Hidup dan Mati di Tanah Sengketa, Membantah Isu Rasial dalam Wacana Kesenjangan...

Hidup dan Mati di Tanah Sengketa, Membantah Isu Rasial dalam Wacana Kesenjangan Sosial Ekonomi di Indonesia.

Oleh -
0 168
Aksen-Hidup-dan-Mati-di-Tanah-Sengketa

Beberapa waktu lalu, bertepatan dengan hari kebangkitan nasional, sekelompok mahasiswa mengadakan demonstrasi dengan mengangkat tema yang menurut sebagian orang adalah rasis, yaitu tentang pribumi dan non pribumi. Menurut akun twitter organisasi mahasiswa yang menginisiasi demonstrasi tersebut, isu tersebut diangkat karena mereka melihat ketimpangan sosial ekonomi antara pribumi dan non pribumi (dalam terminologi yang mereka maksudkan).

Organisasi mahasiswa ini menganggap bahwa etnis non pribumi, Tionghoa peranakan, mendominasi sektor ekonomi di Indonesia, dan kaya raya, sedangkan etnis pribumi (entah siapa yang dimaksudkan dengan pribumi ini) hidup miskin dan menderita. Sangat picik memang, dan menyedihkan, betapa kebencian berbau rasial macam begitu masih ada di negeri ini.

Saya pikir, selain membaca kitab kitab suci dan buku buku teori (seandainya mereka benar benar membaca), kelompok tersebut setidaknya perlu membaca komik yang bakal saya bahas ini: Hidup Mati di Tanah Sengketa, karya Redi Murti, yang diterbitkan oleh Milisi Fotocopy, Surabaya.

***

Komik yang terbit tahun 2014 ini adalah komik eksperimental yang berkisah tentang kehidupan warga Tionghoa peranakan yang miskin di kawasan kumuh di sudut kota Surabaya, Tambak Bayan. Seperti layaknya sebuah kota yang terus menerus membangun, Surabaya – yang merupakan kota terbesar kedua di negeri ini – seperti juga kota kota besar lain, tak pernah lepas dari permasalahan permasalahan sosial seperti yang dimaksud komik tersebut, termasuk juga di dalamnya kemiskinan struktural dan okupasi lahan oleh pemilik modal atas nama pembangunan yang mengancam masyarakat miskin di kawasan itu.

Nampaknya paradigma pembangunan tak pernah berubah sejak dahulu, atau setidaknya sejak era Orde Baru. Kebijakan pembangunan kawasan selalu dilakukan dengan skema top down, di mana pengambil kebijakan membuat program program pembangunan dari balik meja dengan melibatkan pemilik modal tanpa merasa perlu untuk mendapatkan persetujuan/aspirasi penduduk sekitar. Orang-orang lokal cenderung dianggap sebagai bodoh, tidak mampu berpartisipasi, dan cenderung diposisikan sebagai penghambat bagi pembangunan. Hal itu pulalah yang diangkat Redi dalam komik ini. Dalam pengantarnya, disebutkan:”komik ini layak dimiliki dan dibaca oleh mereka pencinta dan pemerhati masalah perkembangan kota sebagai salah satu referensi sejarah kampung pecinan di Surabaya yang terancam punah, oleh beton beton modern para pemodal, yang belum tentu bermanfaat bagi masyarakat Surabaya”

Komik ini terbagi dalam dua bagian. Pada bagian I, Kisah dimulai dari Dani, seorang pemuda peranakan Tionghoa di Tambak Bayan, menemukan sebuah foto lama di lemari ibunya. Foto ibunya, Boboh, dan dua orang temannya di masa muda, saat masih anak-anak. Dani yang penasaran lalu bertanya pada ibunya. Lalu mulailah si ibu menceritakan kehidupannya di masa lalu, sebagai bagian dari sejarahnya, yang juga sejarah orang orang Tionghoa peranakan di Indonesia, khususnya Tambak Bayan.

Tersebutlah Lie Jiuwee, teman Boboh dalam foto tersebut, yang pada tahun 1930-an datang ke Surabaya bersama orangtuanya, dengan kapal laut, mengungsi dari daerah asalnya, RRT (Republik Rakyat Tingkok – ed), karena situasi ekonomi politik RRT yang sedang bergejolak saat itu. Tak lama setelah berada di Surabaya, ayah Jiuwee meninggal dunia. Ibunya tak punya cukup uang untuk terus menyekolahkannya, maka Jiuwee kecil ini berjualan untuk membantu keuangan keluarga.

Waktu berjalan, Jepang menguasai kota di tahun 1942. Situasi mulai berubah, suasana tak aman, perang terjadi di sana-sini. Sebagian penduduk yang punya cukup uang pindah ke Malang, daerah yang lebih kondusif dan aman pada saat itu. Jiuwee tidak pindah, tentu saja karena kemiskinannya. Pada tahun 1945, terjadi perang antara tentara pendudukan Jepang dan tentara republik yang dibantu pemuda. Pada waktu itu pula, salah satu anak di foto yang ditemukan Dani tersebut, teman Jiuwee dan Boboh, tewas terbunuh. Boboh mengenangnya sebagai kisah yang gelap dalam sejarah hidupnya.

Paska kemerdekaan republik, suasana kembali berubah. Kampung kampung di Surabaya mulai menggeliat, hingga saat terbitnya peraturan pemerintah di tahun 1959 tentang keharusan warga pendatang (Tionghoa) merubah status kewarganegaraan menjadi WNI. Banyak dari warga Tambak Bayan yang kemudian kembali ke negara asalnya, RRT. Warga Tionghoa tersebut makin terjepit paska 65, setekah terjadi genosida besar besaran terhadap para pendukung komunis. Mereka, karena rasnya, dicurigai dan dianggap ikut mendukung Peking (Beijing) dan ideology komunisnya.

Pada bagian kedua, dikisahkan tentang keadaan Tambak Bayan setelah kemerdekaan. Banyak warga Tionghoa totok dan peranakan diharuskan untuk menjadi WNI dengan segala kerumitan birokrasinya. Di era Orde Baru, daerah ini tak luput dari pembangunan a la Soeharto, di mana pemilik modal menjadi anak emas pembangunan.

“Segalanya cepat dilupakan. Tak ada bekas masa lalu. Pendisiplinan terjadi pada segala aspek kehidupan. Sementara, laju peradaban kota terus menggilas sekelilingnya yang dianggap ketinggalan.” Demikian tulis Redi dalam narasinya di halaman 39.

Era Orde Baru berlalu, yang tersisa hanyalah kesenjangan sosial ekonomi yang sangat nyata nampak dari bangunan bangunan gedung yang berhimpit dengan rumah rumah yang sepersekian kecilnya dibandingkan gedung gedung itu.

Perlawanan akan okupasi kepemilikan tanah ini bukan tak ada. Tersebutlah Seno, Paman, Murtini, dan Gepeng, yang mengorganisasikan penduduk setempat untuk mempertahankan tanah tanah mereka. Pada beberapa tahap mereka berhasil. Namun seperti juga banyak perlawananan lainnya, konsistensi untuk terus berjuang adalah hal yang mahal harganya. Kebutuhan hidup yang lain tampak lebih mendesak. Dan orang orang kemudian memilih berdamai dengan keadaan, kekalahan mereka.

Komik Redi ini bukanlah komik fiksi dengan penokohan protagonis dan antagonis yang tegas ataupun plot cerita yang dipenuhi konflik konflik dan dramatisasi yang sedemikian rupa. Komik ini lebih menyerupai reportase/dokumentasi sejarah dan kisah hidup penduduk Tambak Bayan, yang meski nampak sangat datar dalam alur cerita, namun sangat gelap, dan penuh dengan rasa keputusasaan yang dalam dan kelelahan yang sangat. Tentang bagaimana orang orang akhirnya menyiasati hidupnya yang keras dengan cukup memikirkan dirinya sendiri. Pemilihan kata kata dalam narasi komik ini sangat tepat untuk menggambarkan suasana itu.

“Orang orang sudah lelah, terpuruk oleh rencana dan kebutuhan sehari hari yang mendesak. Disibukkan dengan tetek bengek kenyataan lainnya yang tak perlu masuk akal”. Demikian gambaran Redi untuk suasana penduduk Tambak Bayan. Lebih lanjut ia menulis: “Mereka hanya menunggu giliran waktu, mengatur strategi bagaimana berkompromi dengan semua peristiwa nyata, yang hanya menjadi berita sekilas dalam Koran. Berita umum yang semua orang sudah menganggapnya lumrah, biasa saja, salahnya “pemerintah”, salahnya warga, salahnya pendatang, semua tampak bersalah di mata pembaca. Berita yang paginya nangkring sebentar, lalu esok paginya cabut, tergantikan oleh berita yang lebih sadis!”

Ya begitulah, arus informasi yang demikian deras, membuat pembaca terbiasa akan hal hal yang begitu begitu saja, bahkan untuk konflik konflik kemanusiaan sekalipun. Kita bahkan tak mampu lagi memilah mana informasi yang penting dan mana yang tidak penting, alih alih ikut ambil peduli dalam masalah masalah tersebut. Kita tersesat dan berputar putar dalam arus kedangkalan informasi dan kehilangan fokus, juga kehilangan diri sendiri.

Saya pernah menetap di Surabaya kurang lebih selama dua tahun. Pada masa itu saya menetap di kawasan pinggiran Surabaya yang tak jauh dari Tambak Bayan. Sebagai kota besar yang keras, Surabaya, seperti kota kota metropolitan yang lain, dimana kehidupan dengan kejam menggilas masyarakat miskin, tak terkecuali juga komunitas Tionghoa peranakan.

Dengan keadaan itu, saya pikir bahwa isu rasial mempertentangkan pribumi dan non pribumi karena ketimpangan kondisi sosial ekonomi, yang diangkat oleh kelompok mahasiswa yang berdemo tadi, sungguh sangat tidak relevan. Adalah benar, dan mulia, bahwa kita, atau sebagian dari kita, terlibat dalam kepedulian untuk orang lain, orang orang miskin di negara ini, namun tentunya tidak perlu, dan sangat tidak perlu, untuk memasukkan isu isu rasial di dalamnya, bukan saja karena itu sangat tidak relevan, tapi juga bahwa kemanusiaan, tidak mengenal batas batas rasial. Mengutip Mandela : “”No one is born hating another person because of the color of his skin, or is background, or his religion. People must learn to hate, and if they can learn to hate, they can be taught to love, for love comes naturaturally to the human heart than its opposite.”

Ikhtisar
Tidak biasa
Penikmat banyak hal: komik, musik, film, sastra, sejarah, hutan, gunung, tebing batu, goa, sungai, ide dan wacana, perempuan, alkohol, tembakau, agama, dan apa saja. Bekerja di bidang kehutanan sebagai Chain of Custody specialist dan berharap selalu muda.