. Pendisiplinan terjadi pada segala aspek kehidupan. Sementara, laju peradaban kota terus menggilas sekelilingnya yang dianggap ketinggalan.” Demikian tulis Redi dalam narasinya di halaman 39.

Era Orde Baru berlalu, yang tersisa hanyalah kesenjangan sosial ekonomi yang sangat nyata nampak dari bangunan bangunan gedung yang berhimpit dengan rumah rumah yang sepersekian kecilnya dibandingkan gedung gedung itu.

Perlawanan akan okupasi kepemilikan tanah ini bukan tak ada. Tersebutlah Seno, Paman, Murtini, dan Gepeng, yang mengorganisasikan penduduk setempat untuk mempertahankan tanah tanah mereka. Pada beberapa tahap mereka berhasil. Namun seperti juga banyak perlawananan lainnya, konsistensi untuk terus berjuang adalah hal yang mahal harganya. Kebutuhan hidup yang lain tampak lebih mendesak. Dan orang orang kemudian memilih berdamai dengan keadaan, kekalahan mereka.

Komik Redi ini bukanlah komik fiksi dengan penokohan protagonis dan antagonis yang tegas ataupun plot cerita yang dipenuhi konflik konflik dan dramatisasi yang sedemikian rupa. Komik ini lebih menyerupai reportase/dokumentasi sejarah dan kisah hidup penduduk Tambak Bayan, yang meski nampak sangat datar dalam alur cerita, namun sangat gelap, dan penuh dengan rasa keputusasaan yang dalam dan kelelahan yang sangat. Tentang bagaimana orang orang akhirnya menyiasati hidupnya yang keras dengan cukup memikirkan dirinya sendiri. Pemilihan kata kata dalam narasi komik ini sangat tepat untuk menggambarkan suasana itu.

“Orang orang sudah lelah, terpuruk oleh rencana dan kebutuhan sehari hari yang mendesak. Disibukkan dengan tetek bengek kenyataan lainnya yang tak perlu masuk akal”. Demikian gambaran Redi untuk suasana penduduk Tambak Bayan. Lebih lanjut ia menulis: “Mereka hanya menunggu giliran waktu, mengatur strategi bagaimana berkompromi dengan semua peristiwa nyata, yang hanya menjadi berita sekilas dalam Koran. Berita umum yang semua orang sudah menganggapnya lumrah, biasa saja, salahnya “pemerintah”, salahnya warga, salahnya pendatang, semua tampak bersalah di mata pembaca. Berita yang paginya nangkring sebentar, lalu esok paginya cabut, tergantikan oleh berita yang lebih sadis!”

Ya begitulah, arus informasi yang demikian deras, membuat pembaca terbiasa akan hal hal yang begitu begitu saja, bahkan untuk konflik konflik kemanusiaan sekalipun. Kita bahkan tak mampu lagi memilah mana informasi yang penting dan mana yang tidak penting, alih alih ikut ambil peduli dalam masalah masalah tersebut. Kita tersesat dan berputar putar dalam arus kedangkalan informasi dan kehilangan fokus, juga kehilangan diri sendiri.

Saya pernah menetap di Surabaya kurang lebih selama dua tahun. Pada masa itu saya menetap di kawasan pinggiran Surabaya yang tak jauh dari Tambak Bayan. Sebagai kota besar yang keras, Surabaya, seperti kota kota metropolitan yang lain, dimana kehidupan dengan kejam menggilas masyarakat miskin, tak terkecuali juga komunitas Tionghoa peranakan.

Dengan keadaan itu, saya pikir bahwa isu rasial mempertentangkan pribumi dan non pribumi karena ketimpangan kondisi sosial ekonomi, yang diangkat oleh kelompok mahasiswa yang berdemo tadi, sungguh sangat tidak relevan. Adalah benar, dan mulia, bahwa kita, atau sebagian dari kita, terlibat dalam kepedulian untuk orang lain, orang orang miskin di negara ini, namun tentunya tidak perlu, dan sangat tidak perlu, untuk memasukkan isu isu rasial di dalamnya, bukan saja karena itu sangat tidak relevan, tapi juga bahwa kemanusiaan, tidak mengenal batas batas rasial. Mengutip Mandela : “”No one is born hating another person because of the color of his skin, or is background, or his religion. People must learn to hate, and if they can learn to hate, they can be taught to love, for love comes naturaturally to the human heart than its opposite.”

Esei

Terpopuler Dalam Seminggu