Warisan Review

Warisan Review

Oleh -
0 275
Sampul - Warisan

Catatan: Ulasan ini mungkin mengandung spoiler. Sebelum membaca ulasan ini, silakan buka halaman Scribd guna menikmati karya tersebut secara online. Anda bisa mengabaikan pesan ini jika memang sudah menikmati karya tersebut dan/atau merasa tidak perlu menikmatinya terlebih dahulu. Segala keputusan di tangan anda.

Oleh: Mohammad Hadid

Ketika anda melihat sebuah visual (drawing, lukisan, kartun, komik, foto, dan lain sebagainya), seberapa sering anda menemukan kata tertulis di sana, entah itu dalam bentuk caption atau balon kata (seperti dalam komik)? Jika menemukan kata tertulis pada jenis visualitas apapun, apakah itu akan membantu anda memahami apa yang ingin dikatakan oleh kreator? Apa guna tulisan dalam sebuah visualitas?

Pertanyaan-pertanyaan itu juga yang muncul di benak saya ketika menikmati sajian Warisan karya Edi Jatmiko. Karya ini bercerita tentang seorang gadis tanpa nama yang berhasil selamat dari penyakit karena melewati prosedur transplantasi yang organnya berasal dari seorang gadis – yang juga tak bernama – yang tidak ia kenal. Tidak jelas jenis transplantasi macam apa dilalui oleh gadis tak bernama itu, tetapi yang jelas cerita berpusat pada akibat langsung dari hal tersebut. Ah ya, mula-mula apa yang menarik dari karya Edi adalah keseluruhan bentuk pada alur sekuensial yang ia pakai untuk bercerita. Singkat kata, lewat karyanya Edi berusaha menciptakan suasana melalui bentuk intrinsik yang beragam. Bentuk serta suasana macam apa yang saya maksud di sini?

Gambar 1 - Warisan
Gambar 1 (Warisan – Edi Jatmiko)

Untuk urusan pemakaian panel misalnya, karya Edi memanfaatkan susunan ruang di mana panel menjadi sangat variatif, dan strukturnya diterapkan berbeda-beda antara satu halaman dengan yang lainnya. Pada satu halaman panel dipakai untuk memadatkan detail kejadian dalam satu waktu pembacaan (gambar 1).

Melalui halaman lain mata penikmat dimanjakan oleh visualisasi lanskap daerah kumuh yang diletakkan ke dalam panel-panel bertumpuk namun masing-masing terlihat harmonis dan serasi dengan layout halaman (gambar 2). Pada bentuk yang disebut terakhir, halaman berfungsi sebagai splash page sekaligus sebagai super–panel. Eksplorasi estetis dengan cara seperti ini seakan memperlihatkan obsesi Edi terhadap layout, dan juga yang paling penting: obsesi terhadap eksperimen bentuk-bentuk seni sekuensial, khususnya komik. Suasana harmonis terbentuk ketika masing-masing panel tidak mengganggu alur waktu, space, kejadian, maupun konteks cerita yang dirujuk oleh Edi. Inilah yang saya maksud sebagai suasana yang berusaha ditunjukkan olehnya.

Gambar 2 - Warisan
Gambar 2 – (Warisan – Edi Jatmiko)

Pada karya tersebut juga bisa kita lihat ketiadaan balon kata, di mana pikiran dan ujaran masing-masing karakter diperlakukan layaknya caption; tiada satupun garis marka yang membatasi bidang pada panel dan ujaran karakter itu sendiri (gambar 3). Eksperimen seperti ini mungkin dimaksudkan oleh Edi sebagai usaha untuk keluar dari pakem balon kata yang, baik saya maupun anda, kenal secara umum. Akan tetapi di luar eksperimen macam itu, Edi tidak melakukan perubahan yang signifikan atas karakteristik balon kata itu sendiri yakni: pikiran orang lain diperlihatkan secara pasti dan transparan.

Gambar 3 - Warisan
Gambar 3 (Warisan – Edi Jatmiko)

Bahasa dalam kaitannya dengan visualitas oleh Edi digunakan dalam beragam pola. Sebagai misal pola parasit (gambar 4) di mana kehadiran teks sangat tergantung pada visual. Penikmat Warisan akan kehilangan kode-kode penting seandainya gambar dihilangkan, dengan hanya menyisakan teks, dari keseluruhan layout pada halaman tersebut. Tentu pola hubungan macam ini tidak digunakan terus menerus dalam Warisan. Kita setidaknya masih melihat pola lain, seperti misalnya teks sebagai pemberi keterangan (gambar 5).

Dengan pola bentuk pada struktur Warisan yang mengesankan eksperimentasi komikusnya, bagaimana dengan cerita pada karya itu sendiri? Mesti diakui bahwa cerita dalam komik tersebut terkesan seperti dipadatkan, dengan keterburuan yang membuat alur pada konflik terlihat sangat cepat serta tak memberi kesempatan bagi tiap-tiap karakter untuk mengembangkan diri.

Gambar 4 - Warisan
Gambar 4 (Warisan – Edi Jatmiko)

Sebagai contoh misalnya perubahan-perubahan emosional dan pemikiran sang gadis yang menerima organ dari orang yang tak ia kenal.  Konflik psikologis semacam ini biasanya menarik untuk dieksplorasi lebih lanjut. Apa yang membuat sang gadis berubah sifatnya, dari yang tadinya sangat hedonis menjadi sangat pro terhadap anak jalanan? Lagipula, siapa sebenarnya gadis yang memberikan organ kepadanya? Adakah momen-momen tertentu di dalam hidup sang-gadis-penerima-organ yang membuatnya berubah sedemikian drastis? Bagi saya, transplantasi organ semata tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Gambar 5 - Warisan
Gambar 5 (Warisan – Edit Jatmiko)

Sayang sekali, dengan detail visual yang memanjakan mata. serta eksperimen bentuk yang dilakukannya, Warisan seperti meninggalkan bolong-bolong di beberapa tempat, yang membuat karya tersebut menjadi terlalu cepat dinikmati. Easy Going-ism.

a 'Yes' man