Tagar Konten bertagar dengan "serba serbi"

serba serbi

Oleh -
0 1997
Aksen-Komik-Tentang-Musik-featured-image

Ketika Rollingstone Indonesia mengangkat sebuah tulisan bertajuk “Gagasan Menyinergikan Komik dan Musik Indonesia”, saya terilhami untuk menulis sebuah tulisan dengan tema komik tentang musik. Ini ditulis berdasarkan pemahaman dan pengetahuan saya tentunya.

Seperti kita tahu, meskipun keduanya sama-sama berada di ranah budaya pop, perkembangan kedua hal ini sangatlah jauh berbeda. Musik Indonesia, boleh dikata telah menjadi raja di tanahnya sendiri. Ratusan musisi lahir, berkembang, dan berkarya dalam hingar bingar panggung musik tanah air. Dari yang dirilis major label ataupun independen, bergenre metal hingga dangdut, klasik sampai kontemporer, semua saling berebut simpati khalayak.

Kondisi yang jelas berbanding terbalik dengan Komik Indonesia. Meski pernah berjaya di dekade 70-an, (era yang disebut sebagai era kejayaan Komik Indonesia), kondisi komik Indonesia setelah era itu, setidaknya hingga akhir dekade 2000-an, maaf kata, sangat menyedihkan. Jumlah terbitan komik sangatlah sedikit. Jika kita dapat mengikuti banyaknya perdebatan perdebatan yang seru ataupun menjijikkan antara musik major label dan indie, dan perdebatan antar genre dalam musik yang sampai sekarang tak jua selesai, dalam dunia komik justru sangat sepi. Bagaimana mungkin muncul perdebatan dan diskusi jika terbitan komiknya saja bahkan tak pernah ada.

Tentu saja saya terlalu hiperbolik bila mengatakan tak ada penerbitan sama sekali, karena pada kenyataannya dunia komik, meski sangat sepi, tapi tak mati. Semangat untuk terus memunculkan komik-komik lokal di tanah air sendiri ini sesungguhnya tetap bertahan. Dan semangat itu, jika dilihat dari jumlah penerbitan komik dalam dua tahun terakhir, menunjukkan peningkatan yang cukup untuk membuat penikmat komik lokal tersenyum senang.

Nah, lalu apa kaitannya dengan artikel Rolling Stone tadi? Baiklah, begini. Saya sebenarnya tidak cukup paham bentuk seperti apakah yang dimaksudkan Rolling Stone sebagai kesinergian antara komik dan musik. Apakah itu semacam soundtrack untuk sebuah komik, komik untuk sebuah album musik, komik tentang musik atau lagu yang diangkat dari kisah komik, atau musikalisasi komik, atau komikalisasi musik, ataukah komik yang berkaitan dengan kisah seorang seniman musik/band?.

Nah, untuk yang terakhir, yaitu komik yang mengisahkan seniman musik/musisi/band adalah sama dengan maksud saya membahas komik tentang musik. Berikut adalah 10 komik yang berhasil saya himpun berdasarkan koleksi pribadi yang saya miliki.

1. Kornchonk Chaos – Iwank

Aksen-komik-tentang-musik-Kornchonk-ChaosChandra Agusta | Sekuensi.com

Ini adalah komik biografi dari sebuah band parodi bernama Kornchonk Chaos, dimana Iwank juga menjadi salah satu personelnya. Band ini cukup punya nama di Jogja, dan di komik ini Iwank menceritakan asal usul dan perjalanan Kornchonk Chaos dengan jujur, lugas dan datar. Sangat khas Iwank. Tak ada cerita cerita heroik dan penuh dramatisasi, apalagi nasihat dan moral. Kekonyolan dan banyolan sederhana justru membuat komik ini, seperti komik Iwank lainnya, jadi lebih segar untuk dibaca. Setebal 91 halaman, komik ini awalnya merupakan komik fotokopi dan sempat diterbitkan dalam bentuk komik cetak.

Oleh -
0 74
Aksen-pengajian-komik

Oleh: Kurnia Harta Winata (foto oleh: Beng Rahadian)

Tulisan ini bersifat subyektif. Diambil dari sudut pandang pribadi. Dibatasi ingatan yang sudah diragukan sejak SMA oleh guru kimia saya, Suyanto. Sah adanya kalau ada yang ingin membantah, meluruskan, menambahkan, atau memberi keterangan lanjutan.

Obrolan dibuka dengan C. Suryo Laksono yang sedang haus gosip, mengendus hubungan tidak wajar antara admin Forum Komik Jogja (FKJ) Tanfidz Tamamudin dan mantan admin FKJ Bagus Wahyu Ramadhan.

Pokok pembicaraan selanjutnya digulirkan curhat Sweta Kartika, tentang bagaimana Desi Ratnasari pelantun lagu “Tenda Biru” mempertanyakan status legal Nusantara Ranger di acara Bukan Empat Mata. Saya coba singkat curhat tersebut karena panjang. Tahu sendiri kan kalau Sweta ngomong.

Singkat kata, Nusantara Ranger sebagai produk kesulitan mendapat legalitas. Pemerintah belum memiliki regulasi yang jelas tentang hak cipta komik berikut turunannya. Hasil pembicaraan Sweta dengan Anang, iya Anang penyanyi itu, yang jadi anggota DPR tapi enggak bisa menjawab apa hak-haknya sebagai anggota DPR, pelaku industri komik harus punya asosiasi untuk menyampaikan kebutuhannya. Misal soal hak cipta.

Sisipan curhat pribadi saya yang tidak (sempat) tersampaikan saat obrolan berlangsung:

Pada  tahun 2012 lalu, saya mendengar ada promo hak cipta. Kita bisa mendaftarkan hak cipta kita secara gratis. Jujur saya suka yang gratis-gratis. Saya mendaftarkan Koel, karakter komik bikinan saya. Masalahnya kemudian, desain karakter tidak ada di daftar kategori hak cipta. Petugas mengarahkan saya untuk memasukkan Koel ke dalam hak cipta atas lukisan. Ok, deh. Saya isi formulir dan lengkapi persyaratannya. Termasuk sekian lembar gambar yang saya daftarkan. Koel tampak depan, tampak samping, tampak belakang, sekalian beberapa ekspresinya. Proses berikutnya, saya harus menunggu paling cepat setahun untuk pengesahan.

Sekian bulan kemudian, saya mendapat surat dari Dirjen HAKI Kementerian Hukum dan HAM RI. Isinya memberitakan bahwa ada kekurangan syarat permohonan. Coba tebak apa tulisannya!

“Memilih salah satu karakter yang diinginkan karena setiap permohonan hanya boleh satu karakter. Untuk perbaikan agar mengirimkan contoh ciptaan (karakter yang telah dipilih) sebanyak 12 (dua belas) buah.”

Guoblooooook!!!

Ya sudah, saya kirimkan contoh ciptaan sebanyak 12 lembar ke Jakarta. Beberapa saat kemudian datang surat balasan. Harus mengisi kembali formulir. Intinya saya harus mengulang kembali prosedur dari awal.

Saya patah arang.

Ok, kembali ke pengajian.

Kesimpulannya adalah, bahwa kita memang butuh asosiasi komik untuk membereskan masalah-masalah formal seperti ini. Termasuk AFTA tahun mendatang. Asean Free Trade Area 2015.

Pengajian diteruskan oleh Beng Rahadian. Masih meneruskan soal asosiasi komik dan AFTA. Dalam AFTA, pekerja (komik) dari negara lain dapat bekerja di Indonesia dengan syarat mereka memiliki lisensi/sertifikat yang dikeluarkan oleh asosiasi asal negara yang bersangkutan.  Begitu juga sebaliknya. Pekerja (komik) Indonesia dapat bekerja di negara-negara Asean lain berbekal lisensi/sertifikat dari asosiasi asal Indonesia. Masalahnya Indonesia belum memiliki asosiasi komik!

Tidak disangkal, kita butuh asosiasi komik untuk mensertifikasi komikus. Bukan berarti menentukan siapa yang boleh menyandang gelar komikus dan mana yang tidak, tapi untuk pengurusan legal formal macam itu. Masalah yang muncul kemudian adalah bagaimana dan apa syarat seorang bisa mendapat lisensi/sertifikat tersebut, juga apakah komikus perlu dikategorikan ke dalam tingkatan-tingkatan. Apabila perlu dikategorikan, bagaimana pengkategorian tersebut dilakukan.

Obrolan kembali melokal. Tentang Forum Komik Jogja. Tentang kebutuhan komikus-komikus Jogja untuk menyuarakan aspirasinya ke kuping pemerintah. Apakah komunitas/forum macam ini sah dan berhak mewakili Jogja dalam rangka berhubungan dengan pemerintah? Dan yang paling penting, apakah perlu ada sebuah forum atau apapun bentuknya untuk  mewakili sebuah daerah.

Apriyadi Kusbiantoro selaku yang dituakan, maksudnya secara harafiah, yang paling tua di situ, diminta pendapatnya.

Apri sih terserah-serah saja. Mau ada mau tidak dia tidak ambil pusing. Tapi ia, eh beliau, mengingatkan akan dampak buruk dari forum macam itu. Sumber berkelahi.

Pembicaraan terus berlanjut. Untuk sementara disimpulkan kalau forum atau komunitas yang mewakili sebuah daerah perlu ada. Bukan untuk menentukan pelaku komik di daerah itu harus begini harus begitu, namun sebagai saluran bagi institusi lain yang berkepentingan. Misal pemerintah atau komunitas lain daerah.

Untuk itu penting bagi Forum Komik Jogja guna melakukan pendataan pelaku komik di Jogja. Data ini penting  disimpan dan tidak diserahkan sembarangan ke pihak-pihak yang berkemungkinan menggunakannya untuk kepentingan pribadi.

Pengajian berhenti tak lama setelah Faza Meonk datang. Teman-teman tampaknya jadi enggan bicara. Tanfidz Tamammudin sebagai moderator buru-buru menutup acara.

Kurnia Harta Winata

Sanggar Koebus, Yogyakarta, 15 November 2014

Oleh -
0 78
Pornografi Anak

Parlemen Jepang pada hari ini (18/06) mengadakan pengumpulan suara resmi yang bertujuan untuk melarang kepemilikan segala macam material yang menjurus pada pornografi anak. 

Sebagaimana diberitakan oleh laman HuffingtonPost, Jepang telah lama ditekan secara internasional karena memperbolehkan kepemilikan segala macam materi yang dimaksud. Pengumpulan suara di parlemen Jepang berhasil mengesahkan Undang-Undang baru, kendati produk ini tidak akan melarang manga maupun anime yang menggambarkan anak-anak. Kendati dikatakan terlambat – sebab Jepang adalah negara OECD terakhir yang mengesahkan peraturan tersebut – namun Jepang telah lama dikenal sebagai surga aman bagi mereka yang ingin membeli segala jenis materi yang terkait dengan pornografi anak.

“Dengan melarang kepemilikan pornografi anak yang bertujuan untuk kepentingan pemenuhan hasrat seksual, kami mempersulit orang-orang yang bermaksud memperdagangkan material terkait,” kata Kiyohiko Toyama, anggota partai New Komeito dan pendukung RUU tersebut, sebagaimana dikutip oleh HuffingtonPost.

Data nasional yang dihimpun tahun lalu memperlihatkan sekitar 1,644 kasus kejahatan pornografi anak terjadi di jepang. Angka ini meningkat 10 kali dibandingkan satu dekade lalu. Lebih dari seperempat kasus tersebut melibatkan penjualan dan saling berbagi data atau video lewat internet.

Ketertarikan industri cetak Jepang terhadap perempuan muda sebagai objek seksual terlihat sekilas melalui toko-toko buku di Jepang dan iklan di berbagai jalur subway yang menampilkan gambar anak-anak perempuan. Konon katanya, Undang-Undang yang baru tidak akan berlaku untuk sebagian besar gambar tersebut.

Lebih jauh lagi, konten yang lebih eksplisit dan penuh dengan muatan kekerasan tersedia secara online. Sebagian kecil anime dan manga menyediakan gambaran pronografi anak-anak secara gamblang, termasuk cerita yang berfokus pada tema seperti incest.

Adalah Pemerintah Daerah Tokyo yang bulan lalu melarang penjualan Little Sisters Paradise! 2 kepada anak-anak, oleh karena tema manga tersebut yang mempromosikan hubungan incest. Manga tersebut lantas dikategorikan sebagai “produk cetak tidak sehat” yang harus dijauhkan dari tangan anak-anak.

Meski Undang-Undang baru telah disahkan, namun anggota oposisi di parlemen dan juga sebagian besar penerbit di Jepang, termasuk komikus dan aktivis, menolak UU tersebut karena dinilai sebagai produk yang menghambat kebebasan berekspresi.

Oleh -
0 49
Comics-Art-Paul-Gravett

Berbicara tentang pameran arsip komik di British Libary yang dihelat Mei lalu, orang tidak bisa melupakan nama seorang kurator, Paul Gravett.

Dia adalah seorang jurnalis yang tinggal di London, sekaligus seorang penulis dan kurator yang telah bekerja di bidang penerbitan dan promosi komik selama lebih dari 20 tahun. Gravett juga adalah seorang pendiri Escape Magazine, dan juga sering menulis artikel bulanan tentang komik yang dimuat di Comics International, serta berkontribusi di kolom bulanan milik ArtReview. Artikel-artikelnya pernah dimuat di sejumlah terbitan seperti The Guardian, The Comics Journal, The Bookseller, Dazed & Confused, The Daily Telegraph, Neo, Blueprint, Time Out, Comics International, dan Comic Art.

22 Mei lalu ComicBookResources mewawancarai Gravett, yang di tahun ini terlibat dalam dua hal penting. Pertama, tentu saja, pameran arsip komik di British Library, dan yang kedua adalah penerbitan bukunya yang berjudul Comics Art. Ketika ditanya tentang bukunya, yang oleh CBR dianggap sebagai buku paling penting yang pernah ditulis Gravett, dia menjawab: “Saya tidak pernah menganggap ini (buku Comics Art) sebagai buku saya yang paling penting, namun tentu saja ini adalah langkah penting. Ini adalah langkah awal menuju Tate dan dunia seni.”

Judul buku Gravett itu memang terdengar seperti usaha untuk melegitimasikan status komik sebagai bagian dari Seni. Saya teringat sebuah percakapan di jejaring sosial ketika di sebuah kolom komentar status teman saya, saya mengatakan bahwa komik adalah seni. Seingat saya ada seorang kawan yang waktu itu tampak tidak setuju dengan klaim saya itu, dan dia mengingatkan saya dengan cara bertanya: “komik itu seni? Hayoo…” Rupanya ada banyak orang yang meragukan status komik sebagai bagian dari Seni. Tetapi saya kini juga bertanya-tanya: apakah status komik sebagai bagian dari Seni menjadi penting? Jika soalnya adalah legitimasi kultural, jawabannya adalah “ya”, tentu saja.

Nah, apa yang membuat Gravett beranggapan – lewat judul bukunya itu – bahwa komik adalah Seni? “Saya sejak lama tertarik untuk mendorong komik keluar dari lubang suara yang sedikit sumbang, dan mendorong orang untuk beranggapan bahwa komik adalah sesuatu yang akan membuatmu tertarik dan tergila-gila; dan ada sesuatu di dalam komik yang membuat orang sadar bahwa ada banyak jalan untuk tertarik kepada medium tersebut,” kata Gravett kepada ComicBookResources. Gravett beranggapan koneksi komik yang dekat dengan bentuk seni lain seperti sastra, Seni Rupa, dan lain sebagainya, adalah jalan untuk mentasbihkan komik sebagai bentuk Seni.

Ide untuk buku Comics Art ada pada empat tahun ke belakang, tepatnya di tahun 2010 ketika Gravett menjadi konsultan untuk sebuah pameran bertajuk “Rude Britannica”. Di pameran tersebut dia mengikutsertakan beberapa komik bercita rasa seni (comics art). Konon katanya waktu itu Gravett berusaha untuk memotong garis yang membagi Seni Tinggi dan komik bercita rasa seni, dan menunjukkannya secara bersama-sama di pameran tersebut.

Singkat cerita, Gravett kemudian mengirimkan proposal untuk menggarap sebuah buku tentang komik. Setelahnya dia berburu banyak buku di mana kata “art” ada di dalamnya. Kata Gravett: “Seringkali ada banyak koleksi buku tentang hal-hal berbeda, dan setelah ide-ide sedikit mengering, mereka sadar bahwa kita sudah banyak membahas bentuk-bentuk dan subjek-subjek seni, namun tidak untuk komik. Mereka tidak akan memulai dengan komik. Mereka akan memulai dengan sesuatu yang “layak”, namun dengan komik bercita rasa Seni, anda mendapat semuanya dalam satu buku, itu sudah cukup”.

Pada dasarnya, apa yang ingin dikatakan Gravett melalui bukunya tampak berkaitan dengan bagaimana mengeluarkan sisi Seni kemudian menumpahkannya ke dalam komik. Yah, mungkin kamu bisa membayangkan Pablo Picasso dan Gertrude Stein, atau – jika ingin menyebut nama yang lebih lokal – Sudjojono dan Entang Wiharso, bekerja bersama-sama …. membuat komik. Jika imajinasi ini menjadi kenyataan, akan seperti apa hasilnya?

Akan tetapi poin utamanya bukanlah seniman beneran yang kemudian menceburkan diri ke dalam komik. Poin yang ingin dikemukakan Gravett tampaknya berpusat di seputar kenyataan bahwa dia melihat banyak contoh tentang bagaimana komik bercita rasa seni seringkali “gagal”, dalam artian tidak terjual dengan baik di pasaran. Gravett menyebut nama Gustave Dore, yang sempat tertarik pada komik di awal karirnya, dan sempat juga memberikan kontribusi untuk majalah RAW garapan Françoise Mouly dan Art Spiegelman, yang terbit pada tahun 1980-1991. Karena majalah tersebut tidak terjual dengan baik, Dore kemudian menghabiskan waktunya untuk menggarap medium lain – dalam hal ini ilustrasi. “Coba pikirkan, jika pasar berjalan dengan baik, dia [Dore] tidak akan menghabiskan waktunya dengan medium lain. Dia akan menggarap lebih banyak komik,” kata Gravett melanjutkan.

Meski sudah berbicara banyak tentang komik bercita rasa Seni, Gravett tampaknya belum jua menunjukkan apa itu Seni di dalam komik, dan bagaimana kita mengetahuinya? Namun satu hal yang saya rasa mesti digaris-bawahi, buku Gravett rasanya terlalu menarik untuk dilewatkan begitu saja. Mungkin dari sanalah kita bisa menemukan jawaban atas pertanyaan di atas.

Oleh -
0 68
Writing-and-pen

Paste Magazine, sebuah majalah online yang membahas segala macam aspek budaya populer seperti Komedi, Tecknologi, Desain, Buku, TV, Games, dan lain sebagainya, membuka lowongan penulis lepas untuk mereka yang tertarik dengan penulisan dengan subjek berbasis komik.

Sebagaimana yang tertulis di laman ini, Paste Magazine membuka lowongan untuk mereka yang merasa punya antusiasme besar di dunia penulisan buku dan komik. Mereka yang tertarik dengan lowongan tersebut harus menunjukkan kedekatan dengan medium buku dan/atau buku komik dan harus mampu menulis dengan cara cerdas dan enak dibaca. Adapun kategori penulisan yang disyaratkan oleh majalah tersebut meliputi ulasan, features, Q&A’s (Questions and Answers), lists, dan galeri untuk seksi Paste’s Books.

Jika kamu berpikir bahwa kamu mampu memenuhi kualifikasi yang dicari, Paster Magazine membukan kesempatan untuk mengirimkan contoh tulisan dan resume ke alamat e-mail comics[at]pastemagazine.com atau books[at]pastemagazine.com. Lebih jauh lagi, kamu juga dipersilakan untuk menyodorkan ide mengenai artikel yang akan anda garap melalui email.

Lowongan penulis lepas untuk Paste Magazine dibuka juga untuk orang-orang yang tidak memiliki kewarganegaraan Amerika.

Esei

Terpopuler Dalam Seminggu