Tagar Konten bertagar dengan "Ratu Kalinyamat"

Ratu Kalinyamat

Sebagai sebuah genre, komik bertema sejarah mungkin adalah salah satu yang cukup jarang hadir dalam wacana komik Indonesia pasca tahun 2000. Sepanjang pengetahuan saya, beberapa komik sejarah yang patut dicatat adalah Harimau dari Madiun karya Aji Prasetyo, Pejuang Muda: Longmarch Divisi Siliwangi karya Sungging, dan beberapa komik terbitan Metha Studio yang menerbitkan komik bertema sejarah dibalut dengan cerita-cerita fiksi. Untuk yang bertema lebih spesifik yaitu sejarah tokoh, tercatat John Lie terbitan kolektif asal Surabaya Milisi Fotocopy, yang menceritakan sejarah kehidupan pahlawan nasional beretnis Tionghoa itu. Selebihnya, saya tak tahu. Pernyataan saya di kalimat pertama yang menyatakan bahwa komik bergenre sejarah ini cukup jarang hadir, lebih disebabkan karena ketidaktahuan saya. Kalau ternyata memang lebih banyak, mohon untuk diluruskan.

Nah, kali ini saya baru saja mendapatkan dan membaca sebuah komik tentang tokoh sejarah yang bukan hanya melegenda karena perjuangannya melawan penjajahan, tapi juga mengangkat wacana kepemimpinan wanita dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Adalah Nyimas Ratu Kalinyamat, satu dari tiga wanita Jepara yang menjadi ikon perjuangan bangsa, yang kisah hidupnya diangkat dalam sebuah novel grafis biografi sejarah yang apik oleh Muhammad B. Pontian.

Sebagai komik sejarah, Pontian sebenarnya tidak menawarkan wacana baru mengenai kehidupan Ratu Kalinyamat. Novel grafis ini memfokuskan jalinan cerita berdasarkan sosok sejarah Ratu Kalinyamat, yang lahir di Demak, dan meninggal di Jepara pada tahun 1579. Puteri Sultan Trenggono yang memerintah Demak pada tahun 1521-1546 itu sangat terkenal di kalangan bangsa Portugis karena sosoknya yang sangat berani menentang penjajahan bangsa asing (Portugis) yang merugikan orang-orang Jepara. Kisah hidup Ratu Kalinyamat itu ditulis dan digambarkan ulang dalam narasi dan ilustrasi sepanjang 158 halaman yang dibagi menjadi 5 bab, mulai dari perkenalan sosok Ratu Kalinyamat hingga masa kejayaannya. Bagian yang paling diingat orang, selain serangannya kepada Portugis yang sangat heroik itu, yaitu pertapaannya, mengambil 1 porsi bab tersendiri.  Beberapa narasi sejarah mengisahkan bahwa Nyimas Ratu Kalinyamat melakukan pertapaan telanjang. Namun demikian, Pontian menampilkan adegan pertapaan itu dengan cara yang lebih halus, alih alih menampilkan ketelanjangan sosok perempuan legendaris tersebut. Cukup aman untuk yang ingin memperkenalkan novel grafis ini pada pembaca di bawah umur 18 tahun.

Satu hal yang penting dicatat —saya sependapat dengan pengantar novel grafis ini, adalah tata letak panil-panilnya. Mengutip pengantar penerbit, Pontian “secara sadar menciptakan karya sekuensialnya dengan kesadaran ruang yang berbeda dengan jenis karya lainnya.” Jika anda membaca novel grafis ini, anda akan menemukan cukup banyak ruang-ruang kosong yang sengaja diciptakan oleh Pontian, yang —lagi lagi mengutip pengantar dari penerbit: “…membantu penikmat karya untuk tidak tergesa-gesa dalam menikmati narasi yang ditawarkan…”

Di tengah kebangkitan komik lokal yang perlahan-lahan mulai menunjukkan geliatnya, untuk kemudian disesakkan oleh komik-komik strip bergenre humor dan komedi yang lama-lama mulai terasa membosankan, Nyimas Ratu Kalinyamat menjadi alternatif bagi penikmat komik lokal yang menginginkan tema-tema yang lebih serius dan dewasa, yang nampaknya belum banyak digarap oleh komikus lokal. Di sisi lain, novel grafis ini dapat dipandang sebagai salah satu upaya untuk memperkenalkan kembali tokoh-tokoh sejarah bangsa melalui medium yang katanya ‘memiliki tenaga besar untuk mempengaruhi siapa saja dan kapan saja’¹ ini.

Terakhir, seperti tertulis dalam pengantarnya: “Nyimas Ratu Kalinyamat menjadi sebuah buku yang patut dinikmati oleh para penggemar cerita-cerita sejarah yang dituturkan secara visual-sekuensial.”

Jakarta, Mei 2017


¹Kutipan milik Agus Dermawan T, kritikus seni dan penulis buku-buku budaya, yang saya ambil dari sini dan sini.

Esei

Terpopuler Dalam Seminggu