Tagar Konten bertagar dengan "studi komik"

studi komik

Oleh -
1 265
Komik-tema-G30S

Saya kebetulan mendapat kesempatan untuk menjadi pembicara pada seminar “The Boxer & Sejarah dalam Komik”, yang menjadi rangkaian acara ‘Comiconnexions Comics Week! Yogyakarta’ yang diselenggarakan Goethe Institut berkerjasama dengan Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Seminarnya sendiri diadakan di IVAA, pada 27 September 2014.

Untuk keperluan seminar itu saya menulis ihwal komik-komik Indonesia yang mengangkat tema seputar G30S serta pembantaian terhadap orang-orang komunis maupun mereka yang dituduh berafiliasi dengannya, yang terjadi pada periode 1965-1966. Esei berjudul ‘Aku, Humor, Takdir: Representasi ’65-66 Dalam Komik Indonesia‘ bisa Anda baca melalui tautan di bawah ini.

Dalam kondisi di mana tidak banyak karya komik yang mengangkat tema G30S maupun akibat yang muncul setelahnya (pembantaian dan penangkapan orang komunis maupun mereka yang dituduh demikian, di sepanjang 1965-1966), perkaranya kemudian bukan cuma soal bagaimana sejarah direpresentasikan lewat medium yang memiliki kekhasan bentuk seperti komik (lewat ruang serta temporalitasnya yang khusus), tetapi juga menyentuh soal etika.Dengan mengangkat soal etika, saya tidak hendak mengarahkan tujuan esei ini ke wilayah di mana ia berperan sebagai penjaga moral, namun dari sana kita bisa melakukan ziarah dengan memfokuskan diri pada soal sejauh mana sejumlah pertimbangan kultural digunakan untuk merepresentasikan tragedi 1965-1966 secara sekuensial.

Aku, Humor, Dan Takdir by AkademiSekuensial

Oleh -
0 65
komik-dan-ilmu-kedokteran

Akhir bulan ini akan diadakan sebuah konferensi yang bertajuk “Comics and Medicine Conference” yang mengambil lokasi di Baltimore. Ini adalah tahun kelima konferensi tersebut, yang diprakarsai oleh RN MK Czerwiec dan dokter Ian Williams, serta Graphicmedicine.org. 

Konferensi tersebut akan berlangsung selama tiga setengah hari, dan akan membahas segala hal tentang bagaimana buku komik membantu mengajarkan dan mendidik praktisi medis/maupun pembaca biasa, maupun membantuk menyembuhkan sakit. Paper telah dikirimkan, dan semua pemateri telah siap hadir di sana. Lalu, siapa saja yang bakal mengisi konferensi tersebut?

Ada empat pembicara yang akan menyodorkan materi yang berhubungan dengan komik dan ilmu kedokteran, mereka ini adalah:

  • James Sturn. Dia akan berbicara tentang bagaimana Center for Cartoon Studies bekerja bersama veteran dan akan mengadakan sesi lokakarya yang berfokus pada isu tersebut.
  • Carol Tilley. Dia adalah asisten professor di University of Illinois Urbana-Champaign, yang akan berbicara tentang karya Fredric Wertham berjudul Seduction of Innocent dan apa yang salah dari bagian kesimpulan buku tersebut yang mengatakan bahwa komik adalah penyebab kenakalan remaja.
  • Arthur W. Frank. Dia adalah professor di University of Calgary yang akan berbicara tentang bagaimana kesakitan dan penderitaan digambarkan melalui “novel grafis” dan bagaimana mereka membantu pasien.
  • Ellen Forne yang akan berbicara mengenai “novel grafis”-nya yang berjudul Marbles, Mania, Depression, Michelangelo, and Me.

Kamu bisa menemukan informasi lebih lanjut tentang konferensi tersebut melalui tautan 2014 Baltimore Conference.

Oleh -
2 544
Critics

Tulisan tentang kritik komik ini telah mengalami perubahan teknis seperlunya – dengan menambahkan catatan kaki dan referensi, tanpa mengurangi maksud awal tulisan. 

Terkait dengan kritik komik, seorang teman pernah melontarkan pendapatnya kepada saya mengenai jenis-jenis kritik komik, di mana salah satu pendapatnya yang paling saya ingat adalah: “komentar di Facebook pun itu adalah kritik”. Benarkah demikian? Pertanyaan ini tidak perlu dijawab dengan tergesa-gesa seperti perjaka yang kebelet kawin. Terlebih dahulu saya ingin menceritakan sebuah peristiwa kecil, kali ini tentang posisi kritik di Indonesia. Cerita akan saya batasi pada bidang seni, persisnya, kritik seni rupa.

Di lain hari pada bulan Mei saya berbincang dengan seorang kurator via Facebook. Sesi obrolan yang berlangsung di kala panah hujan tanpa ampun menerjang bumi itu berkisar di permasalahan posisi kritikus di bidang seni rupa yang menurutnya tidak begitu dihargai. Sang kurator menjelaskan bahwa di Indonesia, wacana yang dominan adalah wacana harmoni. Saking kuatnya wacana semacam itu, kritik atas sebuah karya dianggap sebuah nilai pengganggu tatanan. Singkat cerita, ia membandingkan kondisi di sini dengan di “Barat” (secara khusus ia merujuk Eropa dan Amerika) sana, yang konon katanya memiliki sejarah kritik seni yang tajam dan keras. Dua pertanyaan muncul: benarkah kritikus, terutama idenya, tidak diterima di Indonesia? Kalaupun benar, kenapa masih sempat orang tertentu mengembel-embeli dirinya sebagai “kritikus” di sebuah tulisan seputar sastra Indonesia, misalnya? Sampai batas mana seseorang bisa mengaku diri sebagai kritikus?

Teks-teks seputar ‘kritik komik’, menurut pendapat saya, telah menjadi sesuatu yang cair maknanya oleh karena anggapan umum bahwa sebuah tulisan (yang pendek sekalipun) bisa dianggap sebagai sebuah kritik. Komentar negatif di laman Facebook, misalnya, di mana seorang komikus menunjukkan karyanya kepada teman-temannya, merupakan jenis produksi tulisan yang dianggap pantas disebut sebagai kritik. Lalu, komentar negatif pendek-pendek atas sebuah komik, yang ditulis lewat twitter pun dianggap kritik komik. ‘Kritik komik’ sebagai sebuah istilah tampak bisa dilekatkan kepada jenis tulisan apa saja, membuatnya berada di dalam kamar gelap yang wujudnya bisa berubah kapanpun. Tulisan ini bermaksud untuk memberikan sumbangan kecil terhadap wacana seputar ‘kritik komik’ yang tampak susah sekali untuk dirumuskan itu. Lebih jauh lagi, skop tulisan ini saya maksudkan untuk diletakkan dalam lingkup yang lebih luas seperti kajian komik. Namun sebelum masuk ke paparan yang lebih substantif, saya akan memulai sedikit paparan tentang pandangan etimologis mengenai ‘kritik’ itu sendiri.

1/

Kebanyakan orang mungkin sudah telanjur melakukan apriori terhadap kritik, seolah-olah kritik itu identik dengan bentuk-bentuk lisan dan tulisan yang bertujuan semata untuk menemukan kesalahan tertentu dan penuh dengan pandangan-pandangan negatif nan meresahkan atas sebuah corpus yang dibahas oleh sang kritikus. Tentu saja perkaranya tidak sesederhana itu. ‘Kritik’ itu sendiri – yang secara etimologis berasal dari kata krinein yang berarti menilai – sudah merujuk kepada metode yang berpegang kepada disiplin, sebuah analisis sistemik yang umumnya tertulis dan/atau disampaikan secara lisan. Jika komikus berpegang pada pengetahuan dan konsep visual – cara mengatur komposisi antar panel untuk diletakkan dalam ruang (layout), teks dan gambar, tebal-tipis garis, plot cerita, konflik, klimaks, dan sebagainya – sebelum ia mulai menumpahkan imajinasinya di atas kertas, maka pasangannya, kritikus komik, juga melakukan hal serupa meskipun pengetahuan/konsep yang dipakai, juga output yang dihasilkan akan sungguh berbeda.

Karena kritik adalah sebuah disiplin, maka gagasan kritik yang paling negatif sekalipun selalu memuat pertimbangan tertentu yang digunakan untuk menilai fenomena atau objek tertentu. Dengan kata lain, ada standar penilaian, fakta, konsep, dan teori tertentu yang dipakai sebagai jalan untuk mengantar seorang kritikus sampai kepada kesimpulan-kesimpulan tertentu. Pendapat ini hanya mau mengatakan bahwa kerja seputar produksi wacana tentang komik Indonesia tidak bisa dilandaskan pada kata hati semata. Orang tidak bisa menyebut seorang komikus sebagai pembaharu dalam bidang estetika komik Indonesia, misalnya, tanpa menjelaskan kenapa dan bagaimana dia bisa sampai kepada kesimpulan semacam itu.

Sebuah kritik, dengan demikian, selalu mengandaikan sebuah standar untuk memperlihatkan apa yang esensial (Gosche, 2007: 12).  Pada bidang-bidang lain di luar kajian komik seperti sastra, misalnya, konon katanya kritik sastra merupakan sebuah dunia penilaian yang dipengaruhi oleh perkembangan kristianitas. Gereja di era Rennaissance pada umumnya tidak hanya bertugas menyeleksi teks-teks kitab suci yang “boleh beredar”, melainkan juga bertugas meluruskan pembacaan yang menyesatkan (emendatio) terutama untuk untuk karya-karya puisi dan narasi epik; dalam tradisi Islam juga dikenal ahli tafsir dengan ilmu menilai hadis atau kritik sanad-nya untuk menakar keaslian hadis yang dibagi menjadi tiga kategori: shoheh, dha’if, maudhu’.[i]

Ada dua hal yang setidaknya bisa ditangkap dari contoh di bidang-bidang di luar kajian/kritik komik, yakni: 1) kritik atas teks tertentu yang dikerjakan dengan disiplin yang sistematis, dan 2) usaha untuk melegitimasikan sebuah teks yang dikerjakan oleh sebuah institusi atau orang yang dianggap punya kapasitas modal kultural (keilmuan) untuk memberi legitimasi. Ada satu lagi yang bisa ditambahkan di sini selain karakteristik  kritik komik tersebut, yakni gelar kritikus yang seharusnya terkait dengan seorang ahli yang menguasai dasar-dasar tentang sejarah komik dan teori komik tertentu. Sampai di sini orang bisa melanjutkan ke satu pertanyaan: bagaimana sebetulnya wujud dan gagasan sebenarnya dari ‘kritik komik’ itu sendiri? Saya akan berusaha meraba jawaban atas pertanyaan ini dengan cara menempatkan “kritik” dalam wilayah produksi wacana kajian komik supaya kita bisa melihat kekuatannya dalam menentukan legitimasi komik di tengah wacana akademis.

Esei

Terpopuler Dalam Seminggu