Tawur dan Kebaruan Ide Komik Indonesia

Tawur dan Kebaruan Ide Komik Indonesia

Oleh -
0 694
Sampul Komik Tawur, karya C. Suryo Laksono

Bagaimana anda menghargai sebuah ide? Pentingkah bagi anda kebaruan dalam sebuah karya? Menurut saya, usaha untuk menggali secara terus menerus sebuah ide dalam konteks dunia komik di Indonesia haruslah dihargai secara layak. Tanpa sebuah kebaruan ide, baik itu cerita, gaya gambar dan ilustrasi ataupun medianya, komik Indonesia khususnya hanya akan berisi pengulangan demi pengulangan yang membosankan. Einstein pernah bilang: “imajinasi jauh lebih penting daripada pengetahuan”. Saya sangat sependapat, meski anehnya saya juga mempercayai sebuah kredo postmodernisme; bahwa tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari.

Oke, cukup sudah prolognya. Beberapa waktu yang lalu saya membeli sebuah komik di sebuah event pameran komik yang harga tiket masuknya cukup untuk membeli 10 judul komik fotokopi. Awalnya, saya membeli komik ini hanya sebagai bentuk dukungan kepada komik lokal saja. Saya pesimis bahwa komik Indonesia yang satu ini mampu membuat saya mengalami ekstase dan merasa hilang sejenak dari dunia nyata seperti saat saya membaca komik komik yang bagus. Saya kadang memang pesimis, juga sinis, dengan kualitas cerita komik tanah air. Sering terlintas dalam pikiran saya bahwa komikus-komikus lokal tampak sangat egois. Mereka selalu meneriakkan “dukung komik lokal”, tapi tak pernah memikirkan kepuasan pembaca yang sudah rela mengorbankan uangnya untuk membeli sebuah komik bikinan mereka, yang kadang cerita dan ilustrasi tampak lebih cocok untuk sekedar koleksi saja.

Tapi komik yang saya beli ini benar benar di luar dugaan saya. Berjudul Tawur vol. 1, komik terbitan re-ON Comics ini mampu memukau saya untuk sekian waktu. Bercerita tentang perkelahian pelajar SMA di Jakarta, komik ini menawarkan sebuah cerita yang sangat segar untuk ukuran komik dalam negeri.

Dikisahkan Budi, seorang pelajar dari SMA yang tak dianggap dalam percaturan dunia tawuran di Jakarta, terlibat dalam tawuran massal antar sekolah, bahkan melawan sebuah sekolah yang punya reputasi terbaik dalam hal perkelahian pelajar.

Tawuran tersebut bukanlah tanpa tujuan. Tawur ini merupakan nama sebuah program aneh yang didesain oleh Kementerian Pendidikan untuk sekolah sekolah di Jakarta. Sekolah pemenang program tawur akan mendapatkan reward berupa dana bantuan operasional sekolah (BOS). Dilatarbelakangi oleh kondisi sekolah yang hancur tak terawat, teman-teman yang tak bisa belajar karena tak ada biaya, keinginannnya untuk menjadi seorang guru, dan karena motivasi dari seorang teman, Budi berambisi untuk memenangkan program ini. Budi sang tokoh utama berharap dapat membangun kembali sekolahnya, membantu teman temannya, dan mewujudkan impiannya menjadi seorang guru. Maka petualangan Budi dalam kerasnya arena tawuran antar sekolah pun dimulai.

Banyak lelucon lelucon terselip dalam panel panel di komik ini, juga sindiran sindiran dan kritik. Ada kata kata macam Srengenge Foundation (mengejek Sitok? Ah, mungkin saya terlalu sensitif), lalu korban tawuran yang dikalungi papan nama bertuliskan “korban kurikulum”, jurus mama minta putus, lagu “Darah Muda” dari Rhoma Irama dan sebagainya.

Di luar itu, yang terpenting bagi saya adalah cara komikus mengangkat realita dunia tawuran di Jakarta dalam medium komik ini sungguh suatu bentuk penggalian ide yang sangat patut diapresiasi. Tawuran pelajar di Jakarta adalah kenyataan yang menyedihkan (saya bahkan mengikuti sebuah akun twitter @tubirpelajardki sekedar untuk mengetahui  bagaimana tawuran menjadi gaya hidup di kalangan pelajar SMA di Jakarta). Tema tawuran memang bukanlah tema baru dalam komik Indonesia. Dalam komik “Suatu Saat Sebelum dan Sesudah Si Dul Mati” karya almarhum Didoth, tema ini diangkat dalam kisah sedih seorang siswa cemerlang yang tewas akibat tawuran pelajar.

Namun berbeda dengan Didoth, komik karya C. Suryo Laksono ini mencoba menawarkan cerita yang unik, mencoba membelokkan pandangan umum bahwa tawur hanya untuk bersenang senang dan adu kejantanan belaka menjadi tawur yang lebih terarah dan bertujuan mulia. Meski hanya fiksi, tentu kita tidak menyangkal kekuatan sebuah komik untuk merubah cara pandang seseorang bukan?

Sebagian dari kita pencinta komik tentu percaya rumor tentang bagaimana Jepang membangun semangat anak mudanya dengan komik, lewat Tsubasa (dengan semangat sepakbola-nya), Slam Dunk (dengan semangat basketnya), dan lain sebagainya. Apakah Tawur punya potensi untuk menjadi komik seperti disebut belakangan? Menurut saya jawabannya masih terlalu jauh, meski ini adalah sebuah permulaan yang bagus.

Ikhtisar
Berpotensi mengubah cara pandang
Penikmat banyak hal: komik, musik, film, sastra, sejarah, hutan, gunung, tebing batu, goa, sungai, ide dan wacana, perempuan, alkohol, tembakau, agama, dan apa saja. Bekerja di bidang kehutanan sebagai Chain of Custody specialist dan berharap selalu muda.