Tagar Konten bertagar dengan "sosok"

sosok

Oleh -
0 47
komik-Alice-Cooper-sampul

Setelah tampil di dokumenter berjudul Super Duper Alice Cooper, legenda musik rock Alice Cooper akan muncul lagi sebagai karakter yang hidup di dalam serial komik baru terbitan Dynamite Entertainment.

Komik tersebut akan diberi judul sederhana: Alice Cooper. Menurut laman Hollywood Reporter, komik terbaru yang menghadirkan Alice Cooper itu akan menghadirkan sosok dirinya sebagai “legenda rock yang menjaga mimpi umat manusia”. Alice Cooper akan ditulis oleh Joe Harris (X-Files), dengan visualisasi oleh Eman Casallos (The Ninjettes, Jennifer Blood). Ini bukanlah pertama kalinya Cooper ditampilkan di dalam serial komik. Dia sebelumnya pernah muncul di seri Marvel Premiere yang diterbitkan pada era 1970-an. Setelahnya dia juga dimunculkan di miniseri garapan Neil Gaiman yang terbit pada tahun 1990-an: Alice Cooper: The Last Temptation.

Tentang dirinya yang dimunculkan lagi lewat medium komik, Cooper mengatakan di sebuah rilisan untuk pers:

“Artistically, for me there is hardly a better medium. There is so much you can do in the form of a comic that we’d never been able to do onstage. It’s just a different way of storytelling, and it really has almost limitless possibilities. We’re looking forward to stretching the existing boundaries of the comic medium again. We have new stories to tell, but we’ll do it with the same theatrical, sinister sensibility that comes with the name ‘Alice Cooper.’ This is just the beginning! Welcome to my new nightmares!”

(“Bagi saya, tidak ada medium yang lebih baik secara artistik. Ada banyak hal yang bisa kamu lakukan lewat bentuk komik, yang tidak pernah bisa kami lakukan di atas panggung. Komik merupakan sebuah medium pengisahan cerita yang berbeda, dan ia memiliki kemungkinan tidak terbatas. Kami sudah tidak sabar untuk meregangkan batas-batas yang ada pada medium komik, sekali lagi. Kami punya cerita untuk disampaikan, namun kami akan melakukannya dengan sensibilitas-teatrikal yang sama, seperti yang muncul melalui nama ‘Alice Cooper’. Ini hanyalah permulaan! Selamat datang di mimpi burukku!”)

Dalam sebuah wawancara pada tahun 1999, Alice Cooper mengaku bahwa dia sangat antusias dengan medium komik. Masa kecilnya dihabiskan dengan membaca puluhan judul buku komik.

Nomor pertama komik Alice Cooper akan dirilis September mendatang.

Oleh -
0 49
Comics-Art-Paul-Gravett

Berbicara tentang pameran arsip komik di British Libary yang dihelat Mei lalu, orang tidak bisa melupakan nama seorang kurator, Paul Gravett.

Dia adalah seorang jurnalis yang tinggal di London, sekaligus seorang penulis dan kurator yang telah bekerja di bidang penerbitan dan promosi komik selama lebih dari 20 tahun. Gravett juga adalah seorang pendiri Escape Magazine, dan juga sering menulis artikel bulanan tentang komik yang dimuat di Comics International, serta berkontribusi di kolom bulanan milik ArtReview. Artikel-artikelnya pernah dimuat di sejumlah terbitan seperti The Guardian, The Comics Journal, The Bookseller, Dazed & Confused, The Daily Telegraph, Neo, Blueprint, Time Out, Comics International, dan Comic Art.

22 Mei lalu ComicBookResources mewawancarai Gravett, yang di tahun ini terlibat dalam dua hal penting. Pertama, tentu saja, pameran arsip komik di British Library, dan yang kedua adalah penerbitan bukunya yang berjudul Comics Art. Ketika ditanya tentang bukunya, yang oleh CBR dianggap sebagai buku paling penting yang pernah ditulis Gravett, dia menjawab: “Saya tidak pernah menganggap ini (buku Comics Art) sebagai buku saya yang paling penting, namun tentu saja ini adalah langkah penting. Ini adalah langkah awal menuju Tate dan dunia seni.”

Judul buku Gravett itu memang terdengar seperti usaha untuk melegitimasikan status komik sebagai bagian dari Seni. Saya teringat sebuah percakapan di jejaring sosial ketika di sebuah kolom komentar status teman saya, saya mengatakan bahwa komik adalah seni. Seingat saya ada seorang kawan yang waktu itu tampak tidak setuju dengan klaim saya itu, dan dia mengingatkan saya dengan cara bertanya: “komik itu seni? Hayoo…” Rupanya ada banyak orang yang meragukan status komik sebagai bagian dari Seni. Tetapi saya kini juga bertanya-tanya: apakah status komik sebagai bagian dari Seni menjadi penting? Jika soalnya adalah legitimasi kultural, jawabannya adalah “ya”, tentu saja.

Nah, apa yang membuat Gravett beranggapan – lewat judul bukunya itu – bahwa komik adalah Seni? “Saya sejak lama tertarik untuk mendorong komik keluar dari lubang suara yang sedikit sumbang, dan mendorong orang untuk beranggapan bahwa komik adalah sesuatu yang akan membuatmu tertarik dan tergila-gila; dan ada sesuatu di dalam komik yang membuat orang sadar bahwa ada banyak jalan untuk tertarik kepada medium tersebut,” kata Gravett kepada ComicBookResources. Gravett beranggapan koneksi komik yang dekat dengan bentuk seni lain seperti sastra, Seni Rupa, dan lain sebagainya, adalah jalan untuk mentasbihkan komik sebagai bentuk Seni.

Ide untuk buku Comics Art ada pada empat tahun ke belakang, tepatnya di tahun 2010 ketika Gravett menjadi konsultan untuk sebuah pameran bertajuk “Rude Britannica”. Di pameran tersebut dia mengikutsertakan beberapa komik bercita rasa seni (comics art). Konon katanya waktu itu Gravett berusaha untuk memotong garis yang membagi Seni Tinggi dan komik bercita rasa seni, dan menunjukkannya secara bersama-sama di pameran tersebut.

Singkat cerita, Gravett kemudian mengirimkan proposal untuk menggarap sebuah buku tentang komik. Setelahnya dia berburu banyak buku di mana kata “art” ada di dalamnya. Kata Gravett: “Seringkali ada banyak koleksi buku tentang hal-hal berbeda, dan setelah ide-ide sedikit mengering, mereka sadar bahwa kita sudah banyak membahas bentuk-bentuk dan subjek-subjek seni, namun tidak untuk komik. Mereka tidak akan memulai dengan komik. Mereka akan memulai dengan sesuatu yang “layak”, namun dengan komik bercita rasa Seni, anda mendapat semuanya dalam satu buku, itu sudah cukup”.

Pada dasarnya, apa yang ingin dikatakan Gravett melalui bukunya tampak berkaitan dengan bagaimana mengeluarkan sisi Seni kemudian menumpahkannya ke dalam komik. Yah, mungkin kamu bisa membayangkan Pablo Picasso dan Gertrude Stein, atau – jika ingin menyebut nama yang lebih lokal – Sudjojono dan Entang Wiharso, bekerja bersama-sama …. membuat komik. Jika imajinasi ini menjadi kenyataan, akan seperti apa hasilnya?

Akan tetapi poin utamanya bukanlah seniman beneran yang kemudian menceburkan diri ke dalam komik. Poin yang ingin dikemukakan Gravett tampaknya berpusat di seputar kenyataan bahwa dia melihat banyak contoh tentang bagaimana komik bercita rasa seni seringkali “gagal”, dalam artian tidak terjual dengan baik di pasaran. Gravett menyebut nama Gustave Dore, yang sempat tertarik pada komik di awal karirnya, dan sempat juga memberikan kontribusi untuk majalah RAW garapan Françoise Mouly dan Art Spiegelman, yang terbit pada tahun 1980-1991. Karena majalah tersebut tidak terjual dengan baik, Dore kemudian menghabiskan waktunya untuk menggarap medium lain – dalam hal ini ilustrasi. “Coba pikirkan, jika pasar berjalan dengan baik, dia [Dore] tidak akan menghabiskan waktunya dengan medium lain. Dia akan menggarap lebih banyak komik,” kata Gravett melanjutkan.

Meski sudah berbicara banyak tentang komik bercita rasa Seni, Gravett tampaknya belum jua menunjukkan apa itu Seni di dalam komik, dan bagaimana kita mengetahuinya? Namun satu hal yang saya rasa mesti digaris-bawahi, buku Gravett rasanya terlalu menarik untuk dilewatkan begitu saja. Mungkin dari sanalah kita bisa menemukan jawaban atas pertanyaan di atas.

Oleh -
0 45
Dua-figur-komik-amerika

“Dick Ayers adalah salah satu raksasa di Marvel Age of Comics,” kata Danny Fingeroth kepada Washington Post. Dia adalah figur kedua setelah Al Feldstein yang akan saya bicarakan di sini.

Dick Ayers meninggal pada 4 Mei lalu karena menderita penyakit Parkinson. Sementara dia dikenal sebagai salah seorang kreator Ghost Rider, Ayers juga dikenang dalam benak banyak penggemar komik Amerika sebagai peninta untuk karya-karya Jack Kirby yang terbit pada periode 1950-an sampai 1960-an.

Dick Ayers mulai memasuki industri komik Amerika pada akhir 1940-an, ketika Perang Dunia II sedang berlangsung. Dia sempat membuat komik strip ketika bergabung di Army Air Cops. Segera setelahnya dia menggarap komik Jimmy Durante untuk Magazine Enterprises, selain bekerja untuk Siegel dan Shuster satu dekade setelah mereka berdua mengguncang dunia industri pahlawan super dengan karakter Superman.

Namanya hampir terkenal dalam waktu singkat setelah dia menciptakan karakter supernatural bernama Ghost Rider untuk Tim Holt #11 (1949) bersama dengan penulis Ray Krank. Ghost Rider muncul dan hidup di Tim Holt, A-1 Comics, Red Mask, B-Bar-B Riders. Karakter tersebut sangat populer sampai-sampai dibikinkan komik sendiri pada tahun 1950, meski tidak berlangsung lama. Histeria massa yang dipicu protes pemuka agama, otoritas, dan para orang tua, yang menganggap komik sebagai bacaan buruk membuat karakter tersebut mati ditahun 1954 – hal serupa juga menimpa E.C. Comics di periode yang sama. Biang keladi kematian Ghost Rider dan E.C. Comics pun sama, tidak lain adalah Comics Code Authority.

Ghost Rider mengalami kematian karena tidak digunakan, meski kemudian Marvel menghidupkannya kembali pada Februari 1967 lewat seri Ghost Rider #1. Seri yang dihidupkan kembali itu ditulis oleh Gary Friedrich dan Roy Thomas, dengan Ayers menggarap sisi visualnya.

Namun yang benar-benar membuatnya terkenal di antara para fans adalah periode di mana dia bekerja untuk Marvel, antara era 1950-an sampai 60-an. Era tersebut adalah era ketika ia melakukan penintaan untuk banyak serial monster yang terbit di tahun 1960 – yang semuanya digambar oleh Jack Kirby. Dia tetap bekerja di Marvel pada tahun 1960, pada rentang periode yang kerap kali disebut ‘Silver Age of Comics’. Disebut demikian karena banyak karakter pahlawan super Amerika lahir di periode ini. Ayers seringkali menjadi peninta buku-buku komik pahlawan pertama, termasuk “Fantastic Four”, di mana dia melakukan penintaan di atas garis pensil garapan Kirby. Beberapa kali dia sempat menjadi penciler, termasuk untuk karakter pahlawan super seperti Human Torch di “Strange Tales” dan juga buku-buku komik lain seperti “Rawhide Kid.”

Namun agaknya pencapaian Ayers yang paling banyak diingat oleh para penggemar adalah ketika ia melakukan penintaan sekaligus menjadi penciler untuk Sgt. Fury and the Howling Commandoes. Mula-mula ia meninta nomor #1-3 dari seri tersebut yang terbit pada Mei sampai September 1963, kemudian ia mengambil alih tugas Kirby sebagai penciler untuk nomor #8 yang terbit pada Juli 1964. Sejak itulah dia kemudian menangani  Sgt. Fury and the Howling Commandoes sebagai penciler selama sepuluh tahun – kecuali untuk nomor #13 di mana dia kembali ke formasi awal di mana dia meninta dan Kirby bertindak sebagai penciler, dan juga lima isu lain yang digarap oleh penciler lain.

Seri Sgt. Fury and the Howling Commandoes yang digarap Ayers (di mana dia menjadi penciler) bersama dengan Gary Friedrich diingat banyak orang sebagai seri yang terlihat lebih “berisi”. Mereka berdua berkolaborasi di nomor #42 sampai #44 yang muncul pada bulan Mei sampai Juli 1967.

Baik Ayers maupun Feldstein memiliki peran masing-masing dalam jagat perkomikan di Amerika sana. Dan masing-masing memiliki rekam jejaknya sendiri yang kemudian diingat oleh para penggemar mereka berdua. Namun satu hal yang perlu dicatat: saya pribadi lebih menyukai Feldstein, karena pekerjaannya di “MAD” membuat majalah tersebut tampak terlihat sebagai upaya untuk mengejek dunia orang dewasa yang hipokrit. Feldstein dalam sebuah wawancara dengan New York Times pada tahun 1981 mengatakan: “Apa yang sudah saya lakukan adalah membawa absurditas dunia orang dewasa yang dilihat anak-anak, dan berusaha menunjukkan kepada anak-anak bahwa dunia orang dewasa tidaklah semahakuasa kelihatannya. Kami berkata kepada mereka: ada banyak sampah di dunia ini dan kalian semua harus waspada terhadapnya.”

Oleh -
0 49
Dua-figur-komik-amerika

Dua orang penting di industri komik Amerika telah meninggal dunia. Beberapa dari anda mungkin tidak mengenalnya, sementara beberapa yang lain mungkin pernah menikmati apa yang mereka hasilkan di dalam industri tersebut. 

Nama yang pertama adalah Al Feldstein, yang meninggal pada 29 April di usia 88 tahun. Namanya mungkin tidak terlalu dikenal sebagian besar khalayak komik di Indonesia – sekali lagi, mungkin. Namun beberapa orang menganggapnya sebagai figur sentral – walau dia mungkin melakukannya secara diam-diam – yang mempengaruhi budaya pop Amerika. Editorial The Boston Globe menyebut bahwa Feldstein-lah yang menjadi pionir gaya humor gila-gilaan (“kurang sopan”, sebagaimana banyak orang menyebutnya) dan kemudian menyuntikannya ke dalam kehidupan khalayak di Amerika sana.

Feldstein sebelumnya adalah editor majalah “MAD” selama 28 tahun, sejak 1956 sampai 1984. Konon sirkulasi dan oplah majalah tersebut mencapai titik tertinggi ketika ditangani oleh Feldstein. Lebih dari dua juta eksemplar majalah bulanan terjual di awal 1970-an. Feldstein jugalah yang berinisiatif meluncurkan “Usual Gang of Iditos” di majalah tersebut, yang menampilkan banyak talenta di bidang komik.

Meski demikian, Feldstein bukanlah editor pertama untuk “MAD”. Bagian editorial majalah tersebut sebelumnya ditangani oleh Harvey Kurtzman. Sebagai catatan, “MAD” sebelumnya bukanlah sebuah majalah, namun judul untuk buku komik. Walau Kurtzman dikenal sebagai penyindir handal, namun di juga adalah pebisnis yang buruk. Kurtzman juga disebut-sebut sebagai seniman yang terobsesi pada detail; ini adalah sebab yang menjelaskan kenapa banyak seniman yang direkrut untuk “MAD” tidak bisa mengikuti irama Kurtzman. Hasilnya mengerikan bagi sebuah buku komik. Kurtzman adalah orang yang menyebabkan “MAD” tidak bisa menghasilkan banyak uang. Dia butuh waktu lama untuk mengerjakan sebuah nomor, dan kerap kali tidak bisa memenuhi tenggat waktu yang diwajibkan. Guna menenangkan Kurtzman yang ketika itu meminta lebih banyak uang, William Gaines (orang di balik penerbitan EC Comics dan MAD) merilis sebuah majalah edisi nomor 24 tahun 1955. Di sinilah era di mana “MAD” mulai hadir dalam bentuk majalah, walau Kurtzman hanya terlibat dalam tiga isu untuk kemudian meninggalkannya.

Kecewa dengan hengkangnya Kurtzman, Gaines kemudian merekrut Feldstein. Sebagai editor, dia menggunakan materi yang ditinggalkan Kurtzman untuk mengisi keseluruhan isu pada nomor 28, dan kemudian sebagian isu pada nomor 29 dan 30. Setelahnya Feldstein mengerjakan semua materi untuk nomor 31 yang terbit pada Januari-Februari 1957. Banyak kartunis dan penulis baru yang muncul di tahun-tahun pertama setelah Feldstein menagani editorial MAD. Mereka inilah yang kemudian menjadi grup kontributor utama andalan “MAD”.

Nomor pertama “MAD” yang ditangani oleh Feldstein (#29) adalah nomor yang menyajikan karya kartunis bernama Don Martin. Beberapa bulan setelah nomor 29 terbit, Feldstein merekrut Mort Drucker yang kemudian menjadi salah satu kartunis pentolan “MAD”. Drucker, bersama Angelo Torres, adalah kartunis yang kerap menyajikan satir acara televisi kontemporer di Amerika ketika itu. Pada 1961 Feldstein merekrut Dave Berg dan Antonio Prohías, dan mulai mengembangkan format majalah untuk “MAD”. “MAD” yang terpuruk di bawah Kurtzman perlahan-lahan mulai menapaki kejayaan dan kesuksesan komersil.

Rekrutan Feldstein kemudian menjadi fenomena. Drucker bertransformasi menjadi seorang karikaturis yang dikenang karena parodi yang dilakukannya atas sejumlah film. Feldstein jugalah yang merekrut Sergio Aragones, yang waktu itu dimintanya untuk menggarap “marginalia” – sebuah kartun cantik yang mengisi marjin halaman di dalam “MAD”. Feldstein juga merekrut Antonio Prohias (seorang pelarian politik dari Kuba) yang kemudian melahirkan “Spy vs. Spy”.

Tentu saja Feldstein bukanlah orang yang melahirkan Alfred E. Neuman – sebuah figur remaja dengan gigi depan yang tidak lengkap dan tersenyum bodoh – namun dialah yang kemudian menggunakannya di majalah “MAD”. Alfred E. Neuman pertama kali muncul di nomor 30. Dia hadir dengan slogan “what, me worry?”. Feldstein menggunakannya untuk memberi karakteristik khas pada “MAD”.

Mad-#30Credit: Doug Gilfrod's Madcoversite

Feldstein dikenal sebagai orang yang mengerjakan tugasnya dengan sangat serius. Dia juga kerap menulis guna mempertanyakan nilai-nilai keameriakaan dan kemudian menantang kepuasan dirinya sendiri. Posisinya di MAD – dengan Gaines sebagai bosnya – sebetulnya bukan pertama kalinya mereka bekerja bersama-sama. Mereka berdua telah berkolaborasi di E.C. Comics sebelumnya. Ketika masih bekerja di E.C. Comics, Feldstein adalah editor, penulis, dan seniman dari banyak cerita yang mengisi halaman demi halaman judul komik seperti Weird Science, Weird Fantasy, Vault of Horror, Tales from the Crypt, Shock SuspenStories, Panic, Haunt of Fear, dan Crime SuspenStories. Semua judul tersebut dipublikasikan oleh E.C. Comics sepanjang tahun 1950-1955.

Bagi para penikmat komik Amerika, semua judul yang disebut di atas dianggap sebagai produk terbaik di masanya. Meski demikian, ketika itu para pemimpin agama, politikus, dan orang tua melihat semua judul tersebut sebagai produk-produk yang memberi pengaruh buruk. Hasilnya, muncul Comics Code Authority yang memaksa Gaines untuk menghentikan serial yang diterbitkan E.C. Comics. Untungnya “MAD” kemudian bertahan lama – sebab ia adalah majalah, dan bukan buku komik.

Situs Gosanangelo.com menyebut “MAD” sebagai majalah yang menginspirasi banyak komedian dan para penyindir. Kalau anda hidup di Amerika, dan tertawa ketika menonton sejumlah acara seperti “Saturday Night Live” atau “National Lampoon”, maka anda harus berterima kasih kepada Feldstein, sebab keduanya merupakan buah di mana inspirasinya berasal dari Feldstein.

Seteleh pensiun dari “MAD”, Feldstein pindah ke belahan Amerika bagian Barat dan kembali ke seni. Dia kemudian menjadi seorang pelukis yang berfokus pada adegan di luar ruangan. Dia juga terlibat dalam penggarapan kembali sampul komik-komik terbitan E.C miliknya. Sebulan sebelum kematiannya, sebuah biografi tentangnya ditulis oleh Grant Geissman dengan judul Feldstein: The MAD Life and Fantastic Art of Al Feldstein.

Oleh -
0 42
Beyond-edward-snowden

Mantan kontraktor NSA yang kini dikenal sebagai whistleblower, Edward Snowden, akan mendapat peran terhormat di dalam “novel grafis” berjudul Beyond: Edward Snowden.

Edward Snowden merupakan seorang profesional di bidang komputasi yang tadinya bekerja sebagai kontraktor NSA (National Security Agency) Amerika Serikat. Dia juga sempat bekerja untuk CIA sebelum bergabung dengan NSA. Namun bukan ini yang kemudian membuat riwayat hidupnya menjadi menarik.

Snowden menarik perhatian masyarakat internasional setelah dia membocorkan ribuan dokumen rahasia NSA yang didapatkannya selama bekerja dengan lembaga keamanan tersebut. Dokumen-dokumen yang dia bocorkan kepada dua jurnalis: Laura Poitras dan Green Greenwald, berisi tentang program pengintaian global yang banyak diantaranya dijalankan oleh NSA dan Five Eyes bekerjasama dengan beberapa negara Eropa dan perusahaan telekomunikasi. Pada prinsipnya, program pengintaian tersebut bertujuan untuk menyadap semua data-data pengguna yang terdigitalisasi. Sebagai subjek yang kontroversial, dia punya banyak julukan, antara lain “pahlawan”, “patriot”, “pengkhianat”, dan “pembangkang”.

Kembali ke soal novel grafis dimana dia akan diberi porsi utama di dalamnya, Beyond: Edward Snowden telah dirilis pada 21 Mei kemarin dalam dua versi: cetak dan digital. Penulis Valerie D’Orazio adalah orang yang bertugas menulis cerita, sedangkan Dan Lauer kebagian jatah menggarap sisi visualnya.

Beyond: Edward Snowden mengilustrasikan sebuah sisi Snowden yang belum pernah diketahui publik. “Novel grafis” tersebut diterbitkan oleh Bluewater Production, penerbit yang juga menggarap biografi Kurt Cobain dalam bentuk komik. Premis utamanya berputar pada motivasi utama Snowden yang mendorongnya untuk membocorkan dokumen rahasia milik NSA pada tahun 2013. Lebih jauh lagi, Sony Pictures telah membeli hak untuk memfilmkan buku Greenwald, Place to Hide: Edward Snowden, yang bercerita tentang Snowden. Tampaknya kisah Snowden tidak hanya akan berakhir di atas komik, melainkan di layar lebar juga.

Situs theVerge mengatakan bahwa Valerie D’Orazio mengarahkan cerita ini ke bentuk biografi, meski tampaknya hasil akhirnya akan berbeda. Beyond: Edward Snowden akan dimulai dengan tokoh Snowden yang dialihrupakan menjadi seorang remaja 19 tahun yang mengalami putus sekolah. Sang remaja bekerja di sebuah perusahaan kecil yang menjual manga dan anime. D’Orazio, yang pernah bekerja untuk DC Comics dan Marvel, berkata bahwa kisah hidup Snowden merupakan jembatan ideal yang bakal menghubungkan ‘geek culture and the mainstream,‘ di mana Snowden dianggapnya sebagai individu yang berasal dari “geek culture“.

Snowden Comic Book

Esei

Terpopuler Dalam Seminggu