Taguan Hardjo

Taguan Hardjo

Oleh -
0 940
Taguan Hardjo

Marcel Bonneff mencatat nama Taguan Hardjo sebagai komikus yang dikenal memiliki keahlian sebagai ilustrator. Bagi Bonneff, Taguan Hardjo adalah komikus dengan gambar yang cermat, dinamis, dan dibangun dengan mengandalkan pengetahuan dokumenter.

Rasa frustrasi terasa sangat pekat ketika Akademi Sekuensial mencoba menelusuri berbagai dokumentasi tertulis yang harapannya mampu memberikan sedikit informasi tentang Taguan Hardjo. Nyatanya, sangat sedikit yang pernah menulis profilnya – bahkan sangat sedikit sumber-sumber digital yang pernah mencoba membahas karyanya secara komprehensif. Beberapa sumber blog pribadi secara kikir menyebut Taguan Hardjo memiliki kepiawaian tinggi, membawa gaya berkomik yang cenderung realis dengan tarikan garis yang konon katanya mirip dengan Hal Foster (Harold Rudolf Foster, penulis dan ilustrator yang menggarap strip Prince Valiant).

Taguan Hardjo lahir di Paramaribo, Suriname, pada tanggal 6 November 1935 dari pasangan Ngadinem – Salikin Mardi Hardjo. Tidak ada informasi mendetail mengenai keluarga Taguan Hardjo, kecuali bahwa mereka mulai menetap di Medan pada tahun 1953. Namun bila ia lahir di Suriname, kemungkinan besar keluarganya merupakan para kuli asal Jawa yang ditempatkan di Suriname mulai tahun 1880-an. Catatan sejarah menyebut orang Jawa yang berada di sana merupakan orang-orang yang dibawa oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Kebanyakan dari mereka diculik dari desa-desa. Dari sedikit informasi tentang Taguan Hardjo disebutkan bahwa ia oleh ayahnya dididik dengan semangat patriotisme. Ketika masih di Suriname, keluarga Taguan tinggal di daerah Kroome Elleboog Straat yang dipenuhi oleh kaum Gipsi, orang Spanyol, Afrika, Creol, Tiongkok, Hundustan, dan Portugis.

Sebagai komikus Taguan Hardjo mulai dikenal seri Tjip Tupai, komik strip yang dimuat secara bersambung di harian Waspada, Medan. Strip ini terbit pada akhir 1950-an. Ia bergabung dengan penerbit Casso, Medan, mulai tahun 1950-an sampai 1960-an. Konon karyanya yang paling banyak diingat orang adalah Hikayat Musang Berjanggut yang kalau tidak silap muncul di akhir 1950-an sampai 1970-an. Musang kemudian difilmkan oleh sutradara Pitrajaya Burnama pada tahun 1983 dengan judul Musang Berjanggut. Hikayat Musang Berjanggut sebetulnya merupakan cerita Melayu yang dikenal memiliki banyak versi. Dilihat dari karakteristik terbitan di Medan era tersebut, Musang boleh jadi merupakan bagian dari “kejayaan periode medan” 1960-1963 yang disebut oleh Bonneff sebagai periode di mana karya-karya ditopang oleh bakat besar para komikus. Menurut Bonneff, komik-komik Medan ketika itu banyak menyadur karya-karya Kesusastraan Melayu Kuno dan legenda-legenda Minangkabau. Kebanyakan karya pada periode medan banyak menyelipkan nilai-nilai filsafat.

Selain berkarir sebagai komikus, Taguan Hardjo juga terlibat sebagai insan pers dan percetakan (sebagai konsultan teknik percetakan). Ia pernah terlibat dalam produksi koran palsu yang menyaru Berita Harian. Koran palsu tersebut adalah bagian dari alat propaganda yang dibuat dalam rangka mendukung gerakan ganyang Malaysia, sekaligus produk palsu yang diinisiasi oleh Ali Moertopo. Menurut @Arifz_Tempo, Taguan ketika itu didaulat menjadi Pemimpin Redaksi koran tersebut.

Di luar judul Mencari Musang Berjanggut, Taguan Hardjo juga menciptakan Sekali Tepuk Tujuh Nyawa, Prabina dan Tongtong, Ratu Bermuka Sebalah, Putri tak Boleh Bercinta, Setangkai Daun Surga, Di Batas Firdaus, Telandjang Udjung Karang, Mati Kau Tamaksa, Kapten Yani dengan Perompak Lautan Hindia, dan sederet judul lain. Taguan Hardjo meninggal karena penyakit jantung pada 25 September 2002 di Jakarta pada usia 67 tahun. Salah satu judul terakhir yang diciptakan oleh Taguan adalah Kartu Mati yang dimuat bersambung di sebuah harian. Putranya, Boy Hardjo, juga mengatakan bahwa sebelum meninggal Taguan sedang menyiapkan karya berjudul Panglima Nayan. Entah bagaimana dan di mana naskah karya itu berada sekarang.

*ditulis berdasarkan bahan dari berbagai sumber (editor: MHadid)

a 'Yes' man

ARTIKEL SERUPA

Kho-Wan-Gie

0 117
Excerpt from Happy Ending - Azisa Noor

0 151
Beng Rahadian

0 206
Iblis Mengamuk di Mataram

0 164
Tiga Manula ke Singapura

0 140

0 287