Class Struggle by Kharisma Jati

Perjumpaan saya dengan komik Indonesia lebih sering terjadi karena ketidaksengajaan. Sungguh sebuah kalimat pembuka yang buruk untuk tidak mengatakan bahwa komik Indonesia memang susah didapatkan selain pada acara pameran komik atau pembelian online melalui group facebook berisi maniak komik bangkotan senior yang melelang koleksi koleksinya dengan harga yang bikin geleng geleng kepala. Begitu juga perjumpaan saya dengan komik ini. Di sebuah siang di awal Februari 2016, saya mengunduh sebuah zine elektronik bernama Bhinneka dari Yayasan Bhinneka Nusantara. Saya mendapatkan tautan untuk mengunduhnya dari akun twitter Soe Tjen Marching, yang juga founder yayasan ini (klik disini untuk mengunduh). Zine ini dijuduli dengan sebuah kalimat yang agak seram, sesuai dengan tema yang diangkatnya untuk untuk edisi ini (Oktober 2015), yaitu “Setengah Abad Genosida ‘65”, dan saya menemukan sebuah komik karya Kharisma Jati di dalamnya. Taraaaa…

Komik ini menambah daftar karya yang mengangkat tema ’65 dalam format sekuensial alias komik. Sebenarnya masih ada 1 komik lagi di zine ini, yaitu komik berjudul Produk Propaganda karya Aji Prasetyo, tapi saya lebih tertarik untuk membahas komik Kharisma Jati ini.

Tapi sebelumnya, saya ingin meminta maaf terlebih dahulu. Pertama karena saya menulis dengan gaya seorang hipster yang biasa saja, lalu saya sebenarnya tidak paham betul mengenai tragedi ‘65, dan yang terakhir adalah karena pemahaman saya terhadap teori-teori dalam dunia sekuensial amatlah lemah.

Komik berjudul Class Struggle ini hanya terdiri dari 5 halaman saja. Dengan jumlah halaman yang sedikit itu, narasinya tampak lebih kuat untuk menggambarkan situasi peristiwa yang ingin digambarkan ketimbang gambar visualnya. Asumsi saya, komik ini pastilah menggambarkan tragedi ‘65, terlepas tidak ada satu narasipun yang menyatakan bahwa peristiwa yang digambarkan merujuk pada peristiwa tersebut, kecuali kata “kup” di awal komik. Alasan lain yang memperkuat asumsi tersebut adalah bahwa komik ini dimuat di zine yang berjudul “Setengah Abad Genosida ‘65”( yaiyalah goblog).

Komik dibuka dengan sebuah panel yang menggambarkan orang orang yang digiring ke dalam sebuah truk oleh manusia berkepala serigala (atau serigala yang berjalan tegak?) yang menenteng senjata. Pemilihan serigala bersenjata sebagai sisi kelompok yang menang dalam komik ini mungkin hendak mewakili satu kelompok militer (yang disebut-sebut sebagai aktor utama dalam tragedi 65) dan juga rakyat sipil/paramiliter yang dipersenjatai. Sebuah perumpamaan latin “homo homini lupus” nampaknya benar benar telah terjadi atas nama revolusi. Sebuah perumpaan yang dengan pedih harus kita akui kebenarannya, karena kitalah manusia itu.

“Dari kejauhan mereka bilang: kup prematur itu telah gagal. Kami menanti dengan waspada apa yang terjadi kemudian”. Begitu tertulis dalam narasinya. Kharisma Jati menempatkan dirinya sebagai pihak pertama jamak, dengan menggunakan kata “kami”, yang menjelaskan secara gamblang posisinya dalam peristiwa yang dilukiskannya ini. Ia memilih untuk berada di pihak korban, atau mewakilinya, setidaknya begitulah tafsir sederhana saya.

Panel selanjutnya menggambarkan adegan seorang lelaki dan perempuan yang menatap ke arah luar melalui jendela dengan ekspresi yang penuh ketakutan. Penyebab ketakutan itu tergambarkan dalam panel ketiga dimana digambarkan para serigala bersenjata itu melakukan eksekusi terhadap sebarisan manusia yang tengah duduk berlutut.

Dua panel di halaman selanjutnya menggambarkan sebuah bangunan yang hancur, wajah wajah ketakutan, dan lagi lagi penembakan yang dilakukan oleh oknum serigala bersenjata. Di narasinya tertulis: “Pak Guru dan teman-temannya yang telah mengajari kami baca tulis digiring paksa ke dalam truk dan dibawa pergi entah kemana”. Pemilihan kata “pak guru”, “yang telah mengajari kami baca tulis” dalam tafsir saya menjelaskan bahwa betapa pembantaian yang dilakukan itu benar benar tanpa pandang bulu. Guru, dalam etika ketimuran, dianggap sebagai tokoh yang mulia dan dihormati. Melawan guru, contohnya, dianggap sebagai sikap yang sangat tidak terpuji. Dari kalimat ini dapat kita tarik kesimpulan bahwa Jati berusaha membuat kesan tentang betapa peristiwa ini sangatlah kejam,brutal, dan amoral. Sebuah kondisi yang sangat jauh melenceng dari etika ketimuran yang oleh sebagian orang di negeri ini sangat diagung-agungkan.

Selanjutnya, Jati mencoba melakukan perbandingan antara kekejaman yang terjadi pada peristiwa ‘65 dengan kejadian yang juga menyedihkan di tahun tahun sebelumnya, penjajahan Belanda. “Sejak jaman Belanda, belum pernah begitu banyak orang di negara ini mati atau kehilangan kebebasan… demi pembentukan sebuah tatanan politik baru”. Dari kalimat itu Jati ingin mempertegas bahwa kekejaman pada masa penjajahan, yang banyak sekali dikisahkan baik dalam buku sejarah resmi maupun bentuk bentuk produk budaya lainnya, yang dilakukan oleh bangsa lain, memakan korban tidak lebih banyak dari tragedi ‘65, yang dilakukan oleh dan terhadap bangsa sendiri, yang sayangnya justru tak banyak dikisahkan, setidaknya dalam narasi sejarah resmi.

Pada halaman berikutnya, dalam dua buah panel tergambar kembali kebengisan para serigala bersenjata, yang menunjukkan wajah buasnya dengan mulut menganga dan lidah yang terjulur keluar serta air liur yang menetes-netes. Dibawahnya terbaring korban korban keganasan mereka, dengan kondisi yang mengenaskan. “Ini adalah revolusi demokrasi. Mereka yang jahat, yang ingin mendirikan Negara dalam Negara. Yang durhaka terhadap cita cita republik harus dibersihkan!, dalihnya”. Narasi yang menggambarkan alasan para serigala bersenjata untuk melakukan pembantaian. Bagi mereka, cita cita republik adalah segala-galanya, dan kemanusiaan tidak lebih tinggi posisinya ketimbang hal itu, sehingga setiap yang durhaka terhadapnya pantas untuk dianggap jahat dan dihabisi.

“Persetan dengan terpaan prasangka, tuduhan. Konflik & kebencian. Teori konspirasi, infiltrasi & perang urat syaraf. Kami tidak terlalu peduli siapa yang terlibat, atau siapa yang ditunggangi CIA. Kepedulian kami ada pada sahabat terpercaya yang tengah berjuang di sebelah kami”. Saya agak bingung untuk menafsirkan narasi ini. Tidak cukup jelas bagi saya, apakah narasi ini mewakili tokoh dalam komik, atau mewakili Jati sendiri sebagai komikus. Jika mewakili tokoh dalam komik, jelas bahwa terdapat ketidaksesuaian konteks waktu antara kejadian yang digambarkan dengan informasi yang dituliskan. Teori konspirasi dan keterlibatan CIA dalam tragedi 65, sejauh pengetahuan saya, muncul setelah kejadian, sehingga tidak mungkin tokoh dalam komik dapat mengetahui informasi itu. Dengan asumsi itu, saya beranggapan bahwa narasi ini adalah adalah narasi komikus sebagai pengamat yang mengambil sikapnya.

Tapi tunggu, dalam konteks manakah komikus dalam narasinya :” Kepedulian kami ada pada sahabat terpercaya yang tengah berjuang di sebelah kami” berada? Kalau dalam konteks masa lalu, saat peristiwa dalam komik ini terjadi, perjuangan apakah yang dimaksudkan? Sosialisme? Komunisme? Atau dalam konteks waktu sekarang, saat ini, saat kita mengenang peristiwa 65 sebagai sebuah tragedi kemanusiaan, perjuangan ini mungkin bisa diartikan sebagai usaha usaha rekonsiliasi, seperti yang selama ini didengung-dengungkan. Atau juga perjuangan untuk mendapatkan kesetaraan hak sebagai warga Negara, tanpa diskrimasi hanya karena seseorang, atau keturunannya, di masa lalu memiliki hubungan dengan PKI dan afiliasinya. Atau juga perjuangan agar Negara menyampaikan permintaan maaf secara resmi kepada korban peristiwa 65.

Narasi ini sama samarnya dengan narasi berikutnya, yang berapi-api dan cukup provokatif “Bagi kami, hidup adalah membela segala hal yang kami percayai!”.Tentu saja lagi lagi kita akan memunculkan pertanyaan yang sama: apakah yang dipercayai itu? Komunisme? Sosialisme? Tidak cukup jelas. Dan lalu, tidakkah “membela segala hal yang kami percayai” terdengar seperti fanatisme, yang barangkali tak berbeda dengan fanatisme agama agama yang melakukan teror atas nama Tuhan. Sebagai bagian dari masyarakat ilmiah mantan anak kuliahan,  yang memulai segala sesuatu dengan keraguan dan pertanyaan, saya tentu tidak sepakat dengan pembelaan yang fanatik semacam itu. Narasi itu seakan akan menegaskan tentang suatu keyakinan yang anti dialog.

Atau mungkin membela yang dimaksud adalah membela kawan kawan korban untuk memperoleh kembali hak hak mereka sebagai warga Negara (dalam zine ini dituliskan tentang banyak sekali kisah sedih para eks tapol 65 dan keturunannya yang dikebiri hak haknya sebagai warga Negara), dan yang lainnnya yang saya tulis dalam 2 paragraf sebelum ini? Kalau itu tentu saja saya sepakat dan mendukung, dan akan ikut mengucapkan kalimat dalam narasi terakhir: “Perjuangan kami tak pernah mati”.

Baca juga: Aku, Humor, dan Takdir: Representasi ‘65-66 Dalam Komik Indonesia 

Ikhtisar
Lapar tragedi
Penikmat banyak hal: komik, musik, film, sastra, sejarah, hutan, gunung, tebing batu, goa, sungai, ide dan wacana, perempuan, alkohol, tembakau, agama, dan apa saja. Bekerja di bidang kehutanan sebagai Chain of Custody specialist dan berharap selalu muda.