Tagar Konten bertagar dengan "Milisi Fotocopy"

Milisi Fotocopy

Oleh -
0 93
Sampul Sepotong Kisah
Sepotong Kisah Pemenggal Kepala
Apa yang anda harapkan bakal didapatkan ketika membaca sebuah komik? Sedikit hiburan, kesenangan, atau apa? Bagi seorang pengamat/kritikus komik, mungkin penting baginya untuk mendedah komik, mengulitinya dalam perspektif estetika dan gaya ilustrasi, lalu menguraikan plot plot cerita serta gaya bahasa yang digunakan, hingga menelisik maksud maksud yang tersurat dan tersirat dari kumpulan gambar gambar dan balon teks itu. Namun bagi saya sendiri, membaca komik adalah tentang pengalaman personal, sebuah proses interaksi antara saya sebagai subjek dan komik sebagai objeknya. Pengalaman personal yang ditimbulkan dari aktivitas ini kemudian memunculkan perasaan perasaan tertentu, yang sangat mungkin berkaitan dengan kondisi saya sebagai subjek, juga komik sebagai objek.

Maksud saya kira kira begini, kadang kadang saya tidak bisa tertawa meskipun sedang membaca komik humor, meski di saat lainnya saya bisa tertawa terbahak bahak untuk komik yang sama. Atau katakanlah, seberapa tergugahkah anda ketika membaca sebuah komik dengan tema protes atau perlawanan? Kondisi psikologis kita sebagai pembaca pasti sangat berpengaruh terhadap interpretasi kita terhadap objek komik yang kita baca. Tapi yang paling penting, serta bisa dinilai, tentu berada pada komik itu sendiri. Seberapa mampu sebuah komik untuk mempengaruhi pembaca secara personal? Tentu saja dibutuhkan penelitian untuk menjawab pertanyaan ini, tapi sekali lagi, bagi saya yang paling penting adalah tentang bagaimana saya sebagai pembaca memperoleh pengalaman personal yang berkesan. Saya tidak tahu apakah para komikus juga memikirkan hal yang sama: bagaimanakah agar komiknya menimbulkan kesan yang mendalam -sehingga pesannya tersampaikan- bagi pembaca?

Dalam perjalanan mudik lebaran beberapa waktu yang lalu, saya membaca sebuah komik berjudul Sepotong Kisah Sepenggal Kepala karya Abdoel Semute. Komik bertahun terbit 2016 ini dicetak secara mandiri oleh Milisi Fotocopy, sebuah kolektif komik bawah tanah yang berlokasi di Surabaya. Komik komik terbitan Milisi Fotocopy sering mengambil bentuk dan tema yang tidak populer untuk ukuran komik yang beredar di tanah air, demikianlah kesimpulan saya setelah membaca beberapa judul komik yang diterbitkan oleh kolektif ini. Dalam pemilihan tema -di tengah demam komik strip humor dan komedi- Milisi Fotocopy konsisten mempertahankan tema tema kritik sosial tentang kehidupan kaum miskin kota, juga isu isu rasial, begitupun komik ini, begitu juga gaya artistiknya. Meskipun pada pengantarnya, yang ditulis oleh Rakhmad Dwi Septian  dengan eksplisit dituliskan bahwa karya ini adalah sebuah komik, istilah komik untuk karya ini sesungguhnya sangat menarik untuk didiskusikan, lantaran formatnya yang tidak lazim untuk sebuah komik yang kita kenal secara umum. Gambar gambar yang cenderung abstrak, tanpa panel panel, ditambah dengan teks yang berada terpisah dari gambar, tanpa balon teks. Melihat hal tersebut, masih layakkah karya Aboel Semute ini dianggap sebagai komik?

Kalau kita mengacu pada definisi komik menurut Scott Mcloud di bukunya yang terkenal, Memahami Komik, komik adalah “gambar gambar dan lambang lambang lain yang terjukstaposisi dalam urutan tertentu, bertujuan untuk memberikan informasi dan/atau mencapai tanggapan estetis dari pembaca”. Dari definisi itu, cukup jelas bahwa karya Abdoel Semute ini adalah sebuah komik. Lagipula, pada ajang Kosasih Award 2016, karya Abdoel Semute ini berhasil meraih Penghargaan Khusus dari juri. Pertanyaan sebelumnya tadi hanyalah sebuah gimmick saja. Lebih dari itu, saya lebih suka menganggap bahwa produk produk budaya dan kesenian sebagai proses proses pengekspresian diri ketimbang kepatuhan terhadap suatu pakem atau pencapaian estetika tertentu. Dengan demikian, bentuk macam apapun menjadi sah sah saja.

Komik ini dibuka dengan sebuah gambar hitam putih seorang pria tanpa kepala berdiri di satu sudut dan sebuah kepala tanpa tubuh tergeletak di sudut lainnya. Dalam kata pengantarnya, Rakhmad Dwi Septian mencoba menafsirkan apa yang hendak disodorkan Abdoel Semute kepada pembaca. Kisah komik dipaparkan dalam pembabakan yang dimulai dengan cerita cerita penghancuran nilai nilai dan tatanan kehidupan masyarakat oleh penetrasi kapital dalam kedoknya yang bernama pembangunan. Dapat dilihat dalm ilustrasinya, Abdoel Semute menggambarkan realitas kehidupan masyarakat dalam ilustrasi ilustrasi yang suram: tangan tangan yang tergenggam dan menggapai, lirikan mata yang bengis, potongan potongan kayu, dan pabrik pabrik. Dalam teks yang melengkapi ilustrasi, Abdoel Semute menulis: “Dari balik jendela kita menengok awan pekat menggantung mendulang berita tentang kota, tempat kita dilahirkan, tempat kita tumbuh dan besar, dan mungkin tempat kita binasa… tergerus kota yang makin rakus memangsa semua…tanah kering kerontang menjelaga hitam, pohon meranggas, udara sesa beracun penuh pestisida dan karbon monoksida –biji-bijian-beton tumbuh bak parasit dalam dahaga serupa belukar kerakusan bernama ideologi pembangunan”

Kemarahan Abdoel Semute makin tergambar dalam ilustrasi dan teks teks di halaman selanjutnya. Asap asap hitam keluar dari mulut topeng yang dikenakan seseorang di atas kepalanya, kepala kepala dalam kotak yang berjeruji, juga ilustrasi isi kepala yang dipenuhi ular. “Atas nama kerakyatan…bahkan ia juga telah merombak punden leluhur kita menjadi taman2 kota yang tak lebih dari tempat prostitusi” tulisnya lagi. Lebih lanjut ia menulis: “ …kemajuan yang mencipta gedung bertingkat dengan menyingkirkan rumah kita hingga batas pinggir kota!…hingga tanah tempat untuk menanam ari-ari sebagai bibit kelahiran hingga tempat menanam bangkai bangkai tak luput dari penggusuran”. Ilustrasi ilustrasi kepala dengan leher terikat tali dan mulut ternganga mengepulkan asap, sendok dan garpu di atas piring kosong, dan seseorang dengan leher terkulai duduk di atas kursi, dan lelaki tanpa kepala memegang sebatang rokok yang mengepulkan asap, menatap kursi kosong di hadapannya, membentuk atmosfer yang kelam dan penuh kemuraman, menggambarkan kelaparan dan penderitaan hidup. Narasi yang tertulis menegaskan gambaran itu: “sambil sesekali  memukul2 sendok dan garpu pada piring seng karatan yang kosong sejak kemarin! Sejak prasejarah! Sejak para raja masih berkuasa! Sejak kidung gemah ripa loh jinawi menjadi dongeng sebelum tidur untuk anak anak yang merengek minta makan dan terus bertanya mengapa sawah yang mereka semai tiak berbuah beras!” Hiperbolik, tapi juga sangat menohok ulu hati. Di bagian selanjutnya, nampaknya Abdoel Semute menantang kita, atau entah siapa, dengan runtutan pertanyaan: “beranikah engkau berdiri telanjang meninggalkan jubahmu dan mengurai auratmu? Kelaminmu? Meninggalkan kursi kayu tempatmu selama ini bersembunyi?” sambil tetap melancarkan serangan bertubi tubi pada objek objek yang menurutnya pantas dihakimi. Kemarahannya pada tayangan televisi, pola pola pendidikan, dan merosotnya moralitas, tergambar dalam prosa prosa teks yang melengkapi ilustrasi.

Pada bagian akhir, seperti dikutip dari kata pengantarnya, Abdoel Semute mencoba menawarkan pilihan bagaimana kisah kisah sebelumnya akan diakhiri: bisa berakhir indah, kemenangan, kekalahan meratapi kesedihan, atau kegamangan. Ilustrasinya berubah dari kemelut perkotaan menuju ke suasana di desa. Kelahiran seorang bayi yang dirayakan di pinggir hutan, tradisi menanam, dan orang orang yang berpakaian seperti masyarakat jawa. Pada bagian akhir ini Abdoel Semute menghilangkan sama sekali teks dan narasi yang muncul pada bagian bagian sebelumnya, yang memang mungkin berarti bahwa ia membuka interpretasi seluas-luasnya kepada pembaca, tentang bagaimana hal hal yang ia uraikan sebelumnya harus diakhiri.

*****

Dilihat dari isinya, komik ini jelas bukan jenis komik untuk berhaha-hihi, dan membuat gembira pembacanya. Gambar gambar yang muram dengan teks teks puitis yang gelap ini berusaha mengajak anda berkontemplasi, merenungkan kembali makna makna kehidupan, bagaimana hidup ini berjalan dalam sebuah sudut pandang lain, sudut pandang Abdoel Semute yang muram dan marah.
Secara pribadi, sebagai seorang pembaca komik Indonesia, saya sangat menyukai komik ini. Bagi saya, bentuk yang ditawarkan adalah sebuah kebaruan –setidaknya buat saya-, yang layak untuk diapresiasi, begitupun temanya. Apa yang diangkat oleh Abdoel Semute dalam Sepotong Kisah Sepenggal Kepala ini jelas membuktikan bahwa komik bukanlah sekedar bacaan anak anak dan remaja. Keberadaan komik ini mengangkat derajat komik ke arah yang -kalau boleh dikatakan- lebih adiluhung, ketimbang anggapan tentang komik sebagai bacaan rendahan (walaupun saya sebenarnya bersikap masabodo pada pengklasifikasian seni rendah dan seni tinggi dan menyerahkan semuanya pada selera pribadi).

Di sisi lain, saya tak tahu seberapa banyak jumlah orang naïf di negara ini, yang kemudian menganggap bahwa hidup ini sedemikian hitam putihnya. Sebagai pembaca dewasa, mudah mudahan (saya tak tahu segmen pembaca yang disasar oleh Milisi Fotocopy), saya jelas harus mengambil sikap terhadap apa yang saya baca. Adalah benar bahwa orang orang yang terpinggirkan, harus dibela dan disuarakan, dalam medium apapun termasuk komik, tapi memandang pembangunan sebagai satu satunya pihak yang yang harus dirongrong terus menerus, disalahkan atas semua keburukan yang terjadi, jelas tak masuk di akal saya. Mengatakan pembangunan adalah melulu sebuah kejahatan sama naifnya dengan penganut “ekologi dalam” yang mengatakan bahwa pertanian adalah sebuah dosa karena memanipulasi alam. Saya pikir kita harus menempatkannya secara proporsional, dan komik komik kritik sosial semacam ini dapat dijadikan sebagai fungsi kontrol terhadap hal hal –katakanlah pembangunan- yang kebablasan.

Oleh -
1 220
Aksen-Komik-John-Lie
Photo Credit: Rakhmad Dwi Septian
“Siapakah sebenarnya orang pribumi dan non pribumi itu?”
“Orang pribumi adalah orang orang yang pancasilais, saptamargais, yang jelas jelas membela kepentingan bangsa dan negara. Sedangkan orang non pribumi adalah mereka yang suka korupsi suka pungli, suka memeras, dan melakukan subversi. Mereka itu sama juga menusuk bangsa kita dari belakang. Maka patutlah mereka digolongkan orang non pribumi.”  — John Lie
*******

Jahja Daniel Dharma adalah pahlawan nasional pertama yang berasal dari etnis Tionghoa. Meskipun bergelar pahlawan nasional, sosok ini nampaknya tak cukup populer, setidaknya saya mengukur dari pengetahuan saya sendiri. Jika tak dibantu mesin pencari di dunia maya, mungkin saya tak pernah tahu sejarah dari pemilik nama ini. Saya bahkan pertama kali mengetahuinya dari sebuah novel grafis biografi terbitan Milisi Press, dengan judul John Lie, yang akan saya bahas setelah ini.

Jahja Daniel Dharma, atau yang lebih dikenal sebagai John Lie, adalah seorang kapten kapal yang paling berani dalam sejarah TNI AL. Ia dilahirkan pada 1911 di Manado. Keluarganya menjalankan sebuah perusahaan pengangkutan. Sejak kecil, sosok John Lie memiliki ketertarikan besar pada dunia kelautan dan pelayaran. Dalam novel grafis ini digambarkan bagaimana John Lie kecil begitu terpesona pada kapal kapal yang lalu lalang, berlayar dan berlabuh di kotanya, Manado. Ia bahkan nekat berenang untuk melihat dari dekat sebuah kapal uap milik KPM (Koninklijk Paketvaart Maatschappij, sebuah perusahaan pelayaran Belanda), karena tak punya uang untuk membeli tiket masuknya.

Beranjak remaja, John Lie bekerja sebagai penagih hutang di perusahaan milik keluarganya. Karena obsesinya yang kuat pada dunia kelautan, pada usia 17 tahun, ia kabur dari rumahnya menuju Batavia untuk menjadi pelaut. Namun perjalanan menjadi pelaut tak mudah, John Lie bahkan harus bekerja dulu sebagai buruh pelabuhan, sebelum akhirnya berhasil mengikuti kursus singkat kelautan oleh KPM. Dari sinilah karir pelautnya bermula, saat ia menjadi seorang mualim pada kapal Singkarak, sebuah kapal milik KPM.

Pengalaman perjalanannya yang banyak membuat ia  memahami bagaiman gambaran situasi di Hindia Belanda saat itu. Jiwa pemberontakannya tergugah demi melihat kesusahan kesusahan yang tercipta akibat kolonialisme. Pada saat Jepang memasuki Hindia Belanda, John Lie bertugas mengevakuasi penduduk sipil di daerah Cilacap, dengan kapal bernama Tosari. Pada tahun 1942, seluruh awak kapal Tosari, termasuk John Lie, mendapatkan pelatihan militer di Khorramshahr, Iran, sembari tetap melakukan pekerjaan utama yaitu mengangkut perbekalan untuk tentara sekutu.

Suasana kerja yang tidak nyaman pada masa itu, yaitu masa perang dunia ke dua, saling curiga, dan jauh dari kerabat, membuat John Lie merasakan kekosongan batin dan gelisah. Akhirnya ia mengikuti ajakan sepasang suami istri untuk berkunjung ke Yordania. Di Yordania, John Lie dibaptis di sebuah gereja di tepi sungai Yordan. Prosesi pembaptisan ini membuatnya merasa seperti terlahir kembali dan memiliki identitas serta keyakinan beragama yang kuat.

Jepang menyerah di tahun 1945. Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. John Lie kembali ke tanah air. Meski telah merdeka, namun situasinya belumlah terlalu kondusif. Tentara sekutu kembali memasuki wilayah kedaulatan Indonesia. Maka di sinilah karir kepahlawanan John Lie di Angkatan Laut Indonesia dimulai. Sayangnya disini pula novel grafis ini disudahi dengan tulisan “bersambung” di pojok kanan bawah.

Dari literatur di internet, cukup banyak dituliskan tentang kisah kisah kepahlawanan John Lie, hingga ia meninggal pada tahun 1988 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta. Atas segala jasa dan pengabdiannya, ia dianugerahi Bintang Mahaputera Utama oleh Presiden Soeharto pada 10 Nopember 1995, Bintang Mahaputera Adipradana dan gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 9 November 2009.
*********

Komik John Lie volume 1 (walaupun di halaman judul tak ada yang menjelaskan bahwa novel grafis ini ternyata berseri)  ini di kerjakan oleh dua, yaitu Rakhmad Dwi Septian pada cerita, serta Redi Murti dan juga Rakhmad Dwi Septian (lagi) untuk gambarnya. Terbit tahun 2015 setebal 68 halaman hitam putih, dibagi dalam 4 chapter, novel grafis ini patut diapresiasi, mengingat tema seperti ini (biografi) cukup jarang diangkat dalam novel grafis/komik terbitan lokal. Sebelum ini ada novel grafis “Munir” karya Sulaiman Said yang mengangkat tema tokoh nasional, itupun bukan yang bergelar pahlawan nasional yang resmi oleh negara, meski mungkin banyak orang tetap menganggapnya pahlawan.

Cukup menarik untuk mencermati tema tema yang diangkat oleh kawan kawan Milisi Press/ Milisi Fotocopy dari Surabaya ini. Jika kita lihat dalam terbitan terbitannya, nampaknya mereka cukup concern pada isu isu seputar rasisme. Mari kita lihat apa yang mendasari mereka dalam mengangkat tema tema tersebut.

Dalam catatan pembuka, dikatakan bahwa pada awalnya novel grafis ini adalah sebuah proyek tugas akhir. Latar belakang dipilihnya John Lie, seorang pahlawan nasional dari etnis Tionghoa, pada awalnya tidaklah memiliki maksud khusus. “Keputusan mengambil  judul pun dengan alasan pertama ialah sebab judul ini diterima oleh dosen pembimbing saya” demikian menurut Rakhmad Dwi Septian. Dalam proses riset mengenai  novel grafis ini, lalu muncullah alasan yang kedua, seperti tertulis: “dari pembelajaran itulah saya mengerti bahwa judul (ini)*  tepat dan bahkan di tahun ini dimana persoalan sentimen rasialisme masih tumbuh subur dan membuat kita sesama bangsa Indonesia men(jadi)* saling membenci”.

Lebih lanjut tertulis: “John Lie memberitahukan kepada saya dan kita semua sebuah bentuk perjuangan, bakti, dan rasa cinta tanah air tidaklah dapat diukur oleh ras, suku, maupun agama. John Lie melihatkan suatu sikap yang luar biasa . Ia pribadi jujur, pintar, sangat dekat dengan Tuhan, dan rela berkorban. Sebuah pengorbanan yang tanpa pernah ragu dari seorang putera (Indonesia)*”.

Anda tentu tahu bahwa saat ini nampaknya sentimen kebencian yang mengarah pada rasisme pada etnis Tionghoa ini sedang marak, tak hanya di media sosial dan dunia maya tapi juga dalam beberapa aksi unjuk rasa, seperti yang pernah saya bahas dalam tulisan sebelum ini tentang komik terbitan Milisi Fotocopy yang lain: Hidup dan Mati di Tanah Sengketa. Dan hal itu bukanlah sesuatu yang baik. Sejarah kelam tentang kerusuhan etnis sungguh sesuatu yang sangat perlu disesalkan.

Mengutip Goenawan Mohamad dari akun twitternya: “Nasionalisme Indonesia, lain dari nasionalisme di Eropa dan Afrika, tak bertolak dari perbedaan ras, tapi dari hasrat keadilan untuk semua”. Pengetahuan sejarah yang imbang  tentang kontribusi semua etnis dan kelompok, termasuk etnis Tionghoa, dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, adalah hal yang mutlak diperlukan, agar sejarah buruk tak berulang kembali.

Beberapa buku sejarah tentang pergerakan masyarakat Tionghoa dalam pergerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia memang telah pula diterbitkan. Namun di negara dengan minat baca yang rendah, media yang lebih ringan dan populer seperti novel grafis dan komik bisa dijadikan alternatif, meski sayangnya novel grafis dan komik, yang katanya “memiliki tenaga besar untuk mempengaruhi siapa saja dan kapan saja” ini lebih banyak diterbitkan oleh penerbit penerbit kecil/ independen dengan skala komunitas atau bahkan perorangan, sehingga oplah dan distribusinya sangatlah terbatas.

Beberapa kekurangan lain yang banyak terdapat dalam penerbitan independen, selain yang telah disebutkan di atas, khususnya dalam novel grafis ini adalah kurang baiknya proses editing sehingga menyebabkan banyaknya kesalahan kesalahan dalam proses pencetakan. Beberapa yang nampak oleh saya adalah terpotongnya tulisan, seperti pada catatan pembuka, dan kesalahan kesalahan redaksional seperti penggunaan tanda baca dan kesalahan ejaan. Meski tidak substansial, kesalahan kesalahan ini sebenarnya bisa diminimalkan dengan proses editing yang baik.

Penutup, sebagai penikmat komik/novel grafis tanah air, saya kira perlu saya tuliskan bahwa saya merasa senang melihat perkembangan penerbitan komik/novel grafis tanah air beberapa tahun tahun terakhir ini. Cukup banyak terbitan dengan beragam tema yang membuat iklim perkomikan tanah air menjadi lebih berwarna. Dan nampaknya juga, berkaca dari perdebatan dan konflik konflik di dunia sastra dan musik yang tak berkesudahan itu, tak perlulah dunia komik/novel grafis ikut atau terlibat dalam perdebatan perdebatan tidak penting mengenai kelebihan genre/tema tertentu, atau juga antar kelompok tertentu, yang justru kontraproduktif pada proses proses penerbitan komik John Lie sendiri. Maaf kata, itu sungguh memuakkan.

*) kata kata didalam kurung ini, dalam buku aslinya terpotong karena kesalahan cetak. Kata kata itu saya tambahkan untuk menyesuaikan dengan konteks kalimat.

Oleh -
0 168
Aksen-Hidup-dan-Mati-di-Tanah-Sengketa

Beberapa waktu lalu, bertepatan dengan hari kebangkitan nasional, sekelompok mahasiswa mengadakan demonstrasi dengan mengangkat tema yang menurut sebagian orang adalah rasis, yaitu tentang pribumi dan non pribumi. Menurut akun twitter organisasi mahasiswa yang menginisiasi demonstrasi tersebut, isu tersebut diangkat karena mereka melihat ketimpangan sosial ekonomi antara pribumi dan non pribumi (dalam terminologi yang mereka maksudkan).

Organisasi mahasiswa ini menganggap bahwa etnis non pribumi, Tionghoa peranakan, mendominasi sektor ekonomi di Indonesia, dan kaya raya, sedangkan etnis pribumi (entah siapa yang dimaksudkan dengan pribumi ini) hidup miskin dan menderita. Sangat picik memang, dan menyedihkan, betapa kebencian berbau rasial macam begitu masih ada di negeri ini.

Saya pikir, selain membaca kitab kitab suci dan buku buku teori (seandainya mereka benar benar membaca), kelompok tersebut setidaknya perlu membaca komik yang bakal saya bahas ini: Hidup Mati di Tanah Sengketa, karya Redi Murti, yang diterbitkan oleh Milisi Fotocopy, Surabaya.

***

Komik yang terbit tahun 2014 ini adalah komik eksperimental yang berkisah tentang kehidupan warga Tionghoa peranakan yang miskin di kawasan kumuh di sudut kota Surabaya, Tambak Bayan. Seperti layaknya sebuah kota yang terus menerus membangun, Surabaya – yang merupakan kota terbesar kedua di negeri ini – seperti juga kota kota besar lain, tak pernah lepas dari permasalahan permasalahan sosial seperti yang dimaksud komik tersebut, termasuk juga di dalamnya kemiskinan struktural dan okupasi lahan oleh pemilik modal atas nama pembangunan yang mengancam masyarakat miskin di kawasan itu.

Nampaknya paradigma pembangunan tak pernah berubah sejak dahulu, atau setidaknya sejak era Orde Baru. Kebijakan pembangunan kawasan selalu dilakukan dengan skema top down, di mana pengambil kebijakan membuat program program pembangunan dari balik meja dengan melibatkan pemilik modal tanpa merasa perlu untuk mendapatkan persetujuan/aspirasi penduduk sekitar. Orang-orang lokal cenderung dianggap sebagai bodoh, tidak mampu berpartisipasi, dan cenderung diposisikan sebagai penghambat bagi pembangunan. Hal itu pulalah yang diangkat Redi dalam komik ini. Dalam pengantarnya, disebutkan:”komik ini layak dimiliki dan dibaca oleh mereka pencinta dan pemerhati masalah perkembangan kota sebagai salah satu referensi sejarah kampung pecinan di Surabaya yang terancam punah, oleh beton beton modern para pemodal, yang belum tentu bermanfaat bagi masyarakat Surabaya”

Komik ini terbagi dalam dua bagian. Pada bagian I, Kisah dimulai dari Dani, seorang pemuda peranakan Tionghoa di Tambak Bayan, menemukan sebuah foto lama di lemari ibunya. Foto ibunya, Boboh, dan dua orang temannya di masa muda, saat masih anak-anak. Dani yang penasaran lalu bertanya pada ibunya. Lalu mulailah si ibu menceritakan kehidupannya di masa lalu, sebagai bagian dari sejarahnya, yang juga sejarah orang orang Tionghoa peranakan di Indonesia, khususnya Tambak Bayan.

Tersebutlah Lie Jiuwee, teman Boboh dalam foto tersebut, yang pada tahun 1930-an datang ke Surabaya bersama orangtuanya, dengan kapal laut, mengungsi dari daerah asalnya, RRT (Republik Rakyat Tingkok – ed), karena situasi ekonomi politik RRT yang sedang bergejolak saat itu. Tak lama setelah berada di Surabaya, ayah Jiuwee meninggal dunia. Ibunya tak punya cukup uang untuk terus menyekolahkannya, maka Jiuwee kecil ini berjualan untuk membantu keuangan keluarga.

Waktu berjalan, Jepang menguasai kota di tahun 1942. Situasi mulai berubah, suasana tak aman, perang terjadi di sana-sini. Sebagian penduduk yang punya cukup uang pindah ke Malang, daerah yang lebih kondusif dan aman pada saat itu. Jiuwee tidak pindah, tentu saja karena kemiskinannya. Pada tahun 1945, terjadi perang antara tentara pendudukan Jepang dan tentara republik yang dibantu pemuda. Pada waktu itu pula, salah satu anak di foto yang ditemukan Dani tersebut, teman Jiuwee dan Boboh, tewas terbunuh. Boboh mengenangnya sebagai kisah yang gelap dalam sejarah hidupnya.

Paska kemerdekaan republik, suasana kembali berubah. Kampung kampung di Surabaya mulai menggeliat, hingga saat terbitnya peraturan pemerintah di tahun 1959 tentang keharusan warga pendatang (Tionghoa) merubah status kewarganegaraan menjadi WNI. Banyak dari warga Tambak Bayan yang kemudian kembali ke negara asalnya, RRT. Warga Tionghoa tersebut makin terjepit paska 65, setekah terjadi genosida besar besaran terhadap para pendukung komunis. Mereka, karena rasnya, dicurigai dan dianggap ikut mendukung Peking (Beijing) dan ideology komunisnya.

Pada bagian kedua, dikisahkan tentang keadaan Tambak Bayan setelah kemerdekaan. Banyak warga Tionghoa totok dan peranakan diharuskan untuk menjadi WNI dengan segala kerumitan birokrasinya. Di era Orde Baru, daerah ini tak luput dari pembangunan a la Soeharto, di mana pemilik modal menjadi anak emas pembangunan.

“Segalanya cepat dilupakan. Tak ada bekas masa lalu. Pendisiplinan terjadi pada segala aspek kehidupan. Sementara, laju peradaban kota terus menggilas sekelilingnya yang dianggap ketinggalan.” Demikian tulis Redi dalam narasinya di halaman 39.

Era Orde Baru berlalu, yang tersisa hanyalah kesenjangan sosial ekonomi yang sangat nyata nampak dari bangunan bangunan gedung yang berhimpit dengan rumah rumah yang sepersekian kecilnya dibandingkan gedung gedung itu.

Perlawanan akan okupasi kepemilikan tanah ini bukan tak ada. Tersebutlah Seno, Paman, Murtini, dan Gepeng, yang mengorganisasikan penduduk setempat untuk mempertahankan tanah tanah mereka. Pada beberapa tahap mereka berhasil. Namun seperti juga banyak perlawananan lainnya, konsistensi untuk terus berjuang adalah hal yang mahal harganya. Kebutuhan hidup yang lain tampak lebih mendesak. Dan orang orang kemudian memilih berdamai dengan keadaan, kekalahan mereka.

Komik Redi ini bukanlah komik fiksi dengan penokohan protagonis dan antagonis yang tegas ataupun plot cerita yang dipenuhi konflik konflik dan dramatisasi yang sedemikian rupa. Komik ini lebih menyerupai reportase/dokumentasi sejarah dan kisah hidup penduduk Tambak Bayan, yang meski nampak sangat datar dalam alur cerita, namun sangat gelap, dan penuh dengan rasa keputusasaan yang dalam dan kelelahan yang sangat. Tentang bagaimana orang orang akhirnya menyiasati hidupnya yang keras dengan cukup memikirkan dirinya sendiri. Pemilihan kata kata dalam narasi komik ini sangat tepat untuk menggambarkan suasana itu.

“Orang orang sudah lelah, terpuruk oleh rencana dan kebutuhan sehari hari yang mendesak. Disibukkan dengan tetek bengek kenyataan lainnya yang tak perlu masuk akal”. Demikian gambaran Redi untuk suasana penduduk Tambak Bayan. Lebih lanjut ia menulis: “Mereka hanya menunggu giliran waktu, mengatur strategi bagaimana berkompromi dengan semua peristiwa nyata, yang hanya menjadi berita sekilas dalam Koran. Berita umum yang semua orang sudah menganggapnya lumrah, biasa saja, salahnya “pemerintah”, salahnya warga, salahnya pendatang, semua tampak bersalah di mata pembaca. Berita yang paginya nangkring sebentar, lalu esok paginya cabut, tergantikan oleh berita yang lebih sadis!”

Ya begitulah, arus informasi yang demikian deras, membuat pembaca terbiasa akan hal hal yang begitu begitu saja, bahkan untuk konflik konflik kemanusiaan sekalipun. Kita bahkan tak mampu lagi memilah mana informasi yang penting dan mana yang tidak penting, alih alih ikut ambil peduli dalam masalah masalah tersebut. Kita tersesat dan berputar putar dalam arus kedangkalan informasi dan kehilangan fokus, juga kehilangan diri sendiri.

Saya pernah menetap di Surabaya kurang lebih selama dua tahun. Pada masa itu saya menetap di kawasan pinggiran Surabaya yang tak jauh dari Tambak Bayan. Sebagai kota besar yang keras, Surabaya, seperti kota kota metropolitan yang lain, dimana kehidupan dengan kejam menggilas masyarakat miskin, tak terkecuali juga komunitas Tionghoa peranakan.

Dengan keadaan itu, saya pikir bahwa isu rasial mempertentangkan pribumi dan non pribumi karena ketimpangan kondisi sosial ekonomi, yang diangkat oleh kelompok mahasiswa yang berdemo tadi, sungguh sangat tidak relevan. Adalah benar, dan mulia, bahwa kita, atau sebagian dari kita, terlibat dalam kepedulian untuk orang lain, orang orang miskin di negara ini, namun tentunya tidak perlu, dan sangat tidak perlu, untuk memasukkan isu isu rasial di dalamnya, bukan saja karena itu sangat tidak relevan, tapi juga bahwa kemanusiaan, tidak mengenal batas batas rasial. Mengutip Mandela : “”No one is born hating another person because of the color of his skin, or is background, or his religion. People must learn to hate, and if they can learn to hate, they can be taught to love, for love comes naturaturally to the human heart than its opposite.”

Esei

Terpopuler Dalam Seminggu