Tagar Konten bertagar dengan "teori komik"

teori komik

Oleh -
0 199
sequential art

Ada sebuah kiriman diskusi yang dibagi di laman Facebook Akademi Samali. Awalnya diskusi ini dimulai oleh Bayu Indie dan kemudian berkembang menjadi sebuah obrolan panjang dengan tanggapan di sana-sini yang rasanya sayang untuk dilewatkan.

Kenapa begitu sayang untuk dilewatkan? Coba kita lihat potongan gambar di bawah ini:

Post on Facebook

Dari gambar di atas, kita bisa lihat bahwa mulanya si pemantik diskusi hanya ingin bertanya apakah benar gambar yang dibagi dan ditunjukkannya di laman tersebut adalah komik bikinin orang Indonesia. Seserdehana itu. Boleh dibilang diskusi tentang apakah karya potongan komik di atas dibuat oleh komikus Indonesia atau bukan pada akhirnya merembet ke topik-topik lain – setidaknya bila kita melihat komentar lanjutan dari para anggota grup Facebook Akademi Samali. Oh ya, jika anda ingin mengintip obrolannya dalam format yang lebih lengkap, silakan ikut laman ini.

Yang paling menarik dan rasanya pantas untuk diperhatikan dari diskusi tersebut adalah informasi pendek-pendek mengenai konsep visualitas komik (dalam arti sempit), serta dalam lingkup yang lebih luas, terkait dengan formalisme itu sendiri sendiri. Berkaitan dengan tema yang mungkin luput dari perhatian khalayak awam, diskusi tersebut menjadi menarik sebetulnya, terutama pada bagian komentar pendek tentang ragam konsep yang berkaitan dengan teori komik itu sendiri.

Bagi kami sendiri ada beberapa komentar menarik, misalkan yang bisa dilihat pada komentar Widyartha Hastjarja. Beberapa komentarnya yang kami temukan di sana mengandung muatan pengetahuan mengenai bagaimana mengamati sumber-sumber intrinsik dalam komik, sebuah hal yang sebetulnya menjadi pisau analisis yang bisa dipakai ketika menelisik bentuk-bentuk seni sekuensial – meski istilah yang terakhir ini tidak banyak disentuh oleh Widya.

Umumnya sumber-sumber intrinsik dalam wilayah visual setidaknya bisa dipetakan melalui beberapa macam elemen, antara lain: ritme, bentuk tiga dimensional, harmoni, dan elemen-elemen non-representasional lain. Secara lebih rinci, elemen-elemen tersebut seringkali disebut isi, ruang, massa, tekstur, cahaya, shape, garis, dan titik. Gambar di bawah akan menunjukkan komentar-komentar Widyartha Hastjarja yang menurut kami mewakili perbincangan mengenai sumber-sumber intrinsik tersebut: Tentu saja ada banyak komentar lain darinya yang juga menarik, namun rasanya yang paling penting untuk dibagi di sini adalah bagaimana mengenali sumber-sumber intrinsik dalam komik. Baiklah, rasanya pengantarnya terlalu banyak, mari kita lihat beberapa komentar Widyartha Hastjarja yang ia bagi dalam diskusi tersebut. Sorot kemudian klik pada gambar di bawah untuk memperbesar.

Widyartha Hastjarja

Eichiro oda

Menurut Scott McCloud, komik adalah gambar-gambar dan lambang-lambang lain yang terjukstaposisi (berdekatan, bersebelahan) dalam urutan tertentu yang bertujuan untuk memberikan informasi atau mencapai tanggapan estetis dari para pembaca. Sementara manga adalah penyebutan komik dalam bahasa Jepang, sama seperti tjergam untuk penyebutan komik di Indonesia pada masa lalu. Untuk membuat manga yang bagus, tentu saja ada beberapa unsur yang digunakan untuk untuk mendukung pembuatan manga tersebut. Salah satu unsur tersebut adalah pemakaian onomatope.

Secara umum, onomatopeadalah kata atau sekelompok kata yang menirukan bunyi-bunyi dari sumber yang digambarkannya. Konsep ini berupa sintesis dari kata Yunani όνομα (onoma = nama) dan ποιέω (poieō, = “saya buat” atau “saya lakukan”) sehingga artinya adalah “pembuatan nama” atau “menamai sebagaimana bunyinya”. Bunyi-bunyi ini mecakup antara lain suara hewan, suara-suara lain, tetapi juga suara-suara manusia yang bukan merupakan kata, seperti suara orang tertawa.

Karena adanya perbedaan dalam menerjemahkan bunyi yang terdengar, setiap wilayah memiliki onomatope yang berbeda. Misalnya, orang Amerika menerjemahkan gonggongan anjing menjadi woof woof, orang Indonesia menganggap itu adalah guk guk, sementara orang Jepang mendengar gonggongan anjing sebagai wang wang. Onomatope dapat membuat manga yang pada awalnya hanya berupa kumpulan gambar menjadi terasa lebih hidup dan membuat pembaca dapat menikmati alur cerita secara lebih mendalam.

Dalam manga, onomatope digunakan dengan menggunakan huruf katakana berukuran besar yang biasanya dituliskan oleh mangakanya secara langsung dan ditempatkan diluar balon dialog. Pada bahasa Jepang, Kindaichi menyebutkan bahwa onomatope terdiri dari 5 jenis, yaitu gion’go, giseigo, gitaigo, giyoogo, dan gijoogo. . Oleh karena manga merupakan bagian dari budaya pop Jepang, tentu onomatope yang berlaku pada manga adalah onomatope yang juga berlaku di Jepang. Agar lebih mendapat fokus, penjelasan dalam artikel ini akan mengambil contoh dari salah satu manga yang cukup terkenal di Jepang, One Piece. (catatan editor: setidaknya ada lima jenis onomatope yang bisa kita kenali dari One Piece.)

  • Onomatope yang pertama adalah Gion’go, yaitu kata-kata yang menggambarkan suara alam disekitar kita,terutama makhluk hidup. Misalnya, suara ayam, kambing, dan lain-lain. Dalam manga  One Piece, Gion’go biasa dipakai untuk menggambarkan keramaian suara manusia.
  • Giseigo adalah kata yang meniru suara benda mati. Seperti ketukan pintu atau gebrakan pintu. Dalam manga One Piece, ia digunakan untuk menunjukkan suara senjata seperti letupan pistol.
  • Gitaigo adalah kata yang menjadi lambang bunyi dari benda-benda yang sebenarnya tidak mengeluarkan suara. Pada contoh dari manga One Piece dibawah ini, ia digunakan untuk menunjukkan kesan terkejut dari kemunculan benda atau peristiwa yang mengakibatkan perubahan besar dalam cerita.
  • Selanjutnya ada giyoogo yang menggambarkan keadaan dari makhluk hidup. Dalam manga One Piece biasa digunakan untuk menggambarkan gerakan-gerakan aksi.
  • Terakhir adalah gijoogo, yaitu gambaran suasana hati manusia. Dalam contoh di bawah, “doong” dimunculkan untuk menggambarkan perasaan Luffy yang tampak ceria karena bertemu seseorang.

Bacaan:

Maharsi, Indiria. 2010. Komik, Dunia Kreatif Tanpa Batas. Kata Buku. Yogyakarta

McCloud, Scout. 2001. Understanding Comics. Kepustakaan Populer Gramedia. Jakarta

Martabak. 2005. Keliling Komik Dunia. Elex Media Komputindo. Jakarta

Widati,Utami. 2003. Perbandingan Lambang Bunyi dalam Onomatope Bahasa Jepang dan Jawa. Skripsi Jurusan Sastra Jepang Universitas Gadjah Mada

Onomatope

Onomatopeia

 

Oleh -
1 599
MXAH

Catatan: tulisan ini pernah diterbitkan untuk keperluan proyek Bunda Kata. Pernah juga ditayangkan di sini. Ditayangkan ulang di jurnal komik online garapan Akademi Sekuensial untuk keperluan penyebaran pengetahuan.


 

Oleh: M Hadid

Baru-baru ini saya menerbitkan buku kajian komik Meledek Pesona Metropolitan, dan di dalamnya saya sering memakai kata-kata seperti “membaca” dan “melihat” untuk kemudian dirujuk ke konteks tindakan di mana karya dalam bentuk kartun dan/atau komik diselami oleh seseorang.  Setelah buku itu terbit, saya jadi bertanya-tanya, mana kata yang benar dan bisa dipakai untuk menilai laku ketika orang membawa buku komik dan tiduran sambil menyelaminya, misalnya, “membaca” atau “melihat”? Sesuai dengan aturan tata bahasa Indonesia, kata “baca” dan “lihat” yang dibubuhi prefiks me- pada gilirannya berfungsi membentuk kata kerja atau verba.

Meskipun demikian, keduanya menurut saya memiliki dimensi dan kedalaman makna yang berbeda. Saya memahami “membaca” sebagai jenis tindakan di mana orang menyelami jenis karya yang berbentuk tulisan, sedangkan “melihat” cenderung saya letakkan dalam konteks di mana orang menyelami karya non-tulisan (fotografi, lukisan, desain, drawing, dan lain sebagainya). Secara formal komik mewadahi keduanya (tulisan dan non-tulisan) sehingga menjadi jauh lebih sulit untuk menemukan kata yang tepat untuk menilai seseorang yang sedang tiduran sambil membuka halaman komik yang dipegangnya. Dalam arti begini: dia sedang membaca atau melihat komik? Tulisan ini akan sedikit membahas kedua jenis tindakan tersebut berdasarkan sifat komik itu sendiri: medium hybrid di mana tulisan dan gambar dipakai bersamaan dan diletakkan dalam sekuen-waktu yang dipadatkan. Saya sepenuhnya sadar bahwa medium komik tidak melulu soal tulisan dan gambar yang dipadatkan dalam ruang – sebab ada komik bisu tanpa tulisan sedikitpun – namun saya memilih untuk berkonsentrasi pada kekhasan medium hybrid itu sendiri.

1/Untuk Dibaca atau Dilihat?

Dari dua oposisi biner di atas persoalan yang menurut saya perlu digaris-bawahi, yakni apakah komik tergolong sebagai bahan bacaan (untuk dibaca) atau medium visual (untuk dilihat)? Persoalan menjadi lebih rumit ketika kata hybrid disertakan, yang berarti pembaca dituntut untuk memperhatikan keduanya (tulisan dan non-tulisan) dalam porsi yang berimbang. Jadi komik itu untuk dibaca atau untuk dilihat?

Meski persoalan-persoalan di atas tergolong rumit, namun menurut saya pengalaman menikmati objek visual, di mana pembaca mesti memperhatikan unsur tulisan dan non-tulisan dalam porsi yang berimbang, tidak bisa begitu saja dilakukan oleh karena faktor author komik yang bisa saja memilih untuk menempatkan salah satu dari keduanya dalam posisi yang tidak berimbang. Artinya, dalam sebuah medium di mana bahasa (verbal) dan visual menyatu dalam ruang konkrit, di mana tulisan dan non-tulisan saling mendesak satu sama lain dan menuntut perhatian mata yang menikmatinya, mana yang paling diperhatikan? Sudah sewajarnya bila paduan antara visualitas dan verbalisme dalam komik hendaknya diterakan sampai keduanya berpadu sesempurna mungkin, artinya bahwa baik tulisan maupun non-tulisan saling tergantung satu sama lain. Inilah konvensi antara tulisan dan non-tulisan, atau kekhasan komik, yang disebut oleh Robert C Harvey – kartunis Amerika sekaligus orang yang banyak menulis tentang sejarah medium komik – sebagai pembeda “kualitas”, antara komik dengan medium lain di mana tulisan dan non-tulisan bercampur dalam satu ruang.

Saya tidak sedang berusaha untuk mengatakan bahwa konvensi antara tulisan dan non-tulisan adalah satu-satunya kriteria yang bisa dipakai untuk menilai kualitas komik secara formal. Bahkan percampuran sempurna antara keduanya tidak lantas membuat medium komik garapan artis tertentu menjadi “seni” yang pantas untuk disebut Seni. Mengikuti tuturan Robert C Harvey, sebuah komik hebat adalah:

Mereka yang menyajikan cerita yang kuat dan menyentuh. Akan tetapi mereka akan menyajikan cerita tersebut dengan cara mengeksploitasi potensi unik dari bentuk seni tersebut, sampai penuh. Meski kekuatan cerita berakar dari karakterisasi dan plot, elemen-elemen tersebut akan direalisasikan melalui terminologi istimewa pada komik, yakni pada percampuran antara kata dan gambar dan sifat sekuensial dari percampuran tersebut.

Jelas bahwa meskipun konvensi antara tulisan dan non-tulisan menjadi nilai utama, namun ini bukan satu-satunya kriteria yang bisa dipakai untuk menilai komik. Meskipun begitu, ada baiknya perbincangan mengenai “kriteria macam apa yang bisa dipakai untuk menilai komik” kita kembalikan kepada “bagaimana strategi yang mungkin muncul ketika orang menikmati komik”. Strategi menikmati komik tergantung kepada bagaimana gambar dan kata dimunculkan dalam satu bidang sekuensial.

Perkara yang saya sebutkan di atas kelihatannya sepele, namun menurut saya menjadi penting juga untuk menjelaskan bagaimana sikap yang mungkin muncul setelah mata kita berhadapan dengan kovensi tulisan dan non-tulisan pada komik yang direntangkan dalam ruang dan waktu yang dipadatkan lewat panil-panil. Setidaknya ada dua contoh strategi pengkombinasian tulisan dan  non-tulisan dalam komik, yang mudah-mudahan bisa sedikit menjelaskan apa yang telah menjadi pertanyaan di atas.

2/Dua contoh Komik

Saya akan memberi sedikit contoh, persisnya dua contoh komik, untuk melihat bagaimana beberapa contoh bagaimana teks dan non-teks saling berpadu dalam satu kesatuan. Komik pertama (gambar pertama) adalah strip Kharisma Jati – komikus Jogja yang terkenal lewat seri Anak Kos Dodol – dalam seri God You Must be Joking. Yang pertama ini menurut saya adalah contoh di mana orang bisa melihat kekuatan verbalisme yang jauh lebih menonjol dibandingkan dengan visualitas.

GYMBJ
Gbr 1. Kharisma Jati – God You Must be Jocking

Gambar-gambar pada komik strip pertama tidak terlalu esensial, artinya dalam derajat tertentu menjadi kurang diperhatikan, karena pembaca – setidaknya ini tafsir saya – tampaknya sengaja diarahkan oleh komikusnya supaya mereka memilih untuk memperhatikan dialog antara ayam dengan kucing, ketimbang memperhatikan sifat-sifat intrinsik dari visualitas yang disodorkannya, entah itu tarikan garis yang sederhana atau bidang ukuran panil yang tidak seragam antara satu dengan yang lainnya. Pada contoh pertama ini, kenikmatan visual (karena melihat gambar) yang mungkin dituntut oleh pembaca terganti oleh dominasi verbalisme. Visualitas komik pertama yang saya rujuk agaknya baru diperhatikan dengan sungguh-sungguh oleh pembaca ketika mereka sampai di panil terakhir (ketika ayam hidup telah berubah menjadi ayam goreng!).

Contoh kedua berasal dari luar Indonesia, tepatnya bisa kita lihat melalui salah satu strip B.C garapan Johnny Hart – kartunis Amerika (Gambar 2). Yang kedua ini bagi saya menampakkan verbalisme dan visualitas yang seimbang. Maksudnya, baik non-tulisan maupun tulisan ditempatkan dalam ruang di mana masing-masing konvensi memberikan alternatif bagi pembaca untuk sama-sama membaca (tulisan) sekaligus menikmati (gambar). Gerak subjek strip di antara panel terlihat nyata oleh karena garis penanda gerak pada panil pertama turut menopang pergerakan subjek. Pada contoh kedua itu, baik tulisan maupun non-tulisan, oleh Johnny Hart, diletakkan dalam proporsi yang ideal. Orang bisa menikmati keduanya tanpa harus berkonsentrasi kepada salah satunya.

BC
Gbr2. Johnny Hart – BC

Menunjukkan kedua contoh tersebut tidak berarti bahwa saya ingin membahas tuntas perbincangan mengenai konvensi antara yang verbal dan yang visual dalam komik. Tulisan ini, bagaimanapun, masih terasa kurang oleh karena minimnya pembahasan mengenai komik “bisu” yang hanya mengandung gambar (yang berarti ia menuntut untuk dilihat) minus kata-kata tertulis. Apakah komik “bisu” tidak mampu memenuhi kaidah komik “hebat”, yang kategorinya telah dijelaskan di atas? Saya terpaksa menyimpan jawaban untuk pertanyaan ini. Ruang dalam tulisan ini memang tidak bermaksud untuk memberi tempat bagi pembahasan komik “bisu”. Mungkin lain kali.

Yang ingin saya garis bawahi di sini adalah: konvensi tulisan dan non-tulisan dalam komik – apapun bentuknya – telah mewarnai dunia perbukuan (atau lebih tepatnya dunia benda-benda hasil cetak) sejak abad ke-19 dan jelas telah ikut mewarnai peradaban, baik literasi maupun visual, dengan caranya sendiri; cara-cara yang kini sebetulnya perlu ditelisik menurut konvensinya yang khas dan terpisah dari bentuk-bentuk benda cetak lainnya. Sebagai benda cetak, komik adalah istimewa juga, karena ia – ironisnya – telah lama dianggap sebagai “teror” visual (karena membuat anak malas membaca); sebuah pandangan yang mungkin masih bisa ditemui di mana pun. Sebagai bagian dari peradaban manusia, komik – meminjam kata-kata ST Sunardi – mengajak kita untuk tidak berlama-lama bicara tentang sesuatu namun juga mengajak kita untuk cepat-cepat mengambil sikap. Bagi Anda sendiri, mana kata yang paling enak untuk melukiskan laku menikmati komik?

BACAAN

Harvey, RC. 1994. The Art of the Funnies : An Aesthetic History. Jackson: University Press of Mississippi

Oleh -
0 300
Gambar 2 - Warisan
Gambar 2

Catatan Editor: Di bawah ini adalah artikel yang ditulis oleh Shaun Houston yang berjudul Why is it Like That Here? Comics as a Medium for Exlporing our Varying Sense of Place dan ditayangkan di Popmatters.com pada 24 Februari 2013. Walau beberapa kata kunci terasa abstrak atau mungkin tidak dikenal sebagian pembaca Indonesia (sebagai misal, establishing panels, dan juga beberapa judul komik yang disebut di bawah), namun artikel ini dirasa penting untuk kami terjemahkan karena mengeksplorasi tema menarik yang berkaitan dengan kesadaran tempat dalam sebuah komik yang bisa memunculkan beragam pengalaman terutama dalam kaitannya dengan bagaimana seorang pembaca komik bisa sampai merasa bahwa tempat yang mereka lihat dari sebuah komik adalah real.

Artikel ini diterjemahkan oleh Hidayat. Gambar yang dipakai dalam artikel terjemahan ini sesuai dengan yang dipasang di artikel aslinya. Editor hanya melakukan perubahan tata letak gambar dan caption.

[hr]

Oleh: Shaun Houston

Salah satu kenikmatan ketika membaca komik sebagai seorang ahli geografi kultural adalah tarikan ke wilayah di mana kreator yang berbeda menghadapi pertanyaan tentang tempat (place). Tempat yang diatur sedemikian rupa di dalam buku bisa diperlakukan secara sederhana sebagai latar atau sebagai sesuatu yang sedemikian signifikan bagi tindakan karakter. Tempat bisa diciptakan atau nyata. Beberapa panil penuh dengan detil kontekstual, sementara yang lain mungkin tidak menyajikannya.

Variasi semacam ini tentu bisa ditemukan di media naratif lainnya, akan tetapi menurut saya hanya komik – karena digambar dengan tangan, karena menjadi produk dari sebagian kecil kreator dan karena dibatasi oleh anggaran penciptaan – yang memberikan seniman dan penulis sebuah jenis kebebasan unik untuk membuat dan merombak tempat untuk cerita mereka.

Salah satu komik yang sering saya gunakan untuk kelas pengantar Geografi Kultural adalah Local karya Brian Wood dan Ryan Kelly (Oni Press, 2008). Masing-masing nomor terbitan pada seri ini mengambil tempat di berbagai kota yang berbeda di Amerika Utara. Wood menulis dalam komentarnya untuk nomor terbitan pertama, bahwa “Local adalah sebuah seri cerita pendek tentang orang-orang dan tempat di mana mereka hidup.” Di antara “kampung halaman” yang diikutsertakan adalah Portland, Oregon, Park Slope, Brooklyn, dan Toronto, Ontario. Dia kemudian melanjutkan:

“Sekarang saya sedikit terobsesi dengan ide-ide mengenai lokasi dan kampung halaman … kehidupan berjalan dengan sangat berbeda ketika anda keluar dari pusat populasi utama, dan beberapa film terbaik yang telah saya tonton dan buku-buku yang telah saya baca mengambil tempat di lokasi yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya”

Sebagaimana Wood merasakannya, pilihan untuk berfokus pada kota dan lingkungan yang secara universal tidak dikenal memunculkan masalah tentang bagaimana merepresentasikan tempat-tempat tersebut dengan cara yang akan menarik hati pendatang baru maupun orang lokal: “Lokasi tidak bisa menjadi cerita. Masuk ke dalam detil-detil dari tempat spesifik memunculkan resiko mengalienasi siapa saja yang tidak hidup di sana. Cerita Local akan menjadi universal … Tetapi untuk orang lokal, ceritanya akan berisi penunjuk (landmark) dan acuan yang akan mudah dikenali secara cepat.”

Salah satu cara yang dipilih oleh Wood dan rekannya Ryan Kelly untuk mengatasi masalah ini adalah dengan menggunakan “establishing panels” yang berfungsi sebagai jalan masuk ke sebuah tempat, menampilkan detil yang mungkin memberikan perasan berada “di sana” serta lokasi spesifik atau fitur yang tidak begitu berarti kecuali seseorang sudah terbiasa di sana.

Nomor terbitan kedua dari seri tersebut berlangssung di Minneapolis, Minnesota. Panil pembuka dan halaman menyajikan suasana dengan lanskap musim dingin, pohon meranggas, tiupan salju, serta akumulasi kendaraan, jalan-jalan dan trotoar; pendek kata, segala kualitas visual yang merujuk pada konteks tertentu cenderung masuk akal untuk sebagian besar pembaca dari Amerika Utara. Suasana yang dibangun juga menyajikan sebuah restoran Amerika-China bergaya klasik, the Red Dragon, dan toko minuman keras, Hum’s; keduanya terlihat otentik pada diri mereka sendiri, mulai dari bentuk khas sambungan, garis atap, sampai tipografi dan desain tanda-tanda spesifik.

Fitur-fitur seperti sudut jalanan, kaki langit, penunjuk, dan etalase yang disajikan dengan mendetil oleh Kelly memainkan peranan penting dalam membuat tempat-tempat pada Local tampak nyata, terlepas dari apapun bentuk pengalaman individual dengan kota yang mungkin muncul. Saya mungkin tidak akrab dengan Minneapolis, tetapi bentuk gambar terlihat dan terasa seperti tempat di mana saya bisa menemukan dan mengunjunginya. Jika saya akrab dengan kota tersebut, saya mungkin mengenalinya atau dengan mudah bisa menemukan apa yang saya lihat.

Sebuah teks lain yang sering saya gunakan adalah Persepolis karya Marjane Satrapi. Sama halnya seperti Local, Persepolis adalah sebuah buku yang menyoroti tempat, tetapi pendekatan Satrapi guna menunjukkan kota pada ceritanya sangat berbeda dengan karya Wood dan Kelly. Tidak seperti seni pada karya Kelly yang sangat padat dan penuh dengan detil, gambar Sartrapi bersih dan sederhana.

Rasa akan sebuah tempat yang disajikan di Persepolis lebih berkurang intensitas detilnya dan lebih banyak berasal dari penyesuaian diri pengarang dengan petanda lokasi-kulural. Daripada memfokuskan diri pada lanskap fisik atau membangun setting lingkungan, Sartrapi berfokus pada apa yang orang-orang lakukan di tempat-tempat berbeda guna membawa pembaca ke soal “di mana” dan “kapan”. Praktik-praktik macam ini termasuk: gaya berpakaian, gaya rambut, apa yang orang makan, bagaimana mereka menghabiskan waktu, dan norma apakah yang mereka ikuti, langgar, atau lawan. Dari serangkaian isyarat tersebut, anda akan selalu tahu apakah Marjane berada di Tehran atau Wina dan apa baginya arti berada di satu tempat dibandingkan tempat lain.

Persepolis
Diekstrak dari The Complete Persepolis. Sumber gambar: Popmatters

Baik Wood, Kelly dan Satrapi sama-sama peduli kepada representasi atas yang aktual, tempat-tempat manusia. Mereka menyajikan tantangan atas realisme, baik secara harafiah maupun dalam istilah yang cenderung dekat dengannya. Walau bebas dari kewajiban kepada “real”, kreator yang memiliki cerita yang mengambil tempat di dunia fiksional masih harus menyampaikan rasa-akan-lokasi dengan tepat.

Won Ton Soup
Diekstrak dari Won Ton Soup Vol 2 #1. Sumber gambar: Popmatters

Sebagai contoh pada buku Won Ton Soup (Oni Press, 2007 & 2009), James Stokoe menciptakan dunia dan latar yang secara visual kaya, menyampaikan sebuah rasa-akan-tempat yang seakan bisa diraba dan sebuah perasaan gamblang tentang perbedaan kultural di antara “di mana” pada sebuah halaman dan “di mana” pada diri pembaca. Berkebalikan dengannya, kota pada Powers (Marvel Icon, 2000-sekarang) karya Brian Michael Bendis dan Michael Avon Oeming lebih merupakan sebuah ide seram (a noirish idea) tentang sebuah metropolis daripada sebuah tempat yang mungkin anda kunjungi jika ia ada. Di sini kota adalah murni sebuah fiksi naratif, satu yang tidak perlu maupun tidak ingin dianggap sebagai nyata, namun diperlakukan sebagai seperangkat referensi untuk kota-kota fiktif lain dari film, televisi, novel kriminal, dan komik lain.

Bagi semua orang, tempat tidak pernah terlihat dan terasa serupa sepanjang waktu. Subjektivitas yang nyata pada komik membuat medium ini hampir sempurna untuk menjelajahi berbagai kesadaran tentang tempat; mulai dari blok kota anda mungkin hidup di dunia paling fantastis, yang bisa dibayangkan sebagai dunia yang bisa ditangkap kesadaran anda.

[highlight]Shaun Huston adalah seorang profesor di bidang Geografi dan Kajian Film di Western Oregon University, di mana ia mengajar Geografi Politik dan Kultural. Dia juga adalah pembuat film. Filmnya yang berjudul Comic Book City, Portland, Oregon, USA (2012) adalah sebuah film dokumenter tentang komunitas pencipta komik di Portland, Oregon [/highlight]

Oleh -
0 308
kaver - A Comics Studies Reader

Sekali-dua kali, mereka yang berkutat di dunia komik pasti akan menemukan banyak tulisan di mana komik dicitrakan sebagai sebuah genre yang kekanak-kanakan, dan dengan demikian ia hanya ditujukan untuk konsumsi anak-anak. Bahkan orang tua anda mungkin pernah melarang anda membaca komik.

Cuma masalahnya anggapan tersebut bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga di Perancis. Thierry Groensteen mencatat fenomena ini dengan baik lewat sebuah esei berjudul “Why are Comics Still in Search of Cultural Legitimization?” Esei ini sudah dua kali saya lihat, masing-masing di buku Comics and Culture: Analytical and Theoretical Approach to Comics dan A Comics Studies Reader. Saya akan mengajak anda untuk melihat pembacaan saya atas esei Groensteen yang termaktub di buku kedua.

Bukan tanpa alasan jika Groensteen memulai eseinya dengan pertanyaan pada judulnya, karena dia sendiri berusaha meletakkan argumen eseinya itu pada fenomena paradoks: “walau komik telah memperoleh eksistensinya selama satu setengah abad, ia masih saja menderita karena sangat kekurangan legitimasi” (hlm. 3) . Dengan kata lain esei itu, pada keseluruhan tubuhnya, mengangkat tema “sejarah” tentang sebuah semesta kecil yang paradoks, atau ihwal komik yang walau “populer” namun kekurangan legitimasi. Groensteen menjelaskan ihwal kekurangan legitimasi dengan cara memaparkan “sejarah” wacana komik di Perancis.

Dari mana Groensteen membayangkan legitimasi itu mesti datang? Pertama-tama adalah dari kritikus komik dan akademisi komik. Meski Groensteen tidak secara eksplisit mengharapkan kehadiran kritikus dan akademisi komik, namun tampaknya ia membayangkan keduanya seharusnya bisa hadir memberi legitimasi kultural kepada komik. “Sejarah” wacana yang ia jabarkan menyebutkan bahwa pada tahun 1960-an di Perancis tidak ditemukan kritikus dan akademisi komik yang membangun legitimasi kultural atas komik. Katanya “[…] komik (sampai tahun 1960-an) dikelilingi oleh keheningan yang cukup memekakkan telinga” (hlm. 4). Tentu saya mesti bertanya, bagaimana bisa keheningan memekakkan telinga?Walau terkesan hiperbol, namun dari sinilah basis paradoks yang dikemukakan oleh Groensteen menjadi masuk akal. Groensteen memberi kesan eksplisit: meski di Perancis komik disebut seni kesembilan dan pada 1845 sudah ada Töpffer yang mengajukan fondasi bagi teori komik, namun sampai 1960-an ia justru tidak melihat perhatian akademis, wacana kritis, maupun juru arsip yang membangun pengetahuan atau teori tentang komik. Baginya fakta tersebut merupakan hal yang ironis karena sampai tahun 1955 di Perancis “[b]uku-buku tentang sinema dan fotografi dipublikasikan oleh lusinan orang!” (hlm. 4).

Minimnya akademisi dan kritikus komik di Perancis pada waktu itu membuat komik berada di titik nadir. Dari kekosongan wacana komik yang dalam bayangan Groensteen mesti diisi oleh akademisi dan kritikus komik, pendidiklah yang kemudian menjadi kelas yang memonopoli wacana komik. Celakanya kebanyakan pendidik Perancis waktu itu menganggap komik sebagai sebuah entitas yang berpengaruh kepada moralitas kaum muda. Potensi komik (kalaupun ada hal semacam itu) dinilai sebatas kemampuannya dalam mengkorupsi jiwa anak-anak. Esei Groensteen tersebut menarik perhatian saya oleh karena pemaparannya yang terasa dekat dengan fenomena kultural yang terjadi di Indonesia. Adalah Marcell Bonneff yang mencatat lewat Komik Indonesia, bahwa pada tahun 1954-1960 “para pendidik menentang komik yang berasal dari Barat, bahkan produk imitasinya (Sri Asih)”. Periode tersebut dicatat oleh Bonneff sebagai periode di mana para pendidik di Indonesia menganggap komik sebagai bahan bacaan yang tidak mendidik, sekaligus mengandung gagasan berbahaya. Kemiripan fenomena delegitimasi komik yang terjadi di Perancis dan Indonesia membuat saya bertanya-tanya: apakah fenomena tersebut merupakan gejala universal? Sayangnya saya tidak punya cukup bahan untuk menjawab pertanyaan ini.

Walau begitu, esei Groensteen itu menjadi bahan bacaan yang menarik karena situasi di Perancis kemudian berubah pada 1970, di mana komik kemudian memperoleh persetujuan kultural lewat slogan “comics can be educational” (hlm. 7). Sampai di sini agaknya kita bisa meninggalkan debat seputar deligitimasi komik sebagai sebuah genre yang merusak moral remaja. Debat seputar komik kemudian beralih ke pembahasan mengenai estetika komik dan pertanyaan kultural. Apa yang kemudian perlu dicermati kemudian adalah kemunculan stigma “artistic mediocrity” (hlm. 7) yang menurut Groensteen membuat genre komik disepelekan secara artistik. Lebih jauh lagi, ada empat faktor yang memicu laku penyepeleaan tersebu, yakni: 1) bentuk komik yang merupakan hibrida antara teks dan gambar, 2) tipe penceritaan komik yang  tergolong sub-literatur, 3) koneksinya kepada karikatur, dan 4) walau ada komik yang ditujukan untuk dewasa, namun komik tidak menawarkan apapun selain sebuah jalan untuk kembali ke fase kanak-kanak (hlm. 7).

Perbincangan seputar status artistik dan kultural yang dipaparkan oleh Groensteen merupakan sebuah gejala yang menarik, karena ia secara eksplisit mengungkap kegelisahan tentang status artistik komik, sebuah hal yang tampaknya juga bisa menjadi cermin atas apa yang terjadi di Indonesia. Di sini komik sudah lama dianggap sebagai gejala seni yang dianggap memilki kekhasan sendiri yang terpisah dari Sastra dan Seni Rupa (baca misalnya, esei berjudul “Komik : Antara Seni Visual dan Ambisi Sastrawi”). Di luar sana, secara tidak sadar kata “seniman” menjadi sebuah pengganti untuk profesi “komikus”. Kritikus seni dan penulis buku-buku budaya Agus Dermawan T. pun menganggap komik sebagai sebuah genre yang memiliki tenaga besar untuk mempengaruhi siapa saja dan kapan saja. Bayangkan, seorang dari dunia Seni Rupa sudah menghargai komik sedemikian rupa! Kurang perhatian apa lagi?! Namun toh masih tersisa pertanyaan yang pantas untuk dibahas secara lebih mendalam, yakni apa gerangan yang membuat komik pantas dianggap sebagai Seni? Saya pernah berbincang dengan pelaku seni yang juga membuat komik. Katanya komik pun sah dianggap sebagai seni karena ada gambar. Berhadapan dengan klaim-klaim ihwal sifat Seni pada komik, saya masih belum merasa puas, sebab bukankah Seni adalah juga soal bagaimana mengukur dan menilai karya supaya ia pantas disebut sebagai Seni. Singkat kata, dibutuhkan standar untuk menilai apa yang disebut estetika komik, yang tentu terpisah dari standar penilaian atas bentuk-bentuk karya seni lainnya.

Saya menyelipkan cerita di atas karena Groensteen sendiri beberapa kali menyebut kata “estetika” di dalam eseinya itu. Hal yang menjadi pertanyaan saya adalah: estetika komik, makhluk macam apa itu? Bermula dari sejarah tentang paradoks komik dalam masyarakat Perancis, bagian akhir dari esei Groensteen membahas secara rinci ihwal wacana yang menaungi empat faktor di atas, yang disebutnya sebagai “[d]osa asal seni kesembilan yang menjadi prasangka dasar akademik” (hlm. 8). Faktor pertama, yakni komik sebagai produk hybrid, antara teks dan gambar, seringkali dijadikan dasar metode pembahasan komik. Tetapi penjabaran Groensteen atas wacana yang membahas salah satu bagian dari dosa awal tersebut mengesankan bahwa ihwal sifaf hybrid komik tidak bisa diterima oleh kalangan tertentu. Singkatnya ada keberatan dari kalangan tertentu (Groensteen menyebut beberapa nama seperti penulis Perancis Pascal Quignard, dan mantan kurator National Library of France Michel Melot) yang menganggap bahwa perkawinan antara teks dan gambar dalam satu bidang adalah “membosankan (so monotonous) – menurut Melot – sekaligus “bertentangan” – menurut Quignard. Groensteen membela dosa asal tersebut dengan menjabarkan sebuah hal penting, yakni kriteria estetik komik itu sendiri, di mana gambar dan teks dipakai bersamaan, yang domainnya berbeda dengan domain seni lain. Artinya, Ini adalah pembelaan yang cukup baik, karena mengisyaratkan sifat utama dari formkomik itu sendiri, yang mana teks dan gambar sama-sama berkontribusi terhadap narasi. Akan tetapi kesulitan utama saya dalam memahami penjelasan tersebut adalah:  adakah kriteria penilaian dan standar tertentu untuk sebuah genre di mana gambar dan teks bekerja dalam sebuah bidang yang sama dan salah satu dari keduanya tidak menegasikan yang lain? Bagaimana supaya kriteria tersebut – kalau ada – menjadi sebuah metode yang logis dan siap dipakai dalam sebuah pembahasan karya komik, supaya domain komik benar-benar terbukti berbeda dengan, misalnya, teks yang diberi ilustrasi?

Tiga dosa asal lainnya menjadi bumbu pelengkap bagi “Why are Comics Still in Search of Cultural Legitimization?” Satu yang sangat menarik – setidaknya bagi saya – adalah sifat naratif komik yang membuatnya tergolong sebagai sub-literatur. Menurut Groensteen, prasangka atas sifat naratif dari komik muncul karena faktor ekstrakomikal, yakni “[f]akta bahwa pasar komik mematuhi aturan komersial. [Dengan demikian] kemampuan menjual produk menjadi sesuatu yang lebih penting dibandingkan nilai intrinsik dari bentuk seni tersebut” (hlm. 10). Terhadap prasangka semacam ini, Groensteen melakukan pembelaan dengan mengacu kepada laku pembacaan komik yang disebutnya sebagai tindakan di mana subjek pembaca tidak hanya menikmati “a story-related pleasure, but also an art-related pleasure, an aesthetic emotion founded on the appreciation of the exactness and expressivity of a compostion, pose, or line” (hlm. 10). Selain kedua konsep kenikmatan yang  terkesan abstrak itu, dia juga menyebut satu kategori kenikmatan lain, yakni “[a] medium related pleasureIt cannot be reduced to the sum of the other two, but is related to the rhythmic organization in space and time of multiplicity of small images” (Hlm. 10). Ketiga kategori kenikmatan tersebut memang terkesan abstrak, karena berhubungan dengan subjektifitas (bukankah konsep “menikmati” itu juga sangat subjektif?). Meski demikian, hendaknya kita melihat irisan hubungan di mana Groensteen memparalelkan subjektifitas dengan konsep-konsep objektif, yakni yang terlihat pada kode-kode seperti space (ruang), time (waktu), composition (komposisi), pose(gestur), dan line (garis). Tampaknya estetika komik sebagai domain ilmiah terlihat logis ketika yang subjektif dari komik (kenikmatan ketika membaca komik) ditentukan berdasarkan penilaian objektif atas hal-hal intrinsik dari komik.

Esei Groensteen yang dibahas di sini sesungguhnya membuka ruang bagi kita untuk kembali menelisik konsep estetika dalam komik. Harus diakui bahwa perbincangan mengenai estetika komik kurang mendapat ruang di dalam wacana komik Indonesia. Dalam banyak hal, esei tersebut beserta buku A Comics Studies Reader sesungguhnya membuka ruang bagi kita untuk kembali merenungkan makna apa pentingnya legitimasi komik dari kritikus komik dan akademisi komik, serta pentingnya melakukan studi komik berdasarkan kriteria intrinsik pada komik yang membuatnya terpisah dari genre seni lainnya.

Esei

Terpopuler Dalam Seminggu