Old Man Logan: Si Tua yang Tak Mau Menggunakan Cakarnya Lagi

Old Man Logan: Si Tua yang Tak Mau Menggunakan Cakarnya Lagi

Oleh -
1 4868
Sampul-Old-man-Logan

Bayangkanlah seorang pembela kebenaran yang di masa lalu tangguh dan hidup penuh dengan kekerasan; tangannya berlumuran darah musuh-musuhnya. Pada satu momen di menemukan titik balik, di mana dia memutuskan untuk memutus rantai kekerasan dengan tidak membunuh lagi dan menjadikan kekerasan sebagai pantangan. Ia kini hidup sebagai orang biasa, dalam arti benar-benar biasa: bangun pagi, mencari nafkah, membayar sewa kepada tuan tanah, membesarkan anak-anaknya bersama istri tercintanya, kemudian berharap mati di ranjang dalam keadaan tenang dan bahagia dikelilingi keturunannya. Singkat cerita: sang pembela kebenaran bertekad untuk tidak membunuh lagi, meski ada momen masa depan di mana dia akhirnya mesti mengambil jalan awal yang dulu pernah ditinggalkannya itu.

Apa yang saya ceritakan adalah sedikit premis yang mendasari cerita pada komik Old Man Logan karya Mark Millar dan Steve McNiven. Terasa klise karena modelnya sudah pernah digarap orang lain? Memang premis macam itu terasa akrab bagi saya, meski ceritanya dihantarkan lewat medium berbeda. Ambillah satu contoh lewat film Kung Fu Hustle, misalnya. Yuen Wah dan Yuen Qiu – pasangan suami istri yang perannya cukup menonjol dalam film tersebut – adalah contoh baik untuk menggambarkan keserupaan premis yang saya maksud. Mereka dulunya adalah pendekar Kung Fu nomor wahid, sampai akhirnya memutuskan keluar dari dunia pendekar karena kematian anak mereka. Pasangan itu kemudian hidup biasa, berusaha menghindari masalah. Sangat biasa … sampai akhirnya mereka kembali ke dalam rutinitas dunia Kung Fu karena “keadaan yang memaksa”.

Tentu saja komik bukan film, juga sebaliknya. Namun bila premis yang ditawarkan sudah pernah kita lihat di medium lain, apakah melalui komik Old Man Logan kita bisa berharap lebih dari sekedar pengulangan model cerita?

Saya tidak bermaksud untuk mengatakan komik yang baik adalah komik yang benar-benar menyodorkan kebaruan cerita maupun gaya. Apa yang saya baca dan nikmati dari Old Man Logan lebih terasa sebagai sebuah komik yang dikerjakan dengan cara-cara a la pastiche, sebuah konsep yang dimengerti sebagai tiruan dari sebuah gaya tertentu – mirip dengan parodi namun minus rasa humor. Sederhananya, Old Man Logan menyajikan sebuah tiruan gaya bercerita yang sudah pernah dipakai oleh kreator lain, di medium lain; meski harus saya catat pula: peniruan yang dilakukannya bukan berarti tidak membawa individualitas dan kepribadian gaya yang unik.

Salah satu kepribadian dan individualitas gaya bisa kita lihat, misalnya, pada konteks cerita yang dihantarkan oleh Millar. Logan (Wolverine) dalam semesta Millar dan McNiven adalah seorang tua sekaligus mantan pahlawan super, yang karena kejadian 50 tahun ke belakang yang melenyapkan eksistensi pahlawan super Marvel, memutuskan untuk hidup normal layaknya manusia biasa. Di titik inilah cerita yang ditawarkan Millar menjadi menarik. Logan hidup sebagai seorang manusia biasa di tengah dunia yang kacau karena lenyapnya pahlawan super. Dunia di mana Logan hidup sangat pas untuk disebut sebagai distopia: penuh dengan kondisi kacau di mana semua orang yang hidup di dalamnya tampak tidak menginginkannya. Siapa yang mau hidup di negara penuh dengan diktator kejam berkekuatan super? Siapa yang mau hidup di negeri yang kini menjadi berubah menjadi gersang paska kekacauan apocalypse? Itulah dunia di mana Logan menghidupi keinginannya untuk tidak membunuh lagi.

Fokus Old Man Logan adalah kehidupan Wolverine paska pembantaian massal atas pahlawan super oleh para penjahat super yang dikumpulan oleh Magneto, Dr. Doom, dan Skull 50 tahun lalu. Bagaimana Logan menghidupi dirinya  – bagaimana ia membayar sewa tanah kepada Hulk yang menguasai California tempat dia hidup, dan bagaimana ia berusaha menjadi ayah yang baik dengan melupakan masa lalunya sebagai pahlawan super – paska pembantaian rekan-rekannya merupakan elemen pembangun cerita yang membuat komik tersebut tidak terasa membosankan untuk diikuti. Akan tetapi orang yang terbiasa dengan cerita pahlawan super, dan mengidolainya, rasanya sulit untuk berharap bahwa idolanya suatu saat akan hidup sebagai manusia biasa yang disibukkan dengan segala tetek bengek urusan duniawi layaknya orang-orang biasa, dan juga barangkali tidak berharap bahwa sang idola bisa menjadi tua.

Hanya saja, jika para pembaca berharap bahwa Logan akan hidup biasa-biasa saja, maka harapan itu akan menjadi sia-sia. Keseluruhan elemen cerita dalam Old Man Logan dibangun melalui serangkaian plot di mana dia kemudian harus membantu Hawkeye mengantarkan sesuatu ke New Babylon guna mendapat uang banyak untuk membayar sewa tanah Hulk yang dalam semesta komik tersebut diceritakan menjadi tuan tanah. Perjalananannya bersama Hawkeye itulah, yang kendati menarik untuk disimak, namun terkadang ada sisi di mana kompleksitas psikologis tokoh kurang digarap dengan baik.

Menarik untuk disimak sebab pembaca tentu ingin tahu apa yang menyebabkan dunia (Amerika, khususnya) kehilangan banyak pahlawan super. Situasi macam apa yang dihadapi Logan 50 tahun lalu, yang akhirnya membuat dia meninggalkan ritus kekerasan yang dulu dihidupinya atas nama kebenaran. Jawaban-jawaban atas pertanyaan yang muncul di benak kemudian diperlihatkan satu-per-satu, seiring halaman demi halaman yang dibuka oleh pembaca.

Meski demikian, ada saja plot yang terkesan tidak digarap dengan baik. Ini terlihat misalnya ketika Hawkeye dan Logan bertemu dengan mantan istri ketiga Hawkeye bernama Tonya yang merupakan anak dari Spiderman (Peter Parker). Tonya yang mendapat masalah karena anaknya, Ashley, tertangkap oleh Kingpin ketika dia dan anggota super team lainnya bermaksud untuk menyingkirkan Kingpin – sang penjahat super – dari tampuk kekuasaan. Plot ini awalnya menarik sebab menjanjikan sebuah kondisi psikis di mana Ashley tidak mengenal Hawkeye sebagai ayahnya. Hubungan Ashley dan ayahnya dalam semesta Old Man Logan adalah hubungan yang sangat buruk, sebab sang ayah meninggalkannya ketika Ashley berusia tiga tahun. Konstelasi hubungan ayah-anak yang seharusnya diceritakan penuh kerumitan emosional dalam benak Hawkeye dan juga Ashley sekaligus diceritakan dengan tawar. Pada satu-dua halaman terlihat Ashley berhasil membunuh Kingpin setelah ayahnya dan Logan mengobrak-abrik markas sang bos besar. Di halaman-halaman itulah Ashley, yang setelah Kingpin tewas di tangannya, kemudian bermaksud membunuh ayahnya sendiri. Kendati demikian, perbuatannya itu lebih memperlihatkan sosok Ashley yang menginginkan kekuasaan Kingpin dibandingkan dengan seorang anak yang membenci ayahnya.

Jadi bukan sabab musabab seperti karena Hawkeye meninggalkan Ashley di usia dini, yang menyebabkan dia ingin membunuh ayahnya sendiri, melainkan karena Ashley ingin memperlihatkan kepada anak buahnya bahwa dia adalah penjahat yang lebih kejam daripada Kingpin. Hubungan ayah-anak seperti itu yang seharusnya penuh dengan ambivalensi, mungkin juga cinta bercampur benci, absen. Pembaca menemukan hubungan ayah-anak yang nyaris tanpa emosi sedikitpun. Lain halnya dengan hubungan Logan dan anak-anaknya yang diceritakan dengan intensitas layaknya seorang ayah yang berusaha mati-matian memberi makan keluarganya, walau nyatanya mereka sekeluarga hidup miskin.

Meski teknik narasi dalam keseluruhan bangunan cerita Old Man Logan terlihat sederhana dengan penekanan pada bagaimana Logan menghadapi petualangan demi petualangannya bersama Hawkeye, elemen visual dalam komik tersebut sangat memanjakan mata. McNiven berhasil menghadirkan semesta “dunia paska-pahlawan super” dengan apik dan chaotic sekaligus. Apik sebab Old Man Logan menyajikan warna-warna terang khas semesta komik-komik pahlawan super terbitan Marvel (dan juga DC Comics, dalam takaran yang sama) yang berhasil menopang suasana chaotic dengan kokoh. Dramatisasi juga dibangun dengan cara memecah panil demi panil dan memberi masing-masing dari mereka sentuhan waktu-antar-panil yang dalam beberapa babakan tampak sengaja diperlambat demi menekankan kualitas adegan, di mana darinya pembaca akan mudah menemukan, salah satunya, elemen kekerasan.

Kekerasan memang menjadi verbalitas visual yang ditonjolkan di sana-sini, dan sanggup membuat dunia dalam Old Man Logan menjadi sebuah ruang yang tampak sadis untuk sebuah karakter yang sejatinya dimaksudkan untuk hidup lurus-lurus saja – kendati jelas bahwa dunia di mana dia hidup tampak tidak mengijinkannya untuk hidup dengan cara demikian. Ada banyak elemen cerita yang oleh Mark Millar sendiri tampaknya disodorkan sebagai sebuah kesadaran bahwa semesta di dalam Old Man Logan adalah semesta khusus, yang tidak normal, dan mengerikan untuk dihidupi orang biasa. Pada kondisi semacam itu, hanya pahlawan super lah yang mesti mendatangkan kebaikan dan penerangan kepada manusia biasa.

Terlihat klise dan pada akhirnya hanya bisa dinikmati sebagai hiburan belaka? Memang. Old Man Logan bukanlah sebuah komik yang menyajikan cerita yang mampu mengasah otak, membuat kita merenungi apa makna menjadi orang bisa dengan masalah sehari-hari yang dihidupi oleh rutinitas kita. Anda tidak bisa berharap akan menemukan hal-hal seperti itu, sebab Old Man Logan hanyalah komik sekali telan, untuk kemudian kita lupakan. Kendati demikian, Anda barangkali bisa mengharapkan komik tersebut untuk berperan sebagai ekstasi yang menghibur dan membuat kita bertanya-tanya: adakah kelanjutannya?

Ikhtisar
Cakar Tua Melemah
Editor Jurnal komik Online. Penulis buku Meledek Pesona Metropolitan (2013). Menghidupi hasrat sebagai kurator komik dan penulis musik (metal). Sisi samping: seni, organizer dan bahan bacaan.
  • arbeast.09

    bukankah logan seharusnya abadi dan tidak dapat bertambah tua? loh kok ini bisa tua sih bagaiaman ceritanya? apakah diejelaskan secara rinci?