Tentang Kompetisi Komik Indonesia 2013

Tentang Kompetisi Komik Indonesia 2013

Oleh -
0 171
Kompetisi Komik Indonesia 2013

Oleh: Beng Rahadian

Tulisan ini dibuat saat saya menanggapi “keramaian” di groupchat bersama beberapa komikus yang mempersoalkan KKI 2013, kira-kira seminggu yang lalu, terutama setelah rilis hasil penjurian. Saya pikir ini bisa menenangkan, ternyata masih ada “kekeliruan” memahami kerja KKI. Betul juga saran salah satu member groupchat itu agar tulisan ini dipublikasikan.

Baik, saya co-pas saja:

————–

Shubuh tadi ada yang whatsup khusus dengan nada “nasehat” bahwa tahun depan kalau bikin kompetisi itu harus ini dan itu…. (pokoknya ini nggak beres lah) setelah baca review dan saya scroll ke atas sedikit di sini pun ramai dibicarakan. Saya mau nulis untuk urun rembuk saja, karena yang patut menjelaskan hasil kompetisi adalah Dewan Juri.

Saya mau sedikit cerita mudah2an ini bisa sedikit menjelaskan di mana posisi KKI ini berdiri, khususnya di ranah komik kita. Kompetisi ini mengharapkan munculnya generasi komik usia produktif untuk membuat karya yang inovatif dalam tuturan. Memang tahun lalu dan tahun sekarang berbeda jika dilihat karya juara pertamanya. Jurinya pun separuh berbeda. Sehingga KKi diharapkan menjadi dinamis dan mampu memunculkan sesuatu yang terus baru.

Sebelumnya. FYI: Ini proses Pertama penjurian: Karya total diseleksi awal hingga 75 karya, ini menyisihkan karya2 yang berbentuk strip, semuanya hitam putih, tidak selesai (misal 17 halaman dari 22 halaman), tidak sampai 16 halaman, karya masuk melebihi tenggat dan lain-lain. Ini dilakukan bersama perwakilan Juri dan team asisten selama 3 hari.

Kedua, Juri membaca bersama (tatap muka. minus Rini Sugianto –> dikirim by email) karya-karya yang lolos seleksi kedua (75 karya) dan berdiskusi, kemudian memberikan point pada 30 karya yang dianggap layak dari 75 karya itu, proses pemberian point ini dilakukan di rumah masing-masing.

Ketiga, Team Asisten menerima masing-masing 30 karya hasil pilihan Juri, yang jelas pasti berbeda-beda. Kami menyusun mulai dari karya yang diberi point oleh keempat juri, hasilnya ada 9 karya yang terpilih, karya itu diurutkan sesuai kalkulasi jumlah pointnya, hasilnya adalah urutan final. Untuk mencari sampai ke 16 besar, kami lanjutkan dengan memilih karya yang dipoint oleh 3 juri, kemudian diurutkan lagi hingga 30 besar.

(30 besar ini representasi potensi kompetisi komik Indonesia sebenarnya, menurut saya)

Dalam sebuah kompetisi, bagi pemburu hadiah/ yang terbiasa ikutan strateginya adalah: mengenali karakter dan selera Juri, ini sudah umum dilakukan. Tapi ingat, Juri KKI ada 4 dengan selera yang berbeda-beda pastinya. Kecenderungan Juri untuk “mengangkat” salah satu peserta itu akan susah karena dia harus beradu point dengan Juri lain, meskipun memberi point lebih atau mengecilkan point dari seorang Juri itu bisa pengaruh besar, ini terjadi di KKI tahun lalu.

Hasil Final ini dishare kembali ke Juri dan kami menunggu approval, jika tidak ada usulan apa-apa, maka hasilnya sudah siap untuk ditandatangani oleh Ketua Juri. Point dalam penjurian tidak seperti point dalam olah raga yang kriterianya jelas dan ukurannya relatif mudah, yakni jumlah memasukkan/ pukulan/ kecepatan waktu dll. Komik itu orang tuanya kesenian, aspek rasa menjadi dominan. Pertanyaannya ‘rasa’ nya siapa? —-> karena kita sepakat berkompetisi, maka rasa yg dipakai adalah rasa para juri. Karena ada 4, maka rasa ini disepakati dalam point-point untuk mengukur keberhasilan/ pencapaian dan menyentuh rasa. Subyektif ya sudah pasti, tapi jadinya intersubyektif 4 orang.

Apakah dengan voting pembaca, maka kompetisi ini bisa menjadi lebih baik, saya kira bisa ya dan bisa tidak, karena jelas voting pembaca itu mencari komik populer (yang mudah dibaca itu tadi) dan referensi voters. —> tapi sejauh ini, KKI belum berfikir ke arah sana, siapa tahu?

Sekarang perihal posisi KKI. Di antara sekian Kompetisi komik yang dilakukan oleh berbagai macam pihak, dalam dan luar. KKI punya misi utama yakni menjadi barometer pencapaian kerja komikus. KKI harus memberikan apresiasi pada karya-karya yang visioner dan menawarkan sesuatu yang baru. KKI tidak dapat begitu saja memberikan nilai lebih kepada komik-komik linear sementara ada karya yang memunculkan cara bertutur lain, mengharapkan kemauan pembaca untuk berfikir/ menyelami.

KKI harus bersikap kepada apresasi, memang karena KKI adalah program Kemenparekraf, maka ujian sesungguhnya adalah: jualan. Tapi itu bukan tugas KKI lagi, KKI hanya mengantarkan ke “gerbang”, sebetulnya —> ini yang hilang di PPKI kemarin adalah Bursa Naskah, jadi Penerbit diundang untuk melihat karya-karya KKI ini dan ditindak lanjuti di penerbitan masing-masing. (MnC digital sudah melihat peluang ini untuk materinya) dan saya juga sudah mengincar beberapa karya untuk ditindak lanjuti.

Saya sendiri yakin, kalau KKI ini sudah pasti tidak dapat menyenangkan semua orang, termasuk peserta. Ibarat Gading, jika dicari retaknya pasti ketemu. Tapi saya senang dengan tulisan simsim yang berusaha memberikan opini, jika lebih banyak lagi yang menulis seperti itu, maka KKI perlu bersyukur jika Kompetisi ini nyatanya “dimiliki, dakui” oleh pelaku komik kita. Sedih banget, justru jika KKI dicuekin.

Sedikit ajakan bagi teman-teman. Saat kita mengikuti kompetisi, maka secara tidak langsung kita percaya pada Jurinya. Dan Juri sudah bersikap dengan memilih pemenang.

Sumber utama