Tagar Konten bertagar dengan "seni sekuensial"

seni sekuensial

Oleh -
0 52
Belgian-comic-strip-center

Brussels, ibukota Belgia, merupakan markas Uni Eropa, dan juga “Manneken Pis”, sebuah patung anak kecil telanjang dari abad ke-15, yang pipis di atas sebuah kolam. Belgia telanjur dikenang di benak sebagian orang lewat kedua penanda tersebut.

Meski demikian, ibukota dan negara tersebut juga dikenang di dalam benak sebagian orang sebagai kota yang sinonim dengan salah satu bentuk seni khas Belgia: Komik.

Lucky Luke, the Smurfs, dan Tintin, misalnya, merupakan figur yang sangat terkenal di berbagai belahan dunia. Bukan kebetulan bila masing-masing karakter tersebut berakar di Belgia. Dan agaknya tidak ada tempat lain yang lebih baik untuk mengeksplorasi akar dan sejarah tokoh-tokoh tersebut, selain di Belgian Comic Strip Center. Tempat ini seringkali disebut dalam nama lain, yakni Comic Musium, yang terletak di jantung kota Brussels.

Musium tersebut pertama kali dibuka pada tahun 1986 di dalam sebuah bangunan indah bergaya Art Noveau yang didesain oleh arsitek Victor Horta. Ketika dibangun pada tahun 1906, gedung tersebut difungsikan sebagai gudang; kebetulan, tahun di mana gedung tersebut dibangun juga menunjuk awal dimulainya era komik strip modern. Banyak orang berpendapat bahwa Rodolphe Töpffer pantas disebut sebagai bapak komik strip modern. Sewaktu hidup dia pernah mengilustrasikan cerita seperti Historie de M. Vieux Bois (yang pertama kali diterbitkan di Amerika pada tahun 1842 dengan judul The Adventures of Obadiah Oldbuck atau Historie de Monsier Jabot [1831]). Karyanya itu disebut-sebut sebagai sebuah karya yang menginspirasi generasi seniman komik Amerika dan Jerman selanjutnya.

Belgian Comic Strip Center sanggup menarik perhatian dan telah menjadi magnet bagi para turis. Sebanyak 200,000 pengunjung setiap tahunnya tumpah ruah di ruang-ruang dalam musium, yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat pameran, melainkan juga rumah bagi sebuah perpustakaan dan pusat riset. Sebuah toko buku juga tersedia di sana, dan ruang yang terakhir ini seringkali digunakan sebagai tempat di mana seniman komik dan pembaca bisa bertemu.

Lantai pertama dari gedung tersebut didedikasikan untuk menampung sejarah komik strip, yang menurut kabar disajikan dengan detil yang luar biasa. Akar komik strip pertama bisa ditelusuri kembali ke era biara-biara Kristen Abad Pertengahan, di mana biarawan mengabdikan hidup mereka untuk mereproduksi/menyalin teks-teks suci agama mereka. Dalam katalog pameran di musem tersebut, tertulis: “Berkat para penciptanya, karya-karya unik tersebut dihiasi dengan ilustrasi dan iluminasi yang kuat. Tanpa disadari, mereka (para biarawan – ed) menemukan prinsip-prinsip utama yang digunakan oleh para seniman komik hari ini guna menciptakan sebuah strip: membagi cerita ke dalam panil, gerakan, latar, dialog di dalam balon kata, dan sebagainya.”

Kendati penemuan teknik awal sudah bisa dilacak sejak abad pertengahan, namun baru pada abad ke-19 komik strip berkembang sebagai teknik dan bentuk, yang sering dipakai di surat kabar dan majalah; terkadang bentuk tersebut disertai catatan satiris dan kemudian diserialkan untuk dikonsumsi massa.

Sudah jamak diketahui bahwa menciptakan komik strip membutuhkan proses kreatif yang tidak sedikit, yang melibatkan pembentukan sinopsis, skenario, sketsa kasar dan gambar pensil, teknik penintaan dan pewarnaan. Nah, satu bagian dalam musium tersebut menyediakan catatan atas proses ini. Orang bisa melihat bahwa kendati seringkali dianggap mudah (dan cenderung diremehkan), membuat komik merupakan pekerjaan sulit.

Namun jangan khawatir, pengelola musium Belgian Comic Art Center berbaik hati dengan memberikan petunjuk tertulis. Bunyi petunjuk tersebut terbaca demikian: “Dalam rangka untuk memvisualisasikan semua tahapan kerja yang harus diselesaikan, seniman komik mesti mesti menciptakan storyboard dengan cara membuat sketsa halaman untuk album (komik – ed) yang akan digarap. Album ini berisi kotak dan balon kata yang menggambarkan aksi pada setiap halaman.” Panduan tertulis tersebut juga menyebutkan: “dipersenjatai dengan segala jenis informasi itu, seniman kemudian bisa mulai menggambar. Dia mulai dengan sketsa kasar yang akan dia kembangkan dan ubah, sampai dia mendapatkan gambaran sempurna, yang kemudian akan dia pindahkan ke dalam medium final.”

Proses penintaan dan pewarnaan menjadi bagian dari langkah berikutnya.

“Penintaan merupakan bagian final dalam keseluruhan proses menggambar; ini membantu seniman untuk mendapatkan definisi jelas untuk setiap garis pensil dan membantu seniman untuk memilih skema akhir gambarnya,” kata panduan tertulis itu. Kendati demikian, katalog panduan tersebut juga menyebutkan bahwa saat ini pewarnaan dilakukan setelah penintaan selesai dan hasilnya dicetak di atas kertas.

Anda mungkin juga menyadari bahwa semakin banyak komikus yang mengubah cara-cara berproduksinya, antara lain dengan menggunakan komputer guna menyelesaikan karyanya. Biasanya mereka menggambar semuanya di atas kertas yang kemudian dipindai dan hasilnya bisa dikoreksi, dibersihkan, dan diselesaikan melalui layar komputer. Sementara yang lain memilih untuk tidak menggunakan kertas sama sekali, dan beralih ke tablet.

Pendek kata, penjelasan di atas mungkin tidak penting lagi bagi mereka yang sudah terbiasa untuk melibatkan diri dalam pengerjaan komik strip, namun begitulah yang diterangkan dalam sebuah eksibisi yang diadakan di musium Belgian Comic Strip Center.

Katalog panduan juga menyebut proses akhir, yakni penciptaan sampul yang perlu dipikirkan ketika komik sudah selesai dibuat. Pada proses ini, komikus menyediakan pemikirannya yang berfungsi untuk mengontrol apa yang dia ingin lihat di atas sampul – tentu saja ini bukan proses yang mudah. “Sampul haruslah merepresentasikan isi komik, dan juga memenuhi syarat orisinal dan juga syarat komersial lain. Misinya adalah bagaimana membuat album karya yang berbeda dengan karya lain,” kata tulisan di katalog.

Eksibisi pada musium tersebut berlanjut ke wilayah pengetahuan di mana ada pelacakan atas bentuk komik strip yang berbeda, mulai dari yang edukatif sifatnya, penuh dengan sejarah, realis, sampai ke wilayah “novel grafis”, fiksi-sains, dan fantasi. Kartun surat kabar tidak luput disebutkan dalam eksibisi tersebut. Komik strip memang telah menjadi fenomena pers sejak lama, yang antara lain mewujud melalui kartun dan strip humor. Di masanya, bentuk tersebut disuplai oleh agensi Amerika di tingkat harga yang mematikan komik Eropa. Licik? Bisa jadi, sebab ada masa di mana Amerika dianggap menghina strip-strip yang berasal dari Eropa. Sebagaimana yang juga bisa kita temui di surat kabar Indonesia, banyak dari komikus strip menyajikan bentuk yang bermaksud mengomentari perkembangan politik dan kehidupan sehari-hari. ‘Jurnalisme’ menjadi esensi komik strip yang hadir lewat surat kabar.

Dengan kehadiran musium komik strip, orang-orang Belgia mungkin menjadikannya penanda di mana komik dihargai sebagai bentuk yang tidak hanya berfungsi untuk menyenangkan orang lewat gambar-gambar lucu penuh humor. Lebih jauh lagi, musium Belgian Comic Strip agaknya bisa menjadi tempat menarik untuk dikujungi, untuk anda yang tertarik belajar lebih jauh mengenai komik strip dan sejarahnya.

Sumber: JakartaGlobe

Anda ingin menikmati sensasi digital, dalam arti mengunjungi musium Belgian Comic Strip secara virtual? Tautan Google Open Gallery: Belgian Comic Strip Center mungkin bisa membantu anda untuk sedikit memahami apa yang ditawarkan oleh musium tersebut. Tautan Youtube di bawah ini juga akan membantu anda mengenali musium tersebut.

Oleh -
0 295
Great-War-in-Comics

The Lakes International Comic Festival bersama dengan Abbot Hall Art Gallery akan menyelenggarakan pameran komik bertajuk ‘Great War in Comics’ yang akan berlangsung mulai 28 September – 6 Desember mendatang. 

Pameran tersebut akan mengikutsertakan tiga seniman (komik) internasional yang menumpahkan refleksi mereka atas Perang Dunia I melalui bentuk komik. Ketiga seniman yang dimaksud adalah Ivan Petrus, Charlie Adrlard dan Joe Colquhoun. Pameran ‘Great War in Comics’ sendiri akan diadakan di Abbot Hall Gallery. Menurut laman ComicArtFestival, ketiga seniman tersebut akan menyajikan realitas Perang Dunia Pertama dengan menggunakan perspektif alternatif. Kita sebut saja pameran ini sebagai ajang di mana komik perang dunia pertama dinarasikan lewat medium seni sekuensial.

Komik pertama dari rangkaian komik yang akan dipamerkan, Charley’s War, merupakan karya yang digarap oleh Joe Colquhoun (dan ditulis oleh Pat Mills). Karya ini dideskripsikan sebagai ‘komik strip terbaik yang pernah diciptakan’. Charley’s War dimuat secara berkala di Battle Picture Weekly mulai dari bulan Januari 1979 sampai Oktober 1985. Strip tersebut memberi sentakan dengan cara mengilustrasikan gambaran jujur mengenai kengerian perang. Colquhon disebut-sebut sebagai seniman yang menggunakan banyak tinta untuk menebalkan suasana dan kerap menggambar latar yang terlihat kacau (pilihan ini tampaknya memang lebih sesuai untuk tipe seperti komik perang). Pendek kata, Charlie’s War digambarkan sebagai komik strip yang penuh dengan atmosfir suram. Wajah karakter dalam strip tersebut juga digambarkan dengan cara yang sangat mencolok guna melengkapi suasana yang ingin dibangun oleh Colquhoun.

Ekstrak Charlie's-WarJoe Colquhoun
Karya Charlie Adlard yang akan dipamerkan adalah White Death, sebuah komik yang latar belakang ‘the Alpine Trench War’ yang berlangsung antara 1914-1918. Adlard lebih dikenal sebagai seniman yang menggarap seri The Walking Dead; sekarang ia berkolaborasi dengan penulis Robbie Morrison guna menyajikan sebuah cerita konflik yang secara simultan melibatkan negara dan pribadi. Menurut kabar, karya tersebut digambar menggunakan “charcoal and chalk on grey paper”, dan menyajikan sebuah komik yang penuh dengan horor, ketakutan serta kesedihan peperangan.

White-DeathCharlie Adlard & Robbie Morrison
Sampai di sini kita tampaknya menemukan satu benang merah antara ketiga karya seniman yang ikut dalam pameran tersebut: karya-karya mereka menyajikan atmosfer khusus yang dibangun untuk merefleksikan kengerian perang. Hal serupa juga bisa ditemukan pada karya Ivan Petrus yang berjudul Ghosts of Passchendaele, sebuah “novel grafis” yang diterbitkan tahun ini. Ini merupakan bagian dari trilogi karya Ivan Petrus yang menyajikan cerita berdasarkan kisah nyata yang melibatkan para prajurit Inggris dan Jerman pada Perang Dunia I.

ghosts-of-passchendaeleIvan Petrus
Kurator Lakeland Arts Beth Hughes memberi pernyataan untuk pameran ‘Great War in Comics’: “seni komik memberi banyak peluang untuk memahami situasi dari perspektif yang berbeda, sebab anda mampu menikmati adegan sembari membaca pikiran karakter yang digambarkan. Para seniman komik di pameran tersebut menawarkan pandangan mereka terhadap perang, yang tentu saja menantang dan sangat informatif, serta akan menangkap emosi dan imajinasi pembaca dengan baik. Saya senang bahwa kami dapat bermitra dengan Comic Art Festival guna membawa suatu bentuk seni yang menarik dan unik untuk galeri seni Abbot Hall.”

Tertarik untuk mengunjungi Abbot Hall Art Gallery di Kirkland, Kendal, Cumbria, Inggris, pada September mendatang?

Oleh -
0 31
Rambut-dan-komik

Beberapa hari lalu kami memberitakan tentang kemungkinan pergeseran medium komik, dari komik cetak ke digital. Yah, lupakan berita tersebut, sebab kini ada ada hal lain yang lebih mencengangkan: komik dibuat di atas sehelai rambut!

Rambut-dan-komikJika benar komik bisa dibuat di atas rambut, maka tentu akan menjadikannya sebagai komik terkecil yang pernah diciptakan. Adalah seniman asal Jerman bernama  Claudia Puhfurst yang membuat komik lewat medium sehelai rambut manusia. Komik ini diberi judul Juana Knits the Planer, dan dibuat dengan memanfaatkan teknologi FIB yang mengedepankan penggunaan sinar ion terfokus. Dia membuat bidang panil dengan cara memanfaatkan teknologi tersebut.

“Cara kerja teknologi itu seperti laser beam yang ditembakkan dalam kecepatan tinggi ke atas bidang rambut. Ada 12 panil yang disajikan, masing-masing berukuran 25 mikrometer,” kata Puhfurst seperti dikutip oleh Tempo online. Juana Knits the Planer digarap oleh Puhfurst dan Andrew Zonenberg, yang merupakan mahasiswa Rensselaer Polytechnic Institute di New York, Amerika Serikat. Untuk penggarapannya mereka berdua memanfaatkan mesin tipe FEI Versa 3D.

Juana Knits the Planer merupakan bagian dari promosi EHSM (Exceptional Hardware Software Meeting), sebuah ajang yang membahas perkembangan dan masa depan revolusi industri, yang akan diadakan di Hamburg, Jerman mulai dari 27 sampai 29 Juni mendatang.

Oleh -
0 199
sequential art

Ada sebuah kiriman diskusi yang dibagi di laman Facebook Akademi Samali. Awalnya diskusi ini dimulai oleh Bayu Indie dan kemudian berkembang menjadi sebuah obrolan panjang dengan tanggapan di sana-sini yang rasanya sayang untuk dilewatkan.

Kenapa begitu sayang untuk dilewatkan? Coba kita lihat potongan gambar di bawah ini:

Post on Facebook

Dari gambar di atas, kita bisa lihat bahwa mulanya si pemantik diskusi hanya ingin bertanya apakah benar gambar yang dibagi dan ditunjukkannya di laman tersebut adalah komik bikinin orang Indonesia. Seserdehana itu. Boleh dibilang diskusi tentang apakah karya potongan komik di atas dibuat oleh komikus Indonesia atau bukan pada akhirnya merembet ke topik-topik lain – setidaknya bila kita melihat komentar lanjutan dari para anggota grup Facebook Akademi Samali. Oh ya, jika anda ingin mengintip obrolannya dalam format yang lebih lengkap, silakan ikut laman ini.

Yang paling menarik dan rasanya pantas untuk diperhatikan dari diskusi tersebut adalah informasi pendek-pendek mengenai konsep visualitas komik (dalam arti sempit), serta dalam lingkup yang lebih luas, terkait dengan formalisme itu sendiri sendiri. Berkaitan dengan tema yang mungkin luput dari perhatian khalayak awam, diskusi tersebut menjadi menarik sebetulnya, terutama pada bagian komentar pendek tentang ragam konsep yang berkaitan dengan teori komik itu sendiri.

Bagi kami sendiri ada beberapa komentar menarik, misalkan yang bisa dilihat pada komentar Widyartha Hastjarja. Beberapa komentarnya yang kami temukan di sana mengandung muatan pengetahuan mengenai bagaimana mengamati sumber-sumber intrinsik dalam komik, sebuah hal yang sebetulnya menjadi pisau analisis yang bisa dipakai ketika menelisik bentuk-bentuk seni sekuensial – meski istilah yang terakhir ini tidak banyak disentuh oleh Widya.

Umumnya sumber-sumber intrinsik dalam wilayah visual setidaknya bisa dipetakan melalui beberapa macam elemen, antara lain: ritme, bentuk tiga dimensional, harmoni, dan elemen-elemen non-representasional lain. Secara lebih rinci, elemen-elemen tersebut seringkali disebut isi, ruang, massa, tekstur, cahaya, shape, garis, dan titik. Gambar di bawah akan menunjukkan komentar-komentar Widyartha Hastjarja yang menurut kami mewakili perbincangan mengenai sumber-sumber intrinsik tersebut: Tentu saja ada banyak komentar lain darinya yang juga menarik, namun rasanya yang paling penting untuk dibagi di sini adalah bagaimana mengenali sumber-sumber intrinsik dalam komik. Baiklah, rasanya pengantarnya terlalu banyak, mari kita lihat beberapa komentar Widyartha Hastjarja yang ia bagi dalam diskusi tersebut. Sorot kemudian klik pada gambar di bawah untuk memperbesar.

Widyartha Hastjarja

Esei

Terpopuler Dalam Seminggu